Cerpen · Resensi

Memikat Tanpa Muslihat

Beberapa kali saya ditanya buku fiksi apa yang paling membuat terkesima sepanjang 2017 untuk buku fiksi Indonesia, maka saya akan dengan tegas menjawab Muslihat Musang Emas (Penerbit Banana, 2017) milik Yusi Avianto Pareanom. Meksipun saya tahu, saya tidak punya kapasitas mengkritik buku sastra, saya hanya berusaha membaca buku sastra dan sedikit mengocehkannya. Dan sayangnya, kemampuan membaca saya juga tidak paripurna. Banyak sekali buku sastra yang terbit dan saya tidak membaca semuanya. Beli online dong, Teguh? Sayanganya lagi, saya termasuk orang yang konvensional dalam membeli apa saja. Jadilah, saya kerap mengandalkan toko buku fisik dan toko buku online yang kerap saya ‘titipi’ untuk beli buku yang tidak ada di toko buku fisik. Sehingga kesimpulan pertama saya memilih Muslihat Musang Emas, masih sangat personal dengan keterbatasan cakupan bacaan saya. 

Tetapi, dibandigkan Rumah Kopi Singa Tertawa (Terbit pertama 2011 dan diperbaharui 2017) saya jauh lebih terpuaskan dengan Muslihat Musang Emas. Cerpen-cerpen dalam buku ini tidak sekadar cerpen yang telah dimuat di media massa dan kemudian diikat menjadi buku, sebagaimana kebiasaan buku kumpulan cerpen kita. Paman Yusi seolah benar-benar membuat ceritanya baru dan tidak terendus oleh pembaca sebelumnya. Kecuali satu cerpen,  Ia Pernah Membayangkan Ayahnya adalah Hengky Tornando, yang pernah masuk dalam antologi buku tentang Tubaba. Selebihnya adalah cerpen-cerpen baru yang membahagiakan. Mengapa membahagiakan? Kisah-kisah sial dalam buku ini benar-benar bikin kita terpingkal. Apalagi sesuatu yang kalau dalam bahasa stand up comedy, punch line yang bikin terbahak. 

Sedikit curhat saya setelah membaca Muslihat Musang Emas dimuat di Jurnal Ruang.

 

Advertisements
Resensi

Misi Baik Dalam Komedi

Koran Tempo, 9-10 Desember 2017

Pengarang Amerika Serikat Charles Dickens mengatakan orang-orang di negaranya tidak memiliki humor, labil, mudah marah, dan itu membuat daratan Amerika tampil menyeramkan. Namun bukan berarti semua orang Amerika tidak memiliki selera humor. Terbukti, dari negara tersebut muncul salah satu gaya lelucon yang digemari di seluruh dunia bernama stand-up comedy.

Stand-up comedy atau komedi tunggal disukai, ditayangkan di berbagai acara stasiun televisi, dan menjadi pilihan anak muda untuk mengekspresikan kegelisahan mereka. Terbukti, banyak generasi muda yang kemudian menjadi komika—sebutan bagi pelakon komedi tunggal. Continue reading “Misi Baik Dalam Komedi”

Resensi

Papua dari Mata Bocah

Koran Tempo, 21-22 Oktober 2017.

Novel ini diperbincangkan setelah menjadi naskah unggulan Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2016 dan masuk lima besar Kusala Sastra Khatulistiwa 2017. Kombinasi bergengsi dalam khazanah sastra Indonesia. Apalagi bila menengok nama Nunuk Y. Kusmiana yang terbilang baru sebagai penulis sastra.

Kekuatan terbesar novel ini adalah penggunaan latar lokasi yang memikat. Nunuk mengungkapkan kenangan masa kecilnya ketika mengikuti orang tuanya pindah tugas ke Papua, setahun setelah Operasi Trikora. Kala itu, situasi politik dan ekonomi di sana belum stabil. Ayahnya termasuk kelompok tentara yang pertama dikirim ke Papua setelah Presiden Sukarno mencanangkan Trikora.

Nunuk membuka kisah melalui bocah kecil bernama Kinasih Andarwati alias Asih dengan sebuah misteri bernama tukang potong kep. Dia adalah seorang lelaki yang membawa parang serta kerap memotong kepala anak-anak dan disimpan di karung. Konon, kepala itu akan digunakan sebagai fondasi jembatan. Sejenis dongeng yang diciptakan untuk menakut-nakuti bocah, membuatnya menuruti perkataan orang tua. Continue reading “Papua dari Mata Bocah”

Resensi

Berayun ke Dunia Terabithia

Belakangan saya suka sekali membaca buku-buku anak. Beberapa menghibur, bahkan tidak jarang justru menghadirkan nuansa sedih dan nglangu. Tapi yang saya sukai dari buku anak-anak adalah kepolosan tokoh, dan disini penulisnya haruslah secerdas mungkin membuat karakter yang kuat. Di Indonesia memang belum banyak sastra atau buku yang khusus untuk anak. Dan kalau pun ada kebanyakan sesak dengan muatan dan pesan moral yang ingin dijejalkan penulis. Kalau di luar mah, bodo amat! Cerita ya cerita. Menarik untuk anak, asyik dibaca, dan menghibur. Salah satunya Birdge to Terabithia, meskipun buku ini terselip maksud tertentu dari penulis. Tapi sebagai cerita anak, nuansa yang hendak digambarkan penulis sangatlah berbeda. Bahkan akhir cerita buku ini sangatlah berbeda untuk bacaan anak-anak. Tapi mengingat latar cerita buku ini hadir, maka wajarlah bila endingnya bikin nglangu, sedih-haru.

Ulasan saya atas novel Bridge to Terabithia dimuat di Jurnal Ruang, 4 Oktober 2017. Novel ini diterbitkan Noura Books

Resensi

Dalam Gulungan Papier Keretek

(Jawa Pos, 01 Oktober 2017)

Salah satu tokoh penting yang diakui memeliki pengaruh terhadap industri rokok di Kudus ialah Nitisemito, pengusaha yang kemudian dijuluki oleh Ratu Wilhelmina De Kretek Konning (Raja Keretek). Sosok ini kemudian dituangkan Iksaka Banu dalam novel terbarunya Sang Raja.

Pasca kemenangan Semua Untuk Hindia (2014) sebagai prosa terbaik dalam Kusala Sastra Khatulistiwa, Iksaka Banu diakui publik sebagai sastrawan dengan titik fokus tema seputar kolonial. Dan bila biasanya berkutat dalam cerpen, sekarang Iksaka Banu diuji ketahannya dalam menulis prosa panjang, novel, tentang sosok dan pabrik rokok dalam sejarah keretek Kudus.

Novel ini memiliki tiga suara tuturan, yaitu Bardiman Sapari wartawan dari Koran Matahari Timur, Filipus Retchterhand dan Goenawan Wirosoeseno. Dua nama terakhir adalah pegawai NV Nitisemito  saksi jatuh-bangun pabrik rokok itu. Continue reading “Dalam Gulungan Papier Keretek”

Resensi

Novel Metropop Tema Politik

Saya perlu akui, novel Sophismata punya tema yang berbeda untuk kategori metropop, bukan sastra. Ya, novel ini bertemakan politik, meski porsinya tidak terlalu banyak dan kurang membuka lapisan politik lebih dalam. Kalau saya mungkin menyebut novel populer bertemakan politik yang lebih enak yaaa punya Tere Liye, Negeri Para Pedebah. Atau punya Okky Madasari yang 86 dan Kalatida punya Seno Gumira Ajidarma, dan dua judul terakhir memang lebih sering dianggap orang sebagai tema berat yang nyastra (padahal sejatinya saya tidak sepakat dengan demarkasi sastra dan non-sastra). Tapi, yaaaa Sophismata punya blue-ocean yang berbeda.

Cinta Serumit Politik

(Padang Ekspres, 17-09-2017 dan Lampung Post, 24-09-2017)

“Politik itu soal kekuasaan dan kepentingan. Aku pengin bisa memperjuangkan kepentingan orang banyak, tapi untuk bisa memperoleh itu, ya aku harus punya kekuasaan dulu. Jalan menuju hal itu panjang dan berliku.” (hal.234)

Untuk sebuah novel metropop, Sophismata menghadirkan sebuah tema yang tidak biasa. Bila kebanyakan cerita mengisahkan cinta dibalut kehidupa urban nan kosmopolit, dalam novel ini kisah cinta justru berpusar di antara carut-marut politik di negeri ini. 

Menarik mencari arti kata dari judul yang dipergunakan penulis. Sophismata lebih dikenal sebagai salah satu arti dalam dunia filsafat. Secara harfiah kata ini memiliki padaan ambiguitas dari sebuah keadaan yang kemudian membuat seseorang tidak jernih dalam berpikir (logical fallacies) hingga salah dalam mengambil kesimpulan (false conclusions). Arti judul ini, sama dengan nuansa yang hendak dibangun penulis. Cinta dan politik yang dicertiakan sedang dalam nuansa ambiguitas.   Continue reading “Novel Metropop Tema Politik”

Resensi

Cinta Beda Agama dan Keelokan Halmahera

Harian Bhirawa, 4 Agustus 2017

Apa jadinya bila cinta tumbuh di antara dua manusia? Tak ada yang salah, lantaran cinta adalah kelumrahan. Namun apa yang akan dilakukan oleh Nathan dan Puan yang berbeda agama saling mencintai?

Demikianlah konflik utama dari novel Andaru Intan, 33 Senja di Halmahera ini. Nathan seorang tentara yang ditugaskan di Halmahera Selatan, tepatnya di Sofifi, Maluku Utara. Tempat yang jauh tertinggal peradaban. Listrik yang tidak genap 24 jam, sinyal telekomunikasi yang susah, dan jalanan becek membelah hutan, dan masih dihantui ganasnya nyamuk malaria. (hal.10)

Nathan datang bersama serombongan tentara dengan misi menjaga keamaan pasca kerusuhan di Halmahera. Ada masa ketika Maluku membara lantaran perang antar saudara yang kebetulan berbeda agama. Andaru meminjam latar waktu itu untuk kembali mengingatkan bahwa perbedaan agama bukan alasan untuk saling meninggikan pedang. Nathan datang dengan sebuah misi perdamaian. Continue reading “Cinta Beda Agama dan Keelokan Halmahera”