Film

3 Film Korea di 2017

Sampai minggu ketiga Januari 2017, saya telah menonton tiga film Korea yang menurut saya cukup menghibur. Kalau di tahun 2016, saya kerap merasa bahwa tone film Korea mulai bergeser ke arah-arah thriller yang mencengangkan. Karena banyak film romantis/drama tidak mendapatkan sambutan baik. My Sassy Girl 2 atau Forecast Love, di mana bertabur bintang papan atas tak menarik perhatian. Tetapi film-film seperti Insane, The Wailing, Train To Busan, bahkan The Tunnel disambut dengan apik oleh masyarakat luas. Saya sendiri dua film Korea favorit saya sepanjang penontonan di 2016 adalah Insane dan The Wailing. Di The Wailing-lah saya sampai harus menghentikan sebentar, mengambil jeda, minum air dan keluar kamar menghirup udara segar, karena memang napas saya sampai terengah-engah lantaran filmnya bikin geregetan. Continue reading “3 Film Korea di 2017”

Advertisements
Film · Jurnal

AADC#2: Kegairahan Sastra

Komentar saya hanyalah, ini bukan sekadar sekuel kelanjutan AADC. Bila film yang melanjutkan film sebelumnya, hanya berkisah bagaimana kisah selanjutnya. Di AADC #2 ini kelanjutan kisahnya seperti loncatan. Karena jeda 14 tahun, hingga semua tokoh telah melakukan banyak hal. Alya meninggal karena kecelakaan di tahun 2010. Karmen sempat kejerat obat terlarang karena ditinggal suaminya kabur dengan wanita lain. Milly yang ternyata menikah dengan Mamet. Juga si Maura yang sudah brojol tiga anak. Lantas bagaimana dengan Rangga dan Cinta? Dikisahkan secara sekilas –lewat selembar foto Rangga dan Cinta berlatar Amerika, dan dialog dalam percakapan. Bahwa Cinta pernah menyusul Rangga ke Amerika bersama keluarga. Sambutan hangat. Namun saat Cinta kembali ke Indonesia, Rangga menjauh dan puncaknya surat pemutusan hubungan asmara antara dia dan Cinta. Bisa dibayangkan dong… Remuknya hati Cinta diputuskan oleh kekasih lewat selembar surat, tanpa pernah merasa melakukan hal keliru, juga Cinta tak pernah tahu kesalahan yang pernah diperbuatnya. Continue reading “AADC#2: Kegairahan Sastra”

Film · Jurnal

Berubah Menjadi Pendekar Tongkat Emas “Hiyah!”

Nunggu PTE dimulai, mengunyah "Aruna dan Lidahnya" Laksmi Pamuntjak
Nunggu PTE dimulai, mengunyah “Aruna dan Lidahnya” Laksmi Pamuntjak

Mengapa saya ingin menonton film ini selagi masih di bioskop? Saya tidak hendak menunggu di DVD, apalagi di warnet secara ilegal kalau memang itu film benar-benar bagus. Saya tidak ingin mengulang ketinggalan saya atas film bagus Tabula Rasa, yang baru saya tonton setelah film tersebut masuk daftar tayang di Jogja Asian Film Festival ke-9 awal Desember lalu. Kemudian alasan lain adalah trust saya pada beberapa orang yang ada di layar maupun di balik layar atas Pendekar Tongkat Emas. Ada pemain-pemain yang bukan sembarangan, Christine Hakim, Landung Simatupang, Slamet Rahardjo, Nicolas Saputra, Reza Rahadian dengan kemampuan akting tidak diragukan. Bahkan aking-akting yang belum terlalu senior seperti Eva Celia, Tara Basro, dan si imut Aria Kusumah yang aktingnya jenaka.

PTE + Aruna & Lidahnya
PTE + Aruna & Lidahnya

Selain itu kita juga tidak meragukan Mira Lemana dan Riri Reza, Ifa Isfansyah yang pernah membikin Ronggeng Dukuh Paruk-nya Ahmad Tohari menjadi nyata. Serta dua penulis cerpen, sastrawan besar Seno Gumira Ajidarma dan Jujur Prananto membuat saya tidak boleh ketinggalan pada film ini. Maka lengkap sudah bahwa film ini bukan sekadar film yang biasa-biasa saja. Apalagi tema yang diangkat lumayan tema fresh dan baru. Continue reading “Berubah Menjadi Pendekar Tongkat Emas “Hiyah!””

Film · Jurnal

Gulai Kepala Ikan, Rembulan, dan Semangkuk Kenangan

Judul ini bukan berkaitan dengan cerpen saya, yang kebetulan dipilih Femina sebagai juara 1 yang kebetulan juga ketiga juaranya hampir semua mengambil tema makanan. Tapi ini berkaitan dengan beberapa film yang saya tonton dalam rangka acara Jogja Asian Film Festival (JAFF) kesembilan. Saat diberi informasi adanya ada festival ini, langsung saya memesan beberapa tiket. Dan film-film yang saya pilih dan saya anjurkan teman-teman, meskipun saya belum pernah menontonnya sekadar trailer dan membaca ulasan orang di dunia maya, yaitu: Miss Granny (Korea Selatan),  The Sun, The Moon, and The Hurricane (Indonesia), Selamat Pagi, Malam (Indonesia), The Raid 2: Berandal (Indonesia), Like Father, Like Son (Japan), dan Tabula Rasa (Indonesia). Entah mengapa kesemua film yang saya tonton ternyata memiliki benang merah yaitu tentang ikatan keluarga. Mungkin juga momennya tepat dengan bulan Desember, hari ibu, dan hujan yang selalu menurunkan kenangan lebih jahanam. Continue reading “Gulai Kepala Ikan, Rembulan, dan Semangkuk Kenangan”

Film · Jurnal

After Taste Interstellar

Kalau habis makan makanan enak pasti menyisakan kenangan yang terus berputar di mulut. Misal selesai makan nasi padang, ada rasa santan dan lemak di sela-sela gigi dan tentu rasa bersalah lantaran sudah makan berlemak dan berkolesterol tinggi. Pun dengan makanan-makanan lain. After taste juga bisa dirasakan ketika membaca buku. Misalnya teman saya akan marah pada pemerintahan keji kalau usai menamatkan atau re-reading buku-buku Pramoedya, ada yang mewek abis baca bukunya Winna Effendi, kalau after taste saya adalah saat membaca The Thousand Splendid Suns-nya Khaled Hosseni. Membaca buku itu serasa ada yang bergelombang di dada dan campurannya seperti cocktail. (kayak saya pernah minum minuman mewah itu saja). Kali ini saya ingin menyampaikan after taste saya usai menonton film Interstellar. Bagi yang belum berkesempatan nonton bisa menengok trailernya di sini.

Saya tidak akan membocorkan alur filmnya. Intinya akan ada seorang ayah Cooper, yang harus memimpin ekspedisi ke luar angkasa. Ayah itu harus meninggalkan ladang jagung, mertua, dan dua anaknya -Murph dan Tom. Misi untuk menyelamatkan bumi karena bumi sudah semakin hancur dan tidak keruan. Meski dalam film hanya disebutkan tanaman mulai mati dan badai debu yang sering merenggut nyawa manusia. Intinya bumi akan musnah dan lekas hancur.
Perjalanan luar angkasa dimulai dan menengangkan. Selama adegan saya jujur ingin menangis, karena apa? Pertama meski ini gambaran manusia, tentu dengan riset mendalam, saya bisa merasakan kekuasaan Tuhan yang Mahabesar dan tidak tertandingi. Melihat bentuk kelamnya angkasa, sunyinya saat setting di space, atau sebuah lorong cacing yang menengangkan dan sebuah relativitas waktu yang mengerikan. Ngomong-ngomong relativitas inilah yang menjadi permasalahan film ini. Beda waktu di bumi dan di luar angkasa yang berbeda membuat buncahan emosi makin tidak terkendali. 7 jam di luar angkasa sama dengan bertahun-tahun di Bumi. Maka bisa dibayangkan, selama perjalanan Coop bumi sudah semakin tua, anak-anaknya semakin besar.
Tapi saya jadi bertanya pada adegan begini: beberapa adegan dalam film melayang di dalam pesawat luar angkasa, namun sesekali bisa menapak dengan jelas. Apakah ketika menapak ini memakai gravitasi yang dipakai luar angkasa atau gravitasi pesawat? Mari tanya anak fisika, terutama astronomi.
Seperti yang sudah ditebak, endingnya selalu berhasil mencipakan kehidupan baru.
Lebih dari itu, saya benar-benar menikmati film ini. Sains, keluarga, cinta, dan hero bercampur yang bikin after taste sampai sekarang. Saya menyukai film ini! Lalu saya bertanya: jangan-jangan para pesawat yang menghilang di lubang hitam selama ekspedisi itu masih hidup dan sedang melakukan penelitian. karena dimensi waktu di luar sana berbeda dengan di bumi. Dan mereka sedang mengirimkan morse untuk manusia bumi untuk mawas diri.
Seperti seorang sutradara yang tahu keseluruhan cerita, Tuhan juga tahu atas semua yang ada di bawah kekuasaan-Nya.

Film

A Day with My Son

myson

Judul: My Son atau A Day with My Son (Hangul: 아들; Adeul)

Sutradara: Jang Jin

Pemeran:

– Cha Seung-won as Lee Gang-sik

– Ryu Deok Hwan as Chan Heon-do

Rilis: 1 Mei 2007

Pramoedya Ananta Toer dengan apik menceritakan pengalaman spiritual dengan ayahnya ketika pulang ke Blora dalam novel tipis Bukan Pasar Malam. Di sana Pramoedya bukan hanya berkisah tentang kecintaan pada ayahnya, tetapi betapa seorang ayah menjadi hero pertama bagi anaknya. Ayah betapa buruk perangainya, tetaplah seorang ayah.

Meski beda format, sepertinya film Korea, A Day with My Son (2007), bisa sedikit menggambarkan bagaimana cintanya seorang ayah kepada anaknya. Karena setiap ayah memiliki cara tersendiri untuk menyampaikan rasa sayanganya.

Sebenarnya saya bukan penggemar K-Pop, baik itu film, drama, maupun musiknya. Suka iya. Tetapi untuk diklasifikasikan sebagai fanatik, saya jelas menampik. Film Korea memang sangat identik dengan film-film bergenre romantis, dan memang kuakui banyak hal yan tidak dipikirkan oleh kita bisa terjadi dalam film korea. Mungkin ini terjadi karena cowok Korea (karena kebanyakan pihak cowoklah yang agak enggan untuk menunjukkan keromantisan) tidak malu-malu. Meskipun sekarang film Thailand sudah mulai bergerak ke arah tema-tema sejenis romans.

Selain itu banyak juga film-film Korea non romans yang bisa dijadikan referensi hiburan dan tontonan seru. Termasuk film yang satu ini. Continue reading “A Day with My Son”