Resensi

Suara (Penulis) Timur Menggaung

(Ruang Gramedia, 9 Juli 2017)

Mei lalu, untuk pertama kali saya mengunjungi Makassar guna mengikuti Makassar International Writer Festival (MIWF). Kesempatan itu juga menjadi pembuka saya untuk menjajal kuliner yang menjadi ciri Makassar; sop saudara, es pisang ijo bravo, pallu basa serigala. Lebih dari sekadar pemuasan inderawi semata, pelesir saya ke Makassar juga sekaligus ingin merasakan pekat-cair aroma khas Makassar (atau Timur pada umumnya) dalam rimba sastra kita.

Bagian Timur Indonesia termasuk suatu daerah yang bukan saja jauh secara geografi dari pusat Indonesia (baca: Jakarta). Tetapi dalam hal percaturan sastra, aroma Timur kita tidak memiliki raung selapang sastra dari Jawa dan Sumatera.

Buku Dari Timur ini harusnya memberi jawaban akan absen aroma sastra dari wilayah Timur kepada pembaca sastra kita. Terlebih sebelas nama dalam buku ini bukan lagi nama asing di telinga pembaca sastra, lantaran tidak jarang hadir di halaman cerpen/puisi media massa. Kesebelas sastrawan muda dalam buku bisa jadi wakil-wakil untuk menggaungkan kebolehan sastrawan Timur.

Apa yang diharapkan dari sebuah buku ini?

Sesuai tajuk yang dipilih, maka yang menjadi ekspektasi saya (dan mungkin sebagian pembaca buku ini) adalah perihal eksplorasi budaya Timur yang tidak banyak diketahui oleh pembaca. Misalkan bagaimana kehadiran cerpen Orok Dani yang berani mendedah tradisi di pedalaman Suku Dani Papua dan mampu hadir di tengah pembaca Barat (baca: Jakarta). Atau dengan kemiripan penggunaan terminologi geografis, Cerita-Cerita Timur karangan Marguerite Yourcenar telah berhasil mengedukasi masyarakat Western, yang sangat mungkin tak terlalu sering berinteraksi dengan budaya Eastern.

Maka minimal tulisan-tulisan dalam buku ini, benar-benar menggaungkan cerita yang pekat dengan nuansan Timur. Bukan sekadar obsesi penulis yang kebetulan berdomisili di Timur.

Menarik mengutip Bambang Sugiharto, guru besar soal peranan bahasa dalam sastra, dalam ulasan penutup buku Klub Solidaritas Suami Hilang. Beliau menyebutkan bahasa dalam sastra memiliki banyak peranan. Salah dua yang hendak kita soroti untuk membahas buku ini ialah bahwa bahasa bisa menjadi mata bor, dan kamera. Mata bor yang mampu menembus celah terdalam yang tidak diperhitungkan oleh khalayak. Juga sekaligus kamera yang mampu mengabadikan baik khasanah verbal, kearifan tutur klasik, juga perihal sejarah yang kadang kabur oleh penulis sejarah yang berkepentingan.

Sastra Sebagai Mata Kamera

Dalam cerpen Emil Amir, Silariang, didedahlah sebuah tradisi pernikahan Bugis yang menjaga matrilineal dan memegang aturan kasta dalam sebuah keturunan. Seorang yang bergelar ‘Andi’ harus menikah dengan sesama ‘Andi’. Dalam cerpen ini, Andi Saeba dan Andi Jamaluddin.

“Telah lama saya menanti lelaki idaman pilihan ayah. Pria bangsawan yang sederajat lebih tinggi atau setara dengan saya, tentu saja memiliki banyak harta.” (hlm. 63)

Namun apa daya, selalu ada jiwa-jiwa pemberontak untuk urusan ini. Andi Saeba yang sejatinya menyukai La Saddang harus menjalani kelindan perasaan yang menjerat sampai akhir cerita. Cerpen ini menjadi satu-satunya simbol yang tepat untuk menerangkan kebudayaan Indonesia Timur. Selain kearifan lokal yang diangkat, cerpen ini telah absah dengan menyertakan dialek-dialek khas Suku Bugis.

Sekadar menderet kata-kata asli Suku Bugis dalam cerpen ini. Sepertisilariang (kawin lari), sompa (mahar pernikahan Suku Bugis), Doi menre (uang naik atau uang ongkos pesta pernikahan), ripasan(mandi uap dalam perawatan pengantin), dsb. Cerpen ini secara kasar memaksakan untuk kembali mengimani bahwa semakin banyak kata asing dicetak miring dengan sederet penjelasan lewat catatan kaki akan semakin membuat bobot kesusasteraannya bertambah.

Mengutip perkataan Maman S. Mahayana dalam makalahnya yang berjudul Lokalitas dalam Sastra[1], bahwa lokalitas tidak sekadar berhenti pada simbolisasi belaka:

Lokalitas bukan abstraksi tentang ruang atau wilayah dalam teks yang beku, melainkan ruang kultural yang menyimpan sebuah potret sosial.

Kisah-kisah sejenis Silariang sejatinya bukan kisah yang hanya ada di Suku Bugis. Di dalam dongeng-dongeng nusantara kita, kisah perlawanan atas pengharusan berjodoh dengan yang sederajat tersebar di setiap entitas suku. Ada Malin Kundang yang harus menolak kehadiran ibunya karena harus menjaga martabatnya di depan keluarga kaya istrinya. Ada pula kisah cinta Dayang Sumbi dengan Si Tumang (sekadar simbol) yang harus melewati banyak perlawanan.

Bahkan lebih dari satu dekade lalu, Wa Ode Wulan Ratna pernah menyingkap budaya yang sebelas-duabelas dengan Silariang melalui cerpen La Runduma. Dalam cerpen tersebut, Wa Ode juga mengisahkan dua manusia yang terhalang cintanya berkat sebuah aturan adat dan perbedaan derajat sosial.

“La Runduma bukanlah lelaki rupawan, ia ramah meski pekerja serabutan. Sebab itu ayahku tak suka padanya. Dan sebab lainnya, ia menginginkan aku menikah dengan laki-laki yang sederajat.”

Demikian yang ditulis Wa Ode Wulan Ratna dalam cerpennya yang mengambil khasanah Buton. Adapun Emil Amir menyoroti budaya Bugis. Kisah cinta platonik ini akan selalu ada di setiap hidup manusia di berbagai sudut dunia.

Fabel-fabel yang menjadi penanda manusia sebagai homo fabula,manusia yang gemar bercerita dan menciptakan cerita. Untuk kemudian menetas menjadi sebuah adat-aturan yang seolah mengikat kebebasan manusia untuk mengekspresikan perasaan cinta.

Dalam cerpen Orang-Orang dari Selatan Harus Mati Malam Itu, karya Faisal Oddang menjadi semacam kamera yang memotret sisi lain dari Makassar. Lokus cerpen ini bukan lagi budaya-kearifan lokal dengan segerbong istilah daerah beserta catatan kaki. Faisal mencoba mempergunakan cerpen untuk memotret peristiwa sejarah di Makassar.

Para penganut kepercayaan Tolotang dengan sesembahan Dewata Sewwae dipaksa oleh tentara untuk membuat agama resmi di KTP. Persoalan ini semakin runcing karena tokoh-tokoh dalam cerita ialah pejuang yang juga membantu merebut kemerdekaan. Jasa mereka hampir saja sia-sia, kalau mereka tidak bersedia mengubah jenis agama.

“Kami dipaksa mengnut agama resmi, mencantumkannya di KTP, dan menjauhi Tuhan kami, Dewata Sewwae.” (hlm. 103)

Persoalan dalam cerpen ini tidak lagi sekadar memperkenalkan budaya dan kearifan lokal dengan romantisme bentangan alam atau bentangan dialek khas. Faisal mencoba mengulik lebih lanjut, apa yang dimaksudkan sebagai sastra sebagai pelantang suara.

Dengan bahasa yang meliuk-liuk, Dicky Senda memotret sebuah potret yang senada dengan Faisal Oddang dalam cerpen A’bonenos dan Perempuan yang Agung. Tema yang menarik harus diakui longsor oleh kegenitan penulis memainkan bahasa. Banyak kalimat pemanis yang diletakkan begitu saja sampai tampak overdosis.

“Bulan Juni membawa angin penusuk tulang dari benua tetangga ketika wargamu sedang merayakan Tahun Khusus Menyembah Langit.” Atau di tempat lain, “… dada perempuan mereka subur membusung, sama bebasnya dengan dada bidang legam  bermandi minyak kelapa para lelakinya.” (hlm. 88)

Teknik penceritaan dalam cerpen ini menjadi kurang bernas. Terkesan sekadar ingin menampilkan kepiawaian penulis bermain simile, mengandaikan, dan menyusun kalimat indah.

Pada kelompok puisi ada puisi Ibe S. Palogai yang menjadikan lanskap Makassar sebagai bagian utuh dalam puisi. Tiga judul puisi, Konkuisnador, Liwuto, dan I Massia, yang andai penyair sekadar menyomot pun tidak akan mengganggu pembaca. Karena Ibe tidak mencoba memberi catatan khsusus perihal arti harfiah kata-kata ajaib tersebut. Apakah nama daerah, sebuah dialek, atau istilah dalam tradisi?

Sastra Sebagai Mata Bor

Bahasa dalam sastra mampu menembus permukaan pengalaman keseharian, mengintip lapisan-lapisannya yang lebih dalam, menelisik aneka misteri dan ambiguitas batinnya yang paling tersembunyi.

Pada kelompok kedua dalam buku ini adalah kisah yang punya fokus jauh berbeda dari kebanyakan. Menggali kisah di ranah yang berbeda.

Cerpen yang menonjol adalah karya Erni Aladjai. Cerpen yang ditempatkan sebagai pembuka ini memiliki tone yang sangat berbeda. Distopia dan futuristik. Cerpen Air mencoba meramal sebuah keadaan kota (tidak disebut secara tersurat) di tahun 2050.

Erni mencoba mengira-ngira kondisi alam kala itu. Digambarkan kekeringan, bahkan untuk sekadar satu galon harus menukar dengan sejuta, dan itu pun masih harus beradu mulut-otot dengan yang lain.

“Kota ini dulunya kota sungai. Tapi orang-orang terlalu lama mengabaikan sungai. Sementara mata air dipagari perusahaan.” (hlm. 16)

Ya, Erni memberi simpulan yang secara tersirat bahwa kekacauan ini disebabkan oleh kerakusan manusia. Terlebih sebuah frasa penutup di cerpen ini, “Bereskan mereka!” yang khas sekali dengan orde di mana pemimpinnya super rakus.

Cerpen Cicilia Oday mengebor kisah di lahan yang berbeda lagi. Cicilia Oday dengan mata seorang arwah anak kecil mengisahkan romantisme kenangan semasa si arwah hidup dengan seorang Anak Penjaga Sekolah.

Meski tidak seluwes cerpen-cerpen, puisi-puisi Mario F. Lawi nyatanya mampu mengulik sisi lain dari sebuah tradisi gereja. Sebuah area baru yang dikulik Mario dengan notasi daerah penulis yang begitu kentara.

Di beberapa tulisan, seperti milik Purnama di Atas Rumah, Deasy Tirayoh justru sekadar menjadi ambisi penulis. Tak begitu kentara budaya Timur yang seharusnya menjadi benang merah dari buku ini. Sekadar permainan bahasa dan bunga-bunga pengindahnya.

Bagian yang Terlupakan

Buku ini selayaknya sebuah pameran yang menghadirkan cerpen dan puisi penulis Dari Timur. Karena tidak semua karya dalam buku memuat murni kebudayaan atau serba-serbi yang sah disebut Dari Timur. Ini lebih pas untuk dilabeli karya penulis Timur dengan menjunjung kebebasan berkarya setiap cerpen. Boleh jadi ini adalah usaha untuk mengekalkan cerita dari penulis Timur. Belum sampai untuk mengekalkan budaya dan cerita khas yang hanya ada di Timur.

Kalau pun buku ini sebagai pameran berisi buah susastra dari penulis Timur, sepertinya kurator dan panitia MIWF harus mencermati satu bentuk sastra yang selama ini tersisih. Dalam buku ini tidak ada naskah drama yang masuk. Mungkin drama tidak penting dan tidak semudah menulis cerpen dan puisi. Tapi perlu juga dipertimbangkan untuk kembali menghadirkan naskah drama, sehingga kita bisa terbebas dari pertanyaan: Apakah drama hanya urusan Bengkel Teater dan Putu Wijaya?

Akan semakin jatmika bila buku semacam ini mampu betul-betul merangkum karya sastra dari Timur secara komprehensif. Cerpen, puisi, drama, kalau perlu esai, dan kritik. Sehingga buku sejenis ini akan menjadi rujukan bila pembaca kita akan melakukan studi tentang sastra Dari Timur secara lengkap. Sebagai mata bor yang mengulik lebih dalam dan mata kamera yang mengekalkan segala peristiwa pun budaya.

Sebagai sebuah usaha dokumentasi lengkap akan suara sastra Dari Timur, buku ini bisa dijadikan contoh. Tentu masih banyak pelosok negeri ini yang khasanah sastra baik lisan maupun tulisannya, belum banyak terdengar secara nasional. Upaya mengekalkan demi ketersambungan kisah ke lintas generasi harus terus digalakkan. Bukan saja agar mereka tetap abadi dan terus terbaca, sekaligus menegaskan kebhinekaan Indonesia dan keragaman budaya kita. [*]


[1] Makalah “Lokalitas dalam Sastra” disampaikan Maman S. Mahayana dalam diskusi yang diselenggarakan oleh Bale Sastra Kecapi bekerja sama dengan Bentara Budaya Jakarta dan harian Kompas di Bentara Budaya Jakarta, Senin 16 April 2007.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s