Cerpen

Luisa Tak Mau Dewasa

(Radar Surabaya, 14 Mei 2017)

Seketika setelah mata terbuka, kepala saya langsung di serang seribu penyesalan. Semalam, saya memarahi Luisa. Dan sebagaimana pada umumnya, penyesalan pagi ini hadir setelah kalimat penuh emosi berkejaran dan bertemu titik-tanda seru. Kemudian saya menyaksikan Luisa menunduk dengan air di sudut matanya menitik. Sembab seperti mendung yang hampir berubah hujan. Kalimat saya telah terlanjur meluncur, sebagaimana anak panah telah menghunjam dada lembut Luisa. Dadanya yang mungil dan seharusnya kutimang dengan ayunan sayang. Saya tahu betul, kalimat penuh kemarahan saya itu telah melubangi dada Luisa dan saya harus melakukan selusin kebaikan untuk sedikit demi sedikit menambal lubang tersebut.

Alasannya sangat sederhana, Luisa sedari petang begitu asyik dengan gawai terbaru yang dia sendiri pilih sebagai hadiah masuk tiga besar di kelas. Sedari saya masuk rumah sepulang kerja, Luisa menunjukkan beberapa permaianan yang saya sendiri tak pernah paham bagaimana cara memainkan. Semula saya acungi jempol, betapa Luisa yang masih delapan tahun begitu cepat paham soal pergawaian. Papa dan Mamanya mungkin hanya paham bagaimana memejet angka di papan telepon dan mengetik pesan di aplikasi pesan.

Namun, setelah azan magrib, di tengah makan malam, bahkan waktunya Luisa belajar, dia tak kunjung berhenti memainkan gawai itu, saya mulai terganggu.

“Luisa, sudahan dulu mainnya. Waktunya belajar,” kata saya mencoba menasihati.

“Ini Luisa juga belajar,” Luisa mencoba menangkis pertanyaanku.

“Mana ada belajar. Luisa dari tadi main melulu,” cecarku.

“Luisa belajar bahasa inggris di sini,” Luisa menunjukkan layar gawai yang luasnya mengingatkan sabak semasa eyang-eyang saya dulu sekolah.

Saya terdiam sebentar. Luisa memang sedang diserang kegirangan yang tidak terkira karena kebahagiaan gawai baru. Tetapi lama-kelamaan saya merasa Luisa terlampau berlebihan dalam memainkan.

“Luisa! Tutup gawainya! Sekarang belajar!” bentak saya.

“Papa, Luisa kan sedang belajar juga!” Luisa menampik lagi.

Saya mulai terganggu dengan Luisa. Saya ambil paksa gawai dari tangan Luisa dan saya seret dia menuju meja belajarnya. Ibunya menyaksidan dengan mulut terkatup rapat. Saya mendudukkan Luisa di kursi belajarnya dan membukakan sebuah buku untuk dia baca.

“Jangan kebanyakan main gawai! Siswa itu harus rajin belajar!” kalimat saya mulai meninggi.

“Luisa terduduk dan memandangi buku, yang saya yakin tak dia baca. Dia sesenggukan. Mamanya mendekat. Luisa dirangkul Mamanya dari belakang. Bukannya tenang, malah tergugu semakin keras. Saya sadar, saya terlalu keras malam tadi. Tapi sesekali membentak dan memarahi anak itu perlu. Dengan syarat tetap proporsional dan sesuai keadaan. Sebagaimana sebidang kaca, tak perlulah terlalu keras membersihkan karena bisa jadi justru retak dan pecah. Tetapi apabila terlalu lembut, kotoran takkan terangkat.

Usai kejadian itu, saya kembali ke meja depan. Membaca beberapa halaman buku, dengan suara Luisa masih tergugu. Tangisnya belum juga usai. Sekitar setengah jam, Luisa masih saja menangis. Sampai kemudian ibunya membawanya ke kamar dan terlelap. Saya tahu, besok saya harus berbuat satu kebaikan besar untuk Luisa agar lukanya tersembuhkan.

Pagi ini, saya gegas mandi dan membantu menyiapkan sarapan kesukaan Luisa. Berharap agar dia tak lagi ngambek karena semalam saya bentak. Istri saya tak ada di dapur. Kompor dimatikan. Wajan berisi nasi goreng setengah matang masih terjarang.

“Ini pada kemana?” saya menggumam. Sambil mencoba menyalakan kembali kompor dan melanjutkan pekerjaan istri saya yang belum purna.

Suara klik dari kompor. Kemudian dua gerakan membalik nasi goreng. Namun gerakan saya terhenti karena saya mendengar Luisa menangis di kamar mandi. Saya gegas menuju sumber suara setelah memadamkan kompor.

“Sudah, nggak apa-apa,” suara istri saya menenangkan Luisa.

Namun lagi-lagi Luisa tak menunjukkan tanda-tanda akan diam. Saya merasa bersalah sekaligus mulai dirabati rasa marah. Apa persoalan semalam belum juga selesai di kepala Luisa? Saya berkeyakinan, dunia anak-anak delapan tahun pasti akan cepat lupa bila sudah pagi. Tapi sepertinya Luisa begitu dalam memendam luka semalam.

“Luisa sakit,” saya mendengar dan mulai berpikir macam-macam. Jangan-jangan Luisa jatuh di kamar mandi atau bagaimana.

“Sudah tidak apa-apa,” suara istri saya semakin lembut. Meneduhkan.

Setelah pintu kamar mandi terbuka. Luisa di bebat handuk dan dibopong istri saya. Kemudian didudukkan di kursi meja makan. Luisa masih sesenggukan.

“Luisa takut, Ma. Perut Luisa sakit,” tangan kanan Luisa menekan perut. Dan satu lagi mengusap ingus di pangkal hidungnya.

“Ada apa?” tanya saya penuh penarasan. Jangan sampai bayangan-bayangan buruk saya berujung pada kenyataan.

“Pipis Luisa berdarah,” Luisa menjawab dengan gugu tangis yang tersendat-sendat.

Kalimat Luisa membuat dada saya diserang gempa. Di mata saya, Luisa mendadak seperti orang asing yang begitu jauh dari rengkuhan saya. Luisa yang semalam saya marahi dan membuat saya kesal, mendadak berubah menjadi sosok yang saya tak boleh sembarangan memperlakukannya. Ada batas kepantasan dan kebolehan yang harus saya patuhi mulai saat ini. Luisa telah balig.

Namun, Luisa terus saha menangis karena takut pipisnya berdarah. Belum lagi rasa nyeri yang mulai menjalari perut. Saya terdiam. Bingung harus berbuat seperti apa. Yang saya tahu, perempuan bila sudah berdarah seperti itu haruslah diperlakukan istimewa.

“Mama, apa Luisa akan mati?” pertanyaan Luisa mendadak membuat saya terkekeh.

Istri saya menepuk punggung saya.

“Papa, maafkan Luisa. Mulai besok Luisa nggak akan main gawai melebihi jam belajar. Luisa nggak mau mati,” wajah Luisa benar-benar pasi. Perpaduan antara ketakutan sekaligus penyesalan atas tindakannya semalam.

Istri saya mencoba menenangkan Luisa yang terus saja merengek. Ketakutan dan kesakitan. Saya menjauh. Ini urusan perempuan. Dan istri saya pasti lebih paham bagaimana beginian.

***

Pagi itu Luisa tidak berangkat sekolah. Saya dengan berat hati harus memintakan izin kepada wali kelas dan menceritakan perihal perubahan tubuh di Luisa. Bukan apa-apa, wali kelas Luisa perlu tahu bahwa Luisa mulai hari ini bukanlah Luisa yang kemarin. Ada tanggung jawab yang lebih, ada batasan yang perlu dijaga dengan lawan jenis, dan sangat mungkin fisiologi Luisa pun akan mulai berubah.

“Luisa, hari ini harus belajar bagaimana membersihkan darah-darah perempuan. Mama akan mengajari Luisa. Tetapi pelajaran pagi ini akan Luisa terapkan sepanjang hidup Luisa. Jadi Luisa harus mengerti dan paham betul,” nasihat saya kepada Luisa dan Mamanya sebelum saya berangkat ke kantor.

Saya tahu waktu seperti ini akan terjadi. Saya sebagai laki-laki masih harus banyak berlatih memastikan Luisa mengerti perihal kewajiban soal yang demikian. Saya pasrahkan kepada istri saya untuk mengajari Luisa mulai dari urusan paling kecil hingga kewajiban dan larangan ketika haid.

“Dik, anak kita sudah besar. Luisa sudah bukan anak-anak lagi,” kata saya kepada istri.

Di kantor kepala saya dirubung banyak pertanyaan. Kejadian saya memarahi Luisa belum termaafkan, dan sekarang Luisa telah menjadi wanita balig dengan segala aturannya. Saya sangat mungkin sudah tidak akan diizinkannya memangku atau sekadar mencium setelah mengantarkan Luisa ke halaman sekolah.

Waktu memang memiliki kaki-kaki yang tak menapak saat berjalan. Lajunya tak bisa dihentikan. Tapaknya hanya bisa dirasakan setelah melaju jauh ke depan. Peristiwa semalam sangat mungkin tidak akan dilupakan Luisa. Dan semenjak Luisa memiliki tamu bulanan pertama, peluang saya menghapusnya semakin sempit.

Sesekali istri saya memberi kabar, soal Luisa yang begitu rajin menghapal dan mempraktikan tata cara bersih diri usai haid selesai. Saya bangga sekaligus sedih. Sedih karena sebentar lagi Luisa akan besar, dan pastilah akan datang Luisa sekolah makin tinggi, kemudian menerima pinangan, meninggalkan rumah ikut suami, dan saya juga harus bersiap meninggalkan Luisa menjadi manusia seutuhnya.

***

“Luisa, mana?” tanya saya kepada istri sesampainya di rumah. “Kubawakan es krim kesukaannya.” Ini upaya saya menebus kesalahan kemarin sekaligus ucapan selamat karena Luisa kini telah menjadi dewasa.

“Di ruang teve,” jawab istri saya.

Saya gegas menuju Luisa yang ternyata tengkurap memainkan gawai. Kalau biasa saya akan menciumi wajah dan tubuh Luisa, kali ini saya rem.

“Papa bawa es krim,” seru saya.

Luisa tergeragap. Kemudian lari menghampiri saya. Saya menghindar.

“Kenapa, Papa? Masih marah sama Luisa?”

“Bukan. Luisa sekarang sudah dewasa. Harus jaga diri, ya! Kan sekarang sudah haid pertama,” jawab saya.

Luisa merajuk. Es krim diraih kemudian digeletakkan begitu saja.

“Kalau begitu Luisa nggak mau menjadi dewasa. Luisa mau mencium Papa.”

“Mengapa? Kalau soal semalam sudah papa maafkan,” saya menyahut.

“Bukan. Gawainya kebawa dalam tas papa. Luisa nggak bisa main. Padahal kan hari ini Luisa nggak masuk sekolah. Mana gawainya?”

Saya tertawa. Istri saya tertawa. Luisa cemberut saja.[]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s