Film

3 Film Korea di 2017

Sampai minggu ketiga Januari 2017, saya telah menonton tiga film Korea yang menurut saya cukup menghibur. Kalau di tahun 2016, saya kerap merasa bahwa tone film Korea mulai bergeser ke arah-arah thriller yang mencengangkan. Karena banyak film romantis/drama tidak mendapatkan sambutan baik. My Sassy Girl 2 atau Forecast Love, di mana bertabur bintang papan atas tak menarik perhatian. Tetapi film-film seperti Insane, The Wailing, Train To Busan, bahkan The Tunnel disambut dengan apik oleh masyarakat luas. Saya sendiri dua film Korea favorit saya sepanjang penontonan di 2016 adalah Insane dan The Wailing. Di The Wailing-lah saya sampai harus menghentikan sebentar, mengambil jeda, minum air dan keluar kamar menghirup udara segar, karena memang napas saya sampai terengah-engah lantaran filmnya bikin geregetan.

Lantas bagaimana dengan 2017? Sampai di minggu ketiga Januari ini saya sudah menonton tiga film Korea yang baru, meskipun ketiganya ada yang rilis akhir november dan desember. Tetapi baru saya nikmati di Januari ini, maklumlah bioskop kita jarang memajang film Korea dan saya hanya menikmati secara streaming daring.

Film pertama yang saya nikmati adalah Vanishing Time: A Boy Who Returned. Film ini menurut saya menarik dan seru. Ada beberapa adegan yang memancing sesuatu di kepala saya. Film ini berkisah soal anak-anak yang terjebak pada waktu yang beku. Sehingga dia menjadi tua dan padahal dunia lainnya tidak berubah. Satu pertanyaan yang timbul: kalau dia sendirian yang tumbuh, mengapa dia bisa bertahan hidup, kan dunianya beku? Makanan dan tumbuhan kan seharusnya juga beku alias freeze. Heeeheee ini hanyalah pertanyaan yang sedikit menganggu. Meski filmnya menarik, dramanya juga apik, kemudian penyelesaiannya open-ending juga menarik.

Film kedua adalah My Annoying Brother, ini film genre drama sekali. Seorang atlet beladiri oleh karena kecelakaan dalam pertandingan dia harus mengalami kebutaan dan sebagaimana bisa kita prediksi, akibat ini dia menjadi sangat depresi, mengurung diri,  dan segala macam. Sedangkan saudara jauhnya, yang baru keluar dari penjara datang berusaha membantu. Namun saudara jauh ini terkena kanker. Dan di sinilah pertanyaan besar saya: apa orang kena kanker tidak mau sembuh, malah justru pasrah? Kalau saya, yang ingin menemani adiknya, kalau kanker yaaa berobat sampai ujung dunia agar sembuh dan menyaksikan si adik meraih medali emas. Duuuh, ini kenapa si tokoh pesimistis banget.

Dan film ketiga yang berhasil dan menurutku ini yang paling menarik dari ketiganya adalah Will You be There?. Film ini genre scin-fic serupa dengan Vanishing Time, namun ini kadar dramanya lebih banyak. Seorang dokter ahli bedah mendadak kembali ke 30 tahun sebelumnya, saat dia masih muda dan jatuh cinta pada instruktur di sebuah taman bermain. Dia ingin menyelamatkan kekasihnya yang mati akibat kecelakaan. Namun dia juga tidak boleh menikah dengan kekasihnya itu, karena di 2015 dia sudah mempunyai anak perempuan yang dicintainya. Di titik inilah konflik meruncing. Kalau kekasihnya diselamatkan dan hidup bareng, anak perempuannya yang sekarang akan tidak ada.
Saat menonton saya hanya teringat drama di TvN Signal, yang senada. Tetapi penyelesaian drama ini masih sangat bisa tertebak. Tetapi saya suka karena pemainnya tidak tampil dengan wajah cantik, mereka biasa-biasa saja. Dari ketiganya yang paling kusuka adalah ini…. []

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s