Resensi

Empat Perempuan Belanda Saksi Sejarah Indonesia

(Harian Bhirawa, 13 Januari 2017)

Hilde Janssen mengungkapkan ide menulis buku ini bermula saat menyaksikan pameran foto ‘65 Tahun Republik Indonesia’. Terdapat sebuah foto memperlihatkan Miny (memegang ukulele) dan Annie sedang dalam perjalanan kereta api dari pelabuhan Jakarta ke Yogyakarta, di perbatasan Kranji, Januari 1947. Di antara mereka berdiri suami Annie, Djabir dan seorang militer Belanda di depan mereka.

Foto dengan titi mangsa di akhir masa kolonial itu membuatnya berpikir, bagaimana mungkin perempuan-perempuan Belanda justru datang ke Indonesia di saat Belanda sedang diusir pulang. Mereka menuju ke wilayah Jawa yang bermusuhan dengan Belanda. Situasi politik tengah bergolak. Apalagi dengan penampilan Belanda mereka, bukan tidak mungkin hidup mereka bakal berakhir.

Keempat wanita di dalam foto itu adalah tiga bersaudara Kobus –Annie Kobus, Betsy Kobus dan Miny Kobus, serta Dolly Zegerius. Usia mereka awal dua puluhan ketika berangkat dari Amsterdam pada akhir 1946 bersama suami-suami mereka yang orang Indonesia asli.tanah-air-baru-indonesia-hilde-janssen

Dolly Zegerius lahir dengan darah campuran Belanda-Yahudi. Ayahnya Tuan Zegerius adalah jood, Yahudi. Tentara Nazi yang melakukan penangkapan sekaligus pembantaian warga-warga Yahudi di Amsterdam.

Lebih dari tiga ratus pria Yahudi, termasuk sepupu Dolly, dikirim ke kamp konsentrasi pekerja di Mauthausen. (hal.45) Mauthausen mendapat predikat Moordhausen, rumah pembantaian, karena siapa saja yang sudah dibawa ke kamp tersebut tidak akan kembali kecuali berita kematian.

Kemudian datanglah Tarjo, mahasiswa Indonesia yang kerap berbincang-bincang soal republik dan pemusnahan kolonialisme di Hindia-Belanda. Tarjo indekos di loteng rumah Dolly. Dolly menikah dengan Tarjo pada 30 September 1943. Pernikahan beda kewarganegaraan ini diharapkan akan saling memberi keamanan. Dolly akan aman karena turut Tarjo, dan Tarjo akan selamat dari moncong bedil tentara Belanda.

Berkat Tarjo, tiga gadis bersaudara Kobus kemudian kenal dan menikah pula dengan orang Indonesia. Betsy Kobus dengan Djoemiran, Annie Kobus dengan Djabir, dan Minnie Kobus dengan Amarie. Pernikahan ketiganya dilakukan serentak dalam satu hari, 9 Mei 1946. Foto pernikahan mereka dipajang di koran Het Parool, karena ketiga kakak beradik yang menikah pada satu hari yang sama terlebih dengan pria Indonesia merupakan sesuatu yang tak biasa. (hal.64)

Saat di tanah air para pejuang berusaha mengusir penjajah, Tarjo dan kawan-kawan di Belanda mendengarkan pidato Ratu Wilhelmina. Dalam pidato tanggal 7 Desember 1942, Sri Ratu sudah menyampaikan bahwa Belanda akan menjalankan hungan yang lebih setara dengan koloni-koloninya di luar negeri. Perkataan ini membakar semangat orang-orang Indonesia di Belanda yang rata-rata adalah mahasiswa untuk terus menuntut kemerdekaan.

Dolly dan tiga bersaudara Kobus akhirnya turut suami-suami mereka ke Indonesia. Menumpang kapal Weltevreden, di Jumat 6 Desember 1946 mereka berangkat dari pelabuhan Rotterdam. Tanggal 1 Januari 1947, mereka sampai di Pelabuhan Jakarta.

Mereka harus menelan kekhawatiran lain. Karena Belanda tidak mengakui kemerdekaan Indonesia, membuat Dolly dan kawan-kawannya harus bersembunyi kalau-kalau ada orang pribumi yang menindak mereka. Kegetiran lain yang diam-diam membayangi mereka adalah keempatnya harus berpisah untuk turut suami masing-masing. Dolly ikut Tarjo ke Malang dan harus rela karena Tarjo dipanggil sebagai teknisi di angkatan perang.

Sebagai istri, Dolly mendukung penuh Tarjo yang pro-republik. Dolly berkukuh untuk tidak membocorkan apa pun tentang suaminya. Meski ia berulang kali didatangi teman senegaranya dulu. Kedua prajurit itu sudah tahu suaminya militer Indonesia. Mereka curiga suami Dolly bersembunyi di tempat keluarganya di keraton. Melalui Dolly, mereka berusaha mencari tahu apakah Tarjo putra Sri Sultan atau keponakan. Namun Dolly berhasil berkelit dari pertanyaan itu dan tidak memberitahukan apa pun (hlm 115).

Tak hanya kondisi susah pasca kemerdekaan bahkan sola pemotongan mata uang yang membuat awal kehidupan di Indonesia begitu getir. Pilihan menjadi istri seorang lelaki Indonesia yang kemudian tumbuh cinta pada tanah air baru bernama Indonesia. Meski tak jarang, teriakan ‘Londo, Belanda’, kerap dilemparkan orang kepada Dolly dan kawan-kawan.

Sosok Dolly adalah sosok perempuan yang berada di dua sisi. Di mata orang Belanda, dia dihargai karena berdarah Belanda,meski sekali pun tak mendukung mereka. Di mata pro-republik, Dolly sekaligus menjadi penolong karena menjaga rahasia dan sesekali membagi ransum makanan kaleng kepada pemuda Indonesia saat terjadi agresi militer kedua.

“Aku mengirimkannya ke para pemuda Republik di garis depan,” demikian ujar Dolly. (hal.116)

Setelah suaminya meninggal, kehidupan Annie makin sulit. Padahal, Annie punya banyak anak asuh. Ketika itu, banyak di antara teman mudanya menyarankan untuk kembali ke Belanda. Sebagai janda, Annie memenuhi syarat untuk beremigrasi balik dan mendapatkan kembali kewarganegaraan Belanda. Dengan begitu, ia juga berhak menerima tunjangan dari pemerintah. Annie dapat memanfaatkan kepastian finansial.

Namun, ketika Annie mendengar bahwa anak-anak asuhnya tak boleh turut, dia menyobek formulir itu. Semua harus ikut atau tak seorang pun berangkat. Annie sekali lagi memilih Indonesia secara sadar: di 1946 ia memilih suaminya, sekarang ia memilih anak-anaknya (hlm 256). Suami baru Minne, Nanang juga harus terlibat dalam peristiwa berdarah 1965.

Keempat perempuan Belanda ini telah menjadi saksi atas banyak peristiwa sejarah negeri ini. Agresi militer, konflik politik 1965, peristiwa 1998, bahkan pemilu langsung 2004.

Kini, keluarga besar keempat perempuan itu telah semua tinggal di Jakarta Selatan. Mereka semua merasa orang Indonesia, tetapi di saat yang bersamaan juga bangga akan akar Belanda mereka dan terutama pada para wanita pemberani yang saling mendukung melewati tahun-tahun pertama yang sulit (hlm 327). Mereka adalah saksi sejarah sekaligus bukti nyata akan cinta Indonesia.[]

resensi-tanah-air-baru-indonesia-hilde-janssen-harian-bhirawa-13-01-2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s