Jurnal · Resensi

Kutukan Pengikut Serial

38979b54485563-5960dabf71e66
Sumber: Marko Rop

Sepertinya saya harus mengakui bagaimana nasib para pengikut serial adalah laiknya terkena kutukan. Kesel juga penasaran. Kalau dulu pengikut Dee sampai meneror Ibu Suri untuk menagih, kelanjutan Supernova. Atau bagaimana penggila Red Queen harus berdebar menanti ending cerita. Atau paling gampang ialah bagaimana penggila komik, serial drama Korea, yang harus menahan napas menanti apa yang selanjutnya terjadi.

Menurut saya itulah kelebihan sesuatu yang sengaja dibuat bersambung. Di sisi lain, penulis harus pandai memenggal kisah, meletakkan kejutan di setiap chapter. atau minimal membuat bertanya-tanya apa yang akan terjadi selanjutnya. Berbeda sekali dengan penulis cerpen, yang memang sengaja harus berhenti di satu titik. Entah diakhirkan dengan konklusi bulat atau memang disengaja untuk membuat lubang pembaca ketika cerpen berakhir (red: open ending). 

Salah satu serial yang sejak tahun lalu saya ikuti sejak kemunculan buku pertamanya ialah Barefoot Gen, komik karya Keiji Nakazawa. Pertama yang membuat saya suka adalah isi cerita adalah tentang Jepang dan Bom Atom. Saya masih ingat buku catatan Kami Anak-Anak Bom Atom (Terbit di KPG tahun 2009) karya Osada Arata, yang saya baca dulu ketika kuliah. Saya ingat buku itu direkomendasikan oleh Eko Prasetyo, pemateri saya di asrama dari Hukum UII yang saya harus akui referensi bacaan dan filmnya sangat ajaib. Dan memang, buku itu benar-benar merinding. Entah mengapa, karena kesaksian atas kejadian keji Bom Atom dari mata kanak-kanak. Saya juga mengakui masa itu saya sedang kegandrungan dengan Totto Chan, dan pesona Jepang lewat narasi.

Di serial komik ini juga tampak keindahan gambar dan narasi apiknya. Meski kalau boleh saya katakan serial ini sebagai serial komik dewasa. Memang tokohnya adalah Gen, yang ketika bom meledak dia masih kanak-kanak. Tetapi ucapan, ujaran kebencian, bahkan sesekali lintasan pikiran Gen dan adik-adiknya sangatlah dewasa. Adegan kaplok, memaki, bahkan menendang sering terlihat di bagian-bagian kotak komik.

Pada bagian dua dan tiga, saya benar-benar dibuat merinding disko. Karena penulis ini menggambarkan bagaimana adegan pilu para korban ledakan bom yang juga kena radiasi kimia. Misal (ini adegan paling mengerikan) tubuh meleleh, lalat-lalat berhamburan menerjang mata, atau bahkan adegan seorang ibu yang rela dikerubuti lalat karena itu adalah lalat yang berasal dari tubuh anaknya. Sediiih. Namun, satu yang sudah terasa sejak pengantar di seri pertama ialah kebencian penulis atas Amerika dan Jepang (terutama Kekaisaran kala itu). Perang! Ya, karena perang. Penulis benci sekali akan Kaisar Jepang yang entah demi apa, entah demi sebuah kemenangan apa menggemborkan genderang perang. Dan setelah bom meledak, dengan begitu entengnya minta maaf saja. Apa dengan maaf nyawa dan keluarga Gen kembali? Jleb!

Oleh sebab itulah, 10 seri Barefoor Gen saya nanti-nanti hingga lengkap. Saya sudah membaca 1-5. Bulan ini sudah terbit 6,7, dan 8. Masih sisa 2 yang belum diterjemahkan oleh Gramedia.

*) Ini lima seri yang sudah saya baca dan koleksi…
    

*) ini yang sudah terbit tapi belum saya baca.
  

*) dua seri terakhir yang belum diterjemahkan.
    

Ternyata menunggu serial itu mengasyikkan. Ada getar, ada deg-degan, juga ada kekhawatiran, jangan-jangan takkan dilanjutkan. Terlebih seri yang kurang marketable macam Barefoot Gen ini. []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s