Cerpen

Pohon Perempuan

(Tabloid Nova, Januari 2017)

(1)

Di Cintaman tak ada yang tak menggemari dangdut. Tiap kali ada orkes dangdut ditanggap, semua melepaskan sapi kerbau di hamparan padang rumput seharian, menutup pertokoan, menuntaskan jam kantor agar bisa menikmati dangdut, berjoget-joget, berteriak-teriak suka cita tanpa ada gangguan. Rasanya dangdut adalah ekspresi kebebasan yang selama ini terkungkung oleh kerangkeng bernama kesibukan.

Tak peduli lelaki atau perempuan, mereka berbaur di depan pohon-perempuanpanggung. Apalagi kalau Wiwik Sagita sudah mengulurkan tangan hendak salaman, laki-laki perempuan akan merangsek ke depan berebut tangan biduan yang mereka yakini lebih wangi dan bersih dari tangan warga Kota Cintaman. Memang soal bahagia tak terdemarkasi oleh jenis kelamin dan ia kaya atau miskin.

Pak Aman, Walikota Cintaman selalu menginstruksikan bahwa boleh joget-joget, boleh teriak-teriak, bahkan kalau malam mulai memenjarakan sinar terang, mereka boleh meraih botol-botol ciu dan main dadu, tapi harus tetap aman. Akan terasa janggal kalau Kota Cintaman tidak aman, padahal dipimpin oleh Pak Aman.

Sedangkan yang paling digelisahkan oleh orang Cintaman ialah jingkrak-jingkrak penonton orkes dangdut yang meski tak menimbulkan gesekan hingga berujung bertengkaran, tetapi sering membuat pohon-pohon rusak: dahan sempal, buah-buah masih mangkal berjatuhan, bunga dan daun berguguran, bahkan beberapa tumbang dihajar orang bergoyang.

“Pohon bisa ditanam, tapi bahagia tak bisa dicari di toko mana bibitnya dijual,” Pak Aman mencoba menenangkan.

(2)

“Yakin kau mau jadi seperti Wiwik Sagita?” tanya Langkar. “Kamu anak gadis di keluarga ini yang paling bontot. Dan kamu tentu tahu, mas-masmu kerja keras agar kamu bisa sekolah dan kuliah.”

“Mas, tapi ini panggilan dari dalam hati.”

“Aku sebenarnya tak begitu setuju. Tapi kalau sudah bicara hati, aku tak mampu membantah.”

“Jadi Mas Langkar mengizinkan?”

“Tentu dengan aneka syarat yang harus kamu penuhi.”

Sore itu, seperti pelajaran PPKN di sekolah menengahnya, Dahlia mendengar semua nasihat Langkar. Yang tak jauh-jauh dari bahaya menjadi biduanita dangdut di Kota Cintaman. Bukan masalah uang –yang ini jelas jauh lebih pasti daripada bertahun-tahun sekolah dan kuliah dengan ujungnya sama-sama menjadi penenteng ijazah tanpa kepastian hidup. Sekali manggung, untuk ukuran pemula seperti Dahlia, pasti tak kurang dari dua lembar uang seratusan ribu bersih dia dapatkan. Bila sudah ngetop pasti lebih besar. Semakin besar kalau Dahlia mendapatkan saweran dan uang lelah lebih dari penanggap orkes.

Langkar lebih ingin menasihati bahwa menjadi biduanita ialah mengasah pedang untuk jaga-jaga. Dahlia harus rajin menabung dan jaga-jaga bila ada seekor burung tengil yang mencoba mengutik-utik Dahlia untuk kenyamanan hinggap sebentar di sangkar Dahlia. Bahaya! Dahlia masih muda dan hidupnya tentu masih panjang.

Dahlia manggut-manggut. “Kalau burung itu hanya bersiul-siul di depan sarang Dahlia, bagaimana?”

“Aku yang akan menebaskan parang ke leher burung itu.”

“Jadi Mas Langkar akan menemaniku setiap ada order manggung?”

Langkar hanya menjawab dengan ‘emmm’ berat. Pikirannya jauh ke masa sebelum Dahlia lahir, tentang seorang perempuan yang dicintainya dan diam-diam tak kembali ke dekapannya.

(3)

Langkar malam itu tak mengantar hingga orkes mematikan lampu sorot bintangnya yang terakhir. Langkar kadung lelah setelah hampir lima jam di belakang kemudi sedan mengantar wanita yang semenjak berangkat dari pentas sebelumnya sudah minta izin ingin tidur lebih dahulu. Katanya demi menyimpan tenaga di pentas dangdut malam nanti di alun-alun Cintaman, yang memang diyakini akan dihadiri orang-orang penting di lingkungan pejabat kota. Pak Aman tentu hadir. Dan Langkar tak bisa bilang tidak bila itu urusan pentas.

Saat memasuki lapangan di tengah alun-alun Cintaman, Langkar kagum sekali. Ini bukan Cintaman yang biasa dia kenal. Lampu-lampu ternyata lebih terang dari siang yang selama ini dianggap Langkar paling terang. Mungkin demi kedatangan biduan paling dikagumi seantero Cintaman, malam terpaksa dibuat melebihi terangnya siang, dengan berribu-ribu watt lampu sorot. Seolah tak ada pojokan alun-alun yang gelap. Bahkan bayangan malam itu lenyap ditelan cahaya.

Langkar minta izin untuk rebahan di kursi berbantal lembut di pojokan ruang ganti khusus biduan. Tak lebih lima menit, Langkar sudah mendengkur halus. Dadanya naik turun seperti pompa ban. Mulutnya menganga. Biduan itu tersenyum dan minta kepada salah satu panitia untuk memberikannya selembar selimut dan tambahan bantal satu lagi untuk menopang leher Langkar.

Entah mimpi yang bagaimana, yang malam itu membuat Langkar seperti tersirap tak sadarkan diri. Langkar terbangun seperti disentak oleh pukulan di pundaknya, dan ruangan itu hanya disinari lampu kuning di dekat meja rias. Langkar geragapan dan meraih-raih ingatan yang mungkin saja masih tersisa di alam tidurnya.

“Mana dia? Apa pentasnya sudah selesai?”

Tak ada yang menjawab. Dingin dan sunyi telah menjadi kabut menjelang dini hari itu. Langkar menyusuri sisa-sisa kemeriahan semalam. Panggung masih tersisa dengan geber merah dan di sana tulisan orkes dan biduan yang sangat Langkar kenal. Cahaya yang begitu terang semalam, kini telah berjubah gelap. Kehangatan dan keceriaan tak tersisa. Yang mulai menyelimuti dada Langkar ialah kesunyian dan keragu-raguan. Apa yang didebar-debarkan selama ini terjadi hari ini.

“Dimana kamu, Manisha?”

Pertanyaan itu tak terjawab dan tak ada yang benriat menjawab. Hingga matahari berdiri dua galah di atas kepala Langkar, barulah ada suara yang menghunjami telinga Langkar.

“Manisha telah ditelan malam. Dia menjadi pohon.”

“Manisha menjadi pohon?”

“Kamu tidak kenal pohon di tengah itu?”

Langkar menyaksikan sebatang pohon di tengah alun-alun: daun warna hitam, daun-daun warna kuning matahari. Ya, itu pakaian yang Manisha rencanakan pakai di pentas semalam. Langkar mendekat, rumbai-rumbai akar gantung menyapu wajah Langkar, seperti sapuan tangan lembut Manisha. Langkar tak bersuara, matanya basah oleh penyesalan.

(4)

Bila ingin mengenang Manisha, Langkar mengadakan perjalanan ziarah ke alun-alun kota. Langkar menatap pohon itu dengan tatapan penuh rindu. Pohon itu meski sebatang tak sekali pun ada niatan orang yang ingin menebang. Sedang pohon-pohon kecil di seputaran alun-alun telah tumbang: terkena topan kencang, tersambar guntur, digantikan tiang listrik atau telepon, bahkan para penjoget dangdut sering merangsaknya hingga jatuh dan digilas kaki. Tapi pohon itu masih saja kokoh. Langkar meraba pokok paling bawah, seperti memeluk Manisha kekasihnya sendiri.

Dua buah yang menggantung di dahan pohon itu bundar dan indah. Kulit buahnya halus menggiurkan. Langkar ingin memetiknya. Tapi buah itu masih mengkal belum matang. Dan tiap ia mengingat bahwa Manisha yang berubah menjadi pohon itu, Langkar hanya merunduk dan malu menyaksikannya.

Langkar menutup ziarah itu dengan doa agar mimpi buruk itu bangun. Mimpi buruk panjang yang tak terperikan, batin Langkar. Tapi pertemuan itu tetaplah membuat Langkar bahagia. Langkar kembali ke Kota Cintaman dengan dada yang berbunga serta senyum tak pernah reda.

“Lihat lelaki itu?”

“Yang mana?”

“Yang itu, yang tampak bahagia, seperti lelaki paling bahagia di dunia. Dan setelah kuamat-amati tiap duduk di bawah pohon itu, dia selalu berbahagia.”

“Apa itu pohon berkah?”

“Maksudmu kita bisa meminta agar dapat tuah dan terhindar tulah di pohon itu?”

Tanpa saling menjawab, sesusai Langkar pergi dua orang itu menyusul bersimpuh di bawah pohon itu. Berdoa dan seolah terbantu, semuanya terkabul. Hingga tanpa sadari, orang-orang telah mengeramatkan pohon itu.

(5)

Pak Aman kebakaran kesabaran, setelah tiga malam berturut-turut kampungnya mulai dilanda gangguan keamanan. Pencurian mulai merajalela, bahkan terjadi perampokan disertai penganiayaan. Pak Aman tak bisa membuat lagi Kota Cintamanaman. Dangdut mulai dikurangi dan diganti dengan ronda malam. Dahlia tak sekali pun mendapatkan jadwal manggung, Wiwik Sagita tak lagi hadir di Cintaman. Wajah-wajah orang dirambati duka dan kekhawatiran. Siapa pencoleng yang berani mengusik dan menanamkan ketakutan itu?

(6)

“Apa aku masih bisa menjadi seperti Wiwik Sagita?” tanya Dahlia ke Langkar.

“Kamu jadi dokter saja, kalau kakakmu ini sakit atau disakiti kamu bisa menyembuhkanku,” Langkar mengelus rambut Dahlia yang hitam, lurus, dan tergerai hingga tengah punggung.

“Tapi Dahlia suka menyanyi?”

“Apa dokter dilarang menyanyi?”

Dahlia belum menjawab, Langkar sudah menyusul dengan sanggahan baru. “Semua berhak menyanyi, seboleh semua orang berbuat baik dan jahat.”

(7)

“Ternyata kita telah mendidik seorang pencoleng. Seperti duri yang mengoyak daging dari dalam. Dia yang selama ini mengusik keamanan Cintaman. Tak ada ketimpangan dalam eksekusi kejahatan. Pisau Pak Aman takkan tumpul berat sebelah. Semua harus disamaratakan.”

Sambutan Pak Aman disahut dengan keriuhan banyak penduduk Cintaman. Alun-alun kota siang itu terbakar matahari dan emosi yang tak kalah panas.Sedangkan seorang lelaki wajahnya tertunduk. Tangan dan kakinya terikat kencang. Rambutnya telah digunduli. Bahkan tak ada yang mengenali wajahnya yang penuh lebam, tonjokan, hantaman, dan sabetan benda tajam membuatnya hancur. Tak ada yang mau menyebut nama orang yang telah membuat Kota Cintamankisruh beberapa waktu terakhir. Mereka hanya menyebutnya “Banjingan! Bromocorah! Perusak!” sambil meludah.

“Kita hukum saja! Di alun-alun Cintaman ini!” teriak Pak Aman.

Dia ditelanjangi, diseret, diarak, kemudian digantung di dahan pohon. Pohon yang dahulu Langkar sering peluk. Setelah tergantung dan berayun-ayun, dentum dangdut pertama mengalun. Mata lelaki itu terbuka.

Sebelum nyawa lelaki itu meloncat, dia samar-samar mendengar suara yang sangat dia kenali. Suara Dahlia. Dan di samping pohon itu, tumbuh pohon kecil yang daunnya merah muda senada dengan warna baju Dahlia.

“Dahlia, jangan, Dahlia! Turun segera!”

Namun tak ada yang mampu mengkhianati maut. Langkar berusaha merebut nyawa yang hampir dicabut makhluk langit. Dan samar-samar Langkar mendengar suara rayuan Manisha. Gemerisik daun pohon digesek angin itu seolah berkata, “Langkar, ini Manisha. Minumlah getahku. Dan mari kita berpelukan di bawah kibaran daun sambil menguji melodi dangdut Dahlia.”[]

-untuk Joko Pinurbo

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s