Resensi

Sekali Lagi untuk Hindia

Koran Tempo, 13-14 April 2019

Iksaka Banu kembali menghadirkan kumpulan cerpen berlatar era kolonialisme atau bahkan jauh sebelumnya. Apa yang baru?

Ketika kumpulan cerita pendek Iksaka Banu Semua untuk Hindia (2014) terbit, banjir pujian mengiringi buku tersebut. Judul itu pulalah yang mengantarkannya memperoleh penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa kategori prosa pada tahun yang sama. Iksaka Banu mengembuskan gaya baru dalam menulis cerpen. Meski bukan dituturkan dengan gaya yang mendobrak kebiasaan menulis cerita pendek, ia berhasil menghadirkan corak baru lewat cerpen-cerpen kolonialisme. Mengambil latar ketika era penjajahan, mengambil tokoh serta peristiwa yang benar hidup dalam sejarah, dan tidak jarang suara Iksaka Banu memilih menyaru menjadi suara penjajah, memilih sudut pandang orang Belanda.

Lima tahun kemudian, Iksaka Banu kembali menghadirkan kumpulan cerpen berlatar era kolonialisme atau bahkan jauh sebelumnya: Teh dan Pengkhianat. Tak jauh berbeda dengan kumpulan cerpen terdahulu, Iksaka Banu masih menyorot potongan-potongan sejarah yang dielaborasikan dengan racikan fiksi, berlatarkan era kolonialisme Belanda dengan rentang pengisahan yang cukup lebar.

Menarik mencomot kembali apa yang disampaikan Iksaka Banu dalam pengantar buku ini, bahwa kesulitan utama seorang penulis cerita dengan latar kolonialisme adalah keseimbangan antara fakta dan fiksi. Bila terlampau rinci dan komplet menyuguhkan fakta, cerita akan menjemukan bak membaca diktat sejarah. Sebaliknya, bila terlalu mengada-ada dengan porsi fiksi terlampau dominan, tentu akan mendapatkan beragam protes dari pembaca kritis atau yang paham sejarah.

Tidak aneh bila cerita dalam buku ini cenderung bergerak dalam domain aman, tak beranjak dari titik tengah bahkan seolah mengulang pola yang senada dengan Semua untuk Hindia.

Tiga belas cerita dalam buku ini masih berlatar era kolonialisme dan menyoroti sosok orang Belanda baik yang murni maupun yang sudah berdarah campuran. Tidak jarang orang-orang kulit putih ini mendapatkan lampu sorot utama dan suara lebih dominan.

Iksaka Banu memotret bagaimana kecintaan terhadap Hindia Belanda tidak hanya tumbuh di dada pribumi. Tak terkecuali mereka yang berkulit putih. Sebagian adalah murni Belanda dan tak sedikit berdarah campuran lahir di Hindia Belanda. Dalam cerpen pembuka Kalabaka misalnya. Kebencian terhadap VOC Belanda dan simpati terhadap orang pribumi ditunjukkan oleh ia yang murni Eropa.

Kita akan berjumpa dengan Hendriek Cornelis Adam, mantan schutterij (milisi) merangkap seorang juru tulis dan asisten pribadi Tuan Nicolas van Waert. Dalam sebuah ekspedisi ke Pulau Banda, ia menyaksikan betapa kejinya VOC membalas dendam dan melumpuhkan penduduk lokal. Kemungkinan besar kita akan langsung menghadapi pertempuran brutal di Banda. (hal.5) 

Dan benar, penduduk Banda hampir bersih dibunuh dengan cara biadab. Belanda totok ini mengambil sikap berseberangan dengan pihak berkuasa saat itu. Dia melawan demi menyaksikan pembantaian keji itu, Kuhampiri Gubernur Snock. Kuayunkan kepalan tangan ke dagunya. (hal.15)

Sebelum dieksekusi mati karena dinilai melawan, ia menyampaikan nasihat penting kepada anaknya di Belanda, buatlah dunia Barat yang pongah ini mengerti, betapa berdosa merampas hak hidup seseorang. (hal.16)

Di cerpen lain, Teh dan Pengkhianat, sikap membela humanisma dan kecintaan seorang Belanda Totok tak hanya tertuju pada pribumi, juga para buruh perkebunan Cina. Kapten Simon Vastgebonden, pejabat perkebunan justru melawan pendapat rekannya asli Belanda yang menyalahkan pemberontakan buruh Cina di perkebunan teh. Dan menurut Tuan, orang Belanda tak ada yang licik? (hal.36)

Sikap kecintaan pada Hindia Belanda, anti pada tindak kekejian, dan pembantaian yang tidak manusia yang tampak betul ingin disampaikan oleh sikap semua tokoh dalam buku ini.

Lantas apa orang-orang Belanda keji tidak layak untuk dijadikan suara utama? Apa nama-nama seperti Tuan Snock hanya boleh hidup sebagai tokoh utama dalam buku sejarah? Dunia yang dibangun Iksaka Banu terlalu putih untuk sebuah fiksi. Benar bahwa manusia hidup—dan orang-orang Belanda masuk di dalamnya, selalu ada pihak protagonis dan antagonis. Tetapi akan menjadi tantangan besar bagi Iksaka Banu untuk menghidupkan tokoh bengis, licik, yang selama ini selalu ia jauhi. Jauh akan menarik sesekali Iksaka Banu menulis sosok yang kejam, culas, atau setidaknnya punya prasangka jahat, laiknya sifat manusia pada umumnya.

Pembaca pasti jemu bila tiga belas cerpen dalam buku ini mengisahkan hal-hal yang bergelut dengan perang ataupun tragedi berdarah. Meski tokoh-tokoh Iksaka Banu bukanlah tokoh familier dalam sejarah kolonialisme. Tokoh sempalan yang sangat mungkin sekadar rekaan Iksaka Banu. Hal ini yang membuat fiksi Iksaka Banu terhindar dari menceritakan kembali potongan sejarah.

Pun beberapa cerpen dalam buku ini justru menyorot hal lain selain perisiwa berdarah. Cerpen Tegak Dunia membahas bagaimana penemuan globe mengkhawatirkan kaum gereja di Batavia, yang masih meyakini geosentris dan bumi datar. Atau cerpen Variola menyorot wabah cacar yang menghebohkan Hindia Belanda dan usaha vaksinasi ditolak oleh pihak gereja. Juga cerpen segar Di Atas Kereta Angin yang jauh dari kesan sebuah cerita kolonialisme. Seorang budak pribumi diizinkan menaiki sepeda lama juragannya yang orang Belanda. Jelas ini menimbulkan keresahan, karena sepeda hanya untuk kaum juragan.

Hal demikianlah yang membuat buku ini punya warna yang sedikit berbeda dengan Semua untuk Hindia. Iksaka Banu seperti sedang memutar kamera pengawas ke sudut lain, dan menangkap pemandangan baru yang segar dengan tetap menggaungkan humanisme. Sekaligus menegaskan bahwa era kolonialisme, pascakolonialisme, atau periode-periode lainnya sekadar zona waktu yang sangat fleksibel. Penulis boleh mengambil di zona mana ia akan berkisah. Namun, aktor utama adalah manusia. Kisah manusia yang harus menjadi pokok sebuah kisah.

Yang demikian yang membuat Teh dan Pengkhianat tak terjebak menapak di jalan yang sama dengan Semua untuk Hindia. []

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s