Cerpen · Resensi

Bukan Sekadar Cetak Ulang Biasa

Hampir semua buku Eka Kurniawan, saya telah baca dan koleksi. Kecuali edisi-edisi yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa asing. Heehee. Namun, satu judul yang belum saya baca dan punyai, semenjak saya mulai mengoleksi buku-buku Eka, yakni Cinta Tak Ada Mati. Buku ini susah saya temukan. Tidak seperti Gelak Sedih yang pernah saya temukan di lapak online kala itu. Buku ini benar-benar susah dicari, kalau pun bisa ditemui di lapak online bekas harganya melangit, karena semacam edisi koleksi. Dan betapa girangnya saya, buku ini dihadirkan kembali ke publik di Mei 2018. Saya bungah sekali. Dan setelah memegang edisi barunya, saya terkejut karena terdapat perbedaan dengan edisi lawas 2005. Edisi 2018 disusun dengan komposisi yang berbeda. Bukan Sekadar Cetak Ulang Biasa. Ah, tidak masalah. Toh saya tetap akan membaca buku ini. Dan cerpen favorit saya adalah cerita panjang yang dijadikan judul, Cinta Tak Ada Mati. Kisah orang-orang tua memang selalu membuat saya terharu dan bagaimana gitu. Apalagi kisah Mardio ini, yang diakhiri dengan tragis membahana. Continue reading “Bukan Sekadar Cetak Ulang Biasa”

Advertisements
Cerpen

Kartu Kuning

(Kedaulatan Rakyat, 18 Februari 2018)

MAUT datang menjemput. Bendri sendiri sudah mafhum bahwa Maut suatu waktu pasti akan datang, mengetuk pintu perlahan tapi memekakkan gendang telinga. Bendri yakin dia tidak seperti orang lain, dia bisa mengundur kedatangan Maut tidak hanya sedetik.

Sudah sering Bendri dengar, Maut menjemput dengan rupa yang berbeda-beda di setiap manusia. Bisa serupa raksasa, serupa ular naga, atau gadis semanis Nella Kharisma. Tapi, sebagai mantan wasit sekaligus penggila Manchester United garis keras, Bendri ingin Maut datang berwujud Setan Merah atau paling tidak salah satu legenda MU yang dia idolakan semenjak kelas dua sekolah dasar, Bobby Charlton.

“Tidak mungkin. Aku bakalan kesusahan. Aku tidak bisa bahasa inggris,” Bendri menampik idenya sendiri. “Kalau aku kikuk dan tidak pandai berkelit, bisa-bisa Maut ngotot menjemput.” Continue reading “Kartu Kuning”

Cerpen

Melodrama Superhero

Tribun Jabar, 31 Desember 2017

Mimpiku? Sama. Sejak kecil aku bermimpi menjadi superhero dengan kostum paling gagah yang bisa kubayangkan. Tubuh terjiplak ketat dengan simbol kebanggan di tengah dada. Aku ingin menjadi superhero. Hingga bisa terbang menyelamatkan gadis yang tergantung di beranda apartemen, membantu kasir toko emas saat ditodong perampok, atau sekadar membunyikan lonceng tahun baru atas undangan khusus walikota.

Impian itu menjadi kenyataan ketika aku sedang terpuruk akibat persoalan asmara. Kekasihku menikah dan tanpa mengirim pesan pernyataan berpisah. Aku merasa seperti sebentuk bayangan yang tanpa pernah dikehendaki kehadirannya. Dia, kekasihku yang selalu kukirimi pesan pengingat makan, ternyata lebih memilih orang lain. Aku memutuskan untuk mengakhiri hidup saja. Tidak ada lagi orang yang akan kukirimi pesan pengingat makan siang.

Aku pergi ke Bukit Golgota. Aku ingat, di sana ada pohon yang lekuk tajuknya mirip bentuk kepala Kumbakarna. Di sanalah salah seorang kawanku menggantungkan diri. Aku ingin mengikuti dia. Meski aku tahu, Bukit Golgota itu sekarang tak lagi sama dengan sepuluh atau lima belas tahun lalu. Lantaran seorang pebisnis batubara berhasil menemukan kandungan timah yang cukup banyak, 300 meter di bawah Bukit Golgota. Akibatnya, mobil pengeruk, kemah penambang, bangunan kantor menutup sebagian Bukit Golgota. Walaupun pohon yang mirip kepala Kumbakarna itu masih ada, aku tetap harus memutar jauh agar tidak harus melewati pengamanan tambang timah. Continue reading “Melodrama Superhero”

Cerpen · Resensi

Memikat Tanpa Muslihat

Beberapa kali saya ditanya buku fiksi apa yang paling membuat terkesima sepanjang 2017 untuk buku fiksi Indonesia, maka saya akan dengan tegas menjawab Muslihat Musang Emas (Penerbit Banana, 2017) milik Yusi Avianto Pareanom. Meksipun saya tahu, saya tidak punya kapasitas mengkritik buku sastra, saya hanya berusaha membaca buku sastra dan sedikit mengocehkannya. Dan sayangnya, kemampuan membaca saya juga tidak paripurna. Banyak sekali buku sastra yang terbit dan saya tidak membaca semuanya. Beli online dong, Teguh? Sayanganya lagi, saya termasuk orang yang konvensional dalam membeli apa saja. Jadilah, saya kerap mengandalkan toko buku fisik dan toko buku online yang kerap saya ‘titipi’ untuk beli buku yang tidak ada di toko buku fisik. Sehingga kesimpulan pertama saya memilih Muslihat Musang Emas, masih sangat personal dengan keterbatasan cakupan bacaan saya. 

Tetapi, dibandigkan Rumah Kopi Singa Tertawa (Terbit pertama 2011 dan diperbaharui 2017) saya jauh lebih terpuaskan dengan Muslihat Musang Emas. Cerpen-cerpen dalam buku ini tidak sekadar cerpen yang telah dimuat di media massa dan kemudian diikat menjadi buku, sebagaimana kebiasaan buku kumpulan cerpen kita. Paman Yusi seolah benar-benar membuat ceritanya baru dan tidak terendus oleh pembaca sebelumnya. Kecuali satu cerpen,  Ia Pernah Membayangkan Ayahnya adalah Hengky Tornando, yang pernah masuk dalam antologi buku tentang Tubaba. Selebihnya adalah cerpen-cerpen baru yang membahagiakan. Mengapa membahagiakan? Kisah-kisah sial dalam buku ini benar-benar bikin kita terpingkal. Apalagi sesuatu yang kalau dalam bahasa stand up comedy, punch line yang bikin terbahak. 

Sedikit curhat saya setelah membaca Muslihat Musang Emas dimuat di Jurnal Ruang. []

 

Cerpen

Pohon Randu Wangi

“Aku pasti pulang, Ibu.”

Tanpa harus kusampaikan, janji itu kutanam bersama sebiji randu di pekarangan depan. Kuharapkan janji itu akan tumbuh bersama akar-akar randu. Menguat dan kokoh tidak goyah. Lalu pada masanya ketika dia pulang, pohon itu akan tumbang bersama rindu yang sudah lunas terbayar. Semacam dendang gembira Pak Tani mendorong luku di persawahan.

***

Kudekap erat potret sepia terbingkai figura. Beberapa bagian geripis digerus usia. Kuelus sebingkai foto, seperti mengelus pipinya yang gempil dan jerawat ranum yang tumbuh di sekitar hidung. Rindu sudah sedemikian menyerangku. Aku tak lagi bisa mengontrol jatuhnya air mata. Hingga tanpa harus terisak-isak dan meraung-raung, air mataku menuruni tulang pipi hingga membasahi dagu. Aku benar-benar rindu. Continue reading “Pohon Randu Wangi”

Cerpen

Angin Tak Dapat Membaca

Pikiran Rakyat, 11 Juni 2017

a763b753628697.593adcea2cfc3

Sumber gambar: “Wind” by Olga Yefremova

Seperti angin, dirimu tak dapat membaca apa-apa yang kuingin.

Matahari jingga. Suara sirene tanda kereta tiba. Dadaku lesap oleh lara. Luka kecil yang dahulu kuabaikan dan kuanggap akan sembuh oleh waktu yang terus menimpa, sekarang menjadi nganga yang terus melebar. Hingga aku bisa menarik kesimpulan, nelangsa adalah komplenen dari bahagia bila kita sedang dirundung rasa cinta.

Tak ada yang salah dengan hubunganku denganmu. Karena kuyakin dirimulah yang paling mengerti bagaimana aku tak selalu sama dengan kebanyakan wanita lain. Ya, aku seperti letusan kebang api di tengah malam bulan November. Tak ada yang menginginkan, tetapi tetap meledak karena api terpantik tanpa kehendak.

Pernah suatu ketika, aku menasbihkan diri sebagai Virgin Mary. Aku takkan menikah. Dengan segala capaian sepanjang usiaku hampir tiga puluh tak sekali pun aku menjadi parasit dalam kehidupan orang lain. Kecuali aku menghutang air susu dan asuhan ibu semasa aku belia. Kamu sendiri tahu, ibuku memaksaku pindah ke Jakarta setelah dia menjadi istri kedua seorang kiai di pedalaman Kebumen. Aku tak membenci ibuku, tetapi aku membenci mengapa aku tidak bisa hidup damai bersama kesedihan selaiknya ibu berdamai dengan keadaan. Continue reading “Angin Tak Dapat Membaca”

Cerpen

Rio Menjadi Serangga

Saat mata terbuka, kesadaran saya hanya mengingat bahwa saya memang dilahirkan sebagai kutu buku. Saya bukan pegawai rendahan yang oleh mantra Kafka kemudian menjadi kecoa. Juga bukan penulis muda yang oleh sihir Murakami dijadikan kambing yang dari perutnya beterbangan kunang-kunang. Saya kutu buku sedari dulu.3bdc1625568827.56347661ef9ee

Di salah satu kios buku bekas, saya tinggal di antara lipatan-lipatan buku. Saya mencium dan kadang menemukan banyak kawan saya sesama kutu buku sekadar hidup dan makan. Lahir sebagai kutu buku adalah takdir yang tak bisa dielakkan. Namun menjadi kutu buku bodoh, sekadar menggeripisi halaman demi halaman buku, dan menanti ajal mengundang adalah pilihan.

Di salah satu halaman ensiklopedia yang saya baca, serangga-serangga kecil
seperti saya hidupnya tak lebih lama dari masa tanam pohon jagung. Bahkan bisa lebih pendek, kalau wanita pemilik kios ini menyemprotkan obat anti serangga, memberi kapur barus, atau dengan kejinya menginjak tubuh-tubuh kami yang kecil hingga keluar semua isi perut kami.
Continue reading “Rio Menjadi Serangga”