Resensi

Ia yang Marah di Tanah Surga Merah

(Ulasan ini dimuat di Ruang Gramedia )

Saya menyelesaikan buku Tanah Surga Merah berbarengan dengan film Hacksaw Ridge. Kalau boleh meminjam kalimat Lala Bohang—”everything is supposed to be falling into the right place”—ini adalah sebuah kebetulan yang “right.”

Dalam film Hacksaw Ridge, Desmond Doss (1919-2006), yang diperankan oleh Andrew Garfield, adalah kunci dari kesimpulan: sisa terbesar perang adalah lara dan kematian. Desmond Doss berkeras untuk tak pernah menembakkan senjata selama turun di Perang Dunia II melawan Jepang, di Okinawa. Karena keyakinannya itu, dalam film Desmond harus dikucilkan dan dikesampingkan dari pergaulan sesama tentara, dan bahkan pernah masuk sidang militer. Kelak, Desmond mendapatkan penghargaan atas sikap anti-menembakkan senjatanya: the Medal of Honor Winner Who Never Fired a Shot. (http://people.com/)

Lantas apa hubungannya dengan novel terbaru Arafat Nur ini?

Bisa dikatakan, salah satu pesan yang ingin disampaikan Arafat Nur dalam novel ini senada dengan pilihan Desmond Doss. Perang tak akan membawa kedamaian. Bahkan usai perang, kondisi Aceh masih saja tak mengenakkan. Itulah yang diyakini Murad, tokoh utama dalam novel Tanah Surga Merah.

Murad adalah mantan seorang aktivis Partai Merah. Saat Partai Merah berada di puncak kekuasaan karena keberhasilan dalam “pemberontakan,” Murad melarikan diri. Selain karena Murad tersangkut kasus penembakan salah satu pembesar Partai Merah, Murad juga tak sepakat dengan beberapa pilihan sikap kawan-kawan dahulu dalam perjuangan Partai Merah. Mengutamakan kekuasaan dan kepentingan perut.

Sekarang Murad kembali setelah pelarian dan penyaruannya di mana-mana. Kepulangan Murad ini secara tersurat menjadi sebuah kepulangan paling sial. Ia pulang ketika Partai Merah telah memenangi pertarungan semu, namun kemudian kembali terpuruk oleh ulah yang tak seirama dengan misi awal Partai Merah untuk kemasyhuran tanah yang disebut sebagai negeri hijau dengan tanah suburnya yang telah menyerap banyak tumpahan darah. (hal.7)

Apakah menang dalam peperangan adalah identik dengan gelimang kekuasaan? Ini adalah pertanyaan yang perlu kita telusuri sepanjang novel. Partai Merah memang menang dan kemudian menjadi penguasa di daerah Murad. Namun bila dicermati lebih dalam, gerundelan Murad sepanjang novel justru menjelaskan hal sebaliknya. Kesengsaraan dan keterpurukan justru menangui Aceh.

Murad Tukang Umpat

Menarik mencermati sikap Murad. Sebagai mantan seorang pejuang Partai Merah, tentu rasa ksatria masih ada. Penulis menjadikan Murad sebagai tokoh yang justru ketakutan dan berlari dari satu persembunyian ke persembunyian lain. Cambang dan janggut sudah kuluruhkan dengan beberapa botol krim perontok bulu murahan,(hal.10). Bahkan Murad harus lari terbirit-birit ketika orang-orang mulai mengenali Murad yang sekarang sudah hampir tandus akibat obat perontok bulu adalah Murad yang dahulu pernah menembak pimpinan Partai Merah.

Aku menyadari harus lari sekuat tenaga, mencengkeram tas di tanganku agar tidak terlepas, dan sesekali menoleh ke belakang.(hal.15)

Lantas apakah Murad di sini sudah benar-benar menjadi pencundang yang harus lari terus menerus atau dia adalah tokoh yang sudah paham bahwa perang dan konfrontasi tak membawa penyelesaian? Saya hendak mengutip kalimat Haruki Murakami dalam novel Kafka on The Shore, ‘there’s no war that will end all wars’.

Saya sangat menyayangkan, bahwa Murad diperlakukan oleh Arafat tidak sebagai orang yang meyakini bahwa perang adalah hal buruk. Tapi dijadikan sebagai tokoh yang pengecut bahkan terus saja lari. Mulai dari dikejar antek partai merah, digebuki massa, bersembunyi di rumah Abduh, bahkan harus pura-pura menjadi pemuka agama di daerah terpencil. Jiwa kepahlawanan dan perjuangan Murad sudah musnah oleh gertakan Partai Merah.

Murad, bila boleh disamakan, adalah sosok David/Daud orang kecil yang hendak menantang Goliath. Ia hanyalah sebatang lidi yang hendak membersihkan kekacauan pasca konflik dan kemenangan Partai Merah. Tetapi, Murad di sini tak punya kekuatan lain selain keluhan dan aneka banyak umpatan atas kondisi Aceh yang tak juga baik setelah Partai Merah menang.

Gerundelan Murad tak jauh-jauh dari kemerosotan moral pemimpin dan warga Aceh. Mulai dari ketidakgemaran akan dunia literasi-Abduh dikenal sebagai kutu buku, benda yang paling dibenci orang Aceh (hal.30). Pemerintah yang tak menyukai seni, tidak suka seni, tidak suka buku, mereka lebih suka melacur! (hal.96) Bobroknya dunia pendidikan, orang yang punya cita-cita tentu rajin belajar, sedangkan mereka datang bukan untuk belajar melainkan hanya untuk bermain dan pacaran (hal.35) Bahkan sesuatu yang menurut Murad bukan cermin kepribadian warga Aceh, yakni ber-khalwat,berdua-duan dengan lawan jenis, mengumbar kemesraan. Anak jadah inilah generasi mendatang yang akan memimpin Aceh. (hal.74)

Mereka yang berjiwa bandit malah menjadi raja, dipuja-puja, dan diberikan kekuasaan. Jika tidak berbuat jahat, tidak menindas sesama, dan tidak menipu rakyat; jangan harap bisa jadi penguasa. (hal.55)

Hampir setengah novel ini berisi keluhan penulis yang memperalat Murad sebagai corong kedua. Murad miskin tindakan nyata yang saya harapkan seheroik ‘umpatan’ dan sejarah masa lalunya sebagai pejuang Partai Merah. Satau-satunya yang tampak sebagai tindakan seorang David yang kecil namun cerdik adalah adegan Murad membaca novel Haruki Murakami, Hear The Wind Song pinjaman dari koleksi Abduh.

Apakah dengan umpatan dan membaca satu novel sudah mampu mengubah keadaan? Di sinilah letak ironi yang super jahanam. Kalau boleh saya mengumpat sebagaimana Murad yang gemar mengumpat, Murad sama saja dengan pemerintah dan keadaan yang ia benci.

Kondisi ini mau tidak mau membawa ingatan pada salah satu puisi masyhur yang terpahat di nisan seorang uskup Anglikan di Westminster Abbey 1100 AD. Keinginan mengubah dunia yang sia-sia belaka bila tidak dimulai dari perubahan pada diri sendiri. I realized the only thing I can change is myself.

Apalagi di bagian terakhir, Murad benar-benar terjebak pada sumur yang tak membuatnya lekas sadar bahwa ia telah terjerembab dan kemudian tak berhasil mengubah apa-apa. Saat ia menyaru menjadi Teungku Ghafar Sabi, Murad telah benar-benar terlena hanya demi keselamatan justru melakukan pembodohan. Teungku Ghafar Sabi, pemuka agama palsu ini dijunjung, dianggap keramat sama halnya para warga Aceh memuja Partai Merah secara membabi-buta.

Bila Murad dijadikan teungku seorang keramat (hal.212), maka orang-orang Aceh memuja Partai Merah sebagai partai Tuhan, meyakininya sebagai anugerah terbesar Ilahi yang akan menyelamatkan Aceh dari kehancuran (hal.61). Beda? Sekadar ukuran. Esensinya sama, yaknitaklid, iman yang ala kadar tanpa didasari logika dan nalar. Ini adalah hipotesa keruntuhan perdaban yang sedang diajukan Arafat Nur lewat novel ini.

Dan terbukti, Murad tak berhasil sama sekali mengubah keadaan. Dan justru ia hidup sampai akhir novel sebagai pelarian. Murad akan selama terasing. Sungguh asing rasanya negeri ini, tetapi aku terlanjut tidak bisa hidup di tempat lain. Tanah ini rumahku, surgaku; tanah surga merah. (hal.129)

Menanti Hawa Segar

Selain tema yang begitu seksi, soal rekonsiliasi dan kondisi Aceh pasca GAM resmi menjadi sorotan utama. Kemudian disuguhkan dengan gaya sindiran yang tak lagi perlu majas, Arafat Nur menyuguhkan sebagai gerundelan Murad.

Sejak Lampuki (2011), Arafat Nur memang memosisikan dirinya sebagai penulis dengan watak Murad, yaitu mengumpati segala hal ketidakmapanan Aceh pasca konflik. Dua novel setelah Burung Terbang di Kelam Malam (2014), Tempat Paling Sunyi (2015), dan sekarang Tanah Surga Merah juga masih berkutat dengan tema yang tak jauh-jauh dari lokalitas. Kalau juri sayembara novel DKJ mengungkapkan novel ini dengan sabar membangun peristiwa demi peristiwa tentang tema-tema lokal yang sangat politis.

Tetapi kalimat di pungkasan juri, dituturkan dalam bahasa Indonesia yang baik, beberapa bagian tak mampu membebaskan dirinya dari klise, harus saya akui kebenarannya. Bahkan kalau boleh saya membandingkan dengan novel sebelumnya, Tempat Paling Sunyi,novel ini hampir tidak ada kejutan berarti. Kisah dituturkan datar tanpa kejutan. Teknik penulisan dan simbolisasi yang biasa sajian atas sebuah kebaruan, pun tak tampak berarti.

Arafat Nur memang tidak terjebak dengan bunga bahasa yang mendayu-dayu. Seolah penulis tak ingin membuat pembaca repot-repot membuka layer demi layer makna dan simbol. Novel ini berisi keluhan sekaligus amarah atas sesuatu yang tidak pantas terjadi. Dan itu tersampaikan dengan jelas, sebagaimana Murad yang kerap memaki kawan dan Partai Merah yang dahulu ia bela.

Sebagai pembaca yang mengikuti dari Lampuki hingga Tanah Surga Merah, saya justru berharap Arafat Nur akan lekas lepas dari kejumudan tema yang terus menerus demikian. Saya yakin, Aceh tak hanya berdomain pada perihal GAM semata. Saya yakin Arafat Nur tidak seperti Murad yang justru merasa asing di tanah surga merah,hingga matanya terfokus pada persoalan GAM semata. Saya ingin mendengar hal-hal lain, amarah-amarah lain dari Arafat Nur.

Semoga kritik pedas Arafat Nur sampai pada telinga-telinga yang seharusnya mendengarkan, bukan seperti kemarahan dan gerundelan Murad yang sia-sia. Tapi bukannya orang-orang Aceh tak menyukai buku? []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s