Cerpen

Angin Tak Dapat Membaca

Pikiran Rakyat, 11 Juni 2017

a763b753628697.593adcea2cfc3

Sumber gambar: “Wind” by Olga Yefremova

Seperti angin, dirimu tak dapat membaca apa-apa yang kuingin.

Matahari jingga. Suara sirene tanda kereta tiba. Dadaku lesap oleh lara. Luka kecil yang dahulu kuabaikan dan kuanggap akan sembuh oleh waktu yang terus menimpa, sekarang menjadi nganga yang terus melebar. Hingga aku bisa menarik kesimpulan, nelangsa adalah komplenen dari bahagia bila kita sedang dirundung rasa cinta.

Tak ada yang salah dengan hubunganku denganmu. Karena kuyakin dirimulah yang paling mengerti bagaimana aku tak selalu sama dengan kebanyakan wanita lain. Ya, aku seperti letusan kebang api di tengah malam bulan November. Tak ada yang menginginkan, tetapi tetap meledak karena api terpantik tanpa kehendak.

Pernah suatu ketika, aku menasbihkan diri sebagai Virgin Mary. Aku takkan menikah. Dengan segala capaian sepanjang usiaku hampir tiga puluh tak sekali pun aku menjadi parasit dalam kehidupan orang lain. Kecuali aku menghutang air susu dan asuhan ibu semasa aku belia. Kamu sendiri tahu, ibuku memaksaku pindah ke Jakarta setelah dia menjadi istri kedua seorang kiai di pedalaman Kebumen. Aku tak membenci ibuku, tetapi aku membenci mengapa aku tidak bisa hidup damai bersama kesedihan selaiknya ibu berdamai dengan keadaan.

Sesekali SMS dari Ibu memintaku untuk menelepon, karena gundukan kangen di dadanya sudah melebihi tembok pagar pesantren. Pesan itu tak kuhiraukan. Aku janji, jiwaku sudah berubah sebagai seekor merpati lepas dari sarang. Bebas. Dan setiap pagi berangkat, petang pulang dengan perut kenyang.

“Karena itulah aku menyukaimu,” katamu saat mendengarkan kisah masa mudaku. “Kamu wanita super.”

“Bahkan aku tak sekali pun berpikir sebagai wanita. Mungkin dadaku sudah kebas akan segala rasa.”

Aku sama sekali tak pernah berpikir bahwa ucapan manusia akan dengan mudah berbalik arah seperti sekarang ini. Kamu dengan lantang mengatakan aku seorang penipu, seperti lintah yang gemar menyedot, seperti ikan cupang menempel di kehidupanmu, seperti keladi yang parasit di dahan kaki.

Pertengkaran besar semalam, membuatku gegas mengemas barang. Aku rela semua yang kumiliki kamu ambil, asal hatiku tak kamu sakiti lebih perih lagi. Kutinggalkan apa yang pernah kita nikmati, semua biarlah aku yang pergi. Aku seperti nyala kembang api di malam-malammu, hanya ledakan dan pijar warna di langit yang kamu nikmati. Aku? Terlalu panas untuk selalu kamu rengkuh.

***

Jadwal kereta jam 2 siang. Aku sudah mengantre di antara ratusan orang dengan aneka aroma keringat. Aku hanya terdiam. Biasanya aku gampang sekali mengumpat kalau aroma busuk menyerang hidung. Kukatakan, aku lebih tahan dipukul dengan rotan, daripada harus berdekatan dengan aroma keringat. Aku tak peduli semuanya lagi. Aku hanya ingin segera meninggalkan Jakarta hari ini, melepaskanmu pergi, membenamkan segala hal yang pernah kita dambakan sebagai kebahagiaan. Nyatanya hanya sebuah kenangan terperih.

“KTP!”

Seorang petugas pintu masuk meminta identitasku. Aku geragapan. Kukira dengan selembar tiket saja, aku sudah bisa berangkat meninggalkan masa lalu. Buktinya sekarang aku masih harus berususan dengan KTP.

Entah kapan terakhir aku naik kereta jarak jauh. Mungkin kali pertama aku berangkat ke Jakarta. Dan selama itu pula aku tak mengikuti perkembangan bagaimana tata cara berkereta api. Aku gergapan mencari kartu identitasku di dalam tas selempang. Aku mempersilakan beberapa pengantre di belakangku untuk masuk lebih dahulu.

Tas aku obok-obok. Tak kutemukan. Aku menumpahkan isi tas. Hanya ada tisu basah, kacamata hitam, earphone, bedak, sisir, gelang ikat rambut, dan dua bauh permen rasa mint. Dompet. Mungkin di dompet. Dan setelah kubuka, ternyata benar. Namun bukan KTP terbaru, melainkan KTP lama yang masih berbentuk kertas laminating. Aku mendesah. Kemudian bangun untuk menyerahkan kartu identitas agar bisa dipersilakan masuk ke peron.

“Belum ngurus e-KTP, ya!” seru petugas kereta.

Aku hanya mengangguk. Jawabanku tidak terlalu penting untuk pertanyaan basa-basi tersebut. Aku lebih ingin diam dan menikmati gugurnya semua laku satu demi satu bersama deru kereta.

Sekitar setengah jam aku menunggu di kursi tunggu peron. Suara-suara pengumuman kerap menganggu lamunan. Tas berisi pakaian yang tak seberapa yang kusahut begitu saja dari dalam lemari, kubekap erat. Sekelilingku tak sekali pun memberi perhatian. Aku bersyukur.

Saat kereta datang, aku naik bersama seorang anak muda yang sejak tadi mencuri-curi padang terhadap wajahku. Memang wajahku selalu aneh di hadapan orang lain. Kecuali di depanmu, sebelum malam tadi. Dia mengangguk sedikit. Aku tak membalas.

“Nomor berapa?” tanya pemuda itu.

“Aku tak tahu. Memangnya harus sesuai nomor duduknya?” tanyaku, begitu polos.

Dia tersenyum. “Baru sekali ya naik kereta?” pertanyaan itu menohok. Seperti sekelebat jurus pesilat yang langsung menikam ulu.

Aku mengangguk, malu-malu.

“Coba lihat tiketnya,” dia meraih selemar tiket yang kugenggam bersama tas. “12E. Kita sederet.”

“Syukurlah!”

Dia meletakkan tasnya lebih dahulu di atas kabin. Sepertinya dia mahasiswa yang sedang pulang kampung liburan atau mungkin sedang mengadakan jalan-jalan sendirian. Kemudian dia menawarkan bantuan untuk menyimpankan tas bawaanku. Sebenarnya aku bisa sendiri, tetapi aku bukan tipe orang yang mudah menyia-nyiakan bantuan.

“Aku bisa sendiri. Biar aku sendiri,” jawabku berlagak basa-basi. Tetapi ternyata dia lelaki muda yang tak paham basa-basi.

Aku berdiri di atas kursi kereta. Dia justru menggantung plastik berisi air minum dan bekal kudapan ringan. Telepon genggam dikeluarkan dari saku celana, kemudian dengan penyumpal telinga dia manggut-manggut. Usai meletakkan tas aku kembali duduk. Menatap anak muda yang alisnya sangat tebal.

“Aku Kiro,” dia mengajakku berkenalan.

“Miria,” jawabku singkat.

Kiro, andai dia tidak berbicara pastilah aku mengira dia orang Indonesia pada umumnya. Ternyata di lima belas menit pertama setelah peluit keberangkatan dia membeberkan semua identitasnya seolah aku adalah pegawai pencatatan sipil yang sedang menanyai riwayat hidupnya.

Kiroyushi Nakazawa. Ayahnya orang Jepang, Ibunya orang Sumedang. Lahir di Kebayoran Lama dan sekarang kuliah di Yogyakarta. Umur delapan tahun dia membenci ayahnya yang begitu tegas, seperti tentara Dai-Nippon. Dia berontak dan sesekali kabur ke rumah kawan-kawannya, semalaman main PS dan bolos sekolah. Barulah saat kuliah, dia merasa menyesal. Akademiknya jeblok dan harus kuliah di kampus swasta. Rasa benci kepada ayahnya semakin menggunung saat diketahui, ayahnya kabur ke Indonesia saat punya masalah dengan keluarganya di Jepang. Alhasil, Kiro dan ibunya tak pernah tahu siapa moyang mereka di Jepang.

Kalau boleh jujur, aku pun seperti ayahmu, Kiro. Aku ke Jakarta tanpa mau mengungkit sejarah bersama keluargaku dahulu. Dan sekarang saat kereta pergi dari Senen, kuingin aku akan lahir sebagai orang baru dan tak perlu lagi aku ditanya sejarah silamku.

“Kamu bisa berbahasa Jepang?”

“Tidak. Aku membenci ayahku,” jawabnya. “Hingga di SD aku lebih memilih memanggil ayahku sebagai kakek. Karena memang dia lebih pantas kupanggil kakek,” Kiro tak sungkan-sungkan menjelek-jelekkan ayahnya sendiri.  

Aku tak membalas.

“Kamu mau kemana?”

“Mungkin ke Jogja.”

“Kok mungkin?”

“Karena aku tidak tahu kemana harus aku harus hidup.”

“Kalau kamu berangkat, sudah harus tahu ke mana kamu akan pulang. Tapi, ya sesekali harus berani berangkat tanpa direncanakan. Bukankah hidup terlalu monoton kalau dinikmati biasa-biasa saja.”

Aku mengangguk.

Dengan garis muka yang keras, Kiro sangatlah memesona. Tiap kali melihat paha putih Kiro yang kontras dengan beberapa lembar rambut, aku merasakan ada yang berdesir di perutku. Aku menunduk, mencoba menghindar dari rasa-rasa yang tak patut aku tumbuhkan di saat-saat seperti ini.

Apalagi setelah kami cukup akrab, Kiro memilih untuk pindah ke 12D persis di sampingku. Entah Kiro yang terlalu nakal untuk ukuran anak muda seperti dia. Atau aku yang tampil seperti wanita yang begitu mudah jatuh di tangan anak muda.

“Kiro, kamu ganteng,” kalimat itu meluncur tanpa pernah aku bisa tahan. Sudah dua jam kami duduk bersama, dan Kiro semakin gencar menyerang diriku dengan aroma segar dan pandangan di depan mata yang jelas menganggu dada. Kiro menumbuhkan semua yang sejak semalam kubenamkan dalam-dalam dan aku telah berjanji untuk membawanya sampai ke liang pemakaman. Tapi Kiro? Seperti sepotong rembulan yang jatuh di pelataran.

“Miria, kamu menginap saja di kosku. Kosku bebas. Kamu bisa bermalam sampai puas,” Kiro membisikkan sesuatu yang diam-diam kutunggu, tetapi aku juga malu.

“Aku baru saja pisah dengan pacarku di Jakarta.”

“Tak apa-apa. Anggap saja aku pacar barumu,” sekarang tangan Kiro mulai berani meremas tanganku. Aku biarkan.

Jujur semenjak ada Kiro di sampingku, aku sudah lupa pada luka-luka yang semalam meruam, memancarkan nanah.

Aku belum menjawab. Tetapi Kiro seperti menerima lampu hijau bahwa dia boleh melakukan apa saja terhadap tubuhku, bahkan saat kereta belum berhenti di Stasiun Tugu.

“Kiro, jangan menjadi bahan permaluan di kereta ini. Kalau kamu tidak bisa menahan diri, bisa-bisa besok namamu sudah masuk headline koran lampu merah. Keluarga dan kuliahmu hancur.”

“Tapi kamu suka, kan?”

“Aku sih bebas. Tetapi kamu masih terlalu muda untuk hancur gara-gara hal demikian.”

Kiro mereda. Aku ingin sekali mengisahkan sebuah rahasia yang mungkin saja Kiro akan berhenti menganggapku sebagai sebentuk boneka yang bebas dia mainkan, cumbui, kemudian dia campakkan. Kisah semalam sudah membuktikan bahwa lelaki lebih kerap memerlakukan wanita seperti kuda pedati. Diperah habis-habisan bila sudah bosan dan tak mengenakkan, akan dilupakan begitu saja. Kiro wajahmu memang mengundang segala fantasi, tetapi aku tahu gelagatmu akan tak lebih baik dari lelaki yang sudah meniduriku hampir selama lima tahun itu.

“Kiro, sebenarnya aku……” Mendadak kereta berhenti. Suara jeritan penumpang menutup pengakuanku.

Gerbong paling depan anjlok. Dan perjalanan kami harus terhenti.

“Untung tidak apa-apa. Kamu tidak kenapa-kenapa, kan Miria?”

Aku menggeleng.

“Apa yang tadi kamu mau omongkan?”

“Tidak.”

Aku melihat daun-daun pohon diembus angin. Beberapa rontok dan rebah ke tanah. Kiro seperti angin, bisa kurasakan tapi tak pernah bisa kumiliki seorang diri. Angin tak dapat membaca kata-kata, terlebih rasa cinta. Karena sampai kapanpun, meski aku berdandan dan mampu menggairahkan lelaki, aku tak yakin Kiro akan bernafsu kepadaku saat tahu yang dia hadapi ialah lelaki. Bedanya, sejak kecil aku selalu yakin aku adalah Miria.[]

Catatan: judul Angin Tak Dapat Membaca diambil
dari judul sinetron tahun 90-an
dengan bintang utama Adam Jordan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s