Resensi

Hidup Melesat Lewat Silat

(Lampung Post, 21 Oktober 2016)

Bagi pesilat senior dan tak berlebihan bila disebut pendekar yang sudah malang melintang, silat bagi Whani Darmawan bukan sekadar olah tubuh menjatuhkan lawan demi pertahanan diri. Silat memiliki hakikat lebih dalam bagi Whani. Dalam bahasa Whani, silat untuk hidup dan hidup untuk silat. Silat telah menjadi kawah candradimuka untuk olah fisik, jiwa, dan pikiran demi keseimbangan hidup.

Dalam buku ini, Whani memberi prespektif baru perihal silat. Silat yang tak selamanya hanya permainan jurus, tapi juga menghadirkan permenungan yang itu, sesuai dengan judulnya, akan berlipat-lipat manfaat dalam hidup sehari-hari.

Whani memulai buku ini dengan pertanyaan dasar bagi mereka yang baru saja berniat masuk dalam dunia persilatan. Apakah ingin berlatih silat atau sekadar berkelahi? Bagi awam, silat tak jauh beda dengan berkelahi, karena memang dalam praktiknya silat selalu berhubungan dengan kontak fisik antar pesilat.

Silat adalah tuntunan awal manusia mengatasi hidupnya dalam paradigma ragawi. Prosesnya melibatkan pelatihan tubuh (body), pikiran (mind), dan jiwa (soul). (hal.3) Maka seorang pesilat harusnya –telah dibuktikan oleh Whani Darmawan sendiri—memiliki kebijaksanaan dan kedalaman pemikiran, selain kekuatan fisik tak diragukan.

Damo Taishi, salah seorang pengembang ilmu shaolin. Taishi ternyata tidak fokus pada pengembangan ketangkasan tangan dan kaki pesilat. Taishi justru fokus pada pengembangan kebatinan. Aspek fisik dan batin yang tak boleh dipisahkan. Jika silat dimaknai sebagai penyempurna aspek kehidupan, maka keduanya tidak bisa dipisahkan.

Menurut Whani Darmawan, tidak pantas menyebut diri sebagai pesilat jika kehidupan sehari-harinya berantakan. Keluarga carut-marut, tidak terpenuhi kebutuhan dasar, dsb. Seorang pesilat tidak selamanya akan menyerang. Fase ini disebut Whani sebagai fase diam.

Diam dan jeda sangat penting untuk mengukur pergerakan seorang pesilat itu sendiri. Jika silat jsutru menjauhkan diri dari kewajiban keluarga, kewajiban ekonomi, kewajiban sosial, jangan-jangan bukan silat yang dipelajari, melainkan cara berkelahi. (hal.39)

Silat bukan untuk melumpuhkan lawan atau bahkan melukai lawan. Salah satu gerakan silat dinamakan egos, yang berarti gerakan berkelit dengan cara memiringkan tubuh, memutar kaki 1800 yang diikuti gerakan bahu dan pinggang. Dalam arti harfiah egos bisa dimaknai sebagai menghindar. Egos dan gerakan menghindar lainnya menjadi titik penting bahwa pesilat menang tanpa harus merendahkan lawan, menang tanpa ngasorake. Lawan kita tak selamanya akan menjadi lawan.

Dalam salah satu esainya, Whani menyebutkan merendah ke tanah membumbung ke langit. Dua kondisi ini keniscayaan dalam adegan persilatan. Bahwa sesekali tubuh kita akan terjatuh atau menghindar ke atas. Gerakan ebrguling, jatuh hingga terjun bagi pemula adalah bagian yang paling mengancam.

Hal yang menjadi gangguan bukan soal gravitasi, melainkan pemahaman akan gerak itu sendiri. (hal.121) Bahwa gerakan menjatuhkan diri pada dasarnya bukanlah gerakan mengalah, melainkan pasrah karena tubuh secara alamiah melakukan gerakan menolak gravitasi. Dan bukankah hidup mendidik kita demikian?

Bila kondisi memaksa kita terjatuh, maka otomatis kita akan mencari jalan keluar dan kemudian bangkit kembali. Berserah, pasrah, dan iklas yang diikuti dengan terus bergerak. Pesilat tak boleh berhenti bergerak, karena bergerak adalah cerminan usaha sendiri.

Esai-esai singkat di buku ini seperti ujaran langsung seorang suhu silat –dalam hal ini Whani Darmawan, yang arif dan bijaksana. Sebagaimana halnya nasihat, maka seorang guru juga tak boleh terlalu berada di atas sehingga suhu menjadi menara gading yang ditakuti.

Whani diam-diam mengkritik bagaimana seorang yang sudah mahir dalam silat tapi justri kering akan jiwa silat itu sendiri. Ujian kenaikan sabuk pertanda semakin mahir dan semakin jagoan seseorang dalam persilatan. Tetapi Whani menandai bahwa kenaikan tingkat justru menjadi momok bagi pesilat.

Seorang yang sudah di atas akan kesusahan untuk melatih kemampuan bersilat kembali. Berlatih silat, sebagaimana menjalani hidup, sesungguhnya penuh liku kreativitas agar tidak terjebak rasa bosan (hal.138) Pemilik sabuk hitam akan mengalami dilema yang justru akan melemahkan daya juang dan kemampuan silat mereka. Whani menegaskan bahwa silat membutuhkan pembiasaan yang terus-menerus.

Silat adalah wahana untuk mengejar titik harmoni. Keseimbangan natara fisik, jiwa, dan pikiran. Antara menyerang dan bertahan. Dan harmoni itu harus terus berjalan, diaplikasikan saban hari agar tidak mandek. Bila air yang berhenti dalam kubangan bukan hanya kotor, tetapi juga menghadirkan bibit penyakit lain. Harmoni dari silat ini juga harus terus diaplikasikan.

Whani optimis bahwa silat menjadi salah satu medium untuk pengembangan karakter bangsa. Tentu syarat dan ketentuan berlaku. Ketika silat hanya dimaknai sebagai belaragam maka tak jauh dari teknik dan praktik. (hal.131) Maka buku ini menghadirkan kembali makna falsafah silat ke dalam pergaulan dan ditransformasikan ke dalam sistem pengajaran sehari-hari. Dan bila sudah demikian, terwujudlah apa yang diyakini Whani Darmawan sebagai silat untuk hidup, hidup untuk silat. []

JURUS HIDUP MEMENANGI PERTARUNGAN | Whani Darmawan | Bentang Pustaka | Pertama, Mei 2016 | xxviii+296 halaman | 9786022912026

Bila menghendaki buku tersebut silakan ke toko buku terdekat atau kunjungi Mizan Store.

lampung-post

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s