Resensi

Berayun ke Dunia Terabithia

Belakangan saya suka sekali membaca buku-buku anak. Beberapa menghibur, bahkan tidak jarang justru menghadirkan nuansa sedih dan nglangu. Tapi yang saya sukai dari buku anak-anak adalah kepolosan tokoh, dan disini penulisnya haruslah secerdas mungkin membuat karakter yang kuat. Di Indonesia memang belum banyak sastra atau buku yang khusus untuk anak. Dan kalau pun ada kebanyakan sesak dengan muatan dan pesan moral yang ingin dijejalkan penulis. Kalau di luar mah, bodo amat! Cerita ya cerita. Menarik untuk anak, asyik dibaca, dan menghibur. Salah satunya Birdge to Terabithia, meskipun buku ini terselip maksud tertentu dari penulis. Tapi sebagai cerita anak, nuansa yang hendak digambarkan penulis sangatlah berbeda. Bahkan akhir cerita buku ini sangatlah berbeda untuk bacaan anak-anak. Tapi mengingat latar cerita buku ini hadir, maka wajarlah bila endingnya bikin nglangu, sedih-haru.

Ulasan saya atas novel Bridge to Terabithia dimuat di Jurnal Ruang, 4 Oktober 2017. Novel ini diterbitkan Noura Books

Advertisements
Resensi

Dalam Gulungan Papier Keretek

(Jawa Pos, 01 Oktober 2017)

Salah satu tokoh penting yang diakui memeliki pengaruh terhadap industri rokok di Kudus ialah Nitisemito, pengusaha yang kemudian dijuluki oleh Ratu Wilhelmina De Kretek Konning (Raja Keretek). Sosok ini kemudian dituangkan Iksaka Banu dalam novel terbarunya Sang Raja.

Pasca kemenangan Semua Untuk Hindia (2014) sebagai prosa terbaik dalam Kusala Sastra Khatulistiwa, Iksaka Banu diakui publik sebagai sastrawan dengan titik fokus tema seputar kolonial. Dan bila biasanya berkutat dalam cerpen, sekarang Iksaka Banu diuji ketahannya dalam menulis prosa panjang, novel, tentang sosok dan pabrik rokok dalam sejarah keretek Kudus.

Novel ini memiliki tiga suara tuturan, yaitu Bardiman Sapari wartawan dari Koran Matahari Timur, Filipus Retchterhand dan Goenawan Wirosoeseno. Dua nama terakhir adalah pegawai NV Nitisemito  saksi jatuh-bangun pabrik rokok itu. Continue reading “Dalam Gulungan Papier Keretek”

Resensi

Novel Metropop Tema Politik

Saya perlu akui, novel Sophismata punya tema yang berbeda untuk kategori metropop, bukan sastra. Ya, novel ini bertemakan politik, meski porsinya tidak terlalu banyak dan kurang membuka lapisan politik lebih dalam. Kalau saya mungkin menyebut novel populer bertemakan politik yang lebih enak yaaa punya Tere Liye, Negeri Para Pedebah. Atau punya Okky Madasari yang 86 dan Kalatida punya Seno Gumira Ajidarma, dan dua judul terakhir memang lebih sering dianggap orang sebagai tema berat yang nyastra (padahal sejatinya saya tidak sepakat dengan demarkasi sastra dan non-sastra). Tapi, yaaaa Sophismata punya blue-ocean yang berbeda.

Cinta Serumit Politik

(Padang Ekspres, 17-09-2017 dan Lampung Post, 24-09-2017)

“Politik itu soal kekuasaan dan kepentingan. Aku pengin bisa memperjuangkan kepentingan orang banyak, tapi untuk bisa memperoleh itu, ya aku harus punya kekuasaan dulu. Jalan menuju hal itu panjang dan berliku.” (hal.234)

Untuk sebuah novel metropop, Sophismata menghadirkan sebuah tema yang tidak biasa. Bila kebanyakan cerita mengisahkan cinta dibalut kehidupa urban nan kosmopolit, dalam novel ini kisah cinta justru berpusar di antara carut-marut politik di negeri ini. 

Menarik mencari arti kata dari judul yang dipergunakan penulis. Sophismata lebih dikenal sebagai salah satu arti dalam dunia filsafat. Secara harfiah kata ini memiliki padaan ambiguitas dari sebuah keadaan yang kemudian membuat seseorang tidak jernih dalam berpikir (logical fallacies) hingga salah dalam mengambil kesimpulan (false conclusions). Arti judul ini, sama dengan nuansa yang hendak dibangun penulis. Cinta dan politik yang dicertiakan sedang dalam nuansa ambiguitas.   Continue reading “Novel Metropop Tema Politik”

Resensi

Cinta Beda Agama dan Keelokan Halmahera

Harian Bhirawa, 4 Agustus 2017

Apa jadinya bila cinta tumbuh di antara dua manusia? Tak ada yang salah, lantaran cinta adalah kelumrahan. Namun apa yang akan dilakukan oleh Nathan dan Puan yang berbeda agama saling mencintai?

Demikianlah konflik utama dari novel Andaru Intan, 33 Senja di Halmahera ini. Nathan seorang tentara yang ditugaskan di Halmahera Selatan, tepatnya di Sofifi, Maluku Utara. Tempat yang jauh tertinggal peradaban. Listrik yang tidak genap 24 jam, sinyal telekomunikasi yang susah, dan jalanan becek membelah hutan, dan masih dihantui ganasnya nyamuk malaria. (hal.10)

Nathan datang bersama serombongan tentara dengan misi menjaga keamaan pasca kerusuhan di Halmahera. Ada masa ketika Maluku membara lantaran perang antar saudara yang kebetulan berbeda agama. Andaru meminjam latar waktu itu untuk kembali mengingatkan bahwa perbedaan agama bukan alasan untuk saling meninggikan pedang. Nathan datang dengan sebuah misi perdamaian. Continue reading “Cinta Beda Agama dan Keelokan Halmahera”

Resensi

Cerpen Kompas 2016

Cerpen Kompas menjadi salah satu cerpen yang paling saya tunggu saban minggunya. Meski beberapa kali saya harus alpa membaca, entah karena sedang enggan atau memang sedang tidak bisa membacanya. Nama-nama seperti Seno Gumira Ajidarma, Budi Darma, adalah dua nama yang selalu saya tunggu karyanya muncul di rubrik cerpen Kompas. Seolah saya bertanya-tanya, ‘tahun ini cerpen Seno dan Budi Darma yang terbit apa ya?’. Bukan saja karena mereka menjadi kegemaran saya, tetapi juga cerpen mereka sudah bisa dipastikan masuk cerpen pilihan Kompas.

Saya masih ingat pertemuan saya pada cerpen ialah dimulai dari buku Pistol Perdamaian, cerpen pilihan Kompas 1996. Sejak pertemuan itu, entah mengapa saya kemudian mengoleksi semua cerpen pilihan kompas setiap tahunnya. Dari Kado Istimewa hingga yang paling baru. Kemudian ditambah Dua Kelamin Bagi Midin dan Cerita dari Negeri yang Haru. Juga ada buku Kurma, yang mengoleksi cerpen-cerpen bertema ramadan dan lebaran di Kompas.  Continue reading “Cerpen Kompas 2016”

Resensi

Menyembuhkan dengan Buku

Koran Tempo, 22-23 Juli 2017

Apa pendapat kita terhadap buku dan membaca? Apakah membaca sekadar penggenap waktu luang, pembunuh kebosanan, atau sarana rekreasi? Mungkin demikian alasan kita membaca dan menyukai buku. Tapi tidak demikian bagi seorang laki-laki bernama Jean Albert Victor Perdu, yang disapa oleh penghuni Apartemen Rue Montagnard 27 sebagai Monsieur Perdu.

Perdu memiliki sebuah kapal yang dijadikan toko buku di Port des Champs-Elysees di tepian Sugai Shiene. Perdu menamainya Literacy Apothecary atau Apotek Kesusastraan. Di toko ini, Perdu memilihkan buku sesuai dengan kondisi kejiwaan pelanggan. Setiap buku memiliki sensasi dan efek berbeda kepada para pembacanya.

Di titik inilah penulis memberikan sebuah pandangan baru bagaimana menikmati buku. Perdu bertindak sebagai apoteker sekaligus seorang psikolog ketika bertemu pelanggan. Sebagai contoh, ketika seorang wanita kesepian datang ke Literacy Apothecary maka Monsieur Perdu menyarankan untuk membaca Elegance of The Hedgehog karya Muriel Barbery. Continue reading “Menyembuhkan dengan Buku”

Resensi

Dialah Pahlawan dan Pemersatu Islam

Lampung Post, 23 Juli 2017

sumber: Gia Nguyen

John Man membuka buku ini dengan sebuah hipotesa megah, tanyakan pada siapa saja di Mediterania Timur, siapa pahlawan terhebat mereka dan jawaban hampir pasti yang didapatkan adalah Shalahuddin. (hal.1) Atau oleh dunia Barat disebut sebagai Saladin. Pertanyaan ini kemudian membuka halaman demi halaman kisah yang diakui oleh dunia Islam dan Barat tersebut.

Shalahuddin lahir di Tikrit, Iraq dan di usia  tahun dibawa Ayyub, ayahnya pindah ke Baalbek, Lebanon. Ia hidup di tengah dua kontradiksi Islam di kala itu. Di satu sisi, Islam sedang mengepakkan kegemilangan dalam berbagai bidang. Ilmu pengetahuan, sastra, teknologi, bahkan dunia kesenian. Namun di satu sisi, bibit perpecahan Islam diam-diam tersimpan. Semasa Shalahuddin muda, perpecahan Syiah-Sunni memiliki dimensi politik, di Kairo dan Baghdad, masing-masing dengan khilafah sendiri, dan masing-masing meyakini kebenaran sendiri. (hal.20) Di tengah ironi demikian, kecerdasan dan pikiran kritis Shalahuddin terasah.

Konflik antara Syiah dan Sunni, kemudian diperkeruh oleh konflik antara Arab dan Barat, membuat suasana Shalahuddin sedikit runyam. Hal ini pula yang kemudian membuat ia menolak saat diminta sang paman, Syirkuh, untuk menjadi ajudannya. Sifat sang paman yang bertolak belakang dengan ayahnya membuat Shalahuddin kecil enggan untuk ikut dalam barisannya. Ia tidak tertarik lantaran sudah melihat dan merasakan sendiri arti perang terutama perihal penderitaan orang lain dan kerugian yang dialami pribadinya sendiri. Continue reading “Dialah Pahlawan dan Pemersatu Islam”