Resensi

Potret Kehidupan TKI Taiwan

(Lampung Post, 13 Januari 2017)

Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taipei, Pemerintah Taiwan pernah menganugerahi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) sebagai tenaga kerja terbaik di Taiwan, dibandingkan tenaga kerja asal negara asia lainnya. Maka tidak ayal bila Taiwan menjadi salah satu tujuan para pencari peruntungan.

Kepala KDEI, Robert J Bintaryo memaparkan, per September 2016 jumlah TKI yang bekerja di Taiwan sekitar 237.085 orang. Sebuah angka yang spektakuler untuk negara yang disebut Gol A Gong sebagai ‘sehelai daun’  di tengah samudera.

Magnit Taiwan sebagai destinasi untuk mengadu peruntungan hidup juga menyeret dampak sosial-masyarakat cukup besar. Disebutkan Gol A Gong bahwa di negeri ini, mereka itu orang-orang kampung, pendidikannya rendah, kerjanya juga di level bawah. (hal.14) Tidak sedikit TKI yang bekerja di Taiwan tanpa modal keterampilan sehingga seolah memindah persoalan sosial dari Indonesia ke Taiwan.

Dikisahkan Chairul pergi ke Taiwan untuk belajar master sekaligus belajar Bahasa Mandarin. Di sanalah, Chairul menemukan potongan-potongan fakta sekaligus derita para pahlawan devisa di Taiwan. Stigma bahwa TKI adalah orang rendahan harus ditepisnya karena sebuah perjumpaan di Taipei Main Station (TMS).

TMS bisa disamakan dengan Victoria Park di Hongkong, Monas di Jakarta, atau bahkan sekadar alun-alun di hari minggu. Setiap minggu ribuan TKI melepas penat bekerja seharian dengan seharian nongkrong-nongkrong di TMS. Di sanalah Chairul menemukan wajah para TKI sesungguhnya. Jika ingin melihat wajah Indonesia, datanglah ke TMS hari Minggu.

Chairul yang baru tiba di Taipei, kagum sekaligu haru. Dia disambut dengan begitu hormat, karena para TKI yang kebanyakan wanita merasa rendah dan menghormati Chairul yang sarjana. Chairul datang tidak untuk bekerja, melainkan melanjutkan belajar.

Para wanita pekerja itu memeberi penghormatan termasuk kudapan-kudapan khas Indonesia yang Chairul rindukan. Chairul dibantu mengamen dengan memperagakan pencak silat, dibantu secara ekonomi, hingga kemudian bertemu dengan Hamidah.

Lebih dari itu, Chairul menemukan bahwa TKI tak begitu-begitu bahagia. Perkumpulan di TMS selain untuk melepas lelah, juga sebagai wahana untuk saling bertukar gundah. Setiap TKI memiliki persoalan masing-masing dan di TMS-lah persoalan kadang terurai oleh canda dan kebersamaan.

TKI dalam bahasa Gol A Gong dikategorikan menjadi lima kasta. Pertama mereka yang bekerja di KDEI dan berstatus sosial tinggi. Kedua ialah mereka yang menjadi pengusaha di Taiwan. Ketiga ialah mahasiswa seperti Chairul. Keempat TKI sebagai buruh pabrik. Dan kasta terakhir adalah mereka yang bekerja sebagai pembantu, pelayan restoran, dan penjaga toko. (hal.34)

Kasta terakhir yang mendominasi TMS dan menyolok perhatian Chairul. Halimah adalah penjaga toko dan mengalami sejarah kelam sebagai TKI. Tujuh belas tahun bekerja di Arab Saudi dan dihamili anak majikan. Kemudian bekerja di Taiwan yang tak jauh berbeda.

Chairul jatuh cinta dengan Halimah, meski di Indonesia dia memiliki Inez. Sejak dulu jatuh cinta memang aneh (hal.95), Chairul yang mahasiswa jatuh cinta dengan Halimah yang pelayan toko.

Persoalan sosial TKI Taiwan termasuk pelik. Di Taiwan ini perilaku TKI beragam. Ada yang suka mewah-mewahan, pergaulan bebas, tapia da juga yang rajin ke masjid, sekolah di kesetaraan, bikin taman bacaan. Halimah termasuk kelompok TKI yang gemar check in, seks bebas sesama TKI di hotel saban minggu. Hingga tak jarang KDEI sering mengadakan nikah massal untuk menghindari pennyebaran penyakit kelamin.

Bahkan ada pula TKI seperti Bobi Mega Star yang mengimpikan kehidupan layak bagi para TKI. Juga ada kelompok jahe. Kelompok jahe ini ialah kelompok para TKI perempuan yang diceraikan suaminya di Indonesia. Dalam bahasa mereka, bekerja di Taiwan suami di Indonesia kepincut wanita lain. Klub Jahe alias Janda Hemat.

Gol A Gong sebagai penulis senior menangkap persoalan ini, hingga kemudian menuangkan dalam novel. Penulis yang kondang dengan serial Balada Si Roy di awal tahun 90-an ini begitu apik memotret persoalan TKI.

Kisah cinta Chairul dan Halimah dijadikan roda untuk mendedah problematika TKI. Keruwetan TKI memang sudah menjadi simpul yang terus-terusan runyam. Halimah adalah satu dari sekian banyak TKI yang memiliki hidup susah ketika bekerja sebagai di luar negeri. Lewat novel ini pembaca kembali terbuka matanya atas persoalan TKI di negeri ini.

Halimah merasa hidupnya seperti senja. Dia duduk di tembok pemecah ombak, tidak peduli dengan ledekan para nelayan. (hal.163) Halimah hidupmu memang tak selalu seindah mimpi-mimpi akan devisa banyak, hidup enak, dan foya-foya saat kembali ke Indonesia.[]

GELISAH CAMAR TERBANGGol A Gong | Gramedia Pustaka Utama
Pertama, Oktober 2016 | 232 halaman | 9786020334219

resensi-gelisah-camar-terbang-gol-a-gong-lampung-post-13-01-2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s