Resensi

Dunia Biner Kementerian Maha Kebahagiaan

Jawa Pos30 Juni 2019.

Praktis setelah merilis debut terbaiknya sebagai novelis lewat judul The God of Small Things, Arundhati Roy mengambil jeda cukup panjang. Selama reses tersebut Roy memilih fokus pada aktivitas sosial-kemanusiaan dan menulis beberapa judul buku nonfiksi. Tak bisa disangkal, debut Roy itu pula yang mengantarkannya menjadi salah satu nama yang diperhitungkan dalam sastra dunia. Memenangkan Man Booker Prize tahun 1997, menjadi judul best seller dunia, dan diterjemahkan ke berbagai bahasa.

Dua dekade rehat, 2017 Roy menerbitkan novel keduanya The Ministry of Utmost Happiness—Kementerian Maha Kebahagiaan. Publik tentu antusias menantikan gebrakan apa yang akan dihadirkan Roy setelah cukup lama rehat, dan apa novel keduanya ini mampu menggetarkan dunia sebagaimana novel pertamanya. Continue reading “Dunia Biner Kementerian Maha Kebahagiaan”

Cerpen

Mesin Penjual Otomatis

Jawa Pos, 5 Mei 2019

TENGGOROKANKU begitu sensitif, mudah radang dan batuk bila menelan minuman atau penganan mengandung sakarin. Termasuk penganan yang biasa dibawa Jilung sekembalinya dari jogging pagi hari. Jilung selalu beralasan tidak enak melewati penjual kue yang bengong menanti kedatangan pembeli yang juga tak pasti. Keramahan Jilung juga sakarin.

Genggaman tangan Jilung mengendur. Udara dingin mengisi sela-sela jemari kami. Aku tak habis pikir, pagi ini batuk dan radang berubah menjadi batu yang merangsek dada. Ruangan serba putih tak berhasil membuat mendung menyingkir dari ruangan ini. Jilung mengelus-elus punggungku. Aku tak menangis. Aku lebih ingin menyaksikan apa yang akan dilakukan Jilung setelah diperdengarkan vonis.

“Semua akan baik-baik saja,” Jilung mengusap ujung mata.

Aku terhenyak. Telingaku seolah disiram kemerduan yang lama tak keluar dari mulut Jilung. Continue reading “Mesin Penjual Otomatis”

Resensi

Sekali Lagi untuk Hindia

Koran Tempo, 13-14 April 2019

Iksaka Banu kembali menghadirkan kumpulan cerpen berlatar era kolonialisme atau bahkan jauh sebelumnya. Apa yang baru?

Ketika kumpulan cerita pendek Iksaka Banu Semua untuk Hindia (2014) terbit, banjir pujian mengiringi buku tersebut. Judul itu pulalah yang mengantarkannya memperoleh penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa kategori prosa pada tahun yang sama. Iksaka Banu mengembuskan gaya baru dalam menulis cerpen. Meski bukan dituturkan dengan gaya yang mendobrak kebiasaan menulis cerita pendek, ia berhasil menghadirkan corak baru lewat cerpen-cerpen kolonialisme. Mengambil latar ketika era penjajahan, mengambil tokoh serta peristiwa yang benar hidup dalam sejarah, dan tidak jarang suara Iksaka Banu memilih menyaru menjadi suara penjajah, memilih sudut pandang orang Belanda.

Lima tahun kemudian, Iksaka Banu kembali menghadirkan kumpulan cerpen berlatar era kolonialisme atau bahkan jauh sebelumnya: Teh dan Pengkhianat. Tak jauh berbeda dengan kumpulan cerpen terdahulu, Iksaka Banu masih menyorot potongan-potongan sejarah yang dielaborasikan dengan racikan fiksi, berlatarkan era kolonialisme Belanda dengan rentang pengisahan yang cukup lebar. Continue reading “Sekali Lagi untuk Hindia”

Cerpen

Mengabarkan Kematian

Solo Pos, 24 Maret 2019

Bukan kematian yang kukhawatirkan, melainkan mengabarkan kematian yang sudah diam-diam kutampik ini kepada Norman, suamiku. Dua minggu lalu aku sengaja tak menyampaikan kepadanya, bahwa Dokter Siwon ingin mengangkat gumpalan lemak di perutku. Gumpalan yang semula sebesar biji rambutan, lama kelamaan membesar. Sebesar telur puyuh, dan membesar kembali hingga seukuran bola golf, dan membuat Dokter Siwon memutuskan untuk mengangkat gumpalan lemak itu.

“Tumor tidak ganas,” Dokter Siwon menyimpulkan. Karena memang benar, tidak ada kesakitan yang kurasakan. Semula kusangka gumpalan itu sekadar beberapa gram lemak yang tak berhasil kubakar setiap pagi dengan lari mengelilingi perumahan kita. Tapi Dokter Siwon merasa gumpalan itu harus diangkat demi tindakan pencegahan agar tidak menganggu rongga tempat bayi kelak tumbuh, terlebih aku dan Norman sedang program kehamilan.

“Bedah minor,” kata Dokter Siwon. Aku mengiyakan. Dua hari lalu, tanpa sepengetahuan Norman, aku dibawa di ranjang operasi di bawah sorot lampu Dokter Siwon mengangat tumot sebesar bola golf itu. Yang Norman ketahui bahwa aku sedang mengambil cuti dua sampai tiga hari dengan menginap di rumah Kakakku Jihan. Continue reading “Mengabarkan Kematian”

Cerpen

Belum Ada Judul

Tribun Jabar, 17 Februari 2019

sumber: behance.net

Dengkur istrinya di ruang sebelah disahut dengkur yang lebih halus dari anak pertamanya. Suasana malam telah menjadi kemul yang menggumuli isi rumah, petak jalanan, dan setiap lorong. Hanya matanya yang belum rela dia katupkan. Dia masih menghadapi layar komputer yang menjadi sumber satu-satunya cahaya terang di ruangan kecil yang sudah lama dia sulap sebagai perpustakaan sekaligus ruang kerjanya, tempat dia menulis dari selepas makan malam, kira-kira jam sembilan hingga maksimal tengah malam. Begitu dia mematok jadwal bekerjanya sebagai penulis.

Namun, berbeda dari biasanya, kali ini semua mandek di ujung-ujung garis akhir. Dia sadar, dia bukan Derek Redmond yang meski gagal di menjelang garis finis, bantuan datang dari luar pagar pengaman. Dia penulis paruh waktu yang bekerja sendiri, tidak ada pertolongan kecuali dari Tuhan atau Setan. Berjam-jam dia telah menulis cerita, kemudian berhenti ketika dia kesulitan menemukan sepotong judul paling tepat untuk seluruh tubuh ceritanya. Continue reading “Belum Ada Judul”

Resensi

Kisah dari Bandar Rempah

KOMPAS, 2 Februari 2019

Novel tebal ini baru saja diganjar Kusala Sastra Khatulistiwa 2018, salah satu penghargaan sastra bergengsi di negeri ini. Azhari Aiyub sejatinya bukan nama baru dalam dunia susastra Indonesia. Kumpulan cerpen pedananya, Perempuan Pala juga pernah menjadi nominasi di ajang yang sama pada tahun 2004. Azhari selama ini memang lebih dikenal publik sebagai penulis cerita pendek, yang menyabet penghargaan atau dimuat di berbagai media massa nasional. Novel ini menjadi buah perbincangan lantaran keunikan sekaligus ketekunan Azhari dalam merajut kisah. Beberapa potongan dalam novel ini juga pernah tersiar sebagai cerita pendek di beberapa media massa.

Novel yang mulai dianggit semenjak 2006 ini paripurna menjumpai pembaca setelah lebih dari satu dekade dijahit oleh penulisnya. Masa sepanjang itu dapat dikategorikan cukup panjang dan sia-sia belaka bila hanya menghasilkan karya biasa saja. Namun juga bisa dikategorikan cukup pendek untuk menghasilkan karya besar. Sebagai pembanding misalkan, Gabriel Garcia Marquez menulis judul kanonisnya, One Hundred Years of Solitude selama enam tahun, dimulai tahun 1961 hingga terbit pertama kali dalam bahasa Spanyol pada tahun 1967. Continue reading “Kisah dari Bandar Rempah”

Resensi

Hidup Minimalis: Bahagia Tanpa Benda

“Hidup Minimalis hanya satu cara agar hidup lebih bahagia. Jadi bila ada yang memiliki banyak barang di rumah, tetapi tetap menjaga hubungan baik dan merasakan kebahagiaan, saya rasa itu luar biasa,” demikian Fumio Sasaki berujar saat diwawancarai Cosmopolitan. Hidup Minimalis yang diusung Sasaki dalam Goodbye, Thingsmemang mencoba melepaskan manusia dari “bahagia yang bergantung benda” yang mungkin dinilai banyak orang begitu hardcore.

Fumio Sasaki dan buku ini menjadi serentetan “kampanye hidup minimalis” yang belakangan digemari banyak orang. Marie Kondo telah lebih dahulu mengkampanyekan seni berbenah agar rumah lebih lengang dalam The Life-Changing Magic of Tidying Up. Francine Jay juga menyerukan hidup minimalis dengan metode STREAMLINE lewat Seni Hidup Minimalis.

Namun, yang dilakukan Sasaki boleh dikatakan lebih ekstrem dari dua “kakaknya” tersebut. Sasaki bukan sekadar merapikan ruang, melainkan benar-benar membuang barang, melepaskan diri dari kebendaan. Tidak ayal, tips pertama yang dianjurkan adalah buang satu barang sekarang juga. Jika menunggu ada waktu, percayalah itu tidak akan terlaksana. Sebab waktu yang ditunggu itu tidak akan pernah ada.

Read more…..