Resensi

Cinta Segitiga dan Persoalan Identitas Manusia

(Lampung Post, 21 April 2017)

Nama Sapardi Djoko Damono (SDD) memang sudah masyhur sebagai salah satu penyair besar di negeri ini. Sajak-sajak yang ditulis dengan sederhana, namun memiliki efek peremenungan yang dalam. Sepertinya semua orang akan mengenal sajak Aku Ingin atau Hujan Bulan Juni karya SDD. Lantas, bagaimana SDD ketika menulis novel?

Sejatinya, SDD adalah seorang sastrawan yang paripurna. Selain menulis sajak, SDD juga menulis cerpen, esai, kritik sastra, menerjemahkan, bahkan menulis prosa panjang, novel. Novel-novel sebelum ini, Trilogi Soekram, Suti, dan pendahulu Hujan Bulan Juni. Koordinat lengkap yang membuat SDD semakin bercokol sebagai salah satu sastrawan paling berpengaruh, juga disebabkan karena produktivitasnya yang sepertinya tak surut oleh usianya yang mulai senja.

Dalam novel Hujan Bulan Juni, terlalu banyak uji coba yang dihadirkan SDD untuk menjabarkan sebuah premis sederhana. Sarwono yang jatuh kepada Pingkan. Dan ada sosok Katsuo yang menjadi penghalang. Premis sederhana itu dituliskan dengan begitu ruwet, banyak lompatan teknik, dan ketidaktaatan pada aturan kebanyakan. Tapi apatah gunanya taat pada aturan, dalam penulisan fiksi. Ruwet sebagaimana kisah cinta Sarwono yang sejatinya bisa

Novel kedua dari trilogi Hujan Bulan Juni ini, kembali dinamai dengan menyitir salah satu judul puisi SDD, Pingkan Melipat Jarak.cover-pingkan melipat jarak

Pingkan dan Sarwono memang sedang dipenuhi rona asmara. Keduanya sama-sama menjadi tenaga pengajar, Sarwono di arkeologi dan Pingkan di sastra. Cinta mereka bukan hanya terhalang oleh perbedaan suku. Sarwono tulen Jawa, bapak ibunya adalah wong solo. Sedangkan Pingkan, adalah campuran darah Jawa dan Makassar. Maka tidak ayal bila Pingkan kerap merasa dirinya sebagai liyan, orang yang berbeda.

Selain itu, muncul sosok Katsuo kawan Pingkan di Jepang yang memiliki ketertarikan pada kebudayaan Indonesia sekaligus diam-diam mencintai Pingkan. Cinta segitiga ini bergerak sepanjang novel, dengan berkali-kali juga Sapardi mengajak untuk mempertanyakan identitas keakuan manusia.

Di novel ini dikisahkan, Sarwono jatuh sakit. Demi orang terkasihnya itu, Pingkan harus menunda keberangkatan ke Kyoto bersama rekannya Katsuo. Bahkan Toar tak bisa mengamini keputusan adiknya memilih bertahan di Solo, menunggu kekasihnya yang tak sadarkan diri di rumah sakit. Pingkan rela meninggalkan pekerjaan di Jakarta dan menunda melanjutkan studi di Kyoto, Jepang. Perempuan itu bahkan, sempat berwacana akan bunuh diri jika sang kekasih meninggalkannya.

Di tengah-tengah balada Sarwono dan Pingkan, sosok Katsuo adalah pengganjal sekaligus sosok menlankoli dalam novel ini. Katsuo memang mencintai Pingkan. Namun sikap yang diambil Katsuo justru sikap platonik yang menjengkelkan.

Aku mencintai Pingkan, itu sebabnya ia tak boleh dipisahkan oleh Sarwono. Untuk menjaga cintaku pada Pingkan, Sarwono harus sembuh, dan harus bersama Pingkan selamanya.”

Jalinan kisah dalam novel ini sebenarnya adalah hal yang sangat lumrah dan sederhana. Namun menjadi rumit oleh komplemen sekaligus bahasa penceritaan Sapardi.

Novel ini masih menguliti kisah asmara Pingkan dan Sarwono. Keduanya sama-sama menjadi tenaga pengajar, Sarwono di arkeologi dan Pingkan di sastra. Cinta mereka bukan hanya terhalang oleh perbedaan suku. Sarwono tulen Jawa, bapak ibunya adalah wong solo. Sedangkan Pingkan, adalah campuran darah Jawa dan Makassar. Maka tidak ayal bila Pingkan kerap merasa dirinya sebagai liyan, orang yang berbeda.

Sapardi juga mempertanyakan asal-usul manusia dan keterikatannya dengan tanah kelahiran. Demi menyembuhkan Sarwono yang sakit, orangtuanya melakukan upacara ritual Jawa untuk saudara-saudara imajiner Sarwono.

Inthuk-inthuk sebuah sesajen yang berisi tumpeng kecil ditusuk cabe merah, sayuran, secangkir kopi, dan kembang melati yang masih kuncup. (hal.15) Sesaji itu diletakkan di depan pintu rumah Sarwono di hari weton, hari pasaran Sarwono. Sesaji itu untuk menghormati sadulur papat, sebuah iman di kalangan Jawa.

Sedangkan di sisi lain, Pingkan juga merasakan dunia ambigu mendadak menelan dirinya. Sarwono dan ibunya memanggilnya dengan nama Galuh. Kau bukan Setyawati. Kau Galuh. Aku Pingkan, Sar. (hal.25)

Ambiguitas ini Pingkan rasakan sebagai sebuah badai yang bahkan hampir menelan dirinya. Pingkan mendadak terjebak dalam dongeng perihal anak rondo dadapan yang bertugas mencuci pakaian di sungai. Dan tenggelam.

Tokoh Katsuo tak ketinggalan mengalami krisis identitas pula. Ketertarikan akan budaya Jawa membuat Katsuo menghubung-hubungkan dirinya dan sejarah lelulurhnya. Ibu Katsuo adalah seorang kaminchu yang disegani. Semacam dukun yang mengkhususkan diri pada praktik religio-magis di Ryuku, biasanya yang berhubungan dengan dunia arwah. (hal.29)

Meski di usia yang sepuh, kreativitas Sapardi tak juga surut. Ia masih melek teknologi dan menyesuaikan dengan perkembangan anak muda sekarang. Pun dalam novel ini, Sapardi menyinggung gaya komunikasi anak-anak muda sekarang. Kecanduan gawai dan lebih intim bercaka-cakap dengan aplikasi ponsel. FaceTime, Whatsapp, dll.

Cinta itu apa, sih, Toar?” tanya Pingkan kepada kakaknya, dalam novel Pingkan Melipat Jarak karya Sapardi Djoko Damono. Pertanyaan retoris itu ia tanyakan setelah sebelumnya, kakak lelakinya mempertanyakan hal yang sama kepada dirinya. Cinta dalam novel besutan Sapardi Djoko Damono menjadi hal sederhana namun begitu susah digapai.

Cinta dan identitas menjadi persoalan penting dalam novel ini. Sapardi hendak menegaskan bahwa mengenali diri dan sejarah leluhur akan membuat kita paham betul posisi diri sendiri dan kemudian siap menerima segenap cinta.[]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s