Resensi

Ketika Drupadi Harus Berpoliandri

Kavita A Sharma dalam bukunya The Queens of Mahabharata (2006) menyebutkan Drupadi sebagai salah satu perempuan yang berperan penting dalam epos panjang Mahabharata. Drupadi disandingkan dengan Satyawati, Amba, Gandari, dan Kunti yang disebut Sharma sebagai perempuan-perempuan yang tidak dapat bertindak secara langsung menggunakan dua tangan sendiri, tetapi mereka berperang melalui suami dan putra-putra mereka.

Dalam versi Indonesia, Mahabarata mengalami penyesuaian. Namun kisah dan garis besar cerita tak terlampau jauh. Sehingga banyak penulis-penulis yang kembali menginterpretasikan cerita-cerita dari kitab babon Mahabharata karangan Byasa atau Vyasa. Kisahnya merasuk ke nadi kehidupan. Hingga dalam masyarakat India, setiap tokoh memiliki kuil pemujaan. Continue reading “Ketika Drupadi Harus Berpoliandri”

Resensi

Curriculum Vitae: Membuka Keran Kejamakan

(Ruang Gramedia, 22 Mei 2017)

Untuk menyembuhkan diri dari segala kealpaan, kita memutuskan menjadi guru yang gemar berkebun. Aku menaburkan perumpamaan-perumpamaan dan kamu mencabutnya dari kata-kata. (Keputusan, hal. 30)

Dalam salah satu esainya di basabasi.co, Benny Arnas melakukan (auto) kritik atas banyak karya sastra Indonesia dewasa ini. Salah satu yang kentara ialah bagaimana kejumudan teks sastra dewasa ini mengurung banyak penulis pada keran-keran yang diciptakan sekaligus ditutup rapat sendiri. Sekadar mimesis tanpa kredo untuk merambah kepada hal-hal baru dan penuh permenungan.

Kritik runcing itu sejatinya menjadi bumerang, karena Benny Arnas sebagai sastrawan termasuk barisan yang dikritik oleh dirinya sendiri. Tetapi lewat buku ini, yang dinobatkan sebagai pemenang unggulan dalam Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2016, setidaknya Benny Arnas telah membuktikan posisinya sebagai sastrawan yang tidak berhenti pada satu bentuk, membuka keran kejamakan, bukan termasuk penulis stagnan yang tidak mau membuka pikiran. Continue reading “Curriculum Vitae: Membuka Keran Kejamakan”

Jurnal · Resensi

Lima Buku Penulis Jepang Selain Milik Murakami

Mengidolakan Haruki Murakami adalah hal yang sudah wajar dan sudah sepatutnya. Bahkan saat saya pertama kali membaca Norwegian Wood, dengan agak terkaget-kaget dengan narasi yang sedikit tidak biasa, saya langsung jatuh cinta. Meski konon awalan saya sedikit salah, karena langsung membaca novel yang paling depresif itu. Tetapi sebenarnya selain Murakami banyak nama penulis Jepang yang saya idolakan. Entah karena narasi dalam novelnya.

Saga no Gabai Batchan (Yoshichi Shimada). Ini adalah novel dengan kesederhanaan. Mulai dari kisah atas orang-orang miskin dari kalangan marginal dan rural. Tetapi lebih dari itu, novel ini juga mengajarkan falsafah hidup yang ditanamkan oleh sang nenek. Mulai dari menghadapi kemiskinan, semangat hidup, bahkan soal menghadapi nilai buruk di sekolah. Saya nggak tahu buku ini apakah kembali dicetak ulang. Tapi seingat saya dulu, buku ini ada dua versi cover. Satu yang warna kuning dan warna sedikit ungu. Karena novel ini sedikit biografi, makanya beberapa bagian sangat sentimentil buat saya. Dan dari novel ini pula, kenangan saya akan desa kelahiran saya tak akan pernah terhapusan. Sekaligus belajar untuk bersyukur atas apa yang sedang kita miliki. Continue reading “Lima Buku Penulis Jepang Selain Milik Murakami”

Resensi

Cinta Segitiga dan Persoalan Identitas Manusia

(Lampung Post, 21 April 2017)

Nama Sapardi Djoko Damono (SDD) memang sudah masyhur sebagai salah satu penyair besar di negeri ini. Sajak-sajak yang ditulis dengan sederhana, namun memiliki efek peremenungan yang dalam. Sepertinya semua orang akan mengenal sajak Aku Ingin atau Hujan Bulan Juni karya SDD. Lantas, bagaimana SDD ketika menulis novel?

Sejatinya, SDD adalah seorang sastrawan yang paripurna. Selain menulis sajak, SDD juga menulis cerpen, esai, kritik sastra, menerjemahkan, bahkan menulis prosa panjang, novel. Novel-novel sebelum ini, Trilogi Soekram, Suti, dan pendahulu Hujan Bulan Juni. Koordinat lengkap yang membuat SDD semakin bercokol sebagai salah satu sastrawan paling berpengaruh, juga disebabkan karena produktivitasnya yang sepertinya tak surut oleh usianya yang mulai senja. Continue reading “Cinta Segitiga dan Persoalan Identitas Manusia”

Resensi

Titik Temu Lokalitas dan Globalitas

(Dimuat di Ruang Gramedia)

PERNAH ada masa ketika lokalitas dan kearifan lokal kerap dijadikan sebagai pijakan menulis cerpen di Indonesia. Kita akrab membaca cerpen-cerpen AA Navis yang kental akan budaya Sumatera, Korie Layun Rampan yang selalu mengulas lokalitas Kalimantan, Gerson Poyk dengan kedaerahan NTT. Juga nama-nama seperti Hamsad Rangkuti, Ahmad Tohari, Kuntowijoyo, Oka Rusmini bisa dimasukkan ke dalam sastrawan Indonesia dengan indentitas lokalitas dalam tulisannya.

Nilai lokalitas terus diolah sastrawan pada generasi setelah mereka. Penulis-penulis cerpen mutakhir yang beberapa kali kerap menjadikan lokalitas kedaerahan mereka sebagai materi tulisan. Benny Arnas, Faisal Oddang, dan salah satunya adalah Guntur Alam. Continue reading “Titik Temu Lokalitas dan Globalitas”

Resensi

Ia yang Marah di Tanah Surga Merah

(Ulasan ini dimuat di Ruang Gramedia )

Saya menyelesaikan buku Tanah Surga Merah berbarengan dengan film Hacksaw Ridge. Kalau boleh meminjam kalimat Lala Bohang—”everything is supposed to be falling into the right place”—ini adalah sebuah kebetulan yang “right.”

Dalam film Hacksaw Ridge, Desmond Doss (1919-2006), yang diperankan oleh Andrew Garfield, adalah kunci dari kesimpulan: sisa terbesar perang adalah lara dan kematian. Desmond Doss berkeras untuk tak pernah menembakkan senjata selama turun di Perang Dunia II melawan Jepang, di Okinawa. Karena keyakinannya itu, dalam film Desmond harus dikucilkan dan dikesampingkan dari pergaulan sesama tentara, dan bahkan pernah masuk sidang militer. Kelak, Desmond mendapatkan penghargaan atas sikap anti-menembakkan senjatanya: the Medal of Honor Winner Who Never Fired a Shot. (http://people.com/)

Lantas apa hubungannya dengan novel terbaru Arafat Nur ini? Continue reading “Ia yang Marah di Tanah Surga Merah”

Resensi

Empat Perempuan Belanda Saksi Sejarah Indonesia

(Harian Bhirawa, 13 Januari 2017)

Hilde Janssen mengungkapkan ide menulis buku ini bermula saat menyaksikan pameran foto ‘65 Tahun Republik Indonesia’. Terdapat sebuah foto memperlihatkan Miny (memegang ukulele) dan Annie sedang dalam perjalanan kereta api dari pelabuhan Jakarta ke Yogyakarta, di perbatasan Kranji, Januari 1947. Di antara mereka berdiri suami Annie, Djabir dan seorang militer Belanda di depan mereka.

Foto dengan titi mangsa di akhir masa kolonial itu membuatnya berpikir, bagaimana mungkin perempuan-perempuan Belanda justru datang ke Indonesia di saat Belanda sedang diusir pulang. Mereka menuju ke wilayah Jawa yang bermusuhan dengan Belanda. Situasi politik tengah bergolak. Apalagi dengan penampilan Belanda mereka, bukan tidak mungkin hidup mereka bakal berakhir. Continue reading “Empat Perempuan Belanda Saksi Sejarah Indonesia”