Jurnal · Resensi

Lima Buku Penulis Jepang Selain Milik Murakami

Mengidolakan Haruki Murakami adalah hal yang sudah wajar dan sudah sepatutnya. Bahkan saat saya pertama kali membaca Norwegian Wood, dengan agak terkaget-kaget dengan narasi yang sedikit tidak biasa, saya langsung jatuh cinta. Meski konon awalan saya sedikit salah, karena langsung membaca novel yang paling depresif itu. Tetapi sebenarnya selain Murakami banyak nama penulis Jepang yang saya idolakan. Entah karena narasi dalam novelnya.

Saga no Gabai Batchan (Yoshichi Shimada). Ini adalah novel dengan kesederhanaan. Mulai dari kisah atas orang-orang miskin dari kalangan marginal dan rural. Tetapi lebih dari itu, novel ini juga mengajarkan falsafah hidup yang ditanamkan oleh sang nenek. Mulai dari menghadapi kemiskinan, semangat hidup, bahkan soal menghadapi nilai buruk di sekolah. Saya nggak tahu buku ini apakah kembali dicetak ulang. Tapi seingat saya dulu, buku ini ada dua versi cover. Satu yang warna kuning dan warna sedikit ungu. Karena novel ini sedikit biografi, makanya beberapa bagian sangat sentimentil buat saya. Dan dari novel ini pula, kenangan saya akan desa kelahiran saya tak akan pernah terhapusan. Sekaligus belajar untuk bersyukur atas apa yang sedang kita miliki. Continue reading “Lima Buku Penulis Jepang Selain Milik Murakami”

Cerpen · Jurnal

Belajarlah Pada Syair Dangdut

 

circle-made-of-music-instruments_23-2147509304

Saya tidak pernah malu mengakui bahwa saya adalah anak yang dibesarkan dengan lagu-lagu dangdut. Seingat saya, semasa TK saya adalah orang yang paling mahir memainkan sampur dengan jejogedan dengan alunan lagu Goyang Karawang dari Lilis Karlina. Semasa SD selain acara Aroma dari Bu Sisca Soewitomo, film vampir China setiap pulang sekolah, acara dangdut adalah kegemaran saya. Ada In Dangdut yang sejenis top-chart lagu-lagu dangdut masa itu dan Kuis Dangdut yang sangat familiar bahkan di tengah keluarga saya. Malu? Ah tidak. Mungkin lagu pop pertama yang kudengar ialah berkat acara Akademi Fantasi Indosiar dan Indonesian Idol di televisi. Saya benar-benar tumbuh berkat alunan musik dangdut di teve juga di radio. Continue reading “Belajarlah Pada Syair Dangdut”

Jurnal

Pecel Ayam

Dulu, dulu sekali, saya pernah berpikir bagaimana orang masih butuh obat untuk melancarkan ke belakang, makanan penambah serat, atau multivitamin sejenis. Mengapa? Karena saya yang anak dusun dengan mudah merampas dedaunan hijau untuk sehari-hari. Mulai daun singkong, daun ubi jalar, daun pepaya plus bunganya, kembang turi, daun lamtoro, daun sembukan, daun kelor, rembayung, rebung, sendetan, beluntas, bayam, kangkung, dan dedaunan lainnya yang bisa dimakan. Maka kondisi ini membuat kita tak butuh lagi yang namanya obat atau makanan penambah serat. Itu dulu. Continue reading “Pecel Ayam”

Jurnal

Ubat-ubet

Jangan menyerahkan segala sesuatunya kepada yang bukan ahli.

Sepertinya itu sebuah slogan yang selalu abadi dari zaman ia ditemukan sampai nanti, entah kapan. Dalam segala urusan jargon itu menjadi sangat representatif. Mau dari urusan menjahit kancing baju sampai urusan mengatur negara, jargon itu bisa jadi senjata untuk memilah. Ceritanya begini. Pekan lalu saya ada janji ketemuan sama orang bahasa kantornya meeting di Plasa Senayan, petang menjelang magrib. Saya bersama teman kantor, tentu harus mengantisipasi macet. Dipilihlah Grab-Car agar cepat dan kita masih bisa menyiapkan obrolan sebelum meeting. Berangkat lancar, kita sampai Plasa Senayan beberapa puluh menit sebelum janji itu. Tetapi insiden muncul saat pulang. Continue reading “Ubat-ubet”

Jurnal

Wicis

Baru-baru ini saya menjadi Homo Jakartanensis, meminjam istilah Seno Gumira Ajidarma untuk manusia-manusia yang tinggal atau beraktivitas di Jakarta. Terjadi perubahan besar-besaran dalam ritme waktu pada diri saya dan bagaimana gaya komunikasi orang-orang ibukota.

Pola tutur masyarakat Jakarta memiliki dua karakter yang cukup kuat. Pertama, lu-guwe. Bahasa gaul atau slank yang lazim dipergunakan menjadi hal yang sering kita dengar. Bagi mereka yang baru saja menjadi penduduk Jakarta, bukan hanya soal logat daerah yang masih kentara, kegagapan dalam melafalkan lu-guwe menjadi penanda jelas dia belum sah sebagai homo jakartanensis. Continue reading “Wicis”

Film · Jurnal

AADC#2: Kegairahan Sastra

Komentar saya hanyalah, ini bukan sekadar sekuel kelanjutan AADC. Bila film yang melanjutkan film sebelumnya, hanya berkisah bagaimana kisah selanjutnya. Di AADC #2 ini kelanjutan kisahnya seperti loncatan. Karena jeda 14 tahun, hingga semua tokoh telah melakukan banyak hal. Alya meninggal karena kecelakaan di tahun 2010. Karmen sempat kejerat obat terlarang karena ditinggal suaminya kabur dengan wanita lain. Milly yang ternyata menikah dengan Mamet. Juga si Maura yang sudah brojol tiga anak. Lantas bagaimana dengan Rangga dan Cinta? Dikisahkan secara sekilas –lewat selembar foto Rangga dan Cinta berlatar Amerika, dan dialog dalam percakapan. Bahwa Cinta pernah menyusul Rangga ke Amerika bersama keluarga. Sambutan hangat. Namun saat Cinta kembali ke Indonesia, Rangga menjauh dan puncaknya surat pemutusan hubungan asmara antara dia dan Cinta. Bisa dibayangkan dong… Remuknya hati Cinta diputuskan oleh kekasih lewat selembar surat, tanpa pernah merasa melakukan hal keliru, juga Cinta tak pernah tahu kesalahan yang pernah diperbuatnya. Continue reading “AADC#2: Kegairahan Sastra”

Jurnal · Resensi

Menyisir Luka Gadis Pantai

IMG_20160418_160248

Setiap kali membaca karya-karya Pramoedya Ananta Toer (PAT) dada ini serasa dijejali landak atau godam sesak. Sakit sekali membaca kisah-kisah tokoh PAT. Kesan ini mungkin didasari oleh kisah-kisah tokoh dalam karya PAT yang tampil begitu nelangsa, kalah, atau tertekan oleh sistem yang tak memihak pada kemanusiaan.

Bulan April ini, Klub Baca (@klubbaca) bekerjasama dengan Radio Buku (@radiobuku) menyongsong #HaulPram di akhir April nanti, mendahului dengan membaca Gadis Pantai. Dan agenda itu terlaksana Minggu, 17 April 2016. Tidak berlebihan, selain dalam rangka menyongsong #HaulPram juga bertepatan dengan 21 April. Karena dalam Gadis Pantai tersiar gelombang perlawanan seorang wanita terhadap kekangan kasta sekaligus gugatan atas penempatan perempuan yang tak sepadan. Continue reading “Menyisir Luka Gadis Pantai”