Resensi

Hadiah Okky untuk Anak-anak

(Koran Tempo, 10-11 Februari 2018)

Karya-karya Okky Madasari, baik cerita pendek maupun novel, selama ini selalu berada di ranah bacaan dewasa. Maka, menjadi suatu lompatan genre ketika Okky memutuskan untuk menulis buku anak.

Saat sampul Mata di Tanah Melus dirilis ke publik dengan label novel anak, rasa penasaran itu semakin memuncak. Apakah novel ini benar-benar bacaan yang pas untuk anak? Atau novel dewasa yang meminjam suara anak-anak, sebagaimana Le Petit Prince karya Antoine de Saint-Exupéry? Di antara keduanya terdapat perbedaan cukup signifikan, baik dari segi bahasa, jalan cerita, maupun misi pembuatan cerita.

Okky bukanlah sastrawan pertama yang menulis buku anak. Sebelumnya, Clara Ng, yang terkenal sebagai penulis novel metropop-sastra, menyusun beberapa judul buku anak. Buku yang benar-benar dapat dibaca untuk anak dengan tokoh anak. Buku Clara Ng, baik dewasa maupun anak-anak, diterima publik dan sukses di dua genre yang berseberangan tersebut.

Sebelum membicarakan isi novel, menarik mengutip pengakuan Okky di akun media sosial miliknya. “Keinginan saya menulis buku yang bisa dibaca oleh anak-anak sesungguhnya baru hadir beberapa tahun terakhir setelah saya punya anak. Karena anak saya senang dibacakan cerita, karena saya kerap dipaksa mengarang cerita untuknya, karena saya ingin sejak awal anak saya membaca cerita yang ditulis ibunya,” tutur Okky.

Setidaknya ada dua alasan mengapa Mata di Tanah Melus menjadi penting. Pertama, bacaan anak-anak kita sedang lesu. Tidak banyak penulis yang menggeluti literasi anak. Bacaan anak dianggap tidak penting. Sangat berbeda dibanding di Amerika Serikat, yang sangat mengapresiasi bacaan anak dan remaja. Di sana ada penghargaan tahunan Newberry Medal kepada penulis dan buku anak terbaik dari asosiasi perpustakaan.

Kedua, absennya buku anak yang bagus di toko buku kita diduga berhubungan dengan rendahnya minat baca, sehingga kemunculan buku ini potensial menumbuhkan budaya membaca semenjak belia.

Novel ini menawarkan pengalaman petualangan ke dunia ajaib seperti The Chronicles of Narnia karya C.S. Lewis atau Alice’s Adventures in Wonderland karya Lewis Carroll. Okky menceritakan kisah petualangan Matara di negeri penuh keajaiban bernama Tanah Melus.

Matara dibesarkan di keluarga yang melek literasi. Ibunya adalah penulis dan neneknya penutur dongeng andal. Dongeng ajaib dari Nenek Mar yang dituturkan ketika Matara kecil ialah pengalaman neneknya bertemu dengan makhluk ajaib selama gerhana matahari. Mar belia dibawa makhluk-makhluk ajaib yang membuatnya tertidur selama 40 hari. Matara tak pernah bosan mendengarkan kisah Nenek Mar dengan mulut menganga lebar sembari menanti kelanjutan cerita itu.

Ibu Matara merupakan penulis novel sastra untuk pembaca dewasa yang tidak pas bila dibaca anak-anak. Hingga Matara bertanya, “Kenapa Mama tak juga mengizinkanku untuk membaca cerita-cerita yang ditulisnya? Seperti apa dunia yang disembunyikan Mama dariku?”

Suatu ketika, keluarga Matara dilanda gonjang-ganjing. Mama dan Matara memutuskan melancong ke Tanah Melus, Nusa Tenggara Timur, yang berbatasan dengan Timor Timur. Mereka berjalan berdua tanpa Papa.

Dalam petualangan itulah Matara dan Mama bersua dengan banyak keajaiban. Matara bertemu dengan orang-orang Melus, yang digambarkan sebagai kelompok yang memegang kuat adat. Musuh Melus adalah orang-orang Bunag. Di awal pertemuan, Matara dianggap sebagai mata-mata orang Bunag. Kemudian Matara seorang diri bersua dengan keajaiban-keajaiban, misalnya bertemu dengan kerajaan kupu-kupu.

Selain keajaiban, hal berikutnya yang sering muncul di bacaan anak adalah sepotong kisah persahabatan. Atok, anak Melus, menjadi kawan Matara. Atok adalah orang pertama yang yakin bahwa Matara bukan bagian dari Bunag. Atok pulalah yang menjadi kawan petualangan ajaib Matara di Tanah Melus.

Petualangan penuh keajaiban dan kisah persahabatan dalam novel ini sudah pas dibaca anak-anak. Kalau dibandingkan, mungkin kita akan menemukan alur yang sama bila menengok animasi Doraemon ketika dijadikan film. Mereka terjebak di daerah penuh keajaiban dan petualangan dimulai dari sana. Okky menggunakan pola yang sama untuk memancing imajinasi pembacanya.

Namun, bila dicermati, Okky masih belum begitu lentur dalam berkisah kepada anak-anak. Dia masih terbawa gaya bahasa ketika menulis novel sastra. Terlebih karena sudut pandang dalam novel ini adalah Matara, maka bahasanya perlu dijadikan bahasa anak-anak. Satu yang perlu ditandai dari novel Okky ialah pemilihan sudut pandang “aku” menjadi sedikit ganjil. Matara seyogianya ditampilkan dengan kepolosan.

Kisah-kisah ajaib Matara di Tanah Melus akan lebih pas bila disajikan dengan teks-teks yang pendek dan padat. Pemenggalan ini penting karena pesan cerita akan lebih mudah dinikmati bila disajikan dalam pecahan-pecahan kecil.

Terlepas dari catatan tersebut, keberanian Okky harus diacungi jempol. Lepas dari genre biasa dan mencoba menyasar pembaca baru yang tak banyak diperhatikan sastrawan kita.[]

MATA DI TANAH MELUS | Okky Madasari | Gramedia Pustaka Utama
Edisi Januari 2018 | 192 halaman | 9786020381329

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s