Jurnal · Resensi

Kutukan Pengikut Serial

38979b54485563-5960dabf71e66
Sumber: Marko Rop

Sepertinya saya harus mengakui bagaimana nasib para pengikut serial adalah laiknya terkena kutukan. Kesel juga penasaran. Kalau dulu pengikut Dee sampai meneror Ibu Suri untuk menagih, kelanjutan Supernova. Atau bagaimana penggila Red Queen harus berdebar menanti ending cerita. Atau paling gampang ialah bagaimana penggila komik, serial drama Korea, yang harus menahan napas menanti apa yang selanjutnya terjadi.

Menurut saya itulah kelebihan sesuatu yang sengaja dibuat bersambung. Di sisi lain, penulis harus pandai memenggal kisah, meletakkan kejutan di setiap chapter. atau minimal membuat bertanya-tanya apa yang akan terjadi selanjutnya. Berbeda sekali dengan penulis cerpen, yang memang sengaja harus berhenti di satu titik. Entah diakhirkan dengan konklusi bulat atau memang disengaja untuk membuat lubang pembaca ketika cerpen berakhir (red: open ending).  Continue reading “Kutukan Pengikut Serial”

Advertisements
Jurnal · Resensi

Dari Ikan, Kasuari, dan Si Kocak Gaspar

Padang Ekspres, 9 Juli 2017

sumber gambar: Jones & Co

Membicarakan Lima Novel Pemenang Sayembara DKJ 2016

Sayembara Novel DKJ yang telah dimulai sejak 1974 diniatkan untuk meranggang gairah menulis prosa sastra di kalangan anak muda. Telah banyak alumnus DKJ yang karya-karyanya hingga sekarang menjadi buah bibir dan terus diperbincangkan. Misalkan di tahun 1978 Ahmad Tohari pernah mendapatkan hadiah dari Dewan Kesenian Jakarta untuk novelnya Di Kaki Bukit Cibalak. Dan sampai sekarang novel itu masih saja dicetak ulang dan diperbicangkan. Kemudian pernah juga Ayu Utami memenangi sayembara di DKJ tahun 1998, dengan judul Saman yang kala itu dia mempergunakan nama pena Jambu Air. Novel itu kemudian melejitkan nama Ayu Utami sebagai sastrawan dengan lokus pada feminisme perempuan. Novel itu diterjemahkan ke berbagai bahasa dan juga meraih banyak penghargaan.

Jauh sebelum DKJ, sastra Indonesia telah dibentuk oleh berbagai sayembara kepenulisan. Mulai dari penerbit majalah, institusi pemerintah, Dewan Kesenian Jakarta, universitas, penerbit buku, hingga berbagai komunitas yang peduli akan sastra. Semuanya bertujuan untuk menjaring naskah-naskah terbaik dari berbagai pengarang di seluruh penjuru Indonesia. Continue reading “Dari Ikan, Kasuari, dan Si Kocak Gaspar”

Jurnal · Resensi

Lima Buku Penulis Jepang Selain Milik Murakami

Mengidolakan Haruki Murakami adalah hal yang sudah wajar dan sudah sepatutnya. Bahkan saat saya pertama kali membaca Norwegian Wood, dengan agak terkaget-kaget dengan narasi yang sedikit tidak biasa, saya langsung jatuh cinta. Meski konon awalan saya sedikit salah, karena langsung membaca novel yang paling depresif itu. Tetapi sebenarnya selain Murakami banyak nama penulis Jepang yang saya idolakan. Entah karena narasi dalam novelnya.

Saga no Gabai Batchan (Yoshichi Shimada). Ini adalah novel dengan kesederhanaan. Mulai dari kisah atas orang-orang miskin dari kalangan marginal dan rural. Tetapi lebih dari itu, novel ini juga mengajarkan falsafah hidup yang ditanamkan oleh sang nenek. Mulai dari menghadapi kemiskinan, semangat hidup, bahkan soal menghadapi nilai buruk di sekolah. Saya nggak tahu buku ini apakah kembali dicetak ulang. Tapi seingat saya dulu, buku ini ada dua versi cover. Satu yang warna kuning dan warna sedikit ungu. Karena novel ini sedikit biografi, makanya beberapa bagian sangat sentimentil buat saya. Dan dari novel ini pula, kenangan saya akan desa kelahiran saya tak akan pernah terhapusan. Sekaligus belajar untuk bersyukur atas apa yang sedang kita miliki. Continue reading “Lima Buku Penulis Jepang Selain Milik Murakami”

Cerpen · Jurnal

Belajarlah Pada Syair Dangdut

 

circle-made-of-music-instruments_23-2147509304

Saya tidak pernah malu mengakui bahwa saya adalah anak yang dibesarkan dengan lagu-lagu dangdut. Seingat saya, semasa TK saya adalah orang yang paling mahir memainkan sampur dengan jejogedan dengan alunan lagu Goyang Karawang dari Lilis Karlina. Semasa SD selain acara Aroma dari Bu Sisca Soewitomo, film vampir China setiap pulang sekolah, acara dangdut adalah kegemaran saya. Ada In Dangdut yang sejenis top-chart lagu-lagu dangdut masa itu dan Kuis Dangdut yang sangat familiar bahkan di tengah keluarga saya. Malu? Ah tidak. Mungkin lagu pop pertama yang kudengar ialah berkat acara Akademi Fantasi Indosiar dan Indonesian Idol di televisi. Saya benar-benar tumbuh berkat alunan musik dangdut di teve juga di radio. Continue reading “Belajarlah Pada Syair Dangdut”

Jurnal

Pecel Ayam

Dulu, dulu sekali, saya pernah berpikir bagaimana orang masih butuh obat untuk melancarkan ke belakang, makanan penambah serat, atau multivitamin sejenis. Mengapa? Karena saya yang anak dusun dengan mudah merampas dedaunan hijau untuk sehari-hari. Mulai daun singkong, daun ubi jalar, daun pepaya plus bunganya, kembang turi, daun lamtoro, daun sembukan, daun kelor, rembayung, rebung, sendetan, beluntas, bayam, kangkung, dan dedaunan lainnya yang bisa dimakan. Maka kondisi ini membuat kita tak butuh lagi yang namanya obat atau makanan penambah serat. Itu dulu. Continue reading “Pecel Ayam”

Jurnal

Ubat-ubet

Jangan menyerahkan segala sesuatunya kepada yang bukan ahli.

Sepertinya itu sebuah slogan yang selalu abadi dari zaman ia ditemukan sampai nanti, entah kapan. Dalam segala urusan jargon itu menjadi sangat representatif. Mau dari urusan menjahit kancing baju sampai urusan mengatur negara, jargon itu bisa jadi senjata untuk memilah. Ceritanya begini. Pekan lalu saya ada janji ketemuan sama orang bahasa kantornya meeting di Plasa Senayan, petang menjelang magrib. Saya bersama teman kantor, tentu harus mengantisipasi macet. Dipilihlah Grab-Car agar cepat dan kita masih bisa menyiapkan obrolan sebelum meeting. Berangkat lancar, kita sampai Plasa Senayan beberapa puluh menit sebelum janji itu. Tetapi insiden muncul saat pulang. Continue reading “Ubat-ubet”

Jurnal

Wicis

Baru-baru ini saya menjadi Homo Jakartanensis, meminjam istilah Seno Gumira Ajidarma untuk manusia-manusia yang tinggal atau beraktivitas di Jakarta. Terjadi perubahan besar-besaran dalam ritme waktu pada diri saya dan bagaimana gaya komunikasi orang-orang ibukota.

Pola tutur masyarakat Jakarta memiliki dua karakter yang cukup kuat. Pertama, lu-guwe. Bahasa gaul atau slank yang lazim dipergunakan menjadi hal yang sering kita dengar. Bagi mereka yang baru saja menjadi penduduk Jakarta, bukan hanya soal logat daerah yang masih kentara, kegagapan dalam melafalkan lu-guwe menjadi penanda jelas dia belum sah sebagai homo jakartanensis. Continue reading “Wicis”