Cerpen

Maraton

tidal-rise
(sumber ilustrasi: Juan Sebastian C.R.)

Muara kehangatan itu ada di dalam dadaku. Kuraba, hangat mulai merambat. Walaupun termometer smartphone berada di angka 13 derajat, aku merasakan dingin tak begitu menyayat. Atau mungkin karena aku sudah mulai terbiasa dengan suhu dingin. Ini kedua kalinya aku menjejak tanah Bromo. Kali ini Bromo tersenyum ramah padaku, seperti menyambut karib lawas yang lahir dari dingin angin lereng Bromo.

“Gila kamu, Yemima! Dingin begini, kamu lepas sweater?” kata Ria, karibku keheranan. Hidungnya meler. Syal, kupluk rajut, jaket, dan pakaian tebal tak berhasil menghalau gigil tubuhnya.

Aku meringis. “Ini masih sore, Ria. Kalau sesore ini kamu kedinginan begini, kamu harus siap-siap mencari tambahan selimut nanti malam,” godaku. Aku paham betul apa yang dirasakan Ria. Setahun lalu aku pun di situasi yang tak jauh berbeda, saat pertama kali ikut event tahunan ini. Tapi sekarang, aku senang menyaksikan wajah pucat Ria karena dihajar dingin.

Ria tak menjawab. Bibirnya terus saja bergoyang. Giginya bergemeretak. Kakinya dihentak-hentakkan. Mungkin dengan berkeringat atau lari di tempat, suhu tubuhnya akan meningkat. Ria menengok jam tangan.

“Masih lama?” tanyanya.

“Kita registrasi dulu, baru diantar ke penginapan.”

“Kita ngopi dulu, ya?”

Aku mengangguk. Lalu kutarik Ria mengikuti puluhan orang, baik lokal maupun internasional, yang sedang mengantre registrasi ulang peserta Bromo Marathon 2015. Ransel dan perbekalan kugendong. Ria mengekor di belakang.

Ini adalah kedua kalinya aku berangkat dari Yogyakarta menuju Bromo. Pemandangan puncak Bromo, dinginnya suhu saat fajar turun, hangatnya bakso Malang dengan kuah panas, diam-diam membuatku terkangen-kangen.

Tidak pernah masuk akal memang. Bagaimana orang bisa menikmati berlari-lari di area perbukitan, dengan suhu hampir membuat kulit kisut saat malam dan kemudian membakar kulit saat terik kemarau siang. Napas akan semakin sesak kalau lari sudah memasuki jam tengah hari, matahari musim kemarau di atas kepala benar-benar menyiksa. Bromo musim kemarau adalah siksaan. Suhu dingin di malam hari yang menyayat akan berubah mendadak panas luar biasa saat tengah siang. Dua kutub yang membuat kita tersiksa di tengahnya.

Tetapi bila sudah sekali berhasil menuntaskan rute maraton di Bromo, pasti bakal ketagihan. Buncah kegembiraan melewati garis finish, sorak dari penonton, dan kalungan medali beberapa hal yang adiktif.

Dingin malam Bromo, penatnya lari maraton, teriknya Bromo di siang hari, dan debu-debu yang menyesakkan dada pelari, mendadak tidak sebanding dengan lekuk-lekuk puncak Bromo. Bila sudah masuk kilometer enam menuju tujuh, bisa dipastikan banyak pelari akan berhenti. Sekadar menikmati atau asyik mengambil gambar. Maka tidak aneh bila maraton ini mampu menggaet ribuan pengunjung. Bahkan tak sedikit dari mereka adalah pelari langganan. Bukan hadiah. Seperti menelan adiktif untuk lagi dan lagi ikut maraton di Bromo.

“Kita ambil yang mana?” tanya Ria.

“Mau full marathon?” godaku sekali lagi.

“Sinting lu, Yem!” kubalas dengan tepukan di bahunya.

“10 km saja. Tahun depan kita latihan untuk half marathon.”

Full marathon itu berapa?” Ria mulai antusias.

“42 km!”

“Bisa menggelinding tumitku,” kata Ria bersahutan dengan derai tawa kami.

Beberapa orang mulai memerhatikan kami. Banyak orang asing saling bercakap-cakap sambil mengkuti rampak alunan gamelan khas Suku Tengger yang disuguhkan untuk menjamu para runner. Musik dan keramahan adalah porsekot keindahan sebelum hampir dua ribu pelari akan terpukau dengan asrinya Bromo esok. Dengan ikut maraton, puncak Bromo tampak lebih aduhai.

Ria terus saja menggigil. Setelah urusan registrasi selesai, sambil menunggu mobil yang mengantar di penginapan, kami menyeruput kopi susu hangat. Ria gegas menyeruput. Hawa hangat menjalari tenggorokannya. Sedingin-dingin Bromo, masih bisa ditaklukkan. Magic warmer yang utama adalah otak. Semuanya bisa disetel sesuai keinginan.

***

Angin apa ini yang dinginnya melebihi rindu[1]. Ini angin Bromo yang sama dengan setahun lalu. Ketika aku menggigil dan berharap matahari lebih lama tergantung di langit.

Semua pakaian hangat kukenakan, masih kutambah dengan sarung tangan dan syal merah marun melingkar di leher. Secangkir kopi hangat terus kugenggam. Belum hangat bara dalam anglo tanah liat yang mengirimkan kehangatan. Semuanya masih saja dingin.

“Sini,” Gelar meraih tanganku. Dua telapak tanganku digenggam erat. Kurasakan hangat tubuhnya menyusup ke dalam pori-poriku. “Kalau kamu terus mengigil, energimu akan habis. Mendingan diam,” sarannya. Sebagai yang lebih berpengalaman, aku memaklumi bila Gelar lebih tahan dingin Bromo.

Aku turuti. Wajah Gelar dengan kumis tebal bak seekor lintah gemuk kenyang mengisap darah terus terjiplak di retina. Kadang aku merasa bodoh karena tersirap oleh kata-katanya. Karena cinta, semua derita menjadi suka cita. Termasuk dinginnya Bromo, tak terlampau dingin bila ada tangan yang menangkupi.

Dia menjebakku untuk ikut maraton. Hampir dua bulan lamanya, aku dan Gelar berlatih bersama. Sepertinya dia sedang menyiapkan kencan menyakitkan dengan ikut maraton. Memang aku menggemari jogging. Tapi maraton jelas-jelas hal berbeda. Maraton harus dipersiapkan matang, tegasnya. Kalau tidak mau diangkut ke garis finish dengan ambulan.

Tapi lari maraton itu perkara gampang, tegasnya. Tidak serumit olah raga lain. Bila badminton, tenis, harus jago strategi untuk melumpuhkan lawan. Maka maraton adalah olahraga solitare. Musuhnya adalah pikiran sendiri.

“Lantas mengapa kamu mengajakku?”

“Tidakkah kamu ingin melihat kekasihmu adalah yang kuat lari 42 km?”

“Kuat lari sejauh itu belum tentu mampu menjagaku.”

“Bila bersama, mungkin di kilometer-kilometer krisis kita bisa saling menunggu.”

Dia seperti pelatih lari terbaik. Setiap kali napasku mulai menyempit, dadaku bak dihimpit dua tembok, dia menyemangati dengan gaya motivator. Tidak penting seberapa sakitnya lari, tubuh akan mengimbangi. Jika aku tidak memaksa tubuhku atau berusaha lebih keras, aku tidak akan maju dalam hidup. Karena lari adalah kehidupan, katanya. Kadang aku merasa  capek di kilometer lima atau enam. Tapi dia menohokku dengan kalimat.

“Kalau segini kamu sudah merasa cukup, berhentilah. Tapi kalau butuh tantangan, paksa hingga kilometer 20. Maraton tidak perlu cepat seperti sprint. Asal sampai garis finish.”

“Aku tidak yakin kuat,” kataku.

“Nggak mungkin di gendong,” katanya. Meski kuyakin Gelar mampu lari cepat mendahuluiku sampai garis finish, dia tetap mengimbangi kecepatanku.

“Malu juga,” aku malu.

Tidak ada kata lain selain mengikat tali sepatu lebih kencang dan menyusulnya meski lambat.

***

Belum turun kabut, Ria sudah memasang selimut dan sleeping bag. Bara api kecil dalam tungku tanah liat berbahan arang yang tuan rumah tempatkan di ruang tengah dikerubuti banyak pelari. Aku dan Ria bergabung sambil basa-basi sebentar.

Ria terus saja mengeluh kedinginan. Aku hanya tersenyum. Begitulah aku setahun lalu. Kedinginan luar biasa.

“Kamu benar-benar sinting, Yemima! Dingin super begini, kamu bilang tidak apa-apa.”

Aku diamkan saja. Aku pernah merasakan dingin yang benar-benar dingin sebelum ini. Kamu tentu tahu itu, Ria, batinku.

***

Pukul enam, hampir dua ribu pelari berkumpul di lapangan untuk diberangkatkan. Sesuai urutan, lari 10 km akan dijadwalkan terakhir usai full marathon 42 km, dan half marathon 21 km. Aku berlari-lari kecil sebagai pemanasan. Peregangan badan serta megencangkan tali sepatu.

“Yemima, apa aku perlu bawa air minum?” tanya Ria begitu polos.

“Lebih baik kamu pemasan ketimbang ngurusin air minum,” jawabku.

“Kalau haus?”

“Tentu ada panitia di pos pemberhentian.”

Ria ber-ooo panjang mengerti. Lalu bergabung denganku melakukan peregangan tangan dan kaki.

Pukul 6.30 rombongan pelari full marathon berangkat.

“Yemima, aku boleh tanya sesuatu?”

Emm,” jawabku.

“Apa tujuanmu ikutan lari ini?”

Aku terdiam. Belum bernafsu ingin menjawab. Tanganku masih kugerakkan sebagai pemasan. Sesekali lari kecil.

“Yemima, jawab dulu,”cecar Ria mengejar.

“Ria, kamu lihat lelaki tua itu,” aku menunjuk seorang lelaki cukup tua berkulit putih. Aku berkenalan dengannya setahun lalu. Mungkin dia lupa aku, tapi sosoknya tak bisa lepas dari ingatanku.

“Iya,” jawab Ria.

“Dia namanya Sam. Tahun lalu usianya sudah 63 tahun dan ikut lari 10 km. Saat kutanya mengapa ikut lari, apa coba jawabannya.”

Ria menggeleng.

“Dia ingin mengenang istrinya.”

“Maksudnya?” Ria semakin penasaran hingga lupa gerakan tangan dan kaki sebagai pemanasan.

“Istri Sam meninggal karena breast cancer. Semasa hidup mereka selalu ikut maraton di berbagai negara. Pasca kematian istrinya, Sam selalu ikut maraton untuk mengenang istrinya. Katanya, penat dan lelahnya maraton tidak sebanding dengan laranya ditinggal orang terkasih.”

“Lantas kamu mau mengenang siapa?” tanya Ria. Entah dia lupa atau berlagak tidak tahu. Aku hanya membalas dengan seutas senyuman.

“Sebentar lagi 10 km akan diberangkatkan. Ayo merapat,” aku menarik Ria ke kerumunan pelari.

Aku hanya ingin berziarah di maraton kali ini. Sakitku pasca ditinggal Gelar. Dingin hatiku saat ucapan perpisahan. Geram ingin membalas dendam. Ya, mungkin ini adalah ritus balas dendamku kepadanya. Gelar memang tidak hadir dan tidak akan pernah hadir, karena kesibukan di kilang minyak. Namun ada Ria. Dalam hati aku ingin sekali menimpali Ria, memang aku tidak tahu siapa yang membuat Gelar lepas dariku. Andai tidak ada Ria, mungkin tahun ini aku akan tetap bermaraton bersama Gelar.

Seperti maraton, kuharapkan aku akan finish dengan Gelar di tali kehabagiaan. Namun entah di kilometer berapa, di tikungan sebelah mana, Gelar ternyata berbeda rute denganku. Tapi aku harus terus berlari bila tidak ingin diangkut ambulan. Mungkin sekarang garis finish dan medaliku tidak perlu kurayakan bersama Gelar.

“Ria, kamu akan merasakan kesakitan saat kilometer-kilometer krisis. Dadamu akan sesak, napasmu akan habis, seolah dunia menyempit menindih paru-parumu!” batinku. Begitulah rasanya saat sahabat dekat menelikungku.[]

[1] Diambil dari judul puisi “Angin apa ini dinginnya melebihi rindu” karya Asef Saiful Anwar.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s