Cerpen

Tembok Apartemen

(Edisi bahasa Inggris, dimuat di The Jakarta Post, 6 Februari 2017. Tautannya ada di mari These Walls Will Talk)

2017_02_06_20899_1486349870-_large

Dari lantai delapan belas, kendaraan di bawah sana tampak seperti permainan lego berhias manik-manik kaca berkedipan. Aku lebih memilih apartemen karena menyediakan kepraktisan yang kuidam-idamkan. Juga di apartemen, tak ada keharusan untuk saling sapa antar penghuninya. Tidak perlu saling merecoki, tak peduli siapa saja yang bertamu, dan apa saja yang terjadi di apartemenku.

Sebelum ada Jena, aku bisa pulang kapan saja dan mengandalkan makanan beku yang kupungut begitu saja dari swalayan di lantai dasar. Seminggu sekali memanggil dua petugas cleaning service untuk membersihkan apartemen, selagi aku minum kopi dan sarapan di lobi. Namun, Jena sedikit demi sedikit memaksaku untuk melihat bahwa buah dada ini diciptakan untuk menyusui Jena, bayi yang sudah lama kutumbuhkan dengan penuh cinta.

***

Malam itu, perutku sakit, seperti ada tangan yang mengucek-kucek lambung. Tangis Jena melengking karena aku lebih memilih menekan perut menahan sakit daripada dia yang ingin puting susu. “Jena, diamlah sebentar! Mama sedang kesakitan,” seruku. Jena, sebagaimana bayi kebanyakan, tak menggubrisnya.

Pintu apartemenku diketuk. Aku terhuyung-huyung dan membukanya. Seorang wanita berpiyama abu-abu dan gelungan rambut ke atas memperlihatkan garis-garis di lehernya mematung di depan pintu. Dia tersenyum, tapi aku membalas dengan meringis.

“Maaf, aku mendengar tangis bayi. Apa anakmu sedang sakit?”

Aku menggeleng. “Aku yang sakit. Jena hanya kelaparan dan aku tidak kuat menyusui lagi,” aku bersandar di pintu. Dia meraih tubuhku dan memapah ke dalam.

“Kamu harusnya sedia obat-obatan,” katanya saat melihat kotak obat dekat kulkas kosong.

Aku mengangguk saja. Dia mendekati Jena dan mengeluarkan puting susu dari balik piyamanya. Jena meraih, tak risih mengemut puting susu yang bukan punya ibunya sendiri. Jena lapar dan wanita itu memberi air susu.

Setelah Jena kenyang dan diam, kini giliran dia mengurus perutku yang sakit.

“Tunggu sebentar, kuambilkan obat,” dia keluar dengan lebih dahulu memanaskan air di atas kompor, entah untuk apa.

Beberapa jenak kemudian, dia kembali masuk dengan kotak first aid lebih lengkap. Dia memberiku painkiller kemudian mengompres perutku dengan air panas yang dimasukkan ke dalam botol kaca bekas sirup. Aku merasakan kehangatan menjalar dari perut hingga dada.

“Kulkasmu kosong. Hanya ada tahu kuning dan dada ayam,” dia mengobrak-abrik kulkasku yang sudah kuabaikan beberapa hari ini. Dengan terus bergumam sana-sini, dia memasakkanku bubur sederhana dengan sisa beras dan bahan makanan dalam kulkas.

“Makan dulu, biar perutmu hangat,” aku didulang dengan begitu lembut, kurasakan tangan dengan aroma ibu yang tak kujumpai di tanganku. Aku membuka mulut dan habislah semangkuk bubur itu

“Ini nomor teleponku, aku tinggal di apartemen sebelah. Ketuk saja kalau ada apa-apa,” dia menulis nomor telepon di  kertas post it dan menempelkan di dinding kulkas. “Kebetulan bayiku seumuran Jena. Jadi aku tahu betul, bagaimana membuat bayi berhenti menangis kalau lapar.”

Sebelum dia menghilang di sebalik pintu, dia menoleh kepadaku kembali. “Aku Seruni.” Kujawab dengan anggukan.

Esok paginya aku mengambil cuti untuk ke dokter. Jena kuletakkan di kereta dorong, menyusuri koridor. Saat melewati pintu apartemen Seruni, lamat-lamat kudengar suara wanita menyanyikan lagu Bintang Kecil. Tak merdu, tapi khas dendang penenang ibu.

***

Jena senang bermain dengan Timmy, anak lelaki Seruni. Aku kerap berbincang santai dengan Seruni sambil sesekali meminta diajari membuat bubur. Bubur lembut dengan isian sayuran dan daging.

Dalam benakku, seorang ibu itu haruslah serupa dengan Seruni. Tenaga dan waktu semua dicurahkan untuk keluarga. Hingga tak aneh, bila Timmy gemuk dan ceria bila digendong Seruni.

Aku berubah menjadi spon di pojok sink cucian, mengamati Seruni melompat dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain, tangan duanya seolah menjadi ruas-ruas kaki laba-laba berjumlah delapan. Cekatan sekali. Melayani aneka pertanyaan dan obrolanku, menenangkan Timmy yang hampir mewek karena Jena merebut paksa lego, kemudian mengecilkan kompor, memecah telur, dan masih ditambah mematikan mesin cuci. Aku menelan ludah tak percaya.

“Sudah ada rencana menyekolahkan Jena?” tanya Seruni.

Aku menggeleng.

“Di lantai dasar ada playgroup bagus, sekaligus daycare. Memang baru dibuka, tapi dikhususkan untuk anak-anak apartemen ini.”

“Itu ide brilian. Pasti banyak wanita karier di apartemen ini,” jawabku.

“Nanti Jena bisa dititipkan di sini, selagi kamu belum balik dari kantor,” usul Seruni diam-diam kuamini dalam hati.

Aku merasa mendapatkan potongan rembulan keberuntungan bila Seruni mau menjaga Jena setelah pulang dari daycare hingga aku pulang kerja. Kuhitung sampai Jena umur empat tahun, Seruni masih telaten membantuku mengurusnya. Seruni, Timmy, Jena dan ruangan apartemen kami yang bersebelahan menjadi keberuntungan yang tak terkira bagiku.

Lantas diam-diam ada sesuatu yang menyusup di antara kami. Seruni ternyata tak ubahnya seperti kebanyakan para ibu dalam kamus pikiranku. Gemar sekali menggunjingkan orang. Dari Seruni lah aku mengerti kamar-kamar mana yang sedang menyemburkan isu. Penghuni kamar ini adalah simpanan pejabat, suami penghuni kamar tertentu mati overdosis, ada seorang penulis terkenal yang diam-diam menyewa apartemen, seorang artis yang sering mengadakan pesta seks menjelang subuh, juga seorang nenek-nenek yang kata Seruni, suka memanggil lelaki panggilan.

“Aku tidak tahu dan tak mau tahu,” kataku. Andai Seruni paham –dan aku yakin dia paham, ada nada amarah yang tersimpan dari bagaimana aku menimpali.

“Itu karena kamu tidak pernah ikut kumpul-kumpul.”

Aku melengos ke arah Jena yang hampir saja mengunyah kaki boneka plastik. Jadilah aku terselamatkan dari pertengkaran dengan Seruni. Kugendong Jena dan duduk di jendela kaca, menatap jalanan di bawah sana yang hampir serupa serenteng mobil.

“Ada satu yang ingin kutanyakan kepadamu sejak dulu,” Seruni mendekatiku juga dengan menggendong Timmy.

“Apa, Seruni? Kita sepertinya sudah saling mengenal lama. Anak kita saja sudah mulai sekolah pre-school,” tukasku.

“Aku tidak pernah melihat ayah Jena. Apa dia kerja di luar kota?”

Seperti ada anak panah beracun yang melesat ke tenggorokan. Tercekat dan aku ingin menampar Seruni, andai tak kulihat Jena dan Timmy saling lempar guyonan dan tertawa bersama.

“Dia sudah pergi,” jawabku singkat. Kemudian Seruni menyahut dengan ooo panjang.

Aku mulai merasa tidak betah dengan Seruni Panas terkonduksi sampai membuat bara yang selama ini hampir kuyup tersiram, mulai meletupkan riak kembali. Aku yakin, jawabanku tadi akan menyebar bersama udara ke lantai apartemen. Aku menghela napas sesampainya di ruangan milikku.

“Jena, besok tidak usah ke rumah tante Seruni ya?” bujukku kepadanya. “Mama akan jemput Jena.”

Jena sedikit melongo. Mungkin keheranan. Kemudian melonjak-lonjak gembira.

***

Esok harinya, aku hampir lupa bahwa pre-school Jena berakhir pukul setengah dua usai makan siang. Sedangkan aku mulai mengurangi intensitas untuk bertemu Seruni. Pukul tiga sore, Seruni mengirim pesan bahwa Jena terpaksa main bersama Timmy. Kalimat makian keluar tanpa bisa kutahan.

Kujemput Jena pukul lima, dan dia sedang terlelap.

“Sepertinya dia kecapekan. Tadi dia main sama Timmy dan Robi, anak Bu Laksmi,” jawab Seruni.

Kugendong Jena. Aromanya masih wangi anak tiga tahun. Tapi pikiranku melayang tentang apa-apa yang mungkin Seruni bicarakan dengan teman ngobrolnya yang baru itu. Dan Jena yang tidak memiliki bapak tentu sebuah topik menarik untuk dikulik. Gegas kubawa Jena pulang.

Saat hendak kubaringkan di kasur, Jena terbangun. Dia menangis. Saat kucium pipinya, dia tersenyum dan berteriak geli.

“Jena mau makan apa? Mama mau bikin sup jamur kancing dan tahu putih,” kataku merayu Jena.

“Ada spageti nggak, Ma?”

“Tidak tiap hari. Mama akan masak nasi.”

Jena manggut-manggut, kemudian mengekoriku menuju dapur.

“Mama, apa Jena punya papa?”

Pisau yang kupegang hampir saja memotong jempolku. Dadaku nyeri. Tidak mungkin Jena bertanya bila Seruni dan para ibu itu tidak tanya yang macam-macam kepada Jena. Lantas harus kujawab bagaimana. Usia Jena belumlah cukup untuk menjelaskan semua pilihanku, termasuk menjalani single parent di apartemen ini.

“Papa Jena sedang pergi jauh,” jawabku.

“Jauh, ya? Kapan Papa pulang, Ma? Jena ingin mengecup kumis Papa, seperti Timmy dan teman-teman yang lain.”

Kuhentikan memotong jamur. Kudekati Jena yang nanar mencari jawaban dariku. Kuelus rambut dan kukecup kening Jena.

“Nanti kalau Jena sudah besar, Papa akan datang. Sekarang Jena bersama Mama dulu. Mama kan sayang Jena melebihi kasih sayang siapa saja di dunia ini.”

Jena mengangguk. Lantas dia ke depan televisi menikmati serial kartun. Aku yang kemudian diserang aneka rasa. Pertanyaan Jena ini sudah kuprediksi akan tiba. Tapi tak sedini ini, saat Jena bahkan belum tahu Papa itu apa. Ini pasti hasutan Seruni! Seruni menjadi monster dalam kepalaku. Bibir Seruni memang tak beda dengan mulut-mulut pelantang berita dengan bumbu-bumbu penyedap.

“Mama. Tadi siang Tante Seruni bilang kalau Papa Jena ada di surga. Jena harus terus berdoa untuknya,” mata Jena yang bening tak pernah meruamkan dusta.

Aku menelan ludah. Sudah semakin jauh Seruni itu membuat berita. Besok bisa-bisa semua ibu di gedung apartemen lantai 25 ini akan menggunjingkan diriku yang sendirian membesarkan Jena, tanpa suami. Atau bisa-bisa dinding, lantai, atap, pintu, plastik-plastik sampah tiap hari akan menjadi penerus berita yang sedari dulu kubenci. Lubang angin di apartemen ini begitu sempit, tapi gosip memiliki kapilaritas tinggi, hingga mampu menyusup celah kecil. Seruni! Mendadak aku ingin mengubahnya menjadi sepotong lego yang bisa kutendang jauh, hingga ke tengah jalan raya di bawah sana.[]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s