Resensi

10 Buku Yang Akan Saya Ulang-Ulang Membacanya

Saya ingat tahun lalu Bandung Mawardi –lewat status orang lain di Facebook, menyampaikan bahwa seharusnya tidak perlulah dibuat peringkat-peringkat menarik. Dan saya sempat merasakan dan membenarkan itu. Mengapa, bisa dibayangkan kalau sebuah buku yang kerja penulisnya sampai berkeringat sejagung-jagung, tetapi tidak sekali pun direspon baik oleh pembaca, pastilah akan sedih. Tetapi saya bolehlah menderet 10 buku yang membuat saya bahagia telah membaca dan tidak akan bosan mengulanginya kembali.

10 buku ini dari semua buku yang saya baca sepanjang 2016, jadi sangat mungkin tidak melulu fiksi, tidak harus penulis lokal. Saya sendiri sangat mungkin hanya menderet sepuluh buku ini berdasarkan alasan pribadi. Jadilah sangat personal.

Saya menyebut 2016 ini sebagai kebangkitan tahun sastra? Mengapa? Tidak muluk-muluk memang. Kalau kita ke toko buku, kita akan menyaksikan buku-buku sastra ramai di rak-rak buku. Novel, cerpen, puisi meriah. Tidak hanya buku dari penerbit mayor, beberapa buku penerbit indie juga meramaikan pasar buku. Kemudian ada banyak buku hasil wattpad yang sepertinya mewabah beberapa masa belakangan.

Satu lagi yang saya sukai, adalah buku-buku babon sastra Indonesia kembali hadir di pembaca mileneal. Ada Orang-Orang Bloomington (Budi Darma) yang dulu sekali saya pernah hampir menawar buku ini di lapak online seharga empat kali lipat dari buku cetakan terbaru 2016 ini. Dilarang Mencintai Bunga-Bunga (Kuntowijoyo) juga hadir kembali dengan perwajahan segar.

Satu lagi yang saya sukai di tahun ini adalah KPG dan Putaka Jaya yang berkolaborasi dan kemudian menerbitkan seri sastra dunia dengan konsep yang menarik dan kolektibel. Dari seri warna kovernya yang senada dengan bagaimana dahulu Pustaka Jaya dan Penguin Classic. Jadilah saya bisa membaca Kappa, Anna Karenina, Karl May, Pater Pancali, dll. Yang langka sedari lama, setelah pustaka jaya tak lagi jaya.

Sudahlah, saya akan kembali pada topik 10 buku paling saya sukai selama 2016.

  1. ”Sejarah Dunia Untuk Pembaca Muda” E.H. Gombrich

Pada dasarnya saya adalah orang yang cepat mengantuk saat membaca buku sejarah. Saya butuh jeda yang panjang untuk menghabiskan buku Jared Diamond, meski saya suka Karen Amstrong tetapi bukunya selalu mandeg di tengah jalan. Tetapi buku yang satu ini, Sejarah Dunia Untuk Pembaca Muda, karya Gombrich yang diterjemahkan dan dicetak oleh Marjin Kiri, sangatlah beda dari kebanyakan buku sejarah. Page tunner.

Buku ini memang mengungkapkan sejarah dari awal pembentukan sampai terkini. Atau bisa dianggap sebagai rangkuman lengkap sejarah dunia. Dan yang paling ‘tidak membuat bosan’ dari buku ini adalah gaya penuturan penulis. Mungkin karena tujuan awal buku ini ditulis adalah untuk pembaca anak-anak, jadi yang yang berdebu, usang kalau mendengar sejarah disajikan dengan ringan dan enak. Membaca buku ini saya semakin sadar, kalau membaca buku sejarah tidak melulu ngantuk-able. Karena selalu ada banyak penulis sejarah yang punya gaya bahasa apik, macam Gombrich ini.

  1. “Rijsttafel” & “Jejak Rasa Nusantara” Fadly Rahman

Saya lupa tepatnya bulan apa, Majalah Tempo mengeluarkan
edisi spesial berupa antropologi kuliner nusantara. Ah, ternyata kuliner dan boga itu tidak hanya sekadar urusan makanan, kenyang, serdawa, kemudian dicerna dan menyehatkan. Selalu ada unsur antropologis masyarakat. Dan karena berhubungan dengan manusia, maka sejarah tidak bisa dilepaskan.

Ini adalah dua buku yang berbeda, tetapi memiliki tone yang senada. Fadly Rahman adalah sejarawan yang sepertinya fokus pada sejarah kuliner dan boga. Di buku Rijsttafel kita akan disajikan bahwa Belanda hadir di masa kolonial bukan hanya menyisakan catatan panjang tentang bagaimana buruknya sistem kolinial, tetapi juga soal bagaimana Belanda dan Hindia-Belanda saling memengaruhi dalam urusan meja makan. Belanda akhirnya kenal menu berbahan nasi dan hidangan lengkap dalam satu meja. Dan kita jadi mengenal piring, sendok, bahkan meja untuk tempat makan.

Di buku Jejak Rasa Nusantara, kita akan lebih mengenal lebih jauh bagaimana pembentukan kuliner. Pengaruh India, Arab, China, dan tentu Eropa. Tetapi saa mencatat bahwa banyak local wisdom kita juga tergeser oleh pengaruh budaya makan dari luar.

Ya, mungkin kita hanya mengenal makanan dalam urusan enak-tidak enak atau bahkan hanya sekadar ini instagram-able. Tetapi di dua buku ini saya merasakan makanan menjadi budaya yang punya akar kokoh. Bahkan kalau William Wongso bilang, makanan adalah politik identitas sebuah negara. Kalau filsuf bilang, Tell me what you eat, and I tell you what you are. Meskipun ini buku sejarah, jangan kira bakalan pusing membaca. Bahasa ringan. Saya suka.

  1. “Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi” Yusi Avianto Pareanom

mandasia-kompasAh, aku suka. Suka. Dan tidak perlu saya komentar panjang. Silakan diklik saja ulasan saya atas buku ini. Karena buku ini juga saya percaya, buku berkualitas dan isinya menarik harus dihargai selayaknya.

 

 

 

 

  1. “Rumah Kertas” Carlos María Domínguez

Entahlah, saya tidak bisa merumuskan mengapa saya menyukai buku tipis ini. Bukan karena suspense novel ini yang sudah dimulai sedari kaliamat pertama dalam novel ini. Buku ini memang mengungkap bagaimana seorang mencintai buku atau bahkan para pengoleksi buku paling militan di dunia ini. Bukunya tipis, tak lebih dari 100 halaman, tetapi setelah habis menarik untuk dibaca kembali.

Usai membaca buku ini, saya berpikir, untuk menulis artikel ini. Mengapa, dari ratusan buku yang kita baca sepanjang hidup pastilah ada buku yang mengubah kita. Misalkan saya menulis cerpen karena suatu hari diberi hadiah Pistol Perdamaian, saya menyukai Seno karena suatu kali saya membaca Pelajaran Mengarang, saya menyukai NH Dini karena di SMA saya pernah membaca bukunya. Pastilah buku –berapa pun jumlahnya yang kita baca ada yang begitu berpengaruh.

  1. “Agama Apa Yang Pantas Bagi Pohon-Pohon?” Eko Triono

Bagi penyuka cerpen seperti saya, buku ini adalah oase. Mengapa? Mari kita bandingkan cerpen-cerpen dalam buku ini dengan cerpen jamak yang kita sering temukan seminggu sekali di koran. Eko Triono memang sastrawan muda dengan kekayaan teknik menulis bahkan sesuatu yang berbeda.

Ada yang pendek, panjang. Ada yang satu cerita adalah satu paragraf utuh. Ada yang berbingkai-bingkai. Pokokmen aneh-aneh. Saya menyukai cerpen Ikan Kaleng dan Ikan Hiu di Atas Rumah. Ikan Kaleng lebih mudah dipahami dari Ikan Hiu. Ikan Kaleng memang lebih realis dengan nada kritik yang nyaring. Tetapi Ikan Hiu adalah hal lain. Butuh ketenangan untuk paham, bagaimana seekor ikan hiu ada di atap rumah. Tapi itu justru keindahannya. Jadi wajar kalau saya berkata, buku kumpulan cerpen ini adalah yang terbaik sepanjang 2016.

  1. “O” Eka Kurniawan

Mungkin saya termasuk eka-is. Suara dalam novel ini memang serupa dengan Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas. Obrolan-obrolan pendek yang cerkas. Tetapi yang saya suka di novel ini adalah keberanian Eka yang bermain-main dengan alegoris–ingat alegori pasti kita ingat Animal Farm Orwell. Semua benda mati dalam novel ini bisa bicara. Mulai dari hewan, pistol, kaleng pengemis. Dan juga sebuah satiris soal bagaimana monyet hendak menjadi manusia.

Sejak Eka memasang calon cover buku ini di akhir 2015, saya sudah penasaran pun dengan kebanyakan pembaca. Eka memang sedang menjadi tren di tahun 2016. Dan berkat Eka juga sastra menjadi sangat pop dan bisa dinikmati oleh siapa saja.

  1. “Orang-Orang Bloomington” Budi Darma

Seperti yang sudah saya sampaikan di awal, bahwa saya hampir saja membeli buku bekas dengan judul ini dengan harga empat kali dari harga buku ini dalam edisi terbaru terbitan Noura Books. Buku yang menjadi babon cerpen Indonesia kontemporer.

Kalau membaca cerpen Budi Darma perlu rehat dulu dari cerpen koran kebanyakan yang lebih tipis. Buku ini diisi oleh cerpen-cerpen panjang. Namun uniknya, Budi Darma dalam buku ini begitu jeli dalam membedah psikologi manusia. Dan kita bisa kesel pada tokoh dalam cerpen ini. Benar-benar bikin sebel. Tetapi dari situlah, kita paham bahwa tokoh fiksi bisa sangat manusiawi. Maka tidak wajar, berkat buku ini Budi Darma memperoleh S.E.A Write dari Kerajaan Thailand.

  1. “Barefoot Gen 1-4” Keiji Nakazawa

Buku ini konon ada sepuluh jilid. Tetapi yang sudah diindonesiakan baru ada jilid 1-4. Buku ini komik dengan latar Jepang pada masa akhir perang dunia 2, kala bom atom meledak di atas Hiroshima. Memang sangat dewasa. Bahkan tokoh Gen dalam buku ini menurutku memiliki cara bicara yang sarkas dan dewasa sekali. Adegan memukul dan memaki yang biasa saja.

 

 

Namun, tema ceritanya yang mengerikan. Juga gambaran bagaimana orang-orang Jepang menderita. Ada tubuh meleleh, usus terburai, kematian dimana-mana. Seorang ibu yang mendekap mayat si anak, dsb. Ngeri-ngeri sedap.

  1. “Playon” F Aziz Manna

Kita perlu berterima kasih karena penghargaan Kusala-lah kita bisa mengenal buku puisi keren ini. Saya suka dengan puisi-puisi dalam buku ini karena, nuansa desa yang diangkat dan kesederhanaan yang melingkupinya. Saya suka, lebih juga karena bahasa yang mudah dipahami tidak jlimet seperti puasa-puasa yang sering membuat dahi saya berkernyit.

  1. “Hampir Sebuah Subversi”

Akhirnya saya membaca buku ini. Sudah lama saya mencari-cari buku lawas ini yang sudah langka. Berisikan kumpulan cerpen-cerpen Kuntowijoyo yang kebanyakan sudah dimuat di media massa. Tetapi, sebagai penggemar Kuntowijoyo, saya merasakan kedalaman dalam pengulikan dunia batin orang Jawa. Omong punya omong, saya yang sangat menyukai cerpen Jalan Asmaradhana, bahkan meniru cara penjudulan tersebut untuk cerpen saya Perumnas, Jalan Waru Nomor Tujuh.

***

Sebenarnya masih banyak buku yang berkesan. Ada Negeri Kabut, Seno Gumira Ajidarma, Vegetarian Han Kang, dan lain-lain. Tetapi pada dasarnya, 10 buku di atas adalah 10 buku yang paling berkesan dari semua buku yang saya baca sepanjang 2016. Buku yang akan saya ulang-ulang membacanya. Tiap tahun memang selalu ada buku baru yang menggugah minat, membuat nafsu impulsif kita liar dalam membeli buku. Percayalah, di 2017 nanti akan ada buku yang kece-kece juga.[]

 

 

Advertisements

3 thoughts on “10 Buku Yang Akan Saya Ulang-Ulang Membacanya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s