Resensi

Vegetarian dan Simbolisasi Perempuan

(Kompas, 1 Juli 2017)

Pembukaan novel Vegetarian ini mengingatkan kita pada cara Franz Kafka membuka Metamorfosis. Kalimat penuh teror.  Bila Gregor Samsa milik Kafka menjadi coro ketika bangun tidur, maka Yeong-hye tokoh utama di novel ini mendadak mememutuskan menjadi vegetarian. Sebuah keputusan yang kemudian menjadi problematika dahsyat di keluarga Yeong-hye.

Sebelum memutuskan menjadi seorang vegetarian, Yeong-hye adalah istri yang biasa-biasa saja di mata suaminya. Aku tak pernah menganggap istriku luar biasa sebelum dia menjadi vegetarian. (hal.5) Tidak ada keistimewaan yang bisa diingat oleh suami selain perihal makanan buatan Yeong-hye yang tentu saja berbahan daging.

Mimpi. Yeong-hye memimpikan darah, adegan pemotongan hewan, dikejar-kejar makluk berlumuran darah, atau sosok misterius yang memotong daging di atas talenan. Sosok manusia menjadi menyeramkan saat sudah menjadi binatang buas.

Keputusan menyeret Yeong-hye pada pertikaian keluarga. Sikap Yeong-hye menjadi antitesis dari kebanyakan manusia Korea pada masa itu yang tidak bisa jauh dari kudapan berbahan daging.

Suami Yeong-hye, narator pada bagian pertama ini mengalami banyak persoalan setelah keputusan mengejutkan itu. Pertama pola makan di meja makan berubah, kemudian Yeong-hye kehilangan gairah seksual, Yeong-hye merusak acara makan siang bersama atasan, dan yang paling puncak ialah keributan di apartemen karena orangtua Yeong-hye memasak menjejalkan menu daging untuk mengembalikan pola makan Yeong-hye.

“Sekali makan, dia pasti akan makan lagi. Mana ada manusia yang tidak makan daging di dunia ini!” (hal.48) Akhir dari bagian pertama ini ialah Yeong-hye harus masuk rumah sakit dan rumah tangganya retak, seperti keputusannya untuk menjauh dari kehidupan ala manusia Korea kebanyakan. Memakan daging.

Novel ini terbagi menjadi tiga bab dan tiga sudut pandang berbeda. Bila di bagian pertama Vegetarian, sudut pandang adalah suami Yeong-hye. Di bagian dua, Tanda Lahir Kebiruan, sudut pandang ialah kakak ipar Yeong-hye yang diam-diam jatuh cinta kepadanya. Ia mengetahui dengan jelas apa yang kurang itu ketika diperkenalkan dengan sang adik ipar di pertemuan keluarga. (hal.75)

Rasa suka diam-diam ini semakin menjadi setelah tahu Yeong-hye pisah dari suami pasca menjadi vegetarian. Kakak ipar menyukai tubuh kurus Yeong-hye dan sebuah tanda lahir warna biru. Kesempatan itu muncul saat Yeong-hye menerima tawaran untuk menjadi model untuk sebuah fotografi syur. Yang berujung hubungan intim di antara keduanya. Kemudian di bagian ketiga, Pohon Kembang Api, Han Kang melakukan rekonsiliasi atas persoalan Yeong-hye dengan sudut pandang kakak kandungnya.

Eksistensi Manusia

Novel ini bisa dipandang sebagai cermin persoalan psikologis manusia Korea modern. Yeong-hye adalah wanita Korea yang sebagian besar harus tunduk pada tradisi untuk lebih banyak berdiam di rumah. Konfisianisme yang mengakar di kawasan Asia Timur lebih menonjolkan sosok lelaki dan menenggelamkan peran perempuan di ruang publik.

Korea merupakan salah satu negara dengan tetap memegang kuat nilai patriarki. Hal ini dimulai dari lingkungan rumah tangga. Seorang istri setelah menikah akan ikut keluarga suami, menjaga mertua, dan kelak anaknya akan membawa marga suami. Perubahan Yeong-hye jelas bentuk berontak seorang wanita yang sekaligus memalukan orangtua.

 Novel jelas menyuarakan kegelisahan perempuan yang selalu berada di belakang laki-laki dan keinginan untuk menaklukkan lelaki; continued subjugation by men,ujar Han Kang.

Bila dicermati pada simbol-simbol yang dipergunakan Han Kang, kita dapat menemukan sebuah renungan akan eksistensi manusia sebagai makhluk hidup bernafsu dan berakal. Suatu saat perilaku manusia tidak ada bedanya dengan binatang. Dalam salah satu wawancaranya, Han Kang disebut telah mengubah peranan perempuan menjadi golongan tetumbuhan, the image a woman turning into a plant.

Perempuan Korea yang digambarkan Han Kang menjadi antitesis akan kejamakan. Namun titik balik bagi Yeong-hye ialah saat dihadapkan pada kebutuhan seksual dengan kakak iparnya. Pun adegan simbolik Yeong-hye yang mencengkeram burung.

Perempuan bisa menyimpan misteri, kengerian, daya ledak, serta hasrat untuk menentukan dirinya sendiri. Kesemuanya disampaikan Han Kang dalam tonasi surealis yang masih bisa diterima pembaca umum, meski harus dimulai dengan adegan mengejutkan.

Selain dilengkapi dengan nafsu hayawaniah dan kemampuan berpikir, manusia sejatinya adalah makhluk yang enggan disama-ratakan dengan kebanyakan. Kalau Jostein Gaarder dalam The Solitaire Mystery mempergunakan simbol Joker untuk mengatakan manusia harus menjadi pembeda di tengah kartu remi. Han Kang mempergunakan Yeong-hye untuk meneguhkan eksistensi manusia. Di domain mana kita berada? Apakah sekadar mengalir seperti kebanyakan? Atau seperti Yeong-hye yang tak gentar meski dicecar banyak pendapat negatif?

K-lit Pelengkap Korean-wave

Sebelum Han Kang, dunia internasional tak begitu menaruh perhatian pada literasi Korea. Korea hanya dinobatkan sebagai pengekspor budaya K-Pop lewat hallyu atau Korean wave. Pun di Indonesia, mata literasi kita hanya terfokus pada Jepang dan Tiongkok untuk keperluan sastra Asia Timur. Han Kang dengan Vegetarian mendobrak kelembaban ini. Novel ini diganjar penghargaan sebagai Man Booker Internasional, atau novel terjemahan terbaik.

Man Booker International menjadi penghargaan bergengsi untuk fiksi terjemahan dari negara yang tidak ber-native Inggris. Vegetarian memang menggambarkan suara Timur (Korea) yang sangat minim didengar oleh Barat. Budaya dan psikologis orang di dalamnya. Namun lebih luas, konflik tokoh dalam Vegatarian bertautan dengan problem manusia modern kebanyakan. Eksistensi dan pertanyaan akan peran dalam lingkungan. Hingga tak aneh bila Han Kang dan Vegetarian disebut memiliki contribution to fiction on the world stage; pengaruhnya meluas sampai ranah global.

Selain persoalan Yeong-hye yang ajaib sekaligus mencekam, novel ini disusun dengan cara bercerita unik. Sebuah cara penyajian unik dari Han Kang. Kemudian bila dirasakan, akan ada gaya Haruki Murakami di tubuh novel ini; keterasingan di tengah dunia modern. Bagi penggemar Haruki Murakami, siap-siaplah memiliki idola baru.

Di negeri asalnya, novel ini terbit pertama 2007. Butuh satu dekade untuk menjadikannya sebagai ledakan k-lit atau Korean Literature dan menjadi buah bibir internasional. Apa pun itu VegetarianHan Kang telah mendunia. Jadi tak ada soal untuk tak menengok literasi di negeri gingseng, selain menikmati musik, drama Korea, dan sedap gurih kimchi-nya. Bila PSY dengan Gangnam Stylenya telah meledakkan budaya pop di Barat, maka Han Kang dengan novel ini telah mencuri perhatian dunia sastra Barat. []

VEGETARIAN  | Han Kang
Penerbit Baca | Pertama, Maret 2017
222 halaman | 9786026486073

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s