Cerpen · Jurnal

(Tak) Berharap pada Sastra Koran

Pernah pada masanya penerbit buku Kompas dengan rajin mengeluarkan buku kumpulan cerpen yang rata-rata berbasis pada cerpen-cerpen yang dimuat media massa, baik Kompas maupun media massa lainnya. Pada masa itu banyak cerpenis mengeluarkan buku kumpulan cerpen, misalkan Triyanto Triwikromo, Yusrizal KW, A Mustofa Bisri, Jujur Prananto, Agus Noor. Era-era itu bolehlah saya sebut sebagai era keemasan sastra koran, cahayanya terang dan memberi banyak pengaruh pada penulis pada masa itu.

Masa kejayaan sastra koran setidaknya membuat banyak buku bagus terbit dan memberi warna tersendiri. Misalnya, Tabir Kelam (2003) karya Herlino Soleman, Dari Bui Sampai Nun (2004) karagan Agus Vrisaba, Cerita-Cerita dari Negeri Asap (2005) kumpulan cerita milik Radhar Panca Dahana. Tiga judul ini mungkin mewakili buku cerita yang bagus yang mungkin luput dibaca secara masif. Selain tiga tersebut, masih banyak judul kumpulan cerpen yang terbit di masa itu. Juga kumpulan cerpen pada masa itu pernah mendapatkan penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa, Bibir dalam Pispot (2003) milik Hamsad Rangkuti yang beroleh penghargaan pada tahun 2003.

Beberapa tahun terakhir, mungkin kita telah masuk pada era, ketika kita tidak lagi bisa menggantungkan koran dan majalah sebagai habitat sastra, terutama cerpen. Ada beberapa alasan yang membuat saya—yang mungkin gegabah—menyimpulkan hal ini. Continue reading “(Tak) Berharap pada Sastra Koran”

Cerpen

Mesin Penjual Otomatis

Jawa Pos, 5 Mei 2019

TENGGOROKANKU begitu sensitif, mudah radang dan batuk bila menelan minuman atau penganan mengandung sakarin. Termasuk penganan yang biasa dibawa Jilung sekembalinya dari jogging pagi hari. Jilung selalu beralasan tidak enak melewati penjual kue yang bengong menanti kedatangan pembeli yang juga tak pasti. Keramahan Jilung juga sakarin.

Genggaman tangan Jilung mengendur. Udara dingin mengisi sela-sela jemari kami. Aku tak habis pikir, pagi ini batuk dan radang berubah menjadi batu yang merangsek dada. Ruangan serba putih tak berhasil membuat mendung menyingkir dari ruangan ini. Jilung mengelus-elus punggungku. Aku tak menangis. Aku lebih ingin menyaksikan apa yang akan dilakukan Jilung setelah diperdengarkan vonis.

“Semua akan baik-baik saja,” Jilung mengusap ujung mata.

Aku terhenyak. Telingaku seolah disiram kemerduan yang lama tak keluar dari mulut Jilung. Continue reading “Mesin Penjual Otomatis”

Cerpen

Mengabarkan Kematian

Solo Pos, 24 Maret 2019

Bukan kematian yang kukhawatirkan, melainkan mengabarkan kematian yang sudah diam-diam kutampik ini kepada Norman, suamiku. Dua minggu lalu aku sengaja tak menyampaikan kepadanya, bahwa Dokter Siwon ingin mengangkat gumpalan lemak di perutku. Gumpalan yang semula sebesar biji rambutan, lama kelamaan membesar. Sebesar telur puyuh, dan membesar kembali hingga seukuran bola golf, dan membuat Dokter Siwon memutuskan untuk mengangkat gumpalan lemak itu.

“Tumor tidak ganas,” Dokter Siwon menyimpulkan. Karena memang benar, tidak ada kesakitan yang kurasakan. Semula kusangka gumpalan itu sekadar beberapa gram lemak yang tak berhasil kubakar setiap pagi dengan lari mengelilingi perumahan kita. Tapi Dokter Siwon merasa gumpalan itu harus diangkat demi tindakan pencegahan agar tidak menganggu rongga tempat bayi kelak tumbuh, terlebih aku dan Norman sedang program kehamilan.

“Bedah minor,” kata Dokter Siwon. Aku mengiyakan. Dua hari lalu, tanpa sepengetahuan Norman, aku dibawa di ranjang operasi di bawah sorot lampu Dokter Siwon mengangat tumot sebesar bola golf itu. Yang Norman ketahui bahwa aku sedang mengambil cuti dua sampai tiga hari dengan menginap di rumah Kakakku Jihan. Continue reading “Mengabarkan Kematian”

Cerpen

Belum Ada Judul

Tribun Jabar, 17 Februari 2019

sumber: behance.net

Dengkur istrinya di ruang sebelah disahut dengkur yang lebih halus dari anak pertamanya. Suasana malam telah menjadi kemul yang menggumuli isi rumah, petak jalanan, dan setiap lorong. Hanya matanya yang belum rela dia katupkan. Dia masih menghadapi layar komputer yang menjadi sumber satu-satunya cahaya terang di ruangan kecil yang sudah lama dia sulap sebagai perpustakaan sekaligus ruang kerjanya, tempat dia menulis dari selepas makan malam, kira-kira jam sembilan hingga maksimal tengah malam. Begitu dia mematok jadwal bekerjanya sebagai penulis.

Namun, berbeda dari biasanya, kali ini semua mandek di ujung-ujung garis akhir. Dia sadar, dia bukan Derek Redmond yang meski gagal di menjelang garis finis, bantuan datang dari luar pagar pengaman. Dia penulis paruh waktu yang bekerja sendiri, tidak ada pertolongan kecuali dari Tuhan atau Setan. Berjam-jam dia telah menulis cerita, kemudian berhenti ketika dia kesulitan menemukan sepotong judul paling tepat untuk seluruh tubuh ceritanya. Continue reading “Belum Ada Judul”

Cerpen

Tuhan Bermalam di Rumah Melly

Media Indonesia, 16 Desember 2018


Tatkala suara ketukan pintu mengibaskan dingin di sekitar telinga, hujan sedang bertambah lebat, PLN baru saja melakukan pemadaman bergilir, dan Nosa menggigil karena demam berdarah. Melly tahu yang mengetuk pintu itu tiada yang lain, kecuali Tuhan. Pertolongan Tuhan hanya datang di akhir, demikian Melly meyakini. Melly bergeming di tubir paling pinggir. Bilamana tangan Tuhan terulur? Orang-orang membekap mulut, bersedekap sambil mengamati dari jauh, memandang jijik, dan menganggap Melly tak lagi manusia seperti mereka. Pertolongan Tuhan kali ini pasti datang, bisik Melly kepada Nosa. Tuhan tak mungkin abai.

Tuhan berdiri di muka Melly. Kehadiran-Nya saja sudah membuat Melly jatuh bahagia. Seolah semua beban hidup, segala kesulitan, dan penyakit Nosa yang hampir membuatnya yakin kematian akan gegas datang memisahkannya dengan Nosa, tak berkutik menyiksa Melly lagi. Tuhan yang tahu semua yang dirasakan Melly, menyingkirkan tubuh Melly dari hadapan-Nya. Masuk menuju dipan di kamar satu-satunya. Di sana Nosa menjelma kepompong. Digulung sarung, kain batik peninggalan Ibu Melly, selimut putih, dan masih dua lembar  seprai. Itu satu-satunya cara Melly membantu mengusir demam Nosa yang tak kunjung turun itu Continue reading “Tuhan Bermalam di Rumah Melly”

Cerpen

Rumah Hantu

sumber gambar: Simone Altamura

(Kedaulatan Rakyat22 Juli 2018)

SIANG ITU, Junot tergopoh-gopoh masuk ke rumah. Sepatu dan tasnya masih dikenakan. Keringat Junot membuat kemeja putih ngeplek ke badan dan basah.

“Rumah Hantu kini ada isinya,” Junot tersengal-sengal bicara. “Rumah Hantu! Rumah Hantu yang memakan Greti.”

“Dari mana kamu tahu, Junot?”

“Teman-teman di TK yang bilang. Dan tadi pas Junot lewat, perempuan itu duduk di emper. Mirip penyihir.”

Rumah Hantu, rumah paling ujung di jalan, mungkin sudah dua tahunan tanpa penghuni. Listrik sudah lama diputus oleh PLN. Belukar di pekarangan depan, dan genting yang beberapa runtuh tak tersentuh. Selepas penghuninya pindah ke Sumatera dan entah kapan akan kembali karena tak ada kabar, rumah itu kosong. Dan dijuluki oleh Junot dan teman-temannya sebagai Rumah Hantu. Tentu karena perwujudan bentuknya layak disebut sebagai sarang hantu, tempat wewegombel kawin, atau tempat sundel bolong membuang bayi. Terlebih, ketika Greti ditemukan lemas-pingsan di pekarangan, setelah semalaman tidak pulang. Itulah mengapa Junot kerap menjuluki Rumah Hantu yang memakan Greti. Continue reading “Rumah Hantu”

Cerpen · Resensi

Bukan Sekadar Cetak Ulang Biasa

ddj_tj3v4ae7z2j

Hampir semua buku Eka Kurniawan, saya telah baca dan koleksi. Kecuali edisi-edisi yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa asing. Heehee. Namun, satu judul yang belum saya baca dan punyai, semenjak saya mulai mengoleksi buku-buku Eka, yakni Cinta Tak Ada Mati. Buku ini susah saya temukan. Tidak seperti Gelak Sedih yang pernah saya temukan di lapak online kala itu. Buku ini benar-benar susah dicari, kalau pun bisa ditemui di lapak online bekas harganya melangit, karena semacam edisi koleksi. Dan betapa girangnya saya, buku ini dihadirkan kembali ke publik di Mei 2018. Saya bungah sekali. Dan setelah memegang edisi barunya, saya terkejut karena terdapat perbedaan dengan edisi lawas 2005. Edisi 2018 disusun dengan komposisi yang berbeda. Bukan Sekadar Cetak Ulang Biasa. Ah, tidak masalah. Toh saya tetap akan membaca buku ini. Dan cerpen favorit saya adalah cerita panjang yang dijadikan judul, Cinta Tak Ada Mati. Kisah orang-orang tua memang selalu membuat saya terharu dan bagaimana gitu. Apalagi kisah Mardio ini, yang diakhiri dengan tragis membahana. Continue reading “Bukan Sekadar Cetak Ulang Biasa”