Cerpen

Pohon Pisang di Meja Makan

pohon-pisang

“Cuma sebatang,” kalimat Yemima selembut ulenan roti. Dia ingin agar permintaannya kali ini kukabulkan, mengharap rengekan gegas bersalin iya.

Aku menggaruk-garuk kepala, keheranan. Mengapa harus meja makan? Meja makan adalah perkara sederhana namun penting dalam rumah tangga. Bukankah meja makan yang akan meleburkan aneka prasangka, meredam amarah, menguyah gundah, dan menggusir petaka dalam rumah tangga? Segala mudah terjadi di meja makan, semudah persoalan selesai di hadapan kudapan. Apa jadinya bila sebatang pohon pisang tumbuh di tengah prosesi kami makan, yang berpotensi menganggu?

Hanya sebatang, Yemima selalu menekankan demikian. H-a-n-y-a s-e-b-a-t-a-n-g! Dia tentu sudah mengira-kira sebatang pohon pisang takkan menyempitkan meja makan. Namun sangat mungkin dari sebatang pisang itu akan berpinak menjadi sekelompok pokok pisang yang lebat bak hutan. Terlebih musim hujan mulai menampakkan kelebatnya dan batang pisang jenis pohon subur untuk dibiakkan.

Aku berdeham. Ya dan tidak bergelantungan di anak tekak. Yemima masih saja menatap lekat mataku. Matanya berbinar bak kilatan kaca, seolah ingin menyerang dengan jurus lain bila kali ini nihil.

Tak ingatkah Yemima akan kegagalannya menghias meja makan dengan cangkokan mangga manalagi di tahun pertama pernikahan dulu? Sebagai pengantin anyar, semua permintaan Yemima seperti permintaan dewi kahyangan yang pantang dinafikan. Semangat menggebu-gebu Yemima kala itu berujung dengan kemarahanku bertumpu pada tangisan Yemima penuh sesal.

Pohon-pohon mangga manalagi memang tumbuh subur di meja makan kami terlebih Yemima merawat dengan penuh khidmat. Rerimbunan hijau membuat makan-makan kami lebih menggairahkan. Tapi saat buah-buah manalagi mulai membesar, Yemima dikejutkan dengan serangan monyet tua yang mahir mencuri meski sudah tampak rapuh oleh tua.

Monyet tua itu terus mencuri dan menggerogoti sebentuk kebahagiaan kami. Monyet itu merusak pohon-pohon mangga milik Yemima. Pecahlah duka itu.

Sepandai-pandainya kami menjaga buah-buah manalagi, tak lebih pandai dari monyet tua yang seolah ditakdirkan untuk mencuri dan mencuri itu. Tak ada buah manalagi yang bisa kami panen. Kami hanya menelan kemelut amarah. Aku yang tersulut emosi meraih kapak dan menebang semua pohon mangga manalagi.

Apakah Yemima sudah lupa semua itu? Kuyakin meski tua, monyet itu tak juga bertemu kematian.

“Mengapa pisang? Akan lebih baik kita tumbuhi meja makan kita dengan sedompol mawar atau serumpun anyelir. Agar makan-makan kita jadi lebih elok dipandang.”

“Pisang lebih menyehatkan,” Yemima memberi alasan pungkasan.

“Kita masih cukup kaya untuk membeli buah-buahan,” aku mencoba menolak. Yemima, seperti  halnya perempuan pada umumnya, perlu ditarik-ulur demi menguji keteguhan. Laiknya layang-layang, sekali diregangkan sekali dikencangkan agar terbangnya mengangkasa.

“Kalau buah supermarket, kita tidak bisa memastikan higienisnya.”

Yemima terus saja memberi alasan. Mulai dari bagaimana pohon pisang yang ditanam di meja makan akan meneduhkan, mengusir panas yang diam-diam masuk ke dalam rumah. Karena pohon pisang mudah ditumbuhkan, rimbun akan gegas menyegarkan. Yemima sekali lagi mengatakan bahwa buah dari pohon pisang dari meja makan sendiri, seperti segayung air yang menyiram kotoran. Adem dan menyejukkan.

Satu lagi alasan Yemima yang membuat jakunku naik turun. Buah pisang akan sangat bagus untuk peningkatan kualitas sperma. Dan Yemima ingin dengan buah pisang yang ditanam sendiri, keluarga kami akan riuh oleh suara bayi.

Demi membahagiakannya, kuanggukkan kepala. Sekonyong-konyong Yemima memeluk, seolah aku baru saja membelikannya sekotak perhiasan lengkap. Yemima tak henti mengucapkan terima kasih dan gegas ke belakang rumah untuk memilih beberapa tunas pisang pilihan. Aku hanya mengawasi dari balik kacamata sambil mendengarkan gumam-gumam lagu dari mulut Yemima yang begitu gembira.

Yemima mulai menyiangi meja makan. Beberapa gulma dicabut agar tak menganggu pertumbuhan tunas pisangnya. Yemima tak lupa menebar pupuk kandang kering sebelum meja makan siap dijadikan ladang pisang. Setelah meja makan dinilai cukup gembur, Yemima menyiraminya. Pengairan yang langsung dari sumur. Yemima bermetamorfosis menjadi wanita yang begitu ahli dalam cocok tanam perpisangan. Keringat mengilat di wajah Yemima, sedangkan tanah-tanah kering enggan lepas dari tubuh sintalnya.

Aku sendiri kagum dan mulai tidak mengenali Yemima. Seolah alter diri dari Yemima muncul di hadapanku. Mengenakan topi bambu lebar, bersarung tangan, dan pakaian lengan panjang. Senyumnya terus mengembang. Mungkin begitulah Yemima yang totalitas dan menunjukkan dirinya sedang dirundung badai kegembiraan.

“Yemima hanya masak ini,” semangkuk sop cakar ayam dengan isi wortel kentang diletakkan di meja. Yemima masih dengan pakaian ladang. Aku pun harus berbagi meja dengan perkakas tani –cangkul, sabit, pacul, dan beberapa polibag anakan pisang.

Meskipun sedikit terganggu, aku hanya mengangguk. Mungkin kalau Yemima sudah puas dengan eksperimen menanam pohon pisang, dia akan semakin bahagia melebihi kegembiraan semula.

***

Usai masa cocok tanam berakhir dengan disusul hujan cukup lebat. Tunas-tunas pisang mulai tampak menghijau rimbun. Beberapa sulur memanjang. Bagian-bagian layu berganti hijau kehidupan. Saban hujan menyiram ladang pisang di meja makan, Yemima mengamati sambil berbisik-bisik. Seolah Yemima sedang menimang-nimang bayi-bayi pisang, mendoakan agar lekas besar, dan berbuah besar.

“Tenang saja, Yemima. Tunas-tunas pisangmu akan tumbuh,” kataku mencoba masuk dalam khayal Yemima. Tapi diam berkawan debam hujan. Merasa tak dibutuhkan dalam percakapan antara Yemima dan bakal pokok pisang, aku menghindar. Mencari meja dan kursi, menikmati hujan dengan secangkir kopi dan mencoba membuka lembar-lembar buku meski pikiranku sedang disandera oleh Yemima.

***

“Lihat!” Yemima memaksaku bangun dari kasur. Padahal kantuk belum usai kuusir. Tanganku ditariknnya keluar. Meski masih ingin berlama-lama di dalam selimut, aku turut kemana Yemima menyeretku. “Mereka sudah tumbuh besar,” Yemima bersorak menang.

Usai mata kukucek, kusaksikan meja makan dipenuhi daun-daun pisang muda. Hijaunya menyegarkan mata. Senyumku mengembang seketika. Benar-benar indah.

“Ternyata, bagus juga kalau meja makan ditanami pohon pisang,” seruku.

“Tidak menyesalkan?” kalimat Yemima bernada kemenangan. Memang usulnya yang begitu ngotot kini berbuah manis.

“Sekarang tidak,” aku mencubit bahunya.

“Apalagi kalau sudah berbuah, meja makan bukan hanya dipenuhi hijau, tapi kuning emas buah-buah pisang.”

Duh, sudah tidak sabar menunggu buahnya bermunculan,” sekarang giliranku merengek seperti anak-anak kecil.

Pagi itu aku dan Yemima melahap sarapan dengan ketakziman. Mata kami sering beradu saling mengagumi. Meja makan makan menjadikan menu sarapan yang sudah biasa kami nikmati menjadi begitu spesial pagi ini. Meskipun di awal-awal aku terganggu akan kehadiran pokok-pokok muda pisang di meja makan, sekarang aku mulai merasakan kegembiraan berbeda. Warna hijau dari pohon adalah warna harapan yang tak kunjung pupus. Mata lelah mendadak sirna melihatnya.

Sejak itu aku ikhlas, bila Yemima begitu fokus terhadap pohon-pohon pisangnya. Mungkin Yemima butuh hobi sejenis itu agar waktu-waktu luangnya tidak habis melamun atau ikut rombongan ibu-ibu tetangga dengan mulut runcing.

Selama sebulan, Yemima begitu telaten merawat pohon pisang muda. Yemima menjaga agar air tidak sampai terlambat dan asat. Yemima tidak lupa memberi pupuk agar pertumbuhan pohon pisang maksimal.

“Aku butuh pestisida,” gerutu Yemima usai makan malam.

“Parasit atau serangga?” aku bertanya sambil kuawasi wajah Yemima murung seolah hidupnya penuh kesialan.

“Ujung-ujung daun muda tiba-tiba merah dan mendadak ranggas. Bakal buah pisang pun cepat sekali rontok. Entahlah virus atau jamur itu,” Yemima butuh jawaban penting.

“Sebaiknya tanyakan ke ahli tanaman pisang dan beli beberapa anti virus untuk menghalau,” aku menenangkan.

Yemima menyegap. Mungkin pikirannya sedang dipenuhi berbagai rencana untuk menjaga kehidupan pokok-pokok pisangnya.

Tak lebih dari seminggu Yemima kembali ceria. Pohon pisang terbebas dari virus ranggas. Kini aku dan Yemima sedang menunggu-nunggu bakal buah pisang yang tampak menggiurkan.

***

Suatu petang, aku mendapati rumah kosong. Lampu dalam rumah belum dinyalakan. Petang mendominasi. Sinar-sinar oranye senja yang lolos di ventilasi rumah memberi cercah terang. Yemima tidak ada di rumah. Aku cari-cari tetap tidak ada. Suaraku hampir serak memanggil-manggil nama Yemima. Kala itu pohon-pohon pisang di meja makan sudah besar dan rapat. Hampir-hampir tidak ada cahaya yang cukup kuat menerobos sela-selanya. Aku hendak masuk ke dalam mencari Yemima, karena yakin di dalam kebun pisanglah Yemima berada.

“Yemima!” sekali lagi kuteriakkan namanya di ujung kebun pisang.

Tak berapa lama, suara daun-daun pisang dibelah tubuh manusia. Ya, itu Yemima.

“Mas, monyet tua itu mengendap-endap mencuri pisang-pisang kita.”

“Apa?”

“Sekarang bukan hanya satu. Ada serombongan monyet di kebun pisang kita.”

Nada kalimat Yemima begitu ketakutan. Aku diamkan saja. Aku lebih tidak ingin istriku terjebak dalam labirin obsesi, kemudian melenakan dunia saat kepalanya dipenuhi badai serotonin yang menggembirakan. Efek buruknya, bila kebetulan ada kedukaan barang sedikit saja, dia akan menjadi manusia paling murung, paling sedih, dan paling nestapa di dunia.

Monyet tua itu lagi? Setiap Yemima menanam pohon dan mulai berbuah, monyet tua itu selalu mencoba mencuri buah-buahnya. Apakah dia tidak punya pekerjaan lain selain mencuri kebahagian kecil kami di meja makan?

“Mau kemana?” tanya Yemima sambil bersimbah air mata.

“Biar kupangkas saja pohon-pohon pisang itu!” pitamku mencapai ubun-ubun.

“Mas,” Yemima memelas.

Dadaku berdegup kencang. Namun rasa-rasanya aku tak setega dulu lagi. Diam-diam aku berdoa untuk menjadi pohon, agar bisa kubalas langsung itu monyet tua. Bagaimana pun juga, monyet selalu hobi mencuri. Sedangkan pohon pisang ini hanyalh bentuk lain dari undangan. Undangan untuk monyet tua semakin giat mencuri kebahagiaan kita. Dan undangan bagiku agar terus membuat Yemima aman dan keluargaku tak terganggu.[]

catatan: cerpen yang tayang di majalah esquire ternyata dipotong oleh editor. mungkin karena terlalu panjang atau bagaimana. dan sayangnya, pemotongan itu berarti sekali. terbukti seorang kawan yang kebetulan kupaksa mau untuk membaca cerpen ini di majalah, berkomentar bahwa endingnya kok jadi nggak jelas. betul. karena ending cerpen di majalah belum benar-benar pungkasan. dan di blog ini saya sampaikan cerpen yang lebih komplet. selamat membaca dan semoga bisa menghibur masa luang teman-teman.

Advertisements

4 thoughts on “Pohon Pisang di Meja Makan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s