Resensi

Cerpen Kompas 2016

Cerpen Kompas menjadi salah satu cerpen yang paling saya tunggu saban minggunya. Meski beberapa kali saya harus alpa membaca, entah karena sedang enggan atau memang sedang tidak bisa membacanya. Nama-nama seperti Seno Gumira Ajidarma, Budi Darma, adalah dua nama yang selalu saya tunggu karyanya muncul di rubrik cerpen Kompas. Seolah saya bertanya-tanya, ‘tahun ini cerpen Seno dan Budi Darma yang terbit apa ya?’. Bukan saja karena mereka menjadi kegemaran saya, tetapi juga cerpen mereka sudah bisa dipastikan masuk cerpen pilihan Kompas.

Saya masih ingat pertemuan saya pada cerpen ialah dimulai dari buku Pistol Perdamaian, cerpen pilihan Kompas 1996. Sejak pertemuan itu, entah mengapa saya kemudian mengoleksi semua cerpen pilihan kompas setiap tahunnya. Dari Kado Istimewa hingga yang paling baru. Kemudian ditambah Dua Kelamin Bagi Midin dan Cerita dari Negeri yang Haru. Juga ada buku Kurma, yang mengoleksi cerpen-cerpen bertema ramadan dan lebaran di Kompas. 

Lewat cerpen Kompas pula kemudian saya menemukan idola dalam jagat-cerpen kita. Sekadar menyebut nama (tentu selain SGA dan Budi Darma) ialah Ahmad Tohari, Kuntowijoyo, Jujur Prananto, Hamsad Rangkuti, Yanusa Nugroho, Ratna Indraswari Ibrahim, Haris Effendi Thahar, dll. Bahkan kemudian saya mengoleksi hampir semua buku kumpulan cerpen terbitan Kompas, meski dia bukan kumpulan cerpen pilihan Kompas. Awal 2000-an, penerbit buku kompas gencar menerbitkan buku kumpulan cerpen sastrawan kita.

Di tahun ini, sebagaimana biasa buku Kompas mengeluarkan seri cerpen pilihan Kompas. Cerpen Tanah Air milik Martin Aleida menjadi pemenang. Di malam jamuan, di Bentara Budaya tengah Juni lalu, saya berkesempatan hadir. Di tengah para sastrawan kanon kita, saya nyempil. Martin Aleida berdiri memberi sambutan. Ternyata mendengarkan Martin Aleida berpidato sama saja membaca cerpen itu sendiri.

Saya yang malam itu memegang dua cerpen, tapi sayang dua cerpen itu harus tumbang. Salah satu yang selalu kutunggu selain menanti siapa pemenangnya ialah membaca ulasan juri atau kritikus yang biasa dihadirkan, kemudian menanti siapa cerpenis baru yang masuk cerpen pilihan kompas. Sebagai informasi Faisal Oddang sekali masuk kompas kemudian didapuk menjadi cerpen pilihan Kompas. Kemudian ada Emil Amir yang baru sekali juga langsung dimuat. Termasuk ada nama Herman RN. Dan di tahun ini ada nama Han Gagas, Supartika, Muna Masyari dan Fanny J Poyk.

Seru dah pokokmen. Apalagi kalau datang ke malam jamuan, dijamin perut kenyang. Makanannya banyak. Meski tahun ini tidak ada gulai kambing sebagaimana tahun lalu. Keekee.

Ah, untuk ulasan lengkap atas buku ini, silakan baca di Ruang Gramedia. Semoga menghibur. []

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s