Cerpen · Resensi

Memikat Tanpa Muslihat

Beberapa kali saya ditanya buku fiksi apa yang paling membuat terkesima sepanjang 2017 untuk buku fiksi Indonesia, maka saya akan dengan tegas menjawab Muslihat Musang Emas (Penerbit Banana, 2017) milik Yusi Avianto Pareanom. Meksipun saya tahu, saya tidak punya kapasitas mengkritik buku sastra, saya hanya berusaha membaca buku sastra dan sedikit mengocehkannya. Dan sayangnya, kemampuan membaca saya juga tidak paripurna. Banyak sekali buku sastra yang terbit dan saya tidak membaca semuanya. Beli online dong, Teguh? Sayanganya lagi, saya termasuk orang yang konvensional dalam membeli apa saja. Jadilah, saya kerap mengandalkan toko buku fisik dan toko buku online yang kerap saya ‘titipi’ untuk beli buku yang tidak ada di toko buku fisik. Sehingga kesimpulan pertama saya memilih Muslihat Musang Emas, masih sangat personal dengan keterbatasan cakupan bacaan saya. 

Tetapi, dibandigkan Rumah Kopi Singa Tertawa (Terbit pertama 2011 dan diperbaharui 2017) saya jauh lebih terpuaskan dengan Muslihat Musang Emas. Cerpen-cerpen dalam buku ini tidak sekadar cerpen yang telah dimuat di media massa dan kemudian diikat menjadi buku, sebagaimana kebiasaan buku kumpulan cerpen kita. Paman Yusi seolah benar-benar membuat ceritanya baru dan tidak terendus oleh pembaca sebelumnya. Kecuali satu cerpen,  Ia Pernah Membayangkan Ayahnya adalah Hengky Tornando, yang pernah masuk dalam antologi buku tentang Tubaba. Selebihnya adalah cerpen-cerpen baru yang membahagiakan. Mengapa membahagiakan? Kisah-kisah sial dalam buku ini benar-benar bikin kita terpingkal. Apalagi sesuatu yang kalau dalam bahasa stand up comedy, punch line yang bikin terbahak. 

Sedikit curhat saya setelah membaca Muslihat Musang Emas dimuat di Jurnal Ruang.

 

Advertisements
Cerpen

Pohon Randu Wangi

“Aku pasti pulang, Ibu.”

Tanpa harus kusampaikan, janji itu kutanam bersama sebiji randu di pekarangan depan. Kuharapkan janji itu akan tumbuh bersama akar-akar randu. Menguat dan kokoh tidak goyah. Lalu pada masanya ketika dia pulang, pohon itu akan tumbang bersama rindu yang sudah lunas terbayar. Semacam dendang gembira Pak Tani mendorong luku di persawahan.

***

Kudekap erat potret sepia terbingkai figura. Beberapa bagian geripis digerus usia. Kuelus sebingkai foto, seperti mengelus pipinya yang gempil dan jerawat ranum yang tumbuh di sekitar hidung. Rindu sudah sedemikian menyerangku. Aku tak lagi bisa mengontrol jatuhnya air mata. Hingga tanpa harus terisak-isak dan meraung-raung, air mataku menuruni tulang pipi hingga membasahi dagu. Aku benar-benar rindu. Continue reading “Pohon Randu Wangi”

Cerpen

Angin Tak Dapat Membaca

Pikiran Rakyat, 11 Juni 2017

a763b753628697.593adcea2cfc3

Sumber gambar: “Wind” by Olga Yefremova

Seperti angin, dirimu tak dapat membaca apa-apa yang kuingin.

Matahari jingga. Suara sirene tanda kereta tiba. Dadaku lesap oleh lara. Luka kecil yang dahulu kuabaikan dan kuanggap akan sembuh oleh waktu yang terus menimpa, sekarang menjadi nganga yang terus melebar. Hingga aku bisa menarik kesimpulan, nelangsa adalah komplenen dari bahagia bila kita sedang dirundung rasa cinta.

Tak ada yang salah dengan hubunganku denganmu. Karena kuyakin dirimulah yang paling mengerti bagaimana aku tak selalu sama dengan kebanyakan wanita lain. Ya, aku seperti letusan kebang api di tengah malam bulan November. Tak ada yang menginginkan, tetapi tetap meledak karena api terpantik tanpa kehendak.

Pernah suatu ketika, aku menasbihkan diri sebagai Virgin Mary. Aku takkan menikah. Dengan segala capaian sepanjang usiaku hampir tiga puluh tak sekali pun aku menjadi parasit dalam kehidupan orang lain. Kecuali aku menghutang air susu dan asuhan ibu semasa aku belia. Kamu sendiri tahu, ibuku memaksaku pindah ke Jakarta setelah dia menjadi istri kedua seorang kiai di pedalaman Kebumen. Aku tak membenci ibuku, tetapi aku membenci mengapa aku tidak bisa hidup damai bersama kesedihan selaiknya ibu berdamai dengan keadaan. Continue reading “Angin Tak Dapat Membaca”

Cerpen

Rio Menjadi Serangga

Saat mata terbuka, kesadaran saya hanya mengingat bahwa saya memang dilahirkan sebagai kutu buku. Saya bukan pegawai rendahan yang oleh mantra Kafka kemudian menjadi kecoa. Juga bukan penulis muda yang oleh sihir Murakami dijadikan kambing yang dari perutnya beterbangan kunang-kunang. Saya kutu buku sedari dulu.3bdc1625568827.56347661ef9ee

Di salah satu kios buku bekas, saya tinggal di antara lipatan-lipatan buku. Saya mencium dan kadang menemukan banyak kawan saya sesama kutu buku sekadar hidup dan makan. Lahir sebagai kutu buku adalah takdir yang tak bisa dielakkan. Namun menjadi kutu buku bodoh, sekadar menggeripisi halaman demi halaman buku, dan menanti ajal mengundang adalah pilihan.

Di salah satu halaman ensiklopedia yang saya baca, serangga-serangga kecil
seperti saya hidupnya tak lebih lama dari masa tanam pohon jagung. Bahkan bisa lebih pendek, kalau wanita pemilik kios ini menyemprotkan obat anti serangga, memberi kapur barus, atau dengan kejinya menginjak tubuh-tubuh kami yang kecil hingga keluar semua isi perut kami.
Continue reading “Rio Menjadi Serangga”

Cerpen

Luisa Tak Mau Dewasa

(Radar Surabaya, 14 Mei 2017)

Seketika setelah mata terbuka, kepala saya langsung di serang seribu penyesalan. Semalam, saya memarahi Luisa. Dan sebagaimana pada umumnya, penyesalan pagi ini hadir setelah kalimat penuh emosi berkejaran dan bertemu titik-tanda seru. Kemudian saya menyaksikan Luisa menunduk dengan air di sudut matanya menitik. Sembab seperti mendung yang hampir berubah hujan. Kalimat saya telah terlanjur meluncur, sebagaimana anak panah telah menghunjam dada lembut Luisa. Dadanya yang mungil dan seharusnya kutimang dengan ayunan sayang. Saya tahu betul, kalimat penuh kemarahan saya itu telah melubangi dada Luisa dan saya harus melakukan selusin kebaikan untuk sedikit demi sedikit menambal lubang tersebut.

Alasannya sangat sederhana, Luisa sedari petang begitu asyik dengan gawai terbaru yang dia sendiri pilih sebagai hadiah masuk tiga besar di kelas. Sedari saya masuk rumah sepulang kerja, Luisa menunjukkan beberapa permaianan yang saya sendiri tak pernah paham bagaimana cara memainkan. Semula saya acungi jempol, betapa Luisa yang masih delapan tahun begitu cepat paham soal pergawaian. Papa dan Mamanya mungkin hanya paham bagaimana memejet angka di papan telepon dan mengetik pesan di aplikasi pesan.

Namun, setelah azan magrib, di tengah makan malam, bahkan waktunya Luisa belajar, dia tak kunjung berhenti memainkan gawai itu, saya mulai terganggu.

“Luisa, sudahan dulu mainnya. Waktunya belajar,” kata saya mencoba menasihati. Continue reading “Luisa Tak Mau Dewasa”

Cerpen

Jemini dan Tuan Busu Klarten

(Media Indonesia, 7 Mei 2017)

Kopi saya tumpah. Bercak kehitaman mengental di kemeja saya dan beberapa tercecer di taplak dan permukaan kayu meja. Saya benar-benar kaget. Jemini, pembantu saya yang sudah hampir setahun ini bantu-bantu pekerjaan rumah mendadak minta izin untuk kawin. Saya amati mata Jemini.

Mata Jemini sebagaimana mata orang-orang yang tak bisa mengaburkan kebohongan. Jemini berdidi sedepa di depan saya. Saya masih terdiam, mencerna semua ucapan Jemini yang pagi ini terasa seperti nasi pera yang disajikan tanpa kuah. Seret dan susah saya telan.

“Kamu beneran mau kawin?” tanya saya.

“Betul, Tuan. Saya sudah mantap jiwa raga untuk menikah tahun ini. Dan calon suami saya adalah orang yang baik,” Jemini menjawab dengan lancar. Continue reading “Jemini dan Tuan Busu Klarten”

Cerpen

Uban di Kepala Ibu

(Kedaulatan Rakyat, 23 April 2017)

Sore itu saya menyisir rambut ibu, yang selama ini begitu saya kagumi karena tak pernah sekali pun berubah menjadi uban. Berbeda dengan rambut di kepala saya, yang meski baru sepertiga dari usia ibu sudah mulai ditumbuhi rona putih di helaian dalam rambut.

“Ibu, rambut ibu benar-benar kuat,” kata saya.

“Rambut itu simbol kekuatan perempuan. Ibu juga tak pernah sekali pun mengumbah rambut dengan shampo-shampo sepertimu,” jawab itu.

“Tapi rambut ibu begitu bersih,” saya kembali memberondong.

Ibu saya terkekeh. Kemudian meraih sisir yang saya pergunakan untuk meluruskan rambut ibu, dia menggelung rambut. Kemudian berbalik menatap wajah saya. Continue reading “Uban di Kepala Ibu”