Resensi

Cerita di Seputar Pengeboman Hiroshima

saya selalu kagum dengan komik dengan cerita yang luar biasa seperti ini. dulu ada jejak petinju harry haft, yang tidak hanya berkisah tentang sosok petinju, tetapi juga menyoal soal nazi dan kejamnya perang dunia dua. dan din komik yang konon ada sepuluh jilid ini, sosok gen dan keluarganya benar-benar menggambarkan emosi sensasional penulis yang menjadi saksi hidup akan jatuhnya bom di hiroshima. telah diterjemahkan empat edisi pertama. 

Koran Jakarta, 2 Desember 2016

Dalam pengantarnya, Keiji Nakazawa menyebut bahwa Barefoot Gen ini sebagai proyek dari hati. Kisah Gen terinspirasi atas kisah penulis sendiri. Bom atom meledak 600 meter di atas halaman kampung halaman saya Hiroshima. Saya berada hanya satu kilometer lebih sedikit dari episenter tersebut, berdiri di gerbang belakang Sekolah Dasar Kanzaki, demikian catatan penulis dalam mengantarkan serial ini.

Keiji Nakazawa bisa dikatakan sebagai saksi hidup atas jatuhnya bom atom di Hiroshima dan Nagasaki pada Agustus 1945. Gen bersama empat saudaranya hidup susah dan sering menderita kelaparan. Tiap hari makan bubur encer dan sesekali diselingi umbi. Ibu Gen yang mengandung adik paling kecil harus mengalah oleh Gen dan Shinji yang kerap menghabiskan jatah ibunya.

Daikichi Nakaoka, ayah Gen, adalah seorang pembuat genta (sandal kayu khas Jepang) dengan ukir-ukiran. Dari sanalah penghasilan keluarga kecil itu didapatkan. Nakaoka adalah orang yang anti terhadap perang. Dia sendiri menentang keputusan kerajaan Jepang yang mengangkat perang terhadap sekutu. Dalam pemahaman Nakaoka perang hanya akan menyengsarakan rakyat kecil. Perang sungguh menyedihkan. Orangtua dan anak-anak terpaksa harus terpisah. Aku tidak peduli semiskin apa pun kami, aku akan senang jika kammi bisa hidup bersama-sama. (hal.14)

Salah satu yang kentara adalah kebijakan menyerahkan semua peralatan dari alumunium dan baja yang akan dilebur menjadi senjata untuk perang. Tidak ada lagi belanga dan panci logam di rumah kami. Semuanya sudah diambil untuk dijadikan kapal perang, tank, dan senjata. (hal.33)

Pemikiran Nakaoka inilah yang ditentang oleh tetangga dan ketua. Hingga suatu kali Nakaoka harus dipenjarakan karena fitnah, belum lagi ladang gandum siap panen yang dirusak oleh kaki tangan ketua. Hidup keluarga Nakaoka digambarkan begitu sengsara dan menyedihkan.

Gambar-gambar indah mampu mengungkap sebuah kekejaman keji di akhir perang dunia kedua. Kotak-kotak bergambar goresan Keiji Nakazawa mendadak menebarkan teror mengerikan saat memasuki laman tanggal 6 Agustus 1945.

Pukul 7.15 terdengar sirene peringatan dari tentara Jepang bahwa akan ada serangan udara dari pihak sekutu. Keluarga Gen terpaksa harus bersembunyi di barak persembunyian. Tetapi itu hanya sekadar serangan kecohan. Tentara sekutu telah merencanakan bom atom jatuh tepat pada 8.15. Begitu orang-orang Jepang menyaksikan kehebatan bom ini, mereka langsung menyerah. Straight flush kepada Enola Gay. (hal.246)

Gen berangkat ke sekolah. Keiji asyik bermain dengan kapal-kapalanny. Eiko memeriksa PR. Ibu Gen menjemur pakaian di atap rumah. Sedangkan ayahnya bekerja di workshop seperti biasa. Bom atom meledak, dimulai dengan gemuruh pesawat tempur yang begitu rendah darri daratan Hiroshima. 43 detik kemudian, 1800 kaki di atasHiroshima, bom atom bernama Little Boy meledak dengan cahaya putih panas. rasanya seakan-akan sejuta lampu blitz serentak menyala. (hal.250)

Bagaikan ledakan dari lubang neraka, awan atom bergemuruh naik setinggi enam mil di langit Hiroshima. Gen diselamatkan oleh tembok pagar sekolah yang roboh. Tetapi setelah keluar dari reruntuhan itulah Gen menyaksikan bom yang baru saja meledak bukan seperti bom biasa.

Orang-orang mendadak mati dengan terbakar dan meleleh. Tubuh orang-orang yang masih hidup mencair seperti parafin.

Ibunya selamat karena berada di atap rumah. Tapi sayang ayah, Eiko, dan Shinji tertimpa bangunan rumahnya. Di depan mata Gen, ketiga anggota keluarganya mati terpanggang. Kesedihan semakin menjalar, saat ibunya seperti orang gila.

Fragmen tersebut menjadi bagian paling menyanyat. Kemudian diceritakan ibu Gen melahirkan lebih cepat karena kesedihan. Keduanya tersaruk-saruk mencari pertolongan. Dalam perjalanannya, Gen menyaksikan begitu banyak korban. Bukan hanya luka bakar akibat bom, mereka yang terinfeksi radiasi akan muntah darah, keluar usus, rambut rontoh, atau bahkan kulit meleleh.

Komik ini adalah komik autogiografi dari Keiji. Perang selalu menyisakan kengerian. Orang-orang kecil seperti keluarga Gen selalu menjadi korban pertama. Gen memang anak kecil, sebagaimana akar-akar gandum yang kerap terinjak. Keiji ingin menyampaikan metafora melalui simbol gandum. Gandum mendorong tunas menembus kebekuan musim dingin. Gandum yang terinjak itu mengirimkan akar-akarnya ke dalam tanah dan tumbuh lurus tinggi. Kelak gandum itu akan berbuah. []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s