Resensi

Vegetarian dan Simbolisasi Perempuan

(Kompas, 1 Juli 2017)

Pembukaan novel Vegetarian ini mengingatkan kita pada cara Franz Kafka membuka Metamorfosis. Kalimat penuh teror.  Bila Gregor Samsa milik Kafka menjadi coro ketika bangun tidur, maka Yeong-hye tokoh utama di novel ini mendadak mememutuskan menjadi vegetarian. Sebuah keputusan yang kemudian menjadi problematika dahsyat di keluarga Yeong-hye.

Sebelum memutuskan menjadi seorang vegetarian, Yeong-hye adalah istri yang biasa-biasa saja di mata suaminya. Aku tak pernah menganggap istriku luar biasa sebelum dia menjadi vegetarian. (hal.5) Tidak ada keistimewaan yang bisa diingat oleh suami selain perihal makanan buatan Yeong-hye yang tentu saja berbahan daging.

Mimpi. Yeong-hye memimpikan darah, adegan pemotongan hewan, dikejar-kejar makluk berlumuran darah, atau sosok misterius yang memotong daging di atas talenan. Sosok manusia menjadi menyeramkan saat sudah menjadi binatang buas. Continue reading “Vegetarian dan Simbolisasi Perempuan”

Cerpen

Angin Tak Dapat Membaca

Pikiran Rakyat, 11 Juni 2017

a763b753628697.593adcea2cfc3

Sumber gambar: “Wind” by Olga Yefremova

Seperti angin, dirimu tak dapat membaca apa-apa yang kuingin.

Matahari jingga. Suara sirene tanda kereta tiba. Dadaku lesap oleh lara. Luka kecil yang dahulu kuabaikan dan kuanggap akan sembuh oleh waktu yang terus menimpa, sekarang menjadi nganga yang terus melebar. Hingga aku bisa menarik kesimpulan, nelangsa adalah komplenen dari bahagia bila kita sedang dirundung rasa cinta.

Tak ada yang salah dengan hubunganku denganmu. Karena kuyakin dirimulah yang paling mengerti bagaimana aku tak selalu sama dengan kebanyakan wanita lain. Ya, aku seperti letusan kebang api di tengah malam bulan November. Tak ada yang menginginkan, tetapi tetap meledak karena api terpantik tanpa kehendak.

Pernah suatu ketika, aku menasbihkan diri sebagai Virgin Mary. Aku takkan menikah. Dengan segala capaian sepanjang usiaku hampir tiga puluh tak sekali pun aku menjadi parasit dalam kehidupan orang lain. Kecuali aku menghutang air susu dan asuhan ibu semasa aku belia. Kamu sendiri tahu, ibuku memaksaku pindah ke Jakarta setelah dia menjadi istri kedua seorang kiai di pedalaman Kebumen. Aku tak membenci ibuku, tetapi aku membenci mengapa aku tidak bisa hidup damai bersama kesedihan selaiknya ibu berdamai dengan keadaan. Continue reading “Angin Tak Dapat Membaca”

Resensi

Ketika Drupadi Harus Berpoliandri

Kavita A Sharma dalam bukunya The Queens of Mahabharata (2006) menyebutkan Drupadi sebagai salah satu perempuan yang berperan penting dalam epos panjang Mahabharata. Drupadi disandingkan dengan Satyawati, Amba, Gandari, dan Kunti yang disebut Sharma sebagai perempuan-perempuan yang tidak dapat bertindak secara langsung menggunakan dua tangan sendiri, tetapi mereka berperang melalui suami dan putra-putra mereka.

Dalam versi Indonesia, Mahabarata mengalami penyesuaian. Namun kisah dan garis besar cerita tak terlampau jauh. Sehingga banyak penulis-penulis yang kembali menginterpretasikan cerita-cerita dari kitab babon Mahabharata karangan Byasa atau Vyasa. Kisahnya merasuk ke nadi kehidupan. Hingga dalam masyarakat India, setiap tokoh memiliki kuil pemujaan. Continue reading “Ketika Drupadi Harus Berpoliandri”

Resensi

Curriculum Vitae: Membuka Keran Kejamakan

(Ruang Gramedia, 22 Mei 2017)

Untuk menyembuhkan diri dari segala kealpaan, kita memutuskan menjadi guru yang gemar berkebun. Aku menaburkan perumpamaan-perumpamaan dan kamu mencabutnya dari kata-kata. (Keputusan, hal. 30)

Dalam salah satu esainya di basabasi.co, Benny Arnas melakukan (auto) kritik atas banyak karya sastra Indonesia dewasa ini. Salah satu yang kentara ialah bagaimana kejumudan teks sastra dewasa ini mengurung banyak penulis pada keran-keran yang diciptakan sekaligus ditutup rapat sendiri. Sekadar mimesis tanpa kredo untuk merambah kepada hal-hal baru dan penuh permenungan.

Kritik runcing itu sejatinya menjadi bumerang, karena Benny Arnas sebagai sastrawan termasuk barisan yang dikritik oleh dirinya sendiri. Tetapi lewat buku ini, yang dinobatkan sebagai pemenang unggulan dalam Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2016, setidaknya Benny Arnas telah membuktikan posisinya sebagai sastrawan yang tidak berhenti pada satu bentuk, membuka keran kejamakan, bukan termasuk penulis stagnan yang tidak mau membuka pikiran. Continue reading “Curriculum Vitae: Membuka Keran Kejamakan”

Cerpen

Rio Menjadi Serangga

Saat mata terbuka, kesadaran saya hanya mengingat bahwa saya memang dilahirkan sebagai kutu buku. Saya bukan pegawai rendahan yang oleh mantra Kafka kemudian menjadi kecoa. Juga bukan penulis muda yang oleh sihir Murakami dijadikan kambing yang dari perutnya beterbangan kunang-kunang. Saya kutu buku sedari dulu.3bdc1625568827.56347661ef9ee

Di salah satu kios buku bekas, saya tinggal di antara lipatan-lipatan buku. Saya mencium dan kadang menemukan banyak kawan saya sesama kutu buku sekadar hidup dan makan. Lahir sebagai kutu buku adalah takdir yang tak bisa dielakkan. Namun menjadi kutu buku bodoh, sekadar menggeripisi halaman demi halaman buku, dan menanti ajal mengundang adalah pilihan.

Di salah satu halaman ensiklopedia yang saya baca, serangga-serangga kecil
seperti saya hidupnya tak lebih lama dari masa tanam pohon jagung. Bahkan bisa lebih pendek, kalau wanita pemilik kios ini menyemprotkan obat anti serangga, memberi kapur barus, atau dengan kejinya menginjak tubuh-tubuh kami yang kecil hingga keluar semua isi perut kami.
Continue reading “Rio Menjadi Serangga”

Cerpen

Luisa Tak Mau Dewasa

(Radar Surabaya, 14 Mei 2017)

Seketika setelah mata terbuka, kepala saya langsung di serang seribu penyesalan. Semalam, saya memarahi Luisa. Dan sebagaimana pada umumnya, penyesalan pagi ini hadir setelah kalimat penuh emosi berkejaran dan bertemu titik-tanda seru. Kemudian saya menyaksikan Luisa menunduk dengan air di sudut matanya menitik. Sembab seperti mendung yang hampir berubah hujan. Kalimat saya telah terlanjur meluncur, sebagaimana anak panah telah menghunjam dada lembut Luisa. Dadanya yang mungil dan seharusnya kutimang dengan ayunan sayang. Saya tahu betul, kalimat penuh kemarahan saya itu telah melubangi dada Luisa dan saya harus melakukan selusin kebaikan untuk sedikit demi sedikit menambal lubang tersebut.

Alasannya sangat sederhana, Luisa sedari petang begitu asyik dengan gawai terbaru yang dia sendiri pilih sebagai hadiah masuk tiga besar di kelas. Sedari saya masuk rumah sepulang kerja, Luisa menunjukkan beberapa permaianan yang saya sendiri tak pernah paham bagaimana cara memainkan. Semula saya acungi jempol, betapa Luisa yang masih delapan tahun begitu cepat paham soal pergawaian. Papa dan Mamanya mungkin hanya paham bagaimana memejet angka di papan telepon dan mengetik pesan di aplikasi pesan.

Namun, setelah azan magrib, di tengah makan malam, bahkan waktunya Luisa belajar, dia tak kunjung berhenti memainkan gawai itu, saya mulai terganggu.

“Luisa, sudahan dulu mainnya. Waktunya belajar,” kata saya mencoba menasihati. Continue reading “Luisa Tak Mau Dewasa”

Cerpen

Jemini dan Tuan Busu Klarten

(Media Indonesia, 7 Mei 2017)

Kopi saya tumpah. Bercak kehitaman mengental di kemeja saya dan beberapa tercecer di taplak dan permukaan kayu meja. Saya benar-benar kaget. Jemini, pembantu saya yang sudah hampir setahun ini bantu-bantu pekerjaan rumah mendadak minta izin untuk kawin. Saya amati mata Jemini.

Mata Jemini sebagaimana mata orang-orang yang tak bisa mengaburkan kebohongan. Jemini berdidi sedepa di depan saya. Saya masih terdiam, mencerna semua ucapan Jemini yang pagi ini terasa seperti nasi pera yang disajikan tanpa kuah. Seret dan susah saya telan.

“Kamu beneran mau kawin?” tanya saya.

“Betul, Tuan. Saya sudah mantap jiwa raga untuk menikah tahun ini. Dan calon suami saya adalah orang yang baik,” Jemini menjawab dengan lancar. Continue reading “Jemini dan Tuan Busu Klarten”