Cerpen · Jurnal

Belajarlah Pada Syair Dangdut

 

circle-made-of-music-instruments_23-2147509304

Saya tidak pernah malu mengakui bahwa saya adalah anak yang dibesarkan dengan lagu-lagu dangdut. Seingat saya, semasa TK saya adalah orang yang paling mahir memainkan sampur dengan jejogedan dengan alunan lagu Goyang Karawang dari Lilis Karlina. Semasa SD selain acara Aroma dari Bu Sisca Soewitomo, film vampir China setiap pulang sekolah, acara dangdut adalah kegemaran saya. Ada In Dangdut yang sejenis top-chart lagu-lagu dangdut masa itu dan Kuis Dangdut yang sangat familiar bahkan di tengah keluarga saya. Malu? Ah tidak. Mungkin lagu pop pertama yang kudengar ialah berkat acara Akademi Fantasi Indosiar dan Indonesian Idol di televisi. Saya benar-benar tumbuh berkat alunan musik dangdut di teve juga di radio.

Setelah sekarang saya semakin gede, semakinlah saya yakin lirik dangdut adalah lirik yang paling sastrawi saat ini. Coba kita tengok dari lirik lagu Rita Sugiarto ini:

Hitam, kulitnya hitam
Tetapi putih isinya, itulah manggis namanya
Hitam, orangnya hitam
Tetapi manis senyumnya, itulah pilihan saya
Entah mengapa sebabnya
Warna hitam aku suka
Hingga benda yang kupunya
Banyak yang hitam warnanya

Kalau diperhatikan dari permainan rima, ketukan, atau bahkan pengulangan kata hitam yang aduhai dalam lirik ini, kita akan ingat dengan mudah lirik puisi Sutardji. Bukan maksud merendahkan kasta puisi Sutardji, tetapi hanya ini hanya ingin membuktikan kalau lirik-lirik dangdut bukan lirik-lirik yang ditemukan sekenanya di perjumpaan. Sangat mungkin para pencipta lagu dangdut juga melakukan permenungan atas lirik-lirik sebagaimana penulis dan penyair mengendapkan hingga menemukan kristal mutiara di kalimatnya.

Saya contohkan beberapa lirik lagi yang menurutku sangat indah dan puitis. Bahkan kalau itu tidak disenandungkan, tidak didangdutkan, melainkan ditulis dan dikirim ke redaksi puisi koran, sepertinya akan memikat. Ini lirik lagu Meggy Z yang indah sekali…

Untuk apa kau berikan aku benang yang kusut
Untuk apa kau hidangkan aku cinta yang kalut
Aku masih belum mau mati karena cintamu
Lalu menderita
Walaupun tali cinta masih mengikat-ikat leherku
Laksana menabur uang tapi hati ini sakit sendiri
Laksana ketiban bulan tapi bumi ini hancur sendiri

satu lagi, yang berima dan adem mendengarnya…

dinding kaca bukannya batu janganlah salah menaruh besi
jatuh cinta jangan terlalu bila berpisah hancurlah hati
cinta yang datang jangan dihadang, cinta yang hilang jangan dikenang
cinta hakiki takkan terbagi, cinta sejati takkan terganti

Lirik-lirik dangdut lainnya, kalau diteliti pun tidak kalah puitis dan sastrawi. Akan butuh sederet postingan agar menderetnya. Tetapi percayalah kepada saya, bahwa lirik lagu-lagu dangdut tak sepicisan, tak semurahan, tak sereceh anggapan anak-anak muda sekarang. Saya sepertinya berani bertaruh kata-kata dan metafora penulis sekarang, masih jauh dengan kayanya metafora syair dangdut.

Urusan judul juga demikian. Saya menderet beberapa judul lagu dangdut yang sepertinya menarik untuk dijadikan materi judul cerita pendek. Misalkan,

  1. angin tak dapat membaca
  2. air mata bawang
  3. bulan berkaca
  4. emas menjadi tembaga
  5. bagai ranting kering
  6. bibir bermadu
  7. menari di atas luka
  8. pelaminan kelabu
  9. bulan di ranting cemara
  10. mentari jingga
  11. dst

Jadi ingat judul-judul novel Mira W, kan? Indah dan nyeees gitu pas baca. Jadi sesekali tengoklah lagu-lagu dangdut. Mungkin tak perlu dinikmati lagunya, karena lagu dangdut kan musik rakyat jelata macam saya. Cermati saja lirik-lirik lagunya…..

Lantas mengapa lagu dangdut tidak disebut sebagai kalimat sastra? Mungkin sastra menara gading yang tak boleh sembarang dimasuki. Atau mungkin justru pencipta lagu dangdut adalah orang yang tak sekali pun memedulikan ini sastra, ini bukan sastra, ini kategori apa, ini kategori anu-ono-inu. Melainkan bekerja dengan kesungguhan dan kemantapan. Yang ekskresinya ialah lairk-larik kata yang indah, puitis, dan menyentuh dasar nurani. Jadi masih kita mau mengotak-ngotakkan sastra non sastra?
Pertanyaan ini akan terus menjadi perdebatan kalau kacamata kita tak kita lepaskan. Sangat mungkin orang yang tak sekali pun menisbatkan diri sebagai sastrawan, seperti pencipta lagu dangdut ini, karyanya jauh lebih sastrawi ketimbang sastrawan-sastrawan kita. Jadi saya percaya dan merasa pantas kalau Bob Dylan menang nobel. Mari dangdutan![]

Advertisements

2 thoughts on “Belajarlah Pada Syair Dangdut

  1. Hahaha. Tulisannya kereeen. Sudut pandangnya unik juga. Tapi mungkin itu lagu-lagu dangdut jaman dulu ya. Setahu saya lagu-lagu dangdut jadul itu memang puitis. “Jatuh-bangun aku mengejarmu….” Tapi gimana dengan lagu dangdut jaman sekarang, Om? Masih suka ngikutin gak perkembangan lagu dangdut yang mutakhir? Kira-kira masih nyastra apa enggak ya. Tapi kalo denger lagu “Sik asik … sik asik … kenal dirimu” badan ini mau goyang saja rasanya. Hahaha.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s