Resensi

Memandang Politik Negeri Ini

Beberapa orang memang alergi tatkala pembicaraan sudah masuk dalam ranah politik. Pengalaman sedikit mencekam di tahun 2014, saat pilpres, politik hampir saja memecah belah Indonesia menjadi dua kubu yang saling berseteru. Pandangan politik (baca: ideologi) dan kecenderungan pilihan yang berbeda membuat kawan menjadi musuh, keluarga terkutub menjadi dua.

Namun politik adalah nadi kehidupan yang hadir di keseharian, dari obrolan warung kopi hingga obrolan dewan, pejabat tinggi. Seperti kata Seno dalam pengantar buku ini bahwa politik adalah keniscayaan. Dunia politik sebenarnya sungguh-sungguh perlu diperhatikan. Terutama karena yang berlangsung dalam dunia politik akan menentukan kehidupan setiap orang. (hal.11)

Politik nyatanya mengatur bukan hanya soal kekuasaan dan kenegaraan. Dalam buku ini politik nyatanya menyangkut rupa media, dunia bola, olahraga catur, wayang, pulau Komodo, bahkan perihal hal sensitif LGBT.

Seno dikenal sebagai sastrawan dan budayawan begitu mahir menjadi komentator politik dengan fondasi budaya. Perumpamaan yang kerap dipergunakan oleh penulis ialah tokoh dalam pewayangan serta kisah-kisah di dalamnya. Buku ini adalah kumpulan esai-esai Seno Gumira Ajidarma yang terbit berkala di kolom politik Koran Tempo.

Wayang diyakini sebagai epos panjang yang merupakan ejawantah akan dunia manusia. Mikrokosmos yang mewakili dunia makrokosmos manusia. Tokoh penting dalam Mahabharata yang kerap menjadi simbol seorang politikus licik ialah Sangkuni. Sangkuni digambarkan beberapa kali mengatur muslihat agar kekuasaan Hastinapura tak jatuh ke tangan Pandhawa, melainkan kemenakannya sendiri yakni Kurawa.

Tetapi ada temuan menarik yang diungkapkan Seno, bahwa sejatinya dari semua kelicikan Sangkuni tak banyak yang menuai hasil. Sebagian besar rencana jahat Sangkuni, kecuali perjudian dengan taruhan negara yang menjerumuskan para ksatria itu dalam lakon Pandhawa Dadu, sebetulnya lebih banyak gagal. (hal.24) Kelicikan takkan membawa keberhasilan. Kresna sebagai simbol Dewa Wisnu-lah yang memenangi pertarungan siasat. Dewa, kekuatan Tuhan, mestakung tak berpihak pada kebatilan.

Seno memberi kategorisasi akan pemimpin dewasa ini. Pemimpin elitis, pemimpin merakyat, dan pemimpin nanggung. Pemimpin elitis memiliki rekam jejak bagus, pendidikan tinggi, luar negeri dengan referensi jempolan. Latar belakang ini membuatnya tampil sangat menawan di pentas politik.

Pemimpin merakyat adalah antitesis dari pemimpin elitis. Pemimpin seperti ini mengandalkan ‘musyawarah dan mufakat’ ketimbang voting, dalam arti mencerminkan pernanan sistim nilai tradisional dalam berorganisasi. (hal.28) Bukan buruk, tetapi ini pilihan gaya. Dan Jokowi mewakili jenis pemimpin merakyat. Yang buruk ialah pemimpin nanggung berada di tengah keduanya dan lebih mengedepankan citra di tengah konstituen.

Politik selalu berangkat dari motivasi. Motivasi ini menjadi rotor yang menggerakkan seorang politis, termasuk dalam pemilu. Sebagai contoh Seno memberi gambaran bagaimana Gandari, istri Destrarasta, ibu Kurawa secara motivasi sudah keliru sejak awal. Gandhari menolak dinikahi Destrarasta bukan karena cinta mati pada Pandhu. Melainkan sebuah motivasi kekuasaan, “Aku tidak sudi menjadi istri seorang buta dan tidak bakal menjadi raja.” (hal.115)

Ini menjadikan Gandari berada di belakang banyak tindakan culas Sangkuni, kakaknya dan para Kurawa. Bahkan masih saja berpolah meski kekalahan sudah beradadi ujung pedang, Pandhawa siap menebas keangkuhan Kurawa.

Sikap kenegarawan seorang politikus tampak dalam menghadapi kekalahan. Terdapat istilah menang tanpa ngasorake (Jw: menang tanpa mengalahkan) atau yang bila dicari padaan terdekat ialah soal win-win solution. Tetapi tidak ada kekalahan yang merupakan kemenangan tertunda, yang ada hanyalah bagaimana menjadi negawarawan yang bijak menerima kekalahan.

Seno menyebut ada empat tokoh wayang yang memiliki cara sendiri-sendiri dalam menghadapi kekalahan. Keempat metafora ini dapat dijadikan acuan kita belajar. Sumantri: kekalahan yang direlakan. Kekalahan Sumantri justru diidamkan karena dengan demikian Sumantri memiliki kesempatan mengabdi kepada Arjuna Sasrabahu. Mungkin kekalahan Sumantri inilah yang disebut Mao Zedong sebagai mundur selangkah untuk maju beberapa langkah.

Yudhistira: kekalahan konyol. Kekalahan jenis Yudhistira ini tidak boleh ditiru. Kalah tanpa analisis kekuatan lawan dan harus menanggung malu karena kekalahan paling konyol dalam dunia pewayangan. Suyudana: kekalahan segalanya. Mungkin ini adalah kekalahan paling tidak heroik. Seorang ksatria yang kalah justru tidak saat berperang. Menafikan ideologi, melepas jubah ksatria, bahkan mengkhianati kewajiban. Dan kekalahn terutuk ialah Aswatama: kekalahan tidak terima. Aswamata saat melihat Durna bapaknya mati dan kekalahan pihak Kurawa, bukannya mundur, justru menyusun siasat terlicik. Malam petang, diam-diam Asmawatam masuk ke tenda Pandhawa dan membunuh satu demi satu mereka.

Tahun ini, gairah politik kembali menggeliat. Pilkada serentak 2017 menjadi momen politik yang harusnya mendewasakan politik bangsa. Balon Gubernur DKI Jakarta telah membuat orang-orang yang tak paham politik sekali pun, ikut berkomentar. Politik memang mengatur segala sendi kehidupan. Meskipun demikian, jangan sampai politik merusak kemanusiaan. Politik adalah permainan yang tujuannya ialah kemenangan demi kemenangan. []

unnamed

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s