Jurnal · Resensi

7 Novel Thriller Yang Tidak Boleh Kalian Baca Sendirian

sumber gambar: serge no soy

BELAKANGAN saya memang sedang tersandera dan gandrung dengan novel-novel thriller. Hampir beberapa judul dan penulis baru yang kemudian menjadi idola saya adalah thriller, meski genre sastra (meski saya harus sepakat dengan Mas Seno, bahwa mengotakan sastra dan non-sastra adalah kepentingan marketing semata) yang tetap saya idolakan. Kecintaan saya atas novel thriller ini kemudian mengimbas pada beberapa genre film yang memang lebih asyik ketika kita dibuat degdegan tidak keruan saat menebak-nebak otak di balik kejadian, atau dibuat enggak yakin dengan kejutan dan twist di akhir cerita. Sebenarnya, novel thriller juga menyajikan kesan yang demikian. Kemudian saya mulai mendeteksi bahwa genre thriller ini adalah sejatinya genre yang paling susah. Penulis harus pintar bikin twist, bikin karakter yang tidak terpercaya, atau bikin pace cerita yang menarik. Dan di postingan ini, saya mau membagi cerita 7 novel thriller yang menarik dan sewajarnya teman-teman baca dan enggak boleh baca sendirian. Namun, saya tidak mau memasukkan nama Agatha Christie atau Sherlock Homes. Sudahlah, keduanya kita tempatkan di area “beyond” dari semua penulis thriller.

Kita mulai….. 

Tokyo Zodiac Murders, Soji Shimada.
Ketika edisi bahasa Indonesia dari novel ini hadir di toko buku, sejatinya saya tidak terlalu ingin segera membeli buku ini. Namun, kemudian muncul beberapa hasutan dari teman bahwa novel ini keren sekali. Dan akhirnya saya terhasut. Nyatanya memang benar. Novel ini benar-benar mind-blowing. Kalau boleh pamer, sampai saya mencoba mempraktikan cara si pembunuh membagi-bagi potongan tubuh dengan kertas origami. Kemudian yang saya bikin jengkel itu adalah di bagian tengah, ketika mendadak suara penulis muncul dan seolah pamer. Aku sudah ngasih segini banyak kode, masak kalian tidak bisa menebak siapa pembunuhnya. Itu kan bikin kesel saya sebagai pembaca.

OutNatsuo Kirino.
Saya mengerti Jepang cukup sadis kalau urusan thriller, pembunuhan berdarah dingin. Bahkan bisa ditengok beberapa judul film thriller Jepang yang cukup bikin saya engap, enggak kepikiran. Salah satunya adalah cold fish, yang bikin saya mikir: ini orang yang bikin dan punya ide cerita bagaimana. Dan novel ini saya sampai ngilu membayangkan istri yang mutilasi suaminya di kamar mandi. Memang sih urusan bunuh membunuh bisa terjadi di mana saja. Namun, bagian mutilasi di kamar mandi itu bahkan sampai merasuk ke dalam mimpi buruk saya. Saya harus akui itu! Cerdasnya Kirino dalam novel ini adalah membuat klompotan “penjahat” menjadi sedemikian natural. Dan paling asyik adalah latar pekerja pabrik makanan (dalam bayangan saya adalah makanan-makanan siap santap di supermarket, atau family mart). Semuanya punya masalah dan berharap akan ada solusi. Novel ini menjadi awal saya jatuh cinta dengan Kirino. Beberapa novelnya saya baca, namun Out tetap menjadi yang paling saya sukai.

Parfume, Patrick Suskind.
Saya tidak punya alasan untuk tidak memberi empat jempol pada novel klasik ini. Saya baru baca di tahun 2017 (ketahuan yaa, cakupan bacanya enggak luas, heeheee). Tapi, saya sudah jatuh cinta bahkan pada penggambaran pertama bagaimana si psikopat itu lahir. Duuuh, teror bukan hanya ada di hidung. Tapi visual mengekstrak aroma tubuh manusia itu kan ngilu. Kemudian endingnya yang mencekam. Jadi novel ini sukses bikin saya ngilu dari halaman awal sampai akhir. Makin seksi, karena latar yang dipergunakan adalah Paris lawas. Jadi makin aduhai deh. Meski tidak boleh memandingkan antara buku dan filmnya, tapi bukunya saya rasa lebih lengkap dan nuansa kengiluan di ubun-ubun lebih dapat ketika imajinasi kita liar membayangkan. Namun, bukan berarti filmnya buruk.

Big Little LiesLiane Moriarty.
Mungkin sejak novel ini, saya menyukai Moriarty. Di novel ini saya suka sekali adegan awal. Entah mengapa adegan ibu-ibu mengantarkan anak ke TK, kemudian “ngerasani” pengendara lain itu nempel sekali di kepala saya. Kemudian ibu-ibu bergosip dan lainnya, yang sangat natural. Meski, Moriarty tidak menisbatkannya sebagai novel thriller. Tapi teka-teki dan giringan tragedi dalam novel ini, membuat saya jatuh cinta kepada Moriarty. Novel-novel lainnya, punya fase lambat kemudian dikejutkan dengan “sesuatu”. Di Truly, Madly, Guilty bahkan sangat mungkin kita akan bosan dengan “ngalor-ngidul” si penulis. Tapi, ketika sudah ketemu satu simpul permasalahan, dijamin enggak bakal mau nurunin ini judul. Tapi, saya tetap lebih suka Big Little Lies. Suka!

One of Us is Lying Karen M. McMagnus.
Aah! Meski sudah bisa ketebak siapa pembunuhnya. Tapi saya suka dengan pemilihan tokoh-tokoh dalam novel ini. Yang bikin novel debut ini saya sukai dan jadikan idola untuk novel thriller, adalah anak-anak SMA bisa loh melakukan hal liar. Jangan pikir sepele. Dan soal kebohongan mereka itu saya juga menganggapnya sebagai hal wajar dilakukan anak-anak SMA. Heeheee, jadi enggak ada kebohongan yang besar dan berbahaya sejatinya. Tapi, karena kebohongan di antara mereka. Satu orang tewas. Dan penulis menyimpannya dengan mulus. Jadi wajib dimasukkan sebagai idola.

The Life We BuryAllen Eskens.
Sebagaimana novel thriller psikologis, kita akan bertemu dengan narator yang tidak bisa dipercaya. Dan saya sangat suka dengan narator tidak terpercaya di novel ini. Seorang mahasiswa yang sedang melakukan tugas penulisan biografi seseorang, dan akhirnya ketemu sama pelaku yang dituduh melakukan pemerkosaan dan pembunuhan. Saya rasa, dari banyak novel thriller khususnya psikological thriller yang baru terbit, ini adalah yang paling macho. Haaahaaa.

Alex, Pierre Lemaitre.
Ini penulisnya “bajingan” sekali. Kita itu diombang-ambing. Ini benar atau salah, enggak ya! Pasalnya, setiap tindakan kejahatan dalam novel ini memiliki kelogisan dan berimbas pada sebab dan akibatnya kemudian. Dan paling ngilu, dikerangkeng dan digantung, yang kemudian dibiarkan mati; mati oleh kelaparan, mati oleh ketakutan, atau mati oleh tikus yang mulai datang. Duh  duh duh! Ini ngilu sekali.

Ini tujuh daftar saya. Saya yakin masih banyak judul di luaran sana yang lebih mencekam dan menjadi favorit banyak orang. Kalau kalian apa favoritnya? Silakan tinggalkan judul agar saya kita bisa berbagi judul thriller…. []

 

.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s