Cerpen

Jemini dan Tuan Busu Klarten

(Media Indonesia, 7 Mei 2017)

Kopi saya tumpah. Bercak kehitaman mengental di kemeja saya dan beberapa tercecer di taplak dan permukaan kayu meja. Saya benar-benar kaget. Jemini, pembantu saya yang sudah hampir setahun ini bantu-bantu pekerjaan rumah mendadak minta izin untuk kawin. Saya amati mata Jemini.

Mata Jemini sebagaimana mata orang-orang yang tak bisa mengaburkan kebohongan. Jemini berdidi sedepa di depan saya. Saya masih terdiam, mencerna semua ucapan Jemini yang pagi ini terasa seperti nasi pera yang disajikan tanpa kuah. Seret dan susah saya telan.

“Kamu beneran mau kawin?” tanya saya.

“Betul, Tuan. Saya sudah mantap jiwa raga untuk menikah tahun ini. Dan calon suami saya adalah orang yang baik,” Jemini menjawab dengan lancar.

Di satu sisi saya bahagia karena ajaran saya kepadanya untuk percaya diri berbicara dengan siapa saja diterapkan dengan baik Jemini. Tapi, di sudut lain saya sedikit ketakutan. Melepas Jemini keluar rumah sama saja sedihnya melepas seorang anak perempuan yang akan dipinang orang. Meski, ya sebenar-benarnya, saya hanya seorang majikan yang tidak punya hak 100% atas diri Jemini. Jemini memang ditakdirkan berkasta setingkat lebih rendah daripada saya, tetapi ia adalah manusia merdeka dalam pengambilan keputusan.

Pertama kali saya bertemu denga Jemini, ketika saya menjemput Garcia, putri saya seorang usai menghabiskan liburan antar semesternya di rumah nenek dari pihak almarhum istri saya. Garcia sebagaimana anak-anak lainnya menganggap liburan di rumah nenek seistimewa apa-apa yang terjadi di buku-buku pelajaran bahasa Indonesia.

Mobil saya masuk garasi rumah mertua saya, dan Garcia cemberut di teras. Wajahnya dijejali bentol-bentol merah habis dihajar aneka serangga. Garcia tanpa babibu langsung masuk mobil tanpa pamit kepada neneknya. Sedangkan saya, sebagai menantunya, harus tetap memberi hormat minimal menyapa. Saya masuk sebentar dan di sanalah ada Jemini.

“Maafkan kelakuan Garcia, Ibu,” saya mengecup punggung tangan mertua perempuan saya. Aromanya masih sama dengan yang terjadi di saat pertama kali saya berkunjung ke rumah ini untuk meminta anak perempuannya menjadi istri yang kemudian menjadi ibu Garcia. Meski umurnya tak lama, karena di saat Garcia  berusia tiga tahun, truk pembawa galon air menabrak istri saya yang sedang jogging sore hari.

“Tidak masalah. Garcia sepertinya sudah dewasa, tidak lagi anak-anak seperti setahun atau dua tahun lalu,” jawab mertua saya.

“Iya, Tuan,” suara Jemini menyela, yang tentu kala itu saya belum mengenal namanya.

“Ini Jemini, kemenakanmu jauh. Dia putus sekolah karena menjadi yatim piatu. Daripada macem-macem, biar dia di sini bantu-bantu pekerjaan rumah,” ibu mertua saya menjelaskan.

Saya yang sudah mulai pekak dengan bunyi klakson dari Garcia  yang sudah mulai bosan dan ingin segera pulang ke rumah, hanya menyeruput teh yang dihidangkan Jemini. Kemudian menyambar kue talam sekerat, saya kunyah sebentar. Saya tak menangkap apa-apa di wajah Jemini, selain keluguan dan keuletan seorang wanita.

Di awal saya tidak sama sekali memiliki niatan untuk menjadikan Jemini sebagai pembantu. Meski saya sudah lama menjadi duda dan belum menemukan kembali wanita yang cocok untuk menjadi ibu tiri Garcia, saya bisa mengerjakan semuanya seorang diri. Mulai dari memasakkan nasi goreng berbalut telur untuk bekal Garcia, mencuci-setrika, mengepel, hingga memilih motif sarung bantal yang pas dipajang di kursi tamu.

Tapi ada satu hal yang saya tidak bisa kerjakan. Dua bulan setelah pertemuan tanpa sengaja dengan Jemini di rumah ibu mertua saya, Garcia  menjerit pagi-pagi. Saya yang masih menyapu sambil menunggu nasi putih matang di mesin penanak, kelabakan. Garcia  menjerit kemudian menangis di kamar mandi.

“Kamu kenapa?” tanya saya. “Jatuh?”

“Papa, paha Garcia  berdarah!” jawabnya dari dalam kamar mandi.

Saya segera membuka paksa pintu kamar mandi, karena khawatir kalau-kalau Garcia terjatuh dan terluka. Bukan luka dan darah. Tapi merah darah anak perempuan yang beranjak dewasa. Dan semenjak itu, saya menyadari bahwa saya bisa memberi kasih sayang sebagaiman ayah sekaligus ibu untuk Garcia  seperti yang sudah saya lakukan. Tetapi bila Garcia sudah semakin besar, maka mau tidak mau saya harus menjaga jarak. Garcia membutuhkan perempuan dewasa untuk menjelaskan hal-hal keperempuanan yang tak bisa saya jelaskan. Belum lagi kalau Garcia sudah beranjak baligh, saya sebagai lelaki dewasa pun harus mulai memberi jarak untuk tidak terjebak masuk ke dalam hal-hal subtil.

“Jemini saja. Dia baik, kok!” usul ibu mertua saya saat keinginan mempekerjakan seorang pembantu perempuan yang tidak terlalu tua dan bisa diajak Garcia  bercerita banyak hal soal kewanitaan.

Jadilah Jemini menjadi orang ketiga antara saya dan Garcia .

***

“Tuan Busu Klarten, apakah saya boleh menumpang sementara di pavilun belakang setelah menikah?”

Lamunan saya sontak tercabut oleh suara halus Jemini. Jemini selama ini memang telah saya anggap lebih dari sekadar babu. Jemini memang membantu menyajikan makanan, mencuci dan mengepel. Tapi Jemini punya peran lebih, yaitu soal mendidik Garcia bagaimana tubuh wanita berubah sesuai umur.

“Sebelumnya, apa kamu sudah betul-betul ingin kawin? Saya hanya khawatir suamimu hanya akan memainkan dan merusak masa depanmu yang masih panjang,” jujur saya masih belum rela Jemini untuk kawin dan Garcia akan kehilangan guru di rumahnya.

“Babu seperti saya tak punya masa depan tuan. Paling-paling cuma jadi istri sesama babu. Dan kemudian menjadi babu bagi suami dan anak-anaknya nanti.”

Ini yang saya kagumi dari Jemini. Meski tak pernah sekolah SMP, tapi Jemini paham betul cara bicara dan menyatakan pendapat.

Selama meminta izin, Jemini dia berdiri dan memandang mata saya lurus. Saya tahu ada keyakinan yang menggelora di dada Jemini, yang saya sendiri kadang tak menemukannya di dalam diri saya.

“Hanya sebulan, Tuan Busu Klarten. Suami saya tidak punya tabungan lebih untuk menyewa podokan. Bagaimana, Tuan Busu Klarten?”

Saya hanya mengangguk.

Perkawinan Jemini dan suaminya, yang kemudian saya ketahui namanya Paregrek, tak pantas disebut sebagai perkawinan. Mereka hanya menikah di depan pemuka agama dan kedua orang tua masing-masing. Saya dan Garcia hadir sebagai saksi. Perkawinan mereka diadakan di pekarangan belakang rumah saya. Tak jauh dari paviliun yang Jemini minta sebagai tempat tinggal sementara bagi keduanya.

***

Setelah menikah, Jemini masih bekerja di rumah saya. Dia makin sumringah. Makin seger dan macem-macem kalau Jemini masak. Sedangkan Paregrek benar-benar tak berguna. Dia hanya duduk-duduk saban hari. Dia tidak punya pekerjaan tetap. Saya juga kemudian jatuh iba kepada Paregrek, yang hanya mengandalkan panggilan jikalau ada ledeng tetangga rusak dan sayangnya itu tak setiap waktu ada. Paregrek kemudian saya pasrahi tanggung jawab untuk merawat kebun, memberi pakan burung, dan kalau malam menjaga keamanan rumah. Apa saja asal saya tidak melihat Paregrek nganggur. Saya benci lelaki yang hanya luntang-luntung. Lelaki itu berdaya dan bekerja keras bukan menunggu saja.

Setiap pagi, seusai Jemini mendandani Garcia dan menyiapkan sarapan buat saya, dia akan kembali ke paviliun menemui Paregrek suaminya. Saya tidak pernah iri kepada mereka berdua yang tampak begitu bahagia usai pernikahan. Namun diam-diam mata saya berlari ke gorden dan mengintip apa saja yang Jemini dan Paregrek lakukan.

Seperti pagi ini, setelah Jemini mohon pamit ke paviliun belakang untuk menemani Paregrek sarapan saya diam-diam mengikutinya. Jemini masuk ke paviliun dan saya mengintip dari jendela kaca.

Paregrek ternyata masih tertidur. Wajahnya benar-benar tak memesona. Tua dan sekarang tambah tua karena pekerjaan yang saya berikan memaksanya berpanas-panas kala siang dan begadang bila malam.

Jemini menggoyang-goyangkan tubuh Paregrek. Perlahan. Namun karena gering-kerempeng, tubuh Paregrek berguncang seperti terkena gempa bahkan oleh goyangan Jemini yang perlahan. Paregrek menampik tangan Jemini, hingga hampir terjungkang Jemini.

“Masih pagi! Tuan Busu Klartenmu itu benar-benar kurang ajar!” Paregrek mengucek mata dan membalik tubuh memunggungi Jemini. Jemini hanya diam. Tapi saya mulai sakit. Entah oleh kata-kata Paregrek yang memaki saya atau oleh sikap kasarnya kepada Jemini.

Jemari tangan saya mengepal. Ada gemuruh amarah yang meledak-ledak. Mata saya masih mencermati apa-apa yang akan dikatakan dan dilakukan dua orang babu saya yang ternyata diam-diam di belakang menjelek-jelekkan saya, tuan mereka.

Tiba-tiba Paregrek bangun dan merangsek tubuh Jemini. Jemini tak berani menolak. Tapi matanya, mata Jemini yang masih saja sama dengan mata yang setahun lalu saya temui di rumah mertua saya, meronta menjeritkan rasa tertekan dan nganga lara. Paregrek memasukkan tubuhnya ke tubuh Jemini. Saya dibakar emosi. Entah oleh perilaku Paregrek atau oleh jeritan tertahan di mata Jemini.

Mata saya mencari apa saja yang bisa saya pergunakan senjata. Linggis. Saya menemukan linggis. Saya mendobrak pintu. Jemini dan Paregrek seperti dua ekor kelinci yang menggelepar usai musim kawin. Mata keduanya melotot melihat saya mengacung-acungkan linggis.[]

Catatan: Jemini judul novel Suparto Brata yang terbit 2012, sedangkan Busu Klarten nama tokoh dalam cerpen Budi Darma berjudul Gimbol.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s