Jurnal · Resensi

Anomali

sumber gambar Sean Lewis

Kalian yang pernah membaca novel atau cerpen Ahmad Tohari akan merasakan bagaimana kehidupan para tokoh dijelaskan dengan rinci dan indah. Pertama kali saya membaca Ronggeng Dukuh Paruk, saya jatuh cinta semenjak bagian ketika Ahmad Tohari menulis bagaimana Rasus memakan pepaya langsung tanpa dikupas. Bagian ini menurut saya indah sekali. Entah mengapa saya kemudian jatuh cinta. Cara beliau berkisah memang tenang, detail, rinci, sehingga adegan per adegan hidup dan nyaman dinikmati. Pengalaman demikian juga saya rasakan ketika pertama kali membaca cerpen Bibir Dalam Pispot, milik Hamsad Rangkuti. Entah mengapa penceritaan dengan gaya sederhana, dengan tidak menggunakan teknik neko-neko, yang tidak abai pada detail membuat cerita rekaan itu hampir-hampir saya imani sebagai penggalan kisah nyata yang dipungut penulis. Memang dua contoh itu tidak memiliki teknik yang neko-neko, atau beberapa orang mengatakan itu zadul, ketinggalan zaman, dan enggak mewakili zaman mileneal di mana teks dan penulis berhak hidup atas dirinya sendiri. Novel sekarang mah bebas-bebas saja.

Benar, generasi penulis sekarang memang tidak boleh menulis dengan gaya kuno. Apalagi kalau selalu dimulai dengan pemandangan alam, matahari bersinar terik, bulan bulat putih, itu gaya-gaya yang enggak akan ditemukan di penulis era mileneal sekarang. Mereka macam-macam dalam teknik, simile. Mungkin ini juga dikarenakan referensi bacaan mereka yang sekarang semakin beragam dan mudah didapatkan. Ya, segarlah dalam dunia literasi Indonesia. Continue reading “Anomali”

Advertisements
Jurnal · Resensi

Resensi Buruk untuk Buku Baik

Ketika Michiko Kakutani, salah satu penulis ulasan dan kritik buku di New Yorks Times, pensiun di 2017 lalu, salah satu media menuliskan kalimat: “Malam ini para novelis akan tidur lebih nyenyak”. Ya, benar. Para novelis itu hampir dipastikan tidak akan menerima ulasan yang supertajam, superpedas, dan mendalam dari Kakutani. Sebagai contoh, Kakutani pernah menyebut The Japanese Lover, milik Isabel Allende dengan istilah “Allende memang bintang, tapi The Japanese Lover tidak bersinar.” Kekuatan Kakutani dalam menulis ulasan dan mengkritik kadang menjadi rujukan dan lebih sering menjadi acuan para toko, misalkan amazon atau sangat sering kalimat Kakutani dikutip untuk dijadikan sampul, tentu dipilih yang kuat dan membuat pembaca tertarik membawa ke kasir. Ya, demikianlah peran kuat dari seorang pengulas yang baik. Saya bayangkan, apabila Kakutani di Indonesia akan sering “mencak-mencak” atas beberapa novel baru yang mungkin akan diulas.

sumber gambar: Wenyi Geng

Pernah juga saya mendengar kisah, ketika Cantik Itu Luka, Eka Kurniawan baru terbit oleh penerbit Yogyakarta sebelum pindah ke GPU, Maman S Mahayana menulis ulasan “pedas” di Media Indonesia. Estetika model mana yang hendak dimainkan Eka Kurniawan dalam Cantik itu Luka?, tanya Maman dalam ulasannya. Kemudian (kalau saya tidak salah ingat), gelombang pembelaan mulai Muhidin M Dahlan dan Katrin Bandel bergantian dimuat di media yang sama. Namun, ulasan yang cukup keras itu tidak menyurutkan kegemilangan novel Eka Kurniawan tersebut. Bahkan sekarang, kita bisa menikmati buku tersebut dalam ragam bahasa terjemahan. Intinya apa? Continue reading “Resensi Buruk untuk Buku Baik”

Jurnal · Resensi

Kok Pada Enggak Baca Buku Ini Sih?

sumber gambar: Miguel Ángel Camprubí

Beberapa waktu lalu, salah seorang penulis muda kenamaan Indonesia, melempar cuitan di twitter. “Kurang tertarik baca XXXXX, maap. Mending ngabisin waktu buat baca YYYYY.” Tidak ada yang salah dengan cuitan ini. Sama sekali tidak keliru. Karena membaca menurut saya adalah kegiatan solitair, meski belakangan banyak kegiatan membaca “berjamaah” macam tasmik quran, sebagaimana yang sering Klub Baca Yogyakarta kerjakan. Sehingga sangat mungkin orang tidak nyaman membaca buku tertentu, dan sebaliknya sangat suka dengan buku tertentu dan tidak memedulikan pendapat orang, ulasan di media, atau bahkan orang yang menjelek-jelekan sekali pun, bagaimana angin yang masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri. Continue reading “Kok Pada Enggak Baca Buku Ini Sih?”

Jurnal · Resensi

7 Novel Thriller Yang Tidak Boleh Kalian Baca Sendirian

sumber gambar: serge no soy

BELAKANGAN saya memang sedang tersandera dan gandrung dengan novel-novel thriller. Hampir beberapa judul dan penulis baru yang kemudian menjadi idola saya adalah thriller, meski genre sastra (meski saya harus sepakat dengan Mas Seno, bahwa mengotakan sastra dan non-sastra adalah kepentingan marketing semata) yang tetap saya idolakan. Kecintaan saya atas novel thriller ini kemudian mengimbas pada beberapa genre film yang memang lebih asyik ketika kita dibuat degdegan tidak keruan saat menebak-nebak otak di balik kejadian, atau dibuat enggak yakin dengan kejutan dan twist di akhir cerita. Sebenarnya, novel thriller juga menyajikan kesan yang demikian. Kemudian saya mulai mendeteksi bahwa genre thriller ini adalah sejatinya genre yang paling susah. Penulis harus pintar bikin twist, bikin karakter yang tidak terpercaya, atau bikin pace cerita yang menarik. Dan di postingan ini, saya mau membagi cerita 7 novel thriller yang menarik dan sewajarnya teman-teman baca dan enggak boleh baca sendirian. Namun, saya tidak mau memasukkan nama Agatha Christie atau Sherlock Homes. Sudahlah, keduanya kita tempatkan di area “beyond” dari semua penulis thriller.

Kita mulai…..  Continue reading “7 Novel Thriller Yang Tidak Boleh Kalian Baca Sendirian”

Jurnal

Tidak Lagi Memberi Impresi

Saya setiap kali nonton budaya Korea, baik drama, variety show, dan film, saya teringat apa yang disampaikan oleh Euny Hong dalam salah satu artikel di bukunya “Korean Cool”. Apa yang dikatakan Euny Hong? Euny Hong bilang, sebenarnya untuk bikin lagu, musik, dan penampilan enak, tidak perlu dibutuhkan 9 atau 11 orang idols. Lantas mengapa kok rata-rata idol itu berjumlah banyak. Setelah saya ngikutin beberapa reality show yang mengundang beberapa idol, saya bisa menyimpulkan teori saya bahwa ini murni keperluan bisnis. Logikanya, mereka bukan lagi sebagai sebuah grup yang memang harus demikian jumlahnya agar bisa menyampaikan pesan lewat lagu. Semakin banyak jumlahnya, maka perusahaan yang menaungi mereka akan semakin banyak kesempatan “memerah” keuntungan dari person person setiap idol. (Ini murni teori saya)

Karena saya baru menyukai budaya Korea akhir-akhir ini, tidak tahu pendahulu-pendahulu mereka bagaimana, terutama yang idol dan penyanyi. Jadi saya juga tidak bisa membandingkan apakah idol atau penyanyi Korea sebelum merebak Korean Wave menempatkan budaya sebagai penyampai pesan atau tidak.  Continue reading “Tidak Lagi Memberi Impresi”

Film · Jurnal

Saya Pelahap Budaya Korea

Saya termasuk generasi yang dimabok oleh budaya pop Korea, terutama drama dan film Korea. Meski sejujurnya saya tidak mudah hapal nama-nama pemain. Maka, ketika teman saya tanya “itu yang main si A, bukan?” Saya tidak akan menjawab dengan detail. Saya hanya bisa menceritakan “itu yang ceritanya begini, begini,” atau minimal “yang pernah main di sana”. Ya, nama mereka susah dihapal.

Belakangan, saya mungkin sudah mulai jengah dengan drama romantis produksi Korea. Kalau dicermati polanya selalu sama. Beberapa bahkan alur pengisahan cenderung lambat dan klise. Drama romantis yang saya tonton terakhir adalah Because It’s My frist Life dan Go Back Couple, yang keduanya saya nilai punya sudut pandang yang berbeda, unik, dan karakter tokohnya sangat kuat. Saya sekarang mengklaim diri saya sendiri, bahwa saya mungkin sudah mulai pilih-pilih drama untuk hiburan selepas isya saya. Pencita K-drama dan K-movie yang upgraded, heeheee. Drama-drama mainstream kadang tidak menarik hati saya. Oleh sebab itu, saya lebih suka mantengin drama-drama keluaran TvN yang temanya sangat variatif dan tidak jarang sukses membuat dada saya hangat. Misalkan Wise Prison Life atau The Avenger Social Club yang hampir nol-romance tapi ceritanya kuat, karakternya nempel di kepala, dan kisahnya sangat ‘manusiawi’. Juga beberapa drama milik OCN yang kerap menghadirkan tema thriller yang segar dan beda. Continue reading “Saya Pelahap Budaya Korea”

Jurnal · Resensi

Kutukan Pengikut Serial

38979b54485563-5960dabf71e66
Sumber: Marko Rop

Sepertinya saya harus mengakui bagaimana nasib para pengikut serial adalah laiknya terkena kutukan. Kesel juga penasaran. Kalau dulu pengikut Dee sampai meneror Ibu Suri untuk menagih, kelanjutan Supernova. Atau bagaimana penggila Red Queen harus berdebar menanti ending cerita. Atau paling gampang ialah bagaimana penggila komik, serial drama Korea, yang harus menahan napas menanti apa yang selanjutnya terjadi.

Menurut saya itulah kelebihan sesuatu yang sengaja dibuat bersambung. Di sisi lain, penulis harus pandai memenggal kisah, meletakkan kejutan di setiap chapter. atau minimal membuat bertanya-tanya apa yang akan terjadi selanjutnya. Berbeda sekali dengan penulis cerpen, yang memang sengaja harus berhenti di satu titik. Entah diakhirkan dengan konklusi bulat atau memang disengaja untuk membuat lubang pembaca ketika cerpen berakhir (red: open ending).  Continue reading “Kutukan Pengikut Serial”