Cerpen

Rio Menjadi Serangga

Saat mata terbuka, kesadaran saya hanya mengingat bahwa saya memang dilahirkan sebagai kutu buku. Saya bukan pegawai rendahan yang oleh mantra Kafka kemudian menjadi kecoa. Juga bukan penulis muda yang oleh sihir Murakami dijadikan kambing yang dari perutnya beterbangan kunang-kunang. Saya kutu buku sedari dulu.3bdc1625568827.56347661ef9ee

Di salah satu kios buku bekas, saya tinggal di antara lipatan-lipatan buku. Saya mencium dan kadang menemukan banyak kawan saya sesama kutu buku sekadar hidup dan makan. Lahir sebagai kutu buku adalah takdir yang tak bisa dielakkan. Namun menjadi kutu buku bodoh, sekadar menggeripisi halaman demi halaman buku, dan menanti ajal mengundang adalah pilihan.

Di salah satu halaman ensiklopedia yang saya baca, serangga-serangga kecil
seperti saya hidupnya tak lebih lama dari masa tanam pohon jagung. Bahkan bisa lebih pendek, kalau wanita pemilik kios ini menyemprotkan obat anti serangga, memberi kapur barus, atau dengan kejinya menginjak tubuh-tubuh kami yang kecil hingga keluar semua isi perut kami.

Maka dari itu, saya ingin berkisah tentang bagaimana Tuhan dengan begitu senonoh menanamkan rasa cinta kepada saya. Cinta di serangga maupun manusia sama saja. Dia datang tiba-tiba dan kerap menggelapkan mata. Tapi berkat cinta juga, tubuh saya kerap memanas ketika yang saya cintai menampakkan wajahnya.

Saya bukan jatuh cinta kepada pemilik kios buku bekas saya. Dia seorang wanita tua yang bila tak ada pembeli datang akan tertidur sambil duduk di kursi plastik. Mendengkur dan sesekali saya saksikan tetesan liur membasahi blus hingga rok. Saya tak akan menyukai manusia yang tak pernah menghitung hari seperti dia.

Saya jatuh cinta dengan Rio. Saya tidak tahu nama lengkapnya, saya juga sedikit ragu apakah nama itu benar namanya sungguhan atau sekadar nama asal yang ditemukan wanita tua penjaga kios buku.

Jam 9 lebih sedikit, hari selasa, karena saya ingat dua hari sebelumnya gereja yang tak jauh dari pasar buku loak ini melantunkan senandung misa yang damai. Wanita tua itu diserang kantuk pagi. Kepalanya berkali-kali terantuk dengan dadanya sendiri.

Seorang lelaki mengangkat sebuah buku tua. Saya tahu buku itu tak pernah dipegang karena tak menimbulkan minat, dan dua kawan saya sesama serangga telah membuat lubang di seratus halaman terakhir. Tak banyak, tapi sudah cukup membuat buku itu cacat. Dia membuka-buka beberapa halaman dan kemudian terbatuk lantaran debu yang terselip di antara halaman-halamannya.

Suara batuknya mengagetkan wanita penjaga kios buku bekas.

“Nyari apa, Nak?” tanya wanit penjaga kios buku.

“Lihat-lihat saja,” jawabnya.

“Silakan!” wanita itu kemudian mengamati gerak-gerik calon pembelinya. “Dilihat-lihat kamu mirip banget sama Rio, pembalap itu!”

“Saya cuma mahasiswa yang belum lulus kuliah, bu!” jawabnya.

“Beneran, kamu mirip banget sama Rio si pembalap. Putih, ganteng, dan keker banget!” wanita itu tertawa dan disusul lelaki yang semenjak itu kupanggil Rio. Saya tahu wanita itu hanya sedang meluncurkan rayuan agar Rio mau bertahan lebih lama di kiosnya dan kemudian tertarik membeli salah satu buku.

“Terserah ibu saja!”

Wanita itu memberinya sesimpul senyum. Saya tersentuh oleh keuletan wanita itu mejerat Rio dan juga keramahan Rio yang tak jijik melihat wanita tua dengan keriput mitip kulit kayu jati.

Wanita itu menyodorkan buku-buku sembarangan, ya sebuah usaha untuk memancing ketertarikan Rio. Namun hanya dua kali menerima sodoran buku, kemudian Rio menjauh pamit.

Di pertemuan pertama itu saya rasakan ada yang berguncang dalam abdomen. Gejolak yang lembut namun kuat rambatannya. Aku sedang jatuh cinta.

Setiap pagi, pasca pertemuan itu, saya berharap Rio datang sekadar melihat-lihat dan saya dapat melihat wajahnya yang halus dan lipatan ketiaknya yang menyimpan sebuah kehangatan. Entah mengapa, selain wajah Rio saya tertarik dengan bahu dan lipatan ketiaknya. Sebagai serangga yang menyukai hal-hal yang terimpit, saya jatuh cinta. Saya yakin akan ada kehangatan di dalam sana. Saya akan merasakan sesuatu yang tak lagi sedingin kios buku bekas ini kala malam dan wanita penjaga kios itu menutup kios untuk pulang.

Tetapi saya tetaplah seekor insekta yang tak punya kaki untuk mengejar Rio, tak bersuara lantang untuk menyuarakan kegalauan pasca aku bertemu dengannya tanpa sengaja. Jadi yang bisa saya lakukan hanyalah berdoa agar Rio kalau sedang senggang memikirkan kios buku tua ini.

Dan Tuhan benar-benar sedang tak bisa diajak kompromi. Rio ternyata datang hampir tiap hari ke kios, mungkin lebih tepat saya sebut pasar buku bekas ini. Memang Rio tak mengkhususkan untuk menuju kios tempat saya tinggal. Tapi tiap kali datang, saya bisa menyaksikannya dari kejauhan dan cukup senang bisa menyaksikan kembali wajah dan ketiak Rio.

“Ibu, saya sedang mencari buku,” Rio berhenti kembali di kios tempatku bersembunyi.

“Buku apa, Nak Rio?”

“Buku apa saja, yang penting tentang serangga dan anatominya,” jawab Rio.

Ibu itu gegas masuk ke tumpukan yang lebih rimbun. Saya tahu di dalam sana, buku-buku banyak tergeletak tidak jelas, beberapa masih teronggok di dalam kardus, diikat dengan tali rafia ala kadarnya, atau terdiam tersudut di pojokan kios. Oleh sebab itu tak heran bila banyak buku di kios ini menjadi sarang kutu buku, kecoa, bahkan kerajaan lipan.

Saya mengamati Rio. Melihat lekuk demi lekuk tangan dan bahunya yang kali ini ditutupi singlet. Saya terpesona dan sekaligus membayangkan bisa bersembunyi entah di ketiak kanan atau ketiak kiri.

Lima menit kemudian, wanita pemilik kios buku keluar. Lima buku kuno dengan kertas-kertas berwana kuning dan mulai geripis.

“Ini semua buku tentang fauna, serangga. Rata-rata usianya lebih tua dari kamu. Bahkan ada yang selisih setahun denganku. Jadi ini selain buku ilmu juga buku kuno.”

Rio membalasnya dengan tersenyum. Manis. Ya, itu senyum manusia paling manis yang pernah saya temukan. Mungkin juga karena setiap hari saya hanya melihat wanita itu dan sesekali Rio.

Rio membaca judul-judul buku itu, kemudian membuka beberapa halaman. Sesekali tangannya menekuk untuk menutupi hidung dari serbuan debu yang tiap kali dia membuka buku debu beterbangan seolah terbebas dari kekangan.

Saya yang dalam cerita ini satu-satunya tokoh yang jatuh cinta kepada Rio, mulai mendekatinya. Saya yakin, Rio dan semua manusia selalu abai dengan hal-hal kecil seperti serangga seperti saya. Jadilah saya mulai menyelinap di antara tumpukan buku, kemudian mendekati tubuh Rio yang mencagak di depan kios.

Saya mulai menaiki kaki dan kemudian menjalari ke tubuh bagian atas Rio. Seperti semula saya hanya jatuh cinta kepada ketiak Rio, jadilah tujuan utama saya bisa menyelinap di ketiak Rio. Setelah berusaha agar tak terlihat Rio dan tidak menimbulkan kecurigaan,karena kadang kaki serangga bisa menumbuhkan rasa gatal. Kalau sudah demikian, bisa-bisa Rio menggaruk-garuk. Risiko terkecil aku terjatuh dari usaha menaiki tubuh Rio, dan skenario terburuknya kuku tangan Rio bisa-bisa membuat tubuhku meletus. Kaki saya hentakkan perlahan. Berjingkat agar tak menimbulkan rasa-rasa lain, kulit Rio pastilah sesensitif kulit manusia yang lain.

“Saya ambil yang ini,” Rio mengangkat buku berjudul Ensiklopedia Serangga.

Sementara saya masih bersembunyi di ketiak Rio, dia membayar dan kemudian membawa pulang buku itu. Wanita itu tersenyum karena dia mendapatkan uang. Wajah Rio ceria karena yang dicari telah ditemukan. Dan saya sendiri bahagia dan berdebar, karena berhasil menyusup dan tinggal dalam beberapa waktu di ketiak Rio.

Saya tak tahu berapa lama saya di dalam ketiak Rio. Namun ketika ada cahaya melintas masuk ketiak, saya tahu telah berada puluhan kilometer dari kios buku bekas. Kini saya ada di kamar, yang saya duga adalah kamar Rio.

Rio melepas baju dan menyalakan kipas angin. Saya masih diam di ketiaknya.

“Sayang, tunggu aku. Sebentar lagi aku akan menjadi serangga. Kita adalah sepasang serangga paling bahagia. Lupakan kehidupan manusia yang serba dusta ini! Tuhan memang kurang kerjaan, mengapa aku harus jatuh cinta kepada serangga.” Rio merapal mantra sambil membaca-baca ensiklopedia serangga itu.

Dada saya bergemuruh. Mungkinkah Tuhan sedang ingin mempertemukan saya dengan Rio? Kalau Rio menjadi serangga, saya bisa bersua langsung dan kami akan jadi sepasang serangga, bercinta ala serangga, dan menghasilkan banyak larva. Kalau benar, itu akan membuat saya sebagai kutu buku paling beruntung.

Sebentar lagi saya bisa seperti yang dilakukan oleh dua spesies yang dimabuk cinta.

“Sayang, karena kamu telah berganti wujud menjadi kupu-kupu. Aku akan menyusulmu menjadi kupu-kupu juga,” kalimat Rio seketika meruntuhkan.

Aroma hangat ketiak Rio yang semula hangat mendadak apak. Saya kembali menjadi kutu buku yang hanya hidup terimpit. Kemudian saya rasakan tubuh Rio menyusut, dan sedikit demi sedikit sayap tumbuh di punggung Rio. Rio sebentar lagi akan paripurna menjadi kupu-kupu demi kekasihnya. Dan saya tetap menjadi kutu buku. Sekali lagi, Tuhan menciptakan permainan demi kepuasan-Nya sendiri.[]

rio menjadi serangga-esquire

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s