Resensi

Ketika Drupadi Harus Berpoliandri

Kavita A Sharma dalam bukunya The Queens of Mahabharata (2006) menyebutkan Drupadi sebagai salah satu perempuan yang berperan penting dalam epos panjang Mahabharata. Drupadi disandingkan dengan Satyawati, Amba, Gandari, dan Kunti yang disebut Sharma sebagai perempuan-perempuan yang tidak dapat bertindak secara langsung menggunakan dua tangan sendiri, tetapi mereka berperang melalui suami dan putra-putra mereka.

Dalam versi Indonesia, Mahabarata mengalami penyesuaian. Namun kisah dan garis besar cerita tak terlampau jauh. Sehingga banyak penulis-penulis yang kembali menginterpretasikan cerita-cerita dari kitab babon Mahabharata karangan Byasa atau Vyasa. Kisahnya merasuk ke nadi kehidupan. Hingga dalam masyarakat India, setiap tokoh memiliki kuil pemujaan.

Seno Gumira Ajidarma (SGA) sastrawan serba bisa ini kembali menghadirkan novel terbaru hasil interpretasinya atas sosok perempuan pelaku poliandri. Drupadi istri lima kstaria Pandhawa. SGA memang memiliki ketertarikan kuat pada cerita-cerita pewayangan dan silat kolosal. Kitab Omong Kosong (2004) mengisahkan luka batin Shinta dan problematika dengan Rama. Ada juga novel tipis Wisanggeni (2000), dan novel panjang Nagabumi (2009).cover_buku_90411

Drupadi dalam buku ini digambarkan mengalami banyak tragedi. Pilu pertama yang harus dihadapi ialah soal kegagalan menjadi istri Arjuna, cinta sejatinya. Drupadi harus menelan kekecewaaan bahwa sayembara untuk memperebutkannya tidak dihadiri Arjuna. Pandhawa telah tewas dalam peristiwa Bale Sigala-gala. (h.5)

Bahkan saat Arjuna dalam penyaruan sebagai brahmana berhasil menarik gandiwa dan memanah seekor burung terbang, Drupadi harus rela mengikuti Arjuna di pondokan pinggir Pancala. Dan tragedi kedua Drupadi dimulai.

Cinta sejatinya, Arjuna, tak mau menikahi Drupadi. Justru menyerahkan Drupadi kepada Yudhistira. Dalam hatinya merayap rasa kelu yang belum pernah dialaminya. Kata-kata yang lewat tak didengarnya lagi, wajahnya terasa panas, dan gubug itu terasa makin pengap. (h.26)

Dan Kunti menyimpulkan sebuah prahara cinta terdahsyat bagi Drupadi, “Anak-anakku (Pandhawa), Dewi Drupadi harus kalian nikahi bersama.” (h.30) Drupadi, satu bunga untuk berlima. Sosok dewi pelaku poliandri.

Sebagai penggenap Pandhawa, Drupadi juga harus merasakan perihnya menjadi taruhan permainan judi Yudhistira melawan Kurawa. Yudhistira digambarkan sebagai raja yang tak memiliki keyakinan kuat, lemah, dan mudah dihasut oleh Sangkuni. Sangkuni sungguh pandai. Penjudi kelas kambing selalu tetap bermain dan kalah meskipin mengerti akan kalah. (h.51)

Yudhistira kalah. Pandhawa menjadi budak. Kerajaannya hilang. Dan Drupadi harus dilecehkan di hadapan majelis. Di titik inilah keperkasaaan Drupadi tampil. Dendam dalam jiwa keperempuannya menggelora dan kelak akan mengubah jalan hidup Pandhawa dan laju epos Mahabharata.

“Suami-suamiku, apakah memang menjadi keutamaan kstaria untuk membiarkan istrinya terhina?” (h.61) Drupadi memukul telak sanubari Pandhawa. Sumpah telah diangkat Drupadi, tidak akan menyanggul rambut jika Drupadi belum keramas dengan darah Dursasana.

Dendam ini membuat pula Bima menatah sumpah akan membunuh suma Kurawa dan memeras darah Dursasana.

SGA memihak sekali kelembutan hati perempuan. Sosok putri kerajaan, tidak digambarkan sebagai pesolek belaka. SGA menuliskan Drupadi layaknya perempuan bahkan memiliki hak-hak setara dengan lima kstaria suaminya.

Hal paling menojol adalah bagaimana Drupadi digambarkan sah-sah saja mengungkapkan kehausan berahi atas Arjuna, suami terkasihnya saat mereka terasing di negeri Wirata. Keenamnya harus meyamar selama 12 tahun akibat kalah judi. Dalam masa penyamaran itulah, Drupadi yang berganti nama Sarindhri harus menahan gejolak atas lima suaminya. Dan aku tidak bertemu satu pun dari kelima suamiku, protes Drupadi.

Peran Drupadi semakin tajam saat perang Baharatayuda dimulai. Pandhawa yang hampir-hampir mundur karena harus melawan Dorna, guru terkasih mereka, berhasil dihasut oleh Drupadi. Dapat dikatakan bahwa Drupadi adalah perempuan bertangan besi yang memanfaatkan lima suami mereka demi dendam kepada Dursasana dan Kurawa.

“Di dunia ini kaum lelaki selalu merasa dirinya paling menentukan. Cobalah perempuan mengambil tindakan, maka mereka akan kelimpungan,” (h.99) kata Drupadi. Kurawa kalah, meski banyak ksatria dari pihak Pandhawa juga terbunuh. Abimanyu, Irawan, Gatotkaca gugur demi kemenangan Pandhawa.

Namun urgensi pertama, bukan semata meraih kembali Hastinapura. Tetapi menuntaskan dendam Drupadi, yakni membasuh rambutnya dengan darah Dursasana. Sosok Drupadi berada di belakang konflik saudara Kurawa dan Pandhawa.

Selain keberhasilan SGA membuat sosok Drupadi dengan apa adanya, bahwa seorang putri tidaklah mesti cantik, anggun di balik singgasana suami. Perempuan juga memiliki emosi, dendam, dan nafsu meraih kekuasaan. Semakin istimewa karena di dalamnya dihiasi gambar Danarto yang sangat khas.

Ironi Drupadi nyatanya masih berlanjut. Saat Pandhawa dan Drupadi hendak menggapai mahameru, puncak nirwana, Drupadi harus jatuh di tengah jalan. Dendam mahabesar telah menjadi pengganjal Drupadi mendaki puncak mahameru. Drupadi seda jauh sebelum meraih nirwana.

“Suami-suamiku, teruslah berjalan. Aku hanya sampai di sini,” Drupadi tengkurap tak mampu bergerak. (h.132) Dendam dan aneka tragedi terus saja membuat Drupadi dan para perempuan selalu berada di belakang lelaki. []

DRUPADI | Seno Gumira Ajidarma | Gramedia Pustaka Utama
Januari 2017 | 150 halaman | 978-602-03-3687-9

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s