Cerpen

Rangkuti & Kambingnya

rangkuti-kambingnya

Tiap kali kambingnya mengembik Rangkuti tersenyum bahkan sesekali tertawa mengikik. Bukan karena suara embik kambing yang mengundang tawa, tetapi Rangkuti membayangkan lembar-lembar uang yang akan segera didapatkannya. Musim lebaran haji, musim kurban dan kambing jantan Rangkuti sudah cukup umur. Yang lebih membuat Rangkuti bahagia ialah ukuran kambingnya yang tak biasa: besar, gemuk, penuh lemak, dan ndemenakno -sudah bahagia saat menyaksikannya.

Pak Totok, sekdes yang salih dan pemurah itu, sudah menawar kambing Rangkuti beberapa hari lalu. Bahkan sudah memberinya uang tiga ratus ribu sebagai panjer dan uang lelah Rangkuti untuk merawat sampai masa potong kambing itu datang. Pak Totok yang tahun ini akan berkurban empat kambing untuk diri dan keluarganya memang lebih memilih kambing-kambing yang dirawat dan dibesarkan di Soronini. Salah satunya adalah kambing milik Rangkuti itu. Kata Pak Totok, orang Soronini tidak berhobi menipu pembeli kambing dengan memompa perut kambing atau menyulapnya sedemikian rupa sehingga tampak lebih besar daripada ukuran aslinya. Rangkuti hanya manggut-manggut dan diam-diam dalam hati membenarkan, tidak mungkin Rangkuti mendustainya. Pak Totok sendiri tahu tiap pagi dan sore Rangkuti membawa dedaunan dari pinggir hutan atau sesekali rumput dan sendetan untuk pakan kambing. Dan tidak ada setitik rahasia di desa sekecil Soronini. Baik dan buruk mudah menyebar bersama gesekan angin.

Kambing jantan terbesar Rangkuti dihargai tiga juta. Lebih mahal dibandingkan harga yang pernah tengkulak tawarkan.

“Memang kamu membawa rejeki nomplok,” Rangkuti sering mengajak kambing itu berbicara saking gembiranya. Dielus-elus dan diberi makan lebih dibanding kambing-kambing betina dan cempe lainnya. “Rejeki memang datang dari jalan yang tak disangka-sangka,” Rangkuti hendak bangun. Tapi kemudian menambahi hipotesanya sendiri, “kadang! Semua ada sangkan paran.

Rangkuti meraih caping anyaman bambu cukup lebar, sabit kecil, dan tali kenur. Rangkuti ingin melepas kambing-kambing itu ke tanah lapang persilan, perbatasan desa dan hutan. Kambing-kambing itu akan mencari rumput paling disukainya, sementara Rangkuti akan mencari daun dan rumput untuk pakan malam nanti. Kambing memang punya perut kecil tapi mereka selalu makan lebih sering.

Kambing-kambing Rangkuti yang jumlahnya ada lima ekor diikat menjadi satu dengan tali tampar yang cukup panjang. Sehingga mereka tidak akan lari ke sana- kemari saat dalam perjalanan dari rumah ke persilan. Juga untuk memudahkan Rangkuti menggiring mereka.

Rangkuti mulai melepas satu demi satu kambingnya. Saat ikatan terakhir, Maerah istrinya memunculkan kepala di pintu kandang.

“Botol minummu jangan lupa.”

“Ah, hampir saja aku klongor di persilan.”

Maerah kembali ke dalam dan beberapa jenak kemudian membawa botol bekas air mineral ukuran satu setengah liter dengan air bening. Maerah membungkusnya dalam kresek putih dan kemudiaan diserahkan kepada Rangkuti.

“Kalau sempat, mampir ke tegalan Pakde Ludiro, dia sedang ada ulurjagung. Kalau sudah selesai nyari rumput, bantu-bantu sana.”

Rangkuti hanya berdeham. Dan dehamannya selalu misterius, apakah bermakna iya atau tidak. Maerah akan tahu bila petang sudah datang.

Rangkuti menggiring kambing-kambingnya dan Maerah menyaksikannya menghilang di tingkungan pematang. Matanya berkedip-kedip memancarkan sinar. Maerah juga bahagia dan rejeki yang dibawa kambing itu.

***

Sementara kambing-kambing itu ditali, Rangkuti mencari daun-daun lamtoro dan daun nangka muda. Setelah lebih dari cukup, Rangkuti mengikat dedaunan itu dengan kenur. Kemudian membawanya ke dekat gubug kecil tempat dia biasa mengaso saat menggembalakan kambing.

Rangkuti kembali tersenyum saat kambing paling jantan itu mengembik dan beringas menggayang rumput.

“Makan yang banyak biar gemuk,” gumamnya.

Sinar kemarau membuat Rangkuti sedikit silau. Celah-celah atap meloloskan sinar mengharuskannya sesekali menutup mata, menghalau sinar yang kadang melukai pandangannya. Rangkuti mendengar suara para pekerja yang riuh melempar guyonan di tegalan.

Rangkuti diam-diam membatalkan keinginannya untuk membantu Pakde Ludiro. Dia sudah terlalu sering membantu pekerjaan sawah maupun ladang Pakde Ludiro.Siang ini mendadak rasa ogah-ogahan menguasai hasrat Rangkuti. Sesekali orang butuh juga masa istirahat, membuat tubuh raja atas tubuhnya, demikian alasan Rangkuti.Tak baik selalu memberi bantuan tenaga gratis, nanti tuman.

“Rangkuti, kambingmu besar-besar ya!” teriak Mulatin.

Rangkuti clingak-clinguk mencari sumber suara. Ternyata Mulatin sedang duduk di galengan yang berbatasan dengan tanah lapang tempat Rangkuti menggembalakan kambing.

“Iya! Rejeki!” sambar Rangkuti.

“Mau dibelikan apa tuh?” Mulatin menyusul dengan pertanyaan baru.

“Sebagian mau dibelikan parabola,” Rangkuti menjawab tanpa ragu-ragu. Karena memang benda itu yang diidam-idamkan Maerah dan kedua anaknya. Sedikit mewah untuk ukuran desa, tapi sesekali menghidur diri saat menerima rejeki, menurut Rangkuti tak ada salahnya.

“Bakalan betah di rumah nih,” kalimat Mulatin itu jelas sebuah sindiran halus untuk Rangkuti. Karena Mulatin tahu apa yang tampak dan disembunyikan Rangkuti selama ini.

“Ya, orang rumah sudah tahu berapa Pak Yoyok membeli kambing ini. Mau apa lagi?”

“Masak suami tidak pandai menyelipkan uang,” kemudian Mulatin tertawa keras sekali.

Rangkuti mengangguk sekali lagi. Benar bahwa dia selalu dapat menyelipkan dua lembar uang ratusan dan kemudian dibawanya ke kedai kopi sambil mengisi kertas togel. Rangkuti memang tak bisa mengurangi hobi yang satu itu. Hobi main togel yang sudah sejak muda digemari. Meski Maerah marah, Rangkuti selalu bisa membuat semua aman terkendali.

“Coba, kalau menurutmu, aku harus bagaimana?” tanya Rangkuti. Kakinya kini disilakan. Rangkuti mencari posisi duduk paling nyaman baginya.

“Maerah tentu belum tahu harga parabola berapa. Kamu bisa bilang sekian dan ternyata jauh lebih murah. Selisihnya bisa kamu simpan,” Mulatin menyeringai. Dia telah berhasil memantik api di tengah ranggas daun jati. Sebentar lagi Rangkuti akan terbakar dan diam-diam merencakan ssuatu tindakan.

Rangkuti manggut-manggut tanda mengerti maksud Mulatin.

“Ya sudah, Rangkuti, aku mau lanjut kerja,” Mulatin memotong percakapan.

“Kamu ngerjain apa?”

“Panen singkong. Mumpung belum kemarau panjang. Mumpung masih bisa ditarik pakai tangan. Nanti pulang bawalah beberapa. Maerah kan pandai bikin klenyem.”

“Nanti kubantu sebentar,” Rangkuti menawari basai-basi.

“Tidak usah, urus saja kambing tiga jutamu itu.”

Rangkuti kini tertawa keras sekali.

Kambing jantan berada paling depan. Terus saja memamah rumput yang diraih. Rangkuti sekali lagi membayangkan tubuh kambing itu menjadi berlembar-lembar rupiah. Merasa kambing-kambing itu aman dan nyaman di persilan, Rangkuti meluruskan punggung di gubug kecil kebanggaannya. Mendesah dan meraih caping anyaman bambu untuk menutupi wajah menghalau terik sinar matahari yang lolos.

“Benar kata Mulatin. Semua bisa diatur kalau aku sendiri yang ke pasar dan membeli parabola. Maerah tak pernah tahu harga pasaran parabola berapa. Yang penting uang tiga juta tidak habis dan parabola kualitas baik terpasang di rumah, hingga Maerah dan anak-anak bisa menonton televisi tanpa gangguan semut di layar kaca,” Rangkuti berbicara pada dirinya sendiri.

“Seratus dua ratus cukuplah,” senyum Rangkuti tersembunyi di balik caping anyaman bambu. “Pak Totok! Pak Totok, terimakasih. Memang rejeki datang dari jalan yang tidak disangka-sangka.”

Rangkuti benar-benar bahagia atas simpulan rencananya. Selain uang tiga juta yang membuat Maerah terus mengulum senyum, Rangkuti juga akan kembali menemukan jalan melampiaskan hobi bermain togel.

Semilir angin kemarau mengayun-anyunkan kantuk di ujung pelupuk mata Rangkuti. Embik kambing yang sesekali memekik bersahutan dengan sayup-sayup percakapan para peladang membuat Rangkuti semakin terbuai. Seolah alam mendukung segala keinginan Rangkuti, termasuk bagaimana dia akan bisa berjumpa dengan kertas togel dan termasuk tidur siang di gubug persilan kali ini.

***

Mimpi manis Rangkuti terbangun serentak oleh suara horaaaak, suara pesawat yang lewat di atas persilan. Kemudian disambut dengan teriakan-teriakan Mulatin. Termasuk riuh embik kambing.

“Rangkuti, bangun! Rangkuti, bangun!” suara Mulatin mulai serak meneriaki.

Rangkuti menggosok-gosok mata.

“Kambingmu!”

Rangkuti seketika terbangun. Gubug kecil itu terguncang tidak siap menerima pergerakan Rangkuti yang sedemikian cepat.

“Kambingmu makan kulit singkong di ladangku!” Mulatin terbata-bata.

Rangkuti mencermati lima ekor kambingnya. Dan semakin tersentak, kambing jantan yang paling besar yang tadi masih bisa dihargai tiga juta tergeletak dan kakinya menyentak-nyentak. Kulit singkong di musim kemarau adalah racun bagi kambing.

“Duh Gusti!” Rangkuti teriak sambil menepok dahi.

Semua mimpi manis yang tadi dibayangkan diam-diam mulai kabur. Terbayang wajah sesal Pak Totok, wajah kesal Maerah, pun kertas-kertas togel yang melayang.

“Rejeki juga bisa lenyap dari jalan yang tak disangka-sangka,” Rangkuti berkata lirih sambil mengusap air di pipinya, entah itu keringat akibat sengat kemarau atau air yang meleleh dari kuncup mata tuanya.[]

Keterangan:
Cempe              :anak kambing
Sangkan paran  : sebab musabab
Persilan           : hutan yang jadi garapan sementara petani
Klongor               : kehausan
Ulur                      : tanam jagung
Tuman                 : menjadi kebiasaan
Clingak-clinguk: tengak-tengok
Klenyem              : kue basah dari singkong parut

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s