Resensi

Kembalinya Genre Silat-Kolosal

(Kompas, 26 November 2016)
mandasia-kompas
Dari mana kita mengenal cerita silat pertama kali? Istilah Tjerita Silat pertama kali dipergunakan oleh Tan Tek Ho, wartawan harian Sin Po untuk nama berkala harian baru yang didirikannya pada 1932 yang khusus memuat terjemahan cerita silat dari Bahasa Tionghoa.

Bermula dari tahun 30-an itu, pembaca Indonesia disuguhi banyak cerita silat yang kebanyakan adalah terjemahan dari roman kependekaran asli negeri Tionghoa, atau dalam bahasa aslinya dinamakan wuxia xiaoshuo itu. Hingga menjelang tahun 60-an, penerjemahan cerita-cerita silat menjadi dominan di surat kabar yang memuatnya sebagai cerita silat bersambung.

Di Indonesia, meskipun pemuatan cerita silat di media massa dilarang pada 1961, perkembangan penerbitan buku malah semakin ramai. Dominasi dua nama O.K.T. (Oey Kim Tiang) dan Gan K.L. (Gan Kok Liang) semakin tak terlawan. Sayang pada 1965-1966 sentimen anti-komunis dibuat bercabang ke anti-Tionghoa (peranakan Cina di Indonesia) sehingga penerbitan cerita silat boleh dibilang mati sama sekali.

Padahal animo terhadap cersil terlanjur meluas, khalayak masih haus akan cersil. Dengan sendirinya, mulai lahir penulis-penulis cersil Indonesia yang dipelopori oleh Kho Ping Hoo, disusul oleh Tjoe Beng Siang, The Eng Gie. Mereka ini lahir di Indonesia dan sama sekali tidak mengenal bahasa Cina. Mereka memperoleh ‘modal” menulis dari buku-buku terjemahan itu saja. Dan merekalah yang membuat cerita silat dengan rasa Indonesia atau yang kemudian kita kenal sebagai cerita kolosal, sebagaimana kita menyebut sinetron/film bertemakan pendekar dan kerajaan.

Sekarang di depan kita terhidang novel kolosal dengan tajuk Raden Mandasia, Si Pencuri Daging Sapi (2016) karangan Yusi Avianto Pareanom.Novel yang kemudian membawa ingatan kita kepada kejayaan dunia persilatan serta intrik politik kerajaan.

Sungu Lembu adalah seorang pendekar dari daerah Banjaran Baru. Sungu Lembu memiliki guru Banyak Wetan dan dari dialah semua ilmu baik kanuragan atau pun ilmu kebatinan Sungu Lembu dapatkan. Maka Sungu Lembu tampil sebagai kesatria digdaya dan memiliki kecerdikan di atas rata-rata.

Namun Sungu Lembu harus menjadi pendendam sepanjang cerita. Sungu Lembu berniat membalas dendam kepada Watugunung, raja Gilingwesi yang telah menghabisi penduduk Banjaran Baru, termasuk keluarga Banyak Wetan, serta menjajah Banjaran Baru. Dendam inilah yang terus menjadi motor cerita.

Watugunung memang bajingan dan musuhku, tapi tetap saja ia seorang raja, dan seorang penguasa jelas berbeda dari tukang timba air atau pemungut pajak tanah karena ia punya keagungan yang tak bisa kubeli. (hal.37)

Sungu Lembu merambah mendekat saat dia bertemu dengan Raden Mandasia di rumah dadu Nyai Manggis. Rumah dadu sekaligus rumah pelacuran itu menjadi simpul pengikat Sungu Lembu dengan Raden Mandasia. Nyai Manggis pemilik sekaligus pelacur kelas kakap memberi nasihat agar Sungu Lembu terus menjaga Raden Mandasia.

Raden Mandasia selain sebagai putra Raja Watugunung, juga memiliki keahlian aneh. Raden Mandasia mahir sekali memotong daging sapi. Bukan sapi di peternakan kerajaan, melainkan sapi curian di padang gembalaan. Ia mencari seekor sapi yang diinginkannya, memilih waktu yang tepat, dan memotong-motong sapi dengan pisau lengkung dari baja yang nyaris menyerupai golok di kandang atau padang gembalaan. (hal.18)

Raden Mandasia mencuri hanya untuk memenuhi hasrat makan daging sapi. Keahlian nyleneh inilah yang menjadi pembeda karakter Raden Mandasia sebagai seorang pendekat. Bila dalam naskah-naskah kolosal semua tokoh pendekat tampil begitu maskulin dengan kemahiran berperang atau memainkan satu jenis senjata, Yusi membuat Mandasia tampil sedikit berbeda. Bahkan Yusi menghadirkan tokoh koki nyentrik bernama Loki Tua yang mahir memasak dan punya kepribadian unik.

Kesan yang serupa juga tampil pada bagian-bagian novel selanjutnya. Yusi kerap kali menderet hal-hal yang tidak jamak muncul dalam novel kolosal. Misal jenis-jenis makanan, cara mengolah daging, cara menguliti babi, menenun kain, dan lain-lain. Kesemuanya menjadi komposisi yang ganjil tetapi unik dan segar.

Yusi memang hadir jauh setelah SH Mintarja dan Kho Ping Ho memulai cerita silat berlatar Indonesia. Kehadiran Raden Mandasia ini seperti pengobat rindu akan kisah-kisah silat yang dahulu sempat berjaya di negeri ini.

Sebagaimana cerita silat pada umumnya, Yusi tidak lupa menghadirkan adegan peperangan. Negeri Gilingwesi memiliki musuh negeri Gerbang Agung. Peperangan besar yang mempertaruhkan harga diri Watugunung dan semua raden keturunan Watugunung.

Narasi peperangan milik Yusi tampil tetap dengan nada tenang dan tempo yang tertata rapi. Misalkan bagaimana Yusi menggambarkan saat pasukan Gilingwesi menembaki Gerbang Agung dengan mayat pasukan yang terkena penyakit hitam. Mula-mula satu-dua, makin lama makin deras. Hujan mayat. Bukan sembarang mayat, melainkan mayat-myata yang menghitam penuh lesi dan nanah. (hal.364)

Semakin memikat dengan liukan menjelang akhir yang Yusi tampilkan seperti sebuah jurus seorang pendekar. Tidak seperti novel kolosal yang diakhiri dengan ‘kemenangan kerajaan dan jaya sentosa selama-lamanya’, Raden Mandasia diakhiri dengan pertanyaan baru yang mengusik pembaca.

Yusi benar-benar sedang menghadirkan bacaan segar tahun ini. Raden Mandasia hadir sebagai pelengkap dahaga akan kehadiran novel kolosal sekaligus bacaan yang sebenar-benarnya memikat. Sudah pantas dinobatkan sebagai novel kolosal, tapi diramu dengan racikan kebaruan. Tak melulu dipenuhi adegan adu jurus dan perang kanuragan, tetapi sesekali dibumbui yang lain. Seperti hidup, tak harus selalu bertempur, sesekali makan enak dan hidup santai seperti kisah Raden Mandasia ini. []

RADEN MANDASIA SI PENCURI DAGING SAPI
Yusi Avianto Pareanom | Penerbit Banana
Maret 2016 | 450 halaman
9789791079525

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s