Jurnal · Resensi

Dari Ikan, Kasuari, dan Si Kocak Gaspar

Padang Ekspres, 9 Juli 2017

sumber gambar: Jones & Co

Membicarakan Lima Novel Pemenang Sayembara DKJ 2016

Sayembara Novel DKJ yang telah dimulai sejak 1974 diniatkan untuk meranggang gairah menulis prosa sastra di kalangan anak muda. Telah banyak alumnus DKJ yang karya-karyanya hingga sekarang menjadi buah bibir dan terus diperbincangkan. Misalkan di tahun 1978 Ahmad Tohari pernah mendapatkan hadiah dari Dewan Kesenian Jakarta untuk novelnya Di Kaki Bukit Cibalak. Dan sampai sekarang novel itu masih saja dicetak ulang dan diperbicangkan. Kemudian pernah juga Ayu Utami memenangi sayembara di DKJ tahun 1998, dengan judul Saman yang kala itu dia mempergunakan nama pena Jambu Air. Novel itu kemudian melejitkan nama Ayu Utami sebagai sastrawan dengan lokus pada feminisme perempuan. Novel itu diterjemahkan ke berbagai bahasa dan juga meraih banyak penghargaan.

Jauh sebelum DKJ, sastra Indonesia telah dibentuk oleh berbagai sayembara kepenulisan. Mulai dari penerbit majalah, institusi pemerintah, Dewan Kesenian Jakarta, universitas, penerbit buku, hingga berbagai komunitas yang peduli akan sastra. Semuanya bertujuan untuk menjaring naskah-naskah terbaik dari berbagai pengarang di seluruh penjuru Indonesia.

Paling tua, sesuai daftar yang disusun oleh http://ensiklopedia.kemdikbud.go.id/, ialah hadiah sastra Yamin yang diadakan pada tahun 1963. Hadiah Sayembara Kincir Emas (1974) yang diadakan oleh Radio Nederland Wereldomroep untuk jenis prosa cerita pendek (cerpen). Kemudian oleh majalah Femina memulai sayembara kepenulisan sejak tahun 1976 dan terus berlangsung hingga sekarang.

Bandung Mawardi, seorang kritikus sastra bahkan berujar, Sastra bergerak dengan sayembara. Hadiah dan pengakuan atas kemenangan menentukan posisi tokoh dan teks. Sastra tanpa sayembara mungkin sepi dan lungkrah . Berita terakhir tentang sayembara berasal dari Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2016 menghasilkan pemenang dan argumentasi dewan juri. Panitia mengumumkan 317 naskah lolos untuk penilaian. (Koran Sindo, 5 Maret 2017)

Sayembara novel DKJ ini sesekali diselingi oleh sayembara kritik dan manuskrip puisi, untuk manuskrip puisi baru pertama kali digelar di tahun 2015. Pada dasarnya, simpulan awal yang kita dapatkan bahwa DKJ mampu merangsang pengarang muda untuk menelurkan karya terbaik melalui sayembaranya.

Tahun 2017 ini, pembaca sastra kita dihadiahi DKJ dengan lima judul buku jebolan sayembara menulis novel tahun 2016. Semua Ikan di Langit (terbit Februari 2017), sebagai juara utama karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie. Berturut-turut empat judul sebagai pemenang unggulan. Tanah Surga Merah karya Arafat Nur yang terbit di Januari 2017. Di bulan Maret 2017, Curriculum Vitae anggitan Benny Arnas dan Lengking Burung Kasuari karya Nunuk Y Kusmiana hadir di ruang pembaca. Dan paling bontot lahir adalah 24 Jam Bersama Gaspar milik Sabda Armandio.

Tema dan teknik dari kelima novel ini tergolong beragam. Kelimanya sama-sama penulis ulung yang memilih caranya masing-masing dalam mengisahkan sebuah tema. Ada yang mempergunakan teknik konvensional namun dengan tema yang cukup seksi dan menjual. Sebaliknya ada juga yang mempergunakan teknik super ajaib dengan sebuah tema yang sejatinya tak terlalu istimewa. Namun komposisi paling ajaib adalah bila teknik dan bahasa yang apik untuk sebuah tema yang sangat jarang juga.

Semua Ikan di Langit milik Ziggy Z, sebagai pemenang utama memang menjanjikan sebuah kebaruan baik dari tema maupun gaya kepenulisan Ziggy. Ziggy yang di tahun 2014 lalu juga menjadi juara 3 untuk sayembara yang sama dengan novel Di Tanah Lada, seketika menjadi buah bibir.

Ziggy meminjam simile bus damri Dipati Ukur-Leuwi Panjang dan seorang anak kecil yang memiliki kemampuan menggerakan segalanya, untuk menjelaskan konsepsi Tuhan. Saya adalah personifikasi atas bus damri. Beliau adalah sosok anak kecil, yang bila kita tafsirkan dapat berarti sosok Tuhan dengan kemanpuan menghidupkan dan menggerakkan bus damri dan makhluk-makhluk di dalam bus.

Novel ini sejatinya tidak memiliki konflik berarti. Ziggy hanya mempertontonkan bagaimana dia mempermainkan logika, simile tokoh, dan juga konsep ketuhanan yang coba dijelaskan dengan logika anak-anak. Bahkan potensi untuk mengulik sebuah konflik besar, yakni ketika bus damri melancong ke Auschwitz, Jerman tahun 1944 dan aneka simbol perihal komunisme tidak dijamah dengan lebih lapang. Ziggy ingin mempersilakan pembaca menafsirkan seluas-luasnya. Apalagi yang selama ini bercerita hanyalah sebuah bus damri dengan ‘tuhan’ seorang anak kecil.

Teknik yang cukup berani ialah di novel Curriculum Vitae milik Benny Arnas. Novel ini menghadirkan bentuk yang tidak baku untuk kategori novel dalam perkembangan sastra dewasa ini. Novel sepanjang 200 halaman ini terdiri dari banyak fragmen kecil, potongan kisah, atau flash fiction yang jahit-menjahit menjadi sebuah bangunan besar bernama novel.

Keanehan tidak hanya berhenti di sini, Benny Arnas menyembunyikan kejelasan tokoh. Rimbun metafora dan bahasa semakin membuat samar tokoh dan kejelasan penyusun novel pada umumnya. Tidak akan dijelaskan di mana, suasana, atau bagaimana keadaan sekitar. Benar-benar rimba yang perlu banyak penjelas apabila ingin mengetahui konflik seutuhnya. Karena pada dasarnya konflik yang dihadirkan Benny Arnas adalah kisah cinta sepasang manusia dengan banyak onak rintangan.

Segar. Novel Benny Arnas jelas segar. Secara teknik baru dengan keberanian penulis menerobos pakem novel pada kebanyakan. Hal senada dilakukan oleh Sabda Armandio di novel 24 Jam Bersama Gaspar.

Novel ini dimulai dengan peleburan tokoh di luar fiksi yang ternyata adalah fiksi. Sungguh pengantar dari Arthur Harahap begitu ajaib. Kisah Gaspar yang kemudian di tengah memiliki nama alias bernama Rahasia hendak mencuri toko emas milik Wan Ali. Namun sejatinya ada sebuah rahasia yang diam-diam disembunyikan Gaspar, ialah soal kotak dan anak perempuan Wan Ali. Gaspar kemudian bertemu sekaligus menggalang komplotasi dengan lima orang lainnya, Njet, Kik, Agnes, Pongo, dan Pingi. Yang kesemuannya ada kaitannya dengan Wan Ali. Misalkan Pingi yang sejatinya adalah kakak ipar Wan Ali. Tetapi yang menarik adalah rasa humor Sabda yang seolah merangkum semua informasi dan kemudian diolah sedemikian lucu.

Humor cerdas Sabda memang rasa paling segar dari kelima novel jebolan DKJ tahun ini. Sabda seolah tidak tertekan oleh predikat sastra yang hendak diusung DKJ, sehingga Sabda lebih ingin menulis sebuah kisah dengan ledakan humor serta satire yang juga mengena. Maka kisah Gaspar akan menjadi bacaan yang seru, lucu, dan tidak membosankan. Karena cerita Sabda Armandio begitu clear.

Tanah Surga Merah milik Arafat Nur dan Lengking Burung Kasuari karangan Nunuk Y Kusmiana, terasa tidak begitu spesial bila dibandingkan dengan tiga novel lainnya. Teknik yang seolah tenang tanpa kejutan.

Tanah Surga Merah bila dibandingkan dengan Lampuki, masih kalah jauh. Arafat Nur lagi-lagi mengulik perihal Aceh dan kritikan akan kondisi Aceh yang bahkan setelah GAM merdeka, tak ada kemajuan berarti. Terlebih tokoh Murad yang tak bertindak berarti selain mengumpati.

Hampir setengah novel ini berisi keluhan penulis yang memperalat Murad sebagai corong kedua. Murad miskin tindakan nyata yang saya harapkan seheroik ‘umpatan’ dan sejarah masa lalunya sebagai pejuang Partai Merah. Satau-satunya yang tampak sebagai tindakan seorang David yang kecil namun cerdik adalah adegan Murad membaca novel Haruki Murakami, Hear The Wind Song pinjaman dari koleksi Abduh.

Dari segi cara penulisan, Arafat Nur lebih bermain aman. Tidak ada kejutan, lempeng saja. Hal serupa dilakukan oleh Nunuk Y Kusmiana dalam Lengking Burung Kasuari.

Walaupun mengambil latar Papua tahun 60-an pasca ditegakkan Trikora, namun Nunuk Y Kusmiana lebih mengulik romantisme kenangan semasa tinggal di Papua. Tak ada konflik berarti kecuali persoalan-persoalan anak-anak kecil di daerah dinas. Nunuk juga masih bermain aman dalam teknik penulisan. Tenang datar tanpa kejutan.

Bila bisa dirumuskan, novel-novel DKJ memiliki dua ciri yang khas. Pertama soal ketajam-seksian tema. Sastra sebagai mata kamera yang mengabadikan fenomena sosial, atau melantangkan suara-suara yang selama ini tersembunyi atau sengaja disembunyikan. DKJ menampung ini. Kedua ialah perihal teknik. Teknik biasa-biasa saja dipastikan tidak akan pernah dilirik oleh dewan juri DKJ. Gagasan baru bila hanya disajikan begitu saja, maka terasa kurang spesial. Akan menjadi begitu istimewa bila tema seksi juga disajikan dengan teknik.

Kelima novel ini memiliki dua cakupan tersebut. Ada yang bertema seksi, berteknik ajaib.

Kanonik(kah?)

Apakah setelah Saman tidak ada jebolan DKJ yang melegenda? Ini adalah sebuah pertanyaan yang ajaib. Karena kehadiran lomba DKJ adalah membuat sosok sastrawan baru lewat perlombaan.

Strategi yang dipilih DKJ ini juga bisa dicontoh oleh banyak lembaga lain untuk saling menggairahkan generasi muda dalam berkreasi dalam sastra. Baik oleh badan/lembaga pemerintah atau badan swasta. Tentu pilihan agar bisa mengikuti DKJ adalah keberanian lepas dari tema lokalitas. DKJ tidak mensyarakatkan tema lokalitas. Misalkan balai bahasa tiap daerah, seharusnya tidak mengharuskan tema lokalitas yang apabila hendak mengadakan lomba.

Kalau Bandung Mawardi bilang bahwa sastra Indonesia dibangun oleh banyak kompetisi. Dan DKJ sebagai salah satu kompetisi penulisan yang ajeg dilakukan setiap tahun. DKJ memang tidak bisa menjamin kualitas tiap lulusan akan menyamai pendahulu yang dinobatkan sebagai sastra kanon. Tapi ini sejatinya adalah tantangan kita.

Bila saya boleh memilih dari kelima lulusan DKJ 2016, saya akan lebih memilih 24 Jam Bersama Gaspar. Segar dan punya teknik yang baru. Lantas apa pilihan anda? []

Advertisements

2 thoughts on “Dari Ikan, Kasuari, dan Si Kocak Gaspar

  1. Baru baca 24 Jam Bersama Gaspar dan Semua Ikan di Langit. Lebih seneng 24 Jam Bersama Gaspar ya Mas kalo aku. Kocak, tapi nyentuh juga, tokoh-tokohnya berkarakter banget, pas nutup buku sampe pengen langsung baca lagi buat kedua kalinya :”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s