Cerpen

Uban di Kepala Ibu

(Kedaulatan Rakyat, 23 April 2017)

Sore itu saya menyisir rambut ibu, yang selama ini begitu saya kagumi karena tak pernah sekali pun berubah menjadi uban. Berbeda dengan rambut di kepala saya, yang meski baru sepertiga dari usia ibu sudah mulai ditumbuhi rona putih di helaian dalam rambut.

“Ibu, rambut ibu benar-benar kuat,” kata saya.

“Rambut itu simbol kekuatan perempuan. Ibu juga tak pernah sekali pun mengumbah rambut dengan shampo-shampo sepertimu,” jawab itu.

“Tapi rambut ibu begitu bersih,” saya kembali memberondong.

Ibu saya terkekeh. Kemudian meraih sisir yang saya pergunakan untuk meluruskan rambut ibu, dia menggelung rambut. Kemudian berbalik menatap wajah saya. Continue reading “Uban di Kepala Ibu”

Resensi

Cinta Segitiga dan Persoalan Identitas Manusia

(Lampung Post, 21 April 2017)

Nama Sapardi Djoko Damono (SDD) memang sudah masyhur sebagai salah satu penyair besar di negeri ini. Sajak-sajak yang ditulis dengan sederhana, namun memiliki efek peremenungan yang dalam. Sepertinya semua orang akan mengenal sajak Aku Ingin atau Hujan Bulan Juni karya SDD. Lantas, bagaimana SDD ketika menulis novel?

Sejatinya, SDD adalah seorang sastrawan yang paripurna. Selain menulis sajak, SDD juga menulis cerpen, esai, kritik sastra, menerjemahkan, bahkan menulis prosa panjang, novel. Novel-novel sebelum ini, Trilogi Soekram, Suti, dan pendahulu Hujan Bulan Juni. Koordinat lengkap yang membuat SDD semakin bercokol sebagai salah satu sastrawan paling berpengaruh, juga disebabkan karena produktivitasnya yang sepertinya tak surut oleh usianya yang mulai senja. Continue reading “Cinta Segitiga dan Persoalan Identitas Manusia”

Resensi

Titik Temu Lokalitas dan Globalitas

(Dimuat di Ruang Gramedia)

PERNAH ada masa ketika lokalitas dan kearifan lokal kerap dijadikan sebagai pijakan menulis cerpen di Indonesia. Kita akrab membaca cerpen-cerpen AA Navis yang kental akan budaya Sumatera, Korie Layun Rampan yang selalu mengulas lokalitas Kalimantan, Gerson Poyk dengan kedaerahan NTT. Juga nama-nama seperti Hamsad Rangkuti, Ahmad Tohari, Kuntowijoyo, Oka Rusmini bisa dimasukkan ke dalam sastrawan Indonesia dengan indentitas lokalitas dalam tulisannya.

Nilai lokalitas terus diolah sastrawan pada generasi setelah mereka. Penulis-penulis cerpen mutakhir yang beberapa kali kerap menjadikan lokalitas kedaerahan mereka sebagai materi tulisan. Benny Arnas, Faisal Oddang, dan salah satunya adalah Guntur Alam. Continue reading “Titik Temu Lokalitas dan Globalitas”

Resensi

Ia yang Marah di Tanah Surga Merah

(Ulasan ini dimuat di Ruang Gramedia )

Saya menyelesaikan buku Tanah Surga Merah berbarengan dengan film Hacksaw Ridge. Kalau boleh meminjam kalimat Lala Bohang—”everything is supposed to be falling into the right place”—ini adalah sebuah kebetulan yang “right.”

Dalam film Hacksaw Ridge, Desmond Doss (1919-2006), yang diperankan oleh Andrew Garfield, adalah kunci dari kesimpulan: sisa terbesar perang adalah lara dan kematian. Desmond Doss berkeras untuk tak pernah menembakkan senjata selama turun di Perang Dunia II melawan Jepang, di Okinawa. Karena keyakinannya itu, dalam film Desmond harus dikucilkan dan dikesampingkan dari pergaulan sesama tentara, dan bahkan pernah masuk sidang militer. Kelak, Desmond mendapatkan penghargaan atas sikap anti-menembakkan senjatanya: the Medal of Honor Winner Who Never Fired a Shot. (http://people.com/)

Lantas apa hubungannya dengan novel terbaru Arafat Nur ini? Continue reading “Ia yang Marah di Tanah Surga Merah”

Cerpen

Amplop Susulan

(Republika, 12 Februari 2017)

ilustrasi-amplop-susulan

Dada rasanya diguncang gempa, ketika tangan kiri saya masukkan dan raba-raba saku celana dan benda itu masih tersimpan di dalam sana. Amplop yang semestinya saya berikan kepada Ustaz Jazuli usai memberi ceramah di masjid komplek. Keringat sebiji-biji nangka membasahi peci, menetesi pipi, dan seketika membuat kemeja koko yang saya kenakan basah oleh keringat gugup.

“Celaka!” saya refleks menepok jidat. Saya akan disalah-salahkan oleh panitia lain, bila tahu amplop yang diamanahkan kepada saya tertukar.

Saya mendapatkan tugas membersamai Ustaz Jazuli, selama rehat sebelum beranjak ke mimbar untuk memberikan ceramah dalam rangka tasyakuran rampungnya pembangunan masjid kompleks. Meski saya pada dasarnya lebih senang untuk duduk menikmati sajian dan pengajian, tetapi tidak ada lagi yang dinilai panitia pantas menemani selain saya. Tak apalah, saya juga tak tega kalau Pak Supadi yang usianya sudah 45 tahun harus merangkap banyak hal. Atau saya juga tidak tega menyerahkan tugas sederhana namun krusial ini kepada Roni, Brian, Hudi, yang baru saja kelar SMK. Continue reading “Amplop Susulan”

Cerpen

Tembok Apartemen

(Edisi bahasa Inggris, dimuat di The Jakarta Post, 6 Februari 2017. Tautannya ada di mari These Walls Will Talk)

2017_02_06_20899_1486349870-_large

Dari lantai delapan belas, kendaraan di bawah sana tampak seperti permainan lego berhias manik-manik kaca berkedipan. Aku lebih memilih apartemen karena menyediakan kepraktisan yang kuidam-idamkan. Juga di apartemen, tak ada keharusan untuk saling sapa antar penghuninya. Tidak perlu saling merecoki, tak peduli siapa saja yang bertamu, dan apa saja yang terjadi di apartemenku.

Sebelum ada Jena, aku bisa pulang kapan saja dan mengandalkan makanan beku yang kupungut begitu saja dari swalayan di lantai dasar. Seminggu sekali memanggil dua petugas cleaning service untuk membersihkan apartemen, selagi aku minum kopi dan sarapan di lobi. Namun, Jena sedikit demi sedikit memaksaku untuk melihat bahwa buah dada ini diciptakan untuk menyusui Jena, bayi yang sudah lama kutumbuhkan dengan penuh cinta. Continue reading “Tembok Apartemen”

Resensi

Empat Perempuan Belanda Saksi Sejarah Indonesia

(Harian Bhirawa, 13 Januari 2017)

Hilde Janssen mengungkapkan ide menulis buku ini bermula saat menyaksikan pameran foto ‘65 Tahun Republik Indonesia’. Terdapat sebuah foto memperlihatkan Miny (memegang ukulele) dan Annie sedang dalam perjalanan kereta api dari pelabuhan Jakarta ke Yogyakarta, di perbatasan Kranji, Januari 1947. Di antara mereka berdiri suami Annie, Djabir dan seorang militer Belanda di depan mereka.

Foto dengan titi mangsa di akhir masa kolonial itu membuatnya berpikir, bagaimana mungkin perempuan-perempuan Belanda justru datang ke Indonesia di saat Belanda sedang diusir pulang. Mereka menuju ke wilayah Jawa yang bermusuhan dengan Belanda. Situasi politik tengah bergolak. Apalagi dengan penampilan Belanda mereka, bukan tidak mungkin hidup mereka bakal berakhir. Continue reading “Empat Perempuan Belanda Saksi Sejarah Indonesia”