Resensi

Novel Metropop Tema Politik

Saya perlu akui, novel Sophismata punya tema yang berbeda untuk kategori metropop, bukan sastra. Ya, novel ini bertemakan politik, meski porsinya tidak terlalu banyak dan kurang membuka lapisan politik lebih dalam. Kalau saya mungkin menyebut novel populer bertemakan politik yang lebih enak yaaa punya Tere Liye, Negeri Para Pedebah. Atau punya Okky Madasari yang 86 dan Kalatida punya Seno Gumira Ajidarma, dan dua judul terakhir memang lebih sering dianggap orang sebagai tema berat yang nyastra (padahal sejatinya saya tidak sepakat dengan demarkasi sastra dan non-sastra). Tapi, yaaaa Sophismata punya blue-ocean yang berbeda.

Cinta Serumit Politik

(Padang Ekspres, 17-09-2017 dan Lampung Post, 24-09-2017)

“Politik itu soal kekuasaan dan kepentingan. Aku pengin bisa memperjuangkan kepentingan orang banyak, tapi untuk bisa memperoleh itu, ya aku harus punya kekuasaan dulu. Jalan menuju hal itu panjang dan berliku.” (hal.234)

Untuk sebuah novel metropop, Sophismata menghadirkan sebuah tema yang tidak biasa. Bila kebanyakan cerita mengisahkan cinta dibalut kehidupa urban nan kosmopolit, dalam novel ini kisah cinta justru berpusar di antara carut-marut politik di negeri ini. 

Menarik mencari arti kata dari judul yang dipergunakan penulis. Sophismata lebih dikenal sebagai salah satu arti dalam dunia filsafat. Secara harfiah kata ini memiliki padaan ambiguitas dari sebuah keadaan yang kemudian membuat seseorang tidak jernih dalam berpikir (logical fallacies) hingga salah dalam mengambil kesimpulan (false conclusions). Arti judul ini, sama dengan nuansa yang hendak dibangun penulis. Cinta dan politik yang dicertiakan sedang dalam nuansa ambiguitas.  

Sigi dan Timur. Demikian dua tokoh yang jatuh cinta di tengah napas politik, anggota dewan. Sigi sudah tiga tahun bekerja sebagai staf anggota DPR, tapi tidak juga bisa menyukai politik. Ia bertahan agar dapat belajar dari atasannya, mantan aktivis 1998 yang ia idolakan, Johar Sancoyo. Selain berharap bisa dipromosikan menjadi tenaga ahli. Namun, semakin hari dia justru dipaksa menghadapi berbagai intrik yang baginya terasa menggelikan. Tak ada kawan dan lawan abadi dalam politik.

Hari-harinya hanya diisi dengan memantau berita di media, agenda kerja atasannya, hingga memesan makanan bagi atasan dan dua koleganya. Sigi merasa dirinya tidak bisa berkembang dan memuluskan cita-citanya untuk bisa berbuat banyak kepada negara. Ia pernah membicarakan keinginannya bergabung sebagai tenaga ahli kepada sang atasan, tapi belum juga dikabulkan. Salah satu alasannya ialah dalam peraturan tentang tenaga ahli di DPR/MPR harus berijazah S-2. Meski ia mendapat penolakan, keinginannya tak surut. Ia mulai banyak belajar dari buku-buku mengenai kebijakan publik pun dengan program yang sedang digagas atasannya.

Apalagi ketika dirinya kembali menemukan Timur, kakak angkatan sewaktu SMA yang juga pernah dikagumi lantaran keberaniannya untuk memimpin dan memiliki gagasan cerdas, Sigi mulai merasa mendapat banyak pelajaran dan pengetahuan lain seputar perpolitikan, meskipun tetap ia tak menyukai hal tersebut. Perbincangan tentang politik sering dilakukannya dengan Timur karena teman lama yang baru ditemukannya tersebut akan segera mendeklarasikan partai baru dengan konsep kesetaraan bagi siapapun. Keter tarikannya terhadap Timur tak juga bisa lepas sejak masih di bangku SMA, ia menganalogikan perihal ekspresi Timur yang berbinar-binar saat menjelaskan kondisi perpolitikan dengan dirinya saat menimbang dan membuat kue.

Kehadiran Timur (baca: cinta) nyatanya membuka sebuah prespektif baru pada Sigi. Ia semakin bersemangat untuk menunjukkan kapabilitas dalam dunia politik di depan atasannya, Johar. Sigi memberikan ulasan dan ide tentang konsep koperasi yang digagas atasannya tersebut. Meskipun tak ada apresiasi yang menggembirakan, Sigi tak menyangka idenya tersebut dipaparkan dalam rapat pertemuan dengan Staf Unit Kepresidenan Cipta Dirgantara.

Sebagaimana sudah sering diketahui, sosok Sigi akan selalu terbentur oleh elitis dan sistem senioritas yang kaku. Hingga di titik ini, Sigi harus membenarkan apa yang pernah dinasihatkan oleh ayahnya, Menepati Janji di Jakarta adalah hal yang sulit.

Sigi semakin tegas mengambil sikap untuk tidak menyukai politik dan terlibat di dalamnya. Namun, cintanya justru tertambat pada laki-laki yang bercita-cita untuk masuk dalam ranah yang kerap disapa abu-abu. Ia kerap skeptis menanggapi obrolan tentang perpolitikan dengan Timur, tapi lawan bicaranya tersebut justru merasa mendapat pandangan baru dan tidak menyalahkan atas apa yang dipikirkan perempuan pecinta warna hitam dan putih itu.

Intensitas pertemuan pun dengan obrolan seputar politik dan pekerjaan membawa keduanya asyik dalam hubungan percintaan ala anak muda. Keduanya merasa sebanding, memiliki teman bercerita dengan kemampuan yang mumpuni. Karena itu, Sigi dan Timur tak pernah bosan untuk bertemu, berbagi cerita tentang pendirian partai, kebimbangan Sigi untuk bertahan dan menerima tawaran pekerjaan yang membebaskannya dari sengkarut politik, ataupun sekadar berbicara tentang kisah kasih masa lalu. Berbagi pandangan berbeda dengan balutan rasa cinta menjadikan Timur bisa mengevaluasi atas apa yang sudah dilakukannya untuk terjun ke dunia politik.

Politik dan perempuan sepertinya sesuatu yang saling mengikuti. Banyak politikus kita sering terjerat urusan perempuan. Dan kebiasaan ini sepertinya sudah menjadi rahasia umum. Sigi pun menemukan hal demikian. Atasannya mudah tergoda dengan perempuan berparas cantik. Seorang perempuan, Megara yang berusia lebih muda dari Sigi datang dan mengatakan ingin bertemu Johar. Hal mengerikan selanjutnya adalah teror surel berisi berisi foto-foto akibat perlakuan mesum atasannya.

sophistama lampung post

Anak Muda dan Politik

Sikap Sigi sepertinya adalah wakil suara mayoritas anak muda. Apatis kepada politik, tidak percaya parpol, dan asumsi pertama adalah politik itu kotor dan korup. Namun keseharian kita tidak bisa lepas dengan yang bernama politik. Politik adalah nadi kehidupan. Politik selalu berada di balik keberlangsungan kehidupan. Politik sebetulnya sungguh-sungguh perlu diperhatikan, karena yang berlangsung dalam dunia politik akan menentukan kehidupan semua orang.

Setidaknya novel ini kembali mengenalkan dunia politik dan intrik yang ada di dalamnya. Cinta dan dunia urban mileneal menjadi backbone utama yang menjadi magnit anak muda. Alanda Kariza lewat Sophismata, begitu gamblang mengungkap hal-hal seputar dunia politik dan interaksi di dalamnya, termasuk perempuan dan permainan uang.

Tema politik dan anak muda dalam novel ini juga bisa menjadi bahan bacaan bagi kedua kubu yang kerap berseberangan, anak muda yang gemar berpolitik dan tidak menyukai sama sekali. Pandangan lain yang diutarakan akan membawa kita pada kemampuan untuk tidak saling membandingkan pilihan, tetapi tetap dapat mengevaluasi.

Selain itu, sosok Sigi juga menjadi menarik untuk dibicarakan. Perempuan dalam politik kita memang masih sebesar 30%. Namun setidaknya penulis mendedah bahwa perempuan berhak memilih di bidang apa ia hendak berkiprah. Termasuk politik dan carut-marut dunia anggota dewan. Politik kerap memberikan banyak ruang dalam ketidakjelasan. Apa cinta juga kerap ambigu dan membingungkan kita? []

resensi sophismata-padang ekspres 17 september 2017

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s