Cerpen

Setitik Hitam

GoGirl! Magz, 5 November 2016

Puti benar-benar membenci hari ini. Senin pagi yang meriah oleh kicau burung koleksi milik Papa di teras belakang rumah. Puti lebih ingin bergelung di bawah selimut, berharap mendung lekas jatuh dan banjir terpaksa membuat kepala sekolah mengumumkan libur. Tapi itu seperti fragmen mimpi semalam. Mama sudah berkali-kali mengetuk pintu dan barusan melepas selimut dan berkata, “Puti sudah hampir jam enam. Kamu harus cepat!”

Kalimat Mama hanya disahut dengan dehaman kecil dan meminta untuk diberi perpanjangan waktu lima sampai sepuluh menit. Puti sudah mandi dan berganti baju, tapi malas terlanjur membelanggu.

Semuanya bermula dua hari lalu, saat sebuah gunung kecil muncul di dua senti di bawah bibir merah Puti. Jerawat itu muncul tanpa pernah diduga. Dan Puti uring-uringngan betul. Puti ingin lekas enyah itu gunung kecil tanda pubertas. Tapi mau bagaimana lagi, kemunculan dan kehilangan jerawat tak bisa diprediksi.

Kemarin minggu siang, bahkan Puti sudah menolak ajakan Mama dan Papa untuk makan siang di warung Sunda langganan keluarga. Puti menolak dengan alasan mempersiapkan presentasi project biology untuk hari senin. Dan memang itu yang dikerjakan. Tetapi lebih dari itu, Puti ingin menghindar dari tatapan banyak orang akan gunung kecil di mukanya, serta memilih berdiam di rumah memberikan perawatan.

“Kalau tidak segera kempes, bisa-bisa besok aku presentasi diketawain sama temen-temen,” Puti berseru di dalam hati.

Minggu itu, Puti membalur wajah dengan krim wajah serta masker alami dari mentimun dan putih telur yang dia dapatkan dari tutorial Youtube mempan dan cepat mengempeskan jerawat. Lima belas menit. Dibasuh dengan air hangat suam-suam kuku. Belum puas, Puti masih mengoles dengan krim jerawat yang diam-diam Puti beli di swalayan 24 jam dekat komplek. Sekali lagi Puti memilih berdasarkan iklan dan omongan teman-teman.

Tetapi usaha Puti di hari minggu tak membuahkan hasil berarti. Di saat presentasi project biology sudah rampung dan dikemas bagus, Puti ingin tak masuk sekolah saja karena jerawat di dagunya tak enyah juga.

“Kenapa sekarang malahan menjadi hitam begini?” Puti ngedumel sambil berkaca. “Ish, bisa-bisa jadi omongan seharian di kelas.”

Puti melihat bahan-bahan presentasi dan tayangan slide di layar laptop yang sudah siap. Cukup lama Puti berdiam di depan cermin kaca, tapi setitik hitam yang menggusur gunung kecil dua senti di bawah bibirnya itu tak juga lenyap. Kesal. Ingin membelah cermin. Tapi pastilah itu hanya sia-sia.

Puti meraih pensil alis. Dengan gerakan kecil dia menebalkan sekaligus menyamarkan memar kecil itu menjadi setitik tahi lalat yang cukup tebal dan sedikit lebih besar dari ukuran tahi lalat normal.

“Tak apalah, daripada ketahuan bekas jerawat.”

Puti menutupi kembali dengan masker berbentuk mulut Spongebob kuning. Puti mengemasi buku dan laptop ke dalam tas. Melewati sarapan pagi bersama Mama dan Papa dengan alasan terburu-buru untuk presentasi di jam pertama.

“Bawa bekal ini. Makan di jalan,” Mama memasukkan kotak bekal berisi dua tangkup roti tawar dan beberapa potong buah segar.

“Kamu pilek?” tanya Mama.

Puti hanya mengangguk tanpa iya atau tidak dan terburu-buru keluar menuju bus sekolah jemputan.

***

Tiap kali ditanya teman-teman, Puti hanya mengangguk kalau dia sedang terserang virus influenza. Musim hujan tidak menentu, pancaroba tanpa bisa dihindarkan membuat virus itu mudah menyebar. Demi kawan-kawan agar tak terlutar, Puti memilih menutup mulut dan hidung.

Jam pertama masuk. Bu Hetty, guru biologi yang selalu melingkarkan syal di leher masuk dengan wajah lebih merah. Setelah membuka kelas dengan doa dan basa-basi soal tugas, Bu Hetty mulai dengan sapaan khas.

“Pagi….”

Dijawab dengan sahutan penuh semangat.

“Seperti janji minggu lalu, kita hari ini akan memulai presentasi proyek individu soal keanekaragaman hayati. Kalian sudah siap kan?”

“Siaaaap!” disahut bersama-sama.

“Dan Ibu akan meminta untuk yang pertama kali maju memaparkan temuannya ialah Puti.”

Mendengar namanya disebut, jantung Puti melaju dengan akselerasi tak terkira. Cepat dan menderu. Tangannya gegas meraup buku-buku bahan, print-out presentasi, serta laptop untuk dibawa ke meja depan. Sebelum berdiri, Bu Hetty mendadak keluar kelas. Puti semakin berdebar. Masker belum juga dilepas, karena dia belum begitu percaya diri dengan olok-olok dari teman sekelas.

“Oiya, Bu Hetty mau mengenalkan siswa pindahan dari Jogja. Silakan.”

Semua mata tertuju pada seorang siswa yang badannya tak begitu tinggi. Matanya digantungi kacamata tanpa bingkai dan kulitnya putih. Tapi makin dicermati, ada yang istimewa dari siswa baru itu. Wajahnya sederhana tapi menyimpan banyak hal istimewa. Dalam bisik-bisik yang semapt Puti dengar, Dia cool!

Puti semakin berdebar. Lajunya semakin kencang.

“Perkenalkan, nama saya Seto. Lengkapnya Glagah Seto. Saya pindah ke Jakarta karena ikut bapak pindah kerja juga,” siswa baru itu menutup sesi perkenalan.

“Seto, nanti perkenalan bisa dilanjut di luar kelas. Silakan duduk di bangku kosong itu. Karena kita akan mendengarkan presentasi dari Puti.”

Dengan debaran yang tak terkira apalagi sekarang tambah Seto, wajah baru yang bisa saja melonjak terbahak menyaksikan Puti ketika membuka masker. Puti mempersiapkan slide presentasi dan membuka beberapa bahan, bersiap kalau ada pertanyaan.

Hal yang paling mendebarkan tiba. Bukan soal presentasi. Tetapi soal masker yang akan segera Puti buka. Benar saat dibuka. Kelas riuh tawa. Puti minder dan sedikit grogi.

Puti lagi mikirin cowok. Puti salah bedak ya. Puti kebanyakan makan kacang. Puti over lemak. Puti nggak bersih cuci muka. Dan aneka prasangka yang sebenarnya bukan menghina sekadar memberi kelakar, tapi itu membuat hati Puti memar.

Mata Puti menatap mata Seto, murid baru yang tetap saja diam menyimak tanpa menggubris kegaduhan di kelas. Tak paham atau tak acuh beda tipis. Seto lebih khusyuk mendengarkan slide-slide Puti yang disajikan rapi dan teliti. Sampai selesai, Seto sama sekali tak mengetahui apa musabab Puti ditertawakan itu.

Usai kelas biologi, Seto mendekati Puti.

“Kapan-kapan aku ajari Biologi ya. Aku paling lemah soal pelajaran itu.”

Puti mengangguk.

“Presentasimu bagus sekali. Dan aku bingung kenapa kamu ditertawakan di depan tadi,” Seto mulai banyak bicara.

Puti hanya diam, seolah mengatakan hal itu wajar atau tak perlulah dijadikan persoalan.

“Oiya satu lagi. Puti kamu manis sekali. Apalagi setitik hitam di bawah dagumu itu. Cantikmu berkali-kali lipat.”

Wajah Puti memerah. Ada yang berkepak-kepak di dadanya. Ada yang menggeliat di perutnya. Puti melambung. Kalimat Seto penuh ketulusan tanpa kamuflase palsu. “Ternyata ada gunanya juga pura-pura punya tahi lalat ini. Thanks jerawat!” Puti keluar kelas menuju kantin sambil tersenyum riang. Bahagia itu seperti jerawat yang tak bisa Puti terka kapan tibanya.[]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s