Resensi

Titik Temu Lokalitas dan Globalitas

(Dimuat di Ruang Gramedia)

PERNAH ada masa ketika lokalitas dan kearifan lokal kerap dijadikan sebagai pijakan menulis cerpen di Indonesia. Kita akrab membaca cerpen-cerpen AA Navis yang kental akan budaya Sumatera, Korie Layun Rampan yang selalu mengulas lokalitas Kalimantan, Gerson Poyk dengan kedaerahan NTT. Juga nama-nama seperti Hamsad Rangkuti, Ahmad Tohari, Kuntowijoyo, Oka Rusmini bisa dimasukkan ke dalam sastrawan Indonesia dengan indentitas lokalitas dalam tulisannya.

Nilai lokalitas terus diolah sastrawan pada generasi setelah mereka. Penulis-penulis cerpen mutakhir yang beberapa kali kerap menjadikan lokalitas kedaerahan mereka sebagai materi tulisan. Benny Arnas, Faisal Oddang, dan salah satunya adalah Guntur Alam.

Salah satu cerpen Guntur Alam, Mar Beranak di Limas Isa (Kompas,20 Maret 2011) benar-benar kuat mengupas kearifan lokal. Di cerpen tersebut, baik yang teraba atau tersembunyikan dalam metafora, berasa Tanah Abang dan Muara Enim sekali, daerah kelahiran Guntur Alam. Soal budaya keharusan punya anak lelaki, ornamen-ornamen bahasa dalam cerpen tersebut, hingga rasa Melayu dalam tuturan percakapan tokoh.

Cerpen-cerpen dengan isu lokalitas memiliki tantangan serius. Cerpen lokalitas diharuskan membawa ornamen kedaerahan (istilah, dialek, tempat-tempat spesifik, bahkan budaya) menjadi bagian penting dalam cerita. Bukan sekadar tempelan atau dalam bahasa sederhana, bila ornamen-ornamen kedaerah itu dihilangkan, cerpen itu akan memiliki napas yang berbeda. Dan Guntur Alam selalu meramunya menjadi bangunan yang kokoh.

Lokalitas menjadi jualan terlaris dalam sastra Indonesia. Nilai lokalitas di setiap penjuru Indonesia yang didukung keberagaman tradisi dan budaya, seolah tak akan habis untuk dikemas dalam tulisan sastra. Keberagaman kebudayaan tiap entitas menjadikan karya sastra beraroma lokalitas selalu menarik untuk disuguhkan kepada pembaca.

Di sisi lain, muncul kekhawatiran bahwa tema-tema lokalitas akan bertemu jalan buntu bila dibenturkan globalitas dan sastra dunia yang borderless. Globalisasi membuka seribu kemungkinan untuk menjadikan sastra lokalitas semakin terpuruk karena hanya akan masyuk dalam pembaca lokal. Sedangkan pembaca internasional akan mengernyitkan dahi untuk paham betul maksud dan makna terdalam dari karya-karya yang kental dengan budaya lokalitas. Cerita dengan bahan lokalitas membutuhkan catatan kaki dan penerang tambahan untuk disajikan ke masyarakat global.

Sekilas, lokalitas dan globalitas tampak bak dua sisi yang tidak beririsan. Dalam hipotesanya, Melani Budianta, menyampaikan bahwa keduanya sebenarnya bersatu meski tampak berbeda. Globalitas mengejawantahkan diri dalam partikelir yang lebih lokalitas. Pun sebaliknya, lokalitas menampakkan taji melalui isu globalitas. Budaya lokal dan budaya global meski jauh berbeda tetapi bisa disatukan dan dikemas menjadi bagian yang apik. Setidaknya demikian yang tampak dalam kumpulan cerpen, terbaru Guntur Alam Magi Perempuan dan Malam Kunang-kunang (MPMK).

Keseluruhan cerpen dalam MPMK ini tak bisa lepas dari pijakan awal penulis yang memang akrab dengan budaya lokal Muara Enim, daerah asalnya. Dongeng, legenda dan sejarah di daerah penulis dikemas menjadi cerita yang patut diperbincangkan di dunia global.

Guntur Alam menyajikan cerita-cerita dengan aroma lokalitas yang begitu kental. Sebagai contoh dalam beberapa cerpen misalnya, Tem Ketetem atau Hantu Seriman. Dalam dua cerpen tersebut, Guntur Alam benar-benar sedang menggubah dongeng asli daerahnya untuk pembaca umum.

Kisah Tem Ketetem tentang sebuah mitos yang berkembang di daerah asal penulis larangan bagi remaja pria atau bujan tidur sembarangan. Sedangkan Hantu Seriman  tentang mitos sebuah hantu yang berkembang di daerah asli penulis. Mitos dan laranga itu sangat mungkin hanya ada di daerah penulis berasal. Bahkan untuk meyakinkan bahwa kisah ini tidak akan ditemukan di daerah lain, Guntur Alam membuat frase Sebab orang-orang tua di kampungku percaya, bila kisah ini terkubur bersama masa, bala yang mengintai di baliknya akan ikut terbenam pula. (Hal.17)

Atau untuk membuat lebih percaya, Jadi bila sewaktu-waktu kau bermalam di kampungku, Tanah Abang,Kecamatan Penukal Abab Lematang Ilir. (hal.18)

Idiom serupa dapat ditemukan dalam cerita Hantu Seriman. Guntur Alam meyakinkan pembaca bahwa hanya di daerah penulis Hantu Seriman itu ada. , Bila tanya itu Tuan lontarkan kepada orang-orang tua di dusunku, Kampung Kecil di Kabupaten Penukai Abab Lematang Ilir, Tanah Abang. (hal.149)

Akuan yang digaransi penulis bahwa ceriat Tem Ketetem dan Hantu Seriman tak ada atau pun kalau ada serupa tidaklah sama dengan cerita yang akan dikisahkan Guntur Alam.

Cara demikian, membuat ingatan kita tertuju pada bagaimana AA Navis meyakinkan pembaca bahwa hanya di daerah penulis kisahRobohnya Surau Kami terjadi, dengan kalimat: Kalau beberapa tahun yang lalu Tuan datang ke kota kelahiranku dengan menumpang bis, Tuan akan berhenti di dekat pasar. Maka kira-kira sekilometer dari pasar akan sampailah Tuan di jalan kampungku. Pada simpang kecil ke kanan, simpang yang kelima, membeloklah ke jalan sempit itu. Dan di ujung jalan nanti akan Tuan temui sebuah surau tua.

Hal yang menarik untuk diperhatikan adalah bagaimana Guntur Alam memiliki nada ajakan yang sama dengan AA Navis saat memulai cerita. Penulis menempatkan diri sebagai juru cerita dengan pemahaman mumpuni dan pembaca cerita tuan-puan, hadirin, sidang pembaca diposisikan layaknya anak-anak yang hendak mereka dongengi kisah.

Di Tem Ketetem: Nah, sebelum kau simak. Ingatlah, kisah ini hanya boleh sekali kau dengar. Bila telah usai, lekas-lekas kau bungkus dalam ingatan, lalu simpan rapat-rapat di sudut kenangan.

Atau di Hantu Seriman: Tahukah Tuan, siapa itu Hantu Seriman? Bila tanya itu Tuan lontarkan kepada orang-orang tua di dusunku, kampung kecil di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir, Tanah Abang, dapat kujamin kuduk mereka meremang.

Penulis dan pembaca berjarak dekat. Seolah sama-sama sedang duduk di balai-balai rumah menyimak kajut (nenek) sedang mengurai cerita kepada cucu-cucu terkasih. Hal demikian sangat tidak aneh, bila kita menengok budaya lisan yang memang kuat di daerah Melayu. Guntur Alam dan AA Navis hanya dua dari sekian banyak penulis asli Sumatera yang diasah kemampuan menulis dari kuatnya tradisi lisan di lingkungan mereka.

Kekentalan isu lokalitas ini juga tampak dari bagaimana Guntur Alam menuliskan banyak idiom kedaerahan. Misalnya, limas, emak, ebak, tuan-puan, kajut. Pun dengan sejarah sebuah Kerajaan Kebon Udang di darah Tanah Abang, yang merupakan bagian Kerajaan Sriwijaya yang ditulis manis oleh Guntur Alam. Komplet sudah ramuan untuk menyajikan kisah lokalitas, cerita lokal dengan sesekali menyelundupkan idiom dan sejarah lokal.

Dongeng Sempalan

Ternyata imajinasi dan kreativitas Guntur Alam tak berhenti dengan puas mengolah dongeng dan cerita-cerita asli daerahnya.

Dalam cerita Gadis Buruk Rupa Dalam Cermin, Guntur Alam mengungkap versi lain dari dongeng pengantar tidur dari dunia Barat, Snow White. Dongeng Snow White diilhami atas dongeng asli Jerman (dalam bahasa Jerman Sneewittchen atau idiom lebih modernSchneewittchen), yang kemudian dibukukan pada tahun 1812 oleh The Brothers Grimm dalam edisi pertama Grimms’s Fairy Tales. Kisah tersebut kemudian mendunia lewat buku-buku dongeng dan film-filmDisney. Semua orang tahu betul bagaimana alur cerita tersebut.

Tapi di tangan Guntur Alam, kisah tersebut menjadi sesuatu yang segar. Cerpen Gadis Buruk Rupa Dalam Cermin secara melenceng dari kebanyakan dongeng Snow White yang kita dengar, justru memberi sensasi menyeramkan. Kisah hidup Ratu Ravenna, didikan semasa kecil Ratu Ravenna, bahkan hunjaman di akhir cerita membuat kita ikhlas-ikhlas saja bila akhir Snow White menjadi setragis demikian.

Kisah lawas tersebut digubah menurut versi Guntur Alam sendiri, sehingga tampak seperti dongeng baru namun tidak merusak dongeng yang sudah kadung terpatri dalam kepala pembaca.

Teknik sempalan semacam ini juga dilakukan dalam kisah-kisah yang berasal dari abad XII hingga XVI Masehi. Kisah-kisah bernuansa gelap, horor, dan mencekam yang tak banyak penulis Indonesia kulik.

Salah satunya, Guntur Alam membuat sebuah kisah mengerikan dari hidup seorang penyair Lord Byron. Di cerpen Tamu Ketiga Lord Byron –dan ini adalah cerpen paling saya jagokan-, dikisahkan bagaimana seorang tamu yang tidak pernah disebut dalama sejarah mampu mengungkap kisah menyeramkan dalam hidup penyair Lord Byron. Bahwa dia terjebak dalam cinta inses bersama adiknya. Atau bagaimana Guntur Alam mereka-reka sebuah cerita tentang Walpole dan percintaan sesama jenisnya dalam cerpen Kastil Walpole. Atau bagaimana Guntur Alam mereka-reka salah satu penulis yang disebut-sebut oleh Haruki Murakami dalam bukunya Hear The Wind Song, Heartfield dalam cerpen Kematian Heartfield.

Usai membaca cerpen-cerpen tersebut, pembaca pastilah akan mengetikkan nama-nama misterius di kotak pencarian Google untuk mencari sebenarnya siapa mereka. Sangat jadi Guntur Alam hanya memainkan imajinasi dan mereka-reka adegan baru atas tokoh-tokoh tersebut. Tapi kehadiran pemantik yang kemudian mengusik pembaca untuk melakukan cross check sendiri. Bukannya demikian cerita fiksi hadir? Cerita yang baik ialah cerita yang mengusik pembaca.

Benang Mencekam

Selalu ada pertanyaan ketika banyak cerpen disatukan menjadi buku, apa yang mendasari penyatuan mereka yang sejatinya bisa berdiri secara independen? Disatukan kompak atau laiknya ekosistem beragam? Terlebih MPMK ini tidak semua cerita lokalitas yang seragam. Ada lokalitas ada juga yang berasal dari luar lokalitas penulis.

Setelah sampai di halaman akhir, barulah dapat kita tarik benang yang mengaitkan cerita-cerita dalam buku, yakni nuansa mencekam yang ingin dihadirkan penulis. Hantu, hitam, kelam dan hal-hal misterius yang menyelimuti 21 cerpen dalam MPMK terasa dari awal hingga akhir. Persis yang terbaca dari judulnya, magi dan kunang-kunang. (magi: ilmu gaib, sihir).

Sengaja atau tidak, Guntur Alam sedang membuat demarkasi antara lokalitas dan globalitas sedikit mengabur berkat magi racikannya. Cerita Guntur Alam dalam buku ini yang berbau lokalitas tidak terlampau susah untuk dipahami sebagai kisah umum. Sebaliknya, keberanian Guntur Alam untuk keluar dari zona nyamannya, lokalitas kedaerahan dan merambah dunia jauh darinya untuk dijadikan cerita patut dijadikan contoh.

Lokalitas dan globalitas tidak selamanya menjadi dua kutub yang saling meniadakan. Lokalitas dalam cerpen-cerpen ini tampak tidak murahan dan mampu berjejer gagah dengan tema-tema global yang jamak. Sebaliknya, kehadiran tema-tema global membuat cerita-cerita lokal semakin kuat dan menarik saja. Karena dalam setiap cerita lokalitas terkandung muatan-muatan universalitas.

Dalam konteks global dengan bantuan Internet, cerita bertema lokalitas menjadi peluang untuk tersebar luas melintasi lokalitas lain atau bahkan mendunia. Tentu apabila nilai-nilao lolaitas tersebut megandung muatan universal yang diamini dunia.

Bagi penulis yang selama ini terus-terusan mengungkapkan tema-tema lokalitas dan takut tak hilang identitas keindonesiaannya, mungkin saatnya keluar dari zona nyaman dan mencoba genre baru. Seperti koki yang mampu mengolah aneka menu dengan tetap menghadirkan signature dish. Globalitas tidak selamanya akan mengurangi keindahan lokalitas. Justru sebaliknya, keduanya akan saling menguatkan. Seperti kata Melani Budianta, perlu melihat lokalitas dalam dimensi lintas batas.[]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s