Resensi

Cinta Beda Agama dan Keelokan Halmahera

Harian Bhirawa, 4 Agustus 2017

Apa jadinya bila cinta tumbuh di antara dua manusia? Tak ada yang salah, lantaran cinta adalah kelumrahan. Namun apa yang akan dilakukan oleh Nathan dan Puan yang berbeda agama saling mencintai?

Demikianlah konflik utama dari novel Andaru Intan, 33 Senja di Halmahera ini. Nathan seorang tentara yang ditugaskan di Halmahera Selatan, tepatnya di Sofifi, Maluku Utara. Tempat yang jauh tertinggal peradaban. Listrik yang tidak genap 24 jam, sinyal telekomunikasi yang susah, dan jalanan becek membelah hutan, dan masih dihantui ganasnya nyamuk malaria. (hal.10)

Nathan datang bersama serombongan tentara dengan misi menjaga keamaan pasca kerusuhan di Halmahera. Ada masa ketika Maluku membara lantaran perang antar saudara yang kebetulan berbeda agama. Andaru meminjam latar waktu itu untuk kembali mengingatkan bahwa perbedaan agama bukan alasan untuk saling meninggikan pedang. Nathan datang dengan sebuah misi perdamaian. Continue reading “Cinta Beda Agama dan Keelokan Halmahera”

Resensi

Cerpen Kompas 2016

Cerpen Kompas menjadi salah satu cerpen yang paling saya tunggu saban minggunya. Meski beberapa kali saya harus alpa membaca, entah karena sedang enggan atau memang sedang tidak bisa membacanya. Nama-nama seperti Seno Gumira Ajidarma, Budi Darma, adalah dua nama yang selalu saya tunggu karyanya muncul di rubrik cerpen Kompas. Seolah saya bertanya-tanya, ‘tahun ini cerpen Seno dan Budi Darma yang terbit apa ya?’. Bukan saja karena mereka menjadi kegemaran saya, tetapi juga cerpen mereka sudah bisa dipastikan masuk cerpen pilihan Kompas.

Saya masih ingat pertemuan saya pada cerpen ialah dimulai dari buku Pistol Perdamaian, cerpen pilihan Kompas 1996. Sejak pertemuan itu, entah mengapa saya kemudian mengoleksi semua cerpen pilihan kompas setiap tahunnya. Dari Kado Istimewa hingga yang paling baru. Kemudian ditambah Dua Kelamin Bagi Midin dan Cerita dari Negeri yang Haru. Juga ada buku Kurma, yang mengoleksi cerpen-cerpen bertema ramadan dan lebaran di Kompas.  Continue reading “Cerpen Kompas 2016”

Resensi

Menyembuhkan dengan Buku

Koran Tempo, 22-23 Juli 2017

Apa pendapat kita terhadap buku dan membaca? Apakah membaca sekadar penggenap waktu luang, pembunuh kebosanan, atau sarana rekreasi? Mungkin demikian alasan kita membaca dan menyukai buku. Tapi tidak demikian bagi seorang laki-laki bernama Jean Albert Victor Perdu, yang disapa oleh penghuni Apartemen Rue Montagnard 27 sebagai Monsieur Perdu.

Perdu memiliki sebuah kapal yang dijadikan toko buku di Port des Champs-Elysees di tepian Sugai Shiene. Perdu menamainya Literacy Apothecary atau Apotek Kesusastraan. Di toko ini, Perdu memilihkan buku sesuai dengan kondisi kejiwaan pelanggan. Setiap buku memiliki sensasi dan efek berbeda kepada para pembacanya.

Di titik inilah penulis memberikan sebuah pandangan baru bagaimana menikmati buku. Perdu bertindak sebagai apoteker sekaligus seorang psikolog ketika bertemu pelanggan. Sebagai contoh, ketika seorang wanita kesepian datang ke Literacy Apothecary maka Monsieur Perdu menyarankan untuk membaca Elegance of The Hedgehog karya Muriel Barbery. Continue reading “Menyembuhkan dengan Buku”

Resensi

Dialah Pahlawan dan Pemersatu Islam

Lampung Post, 23 Juli 2017

sumber: Gia Nguyen

John Man membuka buku ini dengan sebuah hipotesa megah, tanyakan pada siapa saja di Mediterania Timur, siapa pahlawan terhebat mereka dan jawaban hampir pasti yang didapatkan adalah Shalahuddin. (hal.1) Atau oleh dunia Barat disebut sebagai Saladin. Pertanyaan ini kemudian membuka halaman demi halaman kisah yang diakui oleh dunia Islam dan Barat tersebut.

Shalahuddin lahir di Tikrit, Iraq dan di usia  tahun dibawa Ayyub, ayahnya pindah ke Baalbek, Lebanon. Ia hidup di tengah dua kontradiksi Islam di kala itu. Di satu sisi, Islam sedang mengepakkan kegemilangan dalam berbagai bidang. Ilmu pengetahuan, sastra, teknologi, bahkan dunia kesenian. Namun di satu sisi, bibit perpecahan Islam diam-diam tersimpan. Semasa Shalahuddin muda, perpecahan Syiah-Sunni memiliki dimensi politik, di Kairo dan Baghdad, masing-masing dengan khilafah sendiri, dan masing-masing meyakini kebenaran sendiri. (hal.20) Di tengah ironi demikian, kecerdasan dan pikiran kritis Shalahuddin terasah.

Konflik antara Syiah dan Sunni, kemudian diperkeruh oleh konflik antara Arab dan Barat, membuat suasana Shalahuddin sedikit runyam. Hal ini pula yang kemudian membuat ia menolak saat diminta sang paman, Syirkuh, untuk menjadi ajudannya. Sifat sang paman yang bertolak belakang dengan ayahnya membuat Shalahuddin kecil enggan untuk ikut dalam barisannya. Ia tidak tertarik lantaran sudah melihat dan merasakan sendiri arti perang terutama perihal penderitaan orang lain dan kerugian yang dialami pribadinya sendiri. Continue reading “Dialah Pahlawan dan Pemersatu Islam”

Jurnal · Resensi

Kutukan Pengikut Serial

38979b54485563-5960dabf71e66
Sumber: Marko Rop

Sepertinya saya harus mengakui bagaimana nasib para pengikut serial adalah laiknya terkena kutukan. Kesel juga penasaran. Kalau dulu pengikut Dee sampai meneror Ibu Suri untuk menagih, kelanjutan Supernova. Atau bagaimana penggila Red Queen harus berdebar menanti ending cerita. Atau paling gampang ialah bagaimana penggila komik, serial drama Korea, yang harus menahan napas menanti apa yang selanjutnya terjadi.

Menurut saya itulah kelebihan sesuatu yang sengaja dibuat bersambung. Di sisi lain, penulis harus pandai memenggal kisah, meletakkan kejutan di setiap chapter. atau minimal membuat bertanya-tanya apa yang akan terjadi selanjutnya. Berbeda sekali dengan penulis cerpen, yang memang sengaja harus berhenti di satu titik. Entah diakhirkan dengan konklusi bulat atau memang disengaja untuk membuat lubang pembaca ketika cerpen berakhir (red: open ending).  Continue reading “Kutukan Pengikut Serial”

Resensi

Suara (Penulis) Timur Menggaung

(Ruang Gramedia, 9 Juli 2017)

Mei lalu, untuk pertama kali saya mengunjungi Makassar guna mengikuti Makassar International Writer Festival (MIWF). Kesempatan itu juga menjadi pembuka saya untuk menjajal kuliner yang menjadi ciri Makassar; sop saudara, es pisang ijo bravo, pallu basa serigala. Lebih dari sekadar pemuasan inderawi semata, pelesir saya ke Makassar juga sekaligus ingin merasakan pekat-cair aroma khas Makassar (atau Timur pada umumnya) dalam rimba sastra kita.

Bagian Timur Indonesia termasuk suatu daerah yang bukan saja jauh secara geografi dari pusat Indonesia (baca: Jakarta). Tetapi dalam hal percaturan sastra, aroma Timur kita tidak memiliki raung selapang sastra dari Jawa dan Sumatera.

Buku Dari Timur ini harusnya memberi jawaban akan absen aroma sastra dari wilayah Timur kepada pembaca sastra kita. Terlebih sebelas nama dalam buku ini bukan lagi nama asing di telinga pembaca sastra, lantaran tidak jarang hadir di halaman cerpen/puisi media massa. Kesebelas sastrawan muda dalam buku bisa jadi wakil-wakil untuk menggaungkan kebolehan sastrawan Timur. Continue reading “Suara (Penulis) Timur Menggaung”

Jurnal · Resensi

Dari Ikan, Kasuari, dan Si Kocak Gaspar

Padang Ekspres, 9 Juli 2017

sumber gambar: Jones & Co

Membicarakan Lima Novel Pemenang Sayembara DKJ 2016

Sayembara Novel DKJ yang telah dimulai sejak 1974 diniatkan untuk meranggang gairah menulis prosa sastra di kalangan anak muda. Telah banyak alumnus DKJ yang karya-karyanya hingga sekarang menjadi buah bibir dan terus diperbincangkan. Misalkan di tahun 1978 Ahmad Tohari pernah mendapatkan hadiah dari Dewan Kesenian Jakarta untuk novelnya Di Kaki Bukit Cibalak. Dan sampai sekarang novel itu masih saja dicetak ulang dan diperbicangkan. Kemudian pernah juga Ayu Utami memenangi sayembara di DKJ tahun 1998, dengan judul Saman yang kala itu dia mempergunakan nama pena Jambu Air. Novel itu kemudian melejitkan nama Ayu Utami sebagai sastrawan dengan lokus pada feminisme perempuan. Novel itu diterjemahkan ke berbagai bahasa dan juga meraih banyak penghargaan.

Jauh sebelum DKJ, sastra Indonesia telah dibentuk oleh berbagai sayembara kepenulisan. Mulai dari penerbit majalah, institusi pemerintah, Dewan Kesenian Jakarta, universitas, penerbit buku, hingga berbagai komunitas yang peduli akan sastra. Semuanya bertujuan untuk menjaring naskah-naskah terbaik dari berbagai pengarang di seluruh penjuru Indonesia. Continue reading “Dari Ikan, Kasuari, dan Si Kocak Gaspar”