Resensi

Wangi Tembakau Lereng Sindoro

(Radar Surabaya, 2 Oktober 2016)

identitas-gendukMbako Srintil ini memang mengundang perhatian. Jangan terperdaya dengan rupanya yang tidak menawan. Hitam pekat, berair, menggumpal seperti tahi kebo. (hal.214) Penggambaran akan sebuah harta karun berupa tembakau srintil, jenis tembakau yang menyimpan nilai ekonomis tinggi di balik bentuk yang tak elok tersebut. Hal ini juga menjadi perlambang bahwa di daerah yang terpencil, pelosok, bahkan belum teraliri listri, Desa Ringinsari, Lereng Sindoro menyimpan kekayaan alam, budaya, serta kisah kemanusiaan yang patut diabadikan.

Genduk adalah simbol sekaligus saksi akan gejolak di Lereng Sindoro tersebut. Genduk menjadi anak yatim semenjak kecil, tak pernah mengetahui rupa ayahanda, dan semakin perih ternyata keluarga besar Yung, biyung ibunya pun tak merisaukan keadaan Genduk. Apakah Yung ditakdirkan seperti Maryam yang melahirkan anak suci? Sumbing dan Sindoro itu diciptakan Gusti Allah sebagai pasangan. Perlambang kalau di dunia ini semua berpasangan. Ada lelaki-perempuan, ada suami-istri. (hal.15)

Genduk hanya punya satu Yung, orang terkuat yang dinilainya sebagai matahari dan Genduk adalah planet kecil yang terus mengekor kepadanya. Yung hanya menyewa lahan untuk menanam tembakau, sumber uang mereka.

Kekurangan secara ekonomis telah membentuk pribadi Genduk menjadi tangguh. Dia tetap gigih belajar dan pandai mengarang di kelas. Dan diam-diam Genduk menyimpan ambisi untuk menemukan sejarah dimana ayahnya menghilang.

Pertanian tembakau di lereng Sindoro tersebut disajikan sebagai menu utama. Karena tembakau adalah jiwa bagi kehidupan di Lereng Sindoro. Pohon-pohon tembakau seperti magnit yang membuat semua orang didesaku tertuju kepadanya. Tembakau adalah harapan yang dipupuk dengan perjuangan keras. Tidak ada yang lebih penting daripada bergelut dengan tanaman tembakau. (hal.59)

Nyatanya petani tembakau tak bahagia seratus persen. Dalam novel ini kita akan menemukan banyak intrik-intrik perihal bagaimana pertanian tembakau tak membawa kesejukan di banyak petani.Tengkulak atau dalam bahasa daerah disebut sebagai kadukdengan julukan gaok, babi.

Pekerjaanya tidak jelas. Banyak warga desa yang resah dengan kelakuannya. Kaduk mengakali para petani tembakau sehingga mereka menjual dengan harga lebih murah. (hal.39)

Kondisi pedesaan yang terpencil dan belum punya akses pendidikan dan ekonomi tinggi, membuat posisi kaduk berada di atas angin. Kaduk lebih sering menipu petani tembakau. Kaduk yang mengetahui kondisi tembakau di lahan pertanian sering menawar dengan harga lebih rendah, persis seperti tengkulak. Atau dalam kesempatan lain, Kaduk menawar sangat tinggi dengan iming-iming menggiurkan. Namun kemudian lari entah kemana dengan membawa uang dari hasil penjualan.

Persoalan selanjutnya yang diam-diam merongrong harapan petani tembakau ialah soal naik-turun permintaan pabrik rokok. Kontrol yang selalu dipermainkan para cukong dan pemilik modal. Kondisi begini yang diam-diam merusak harapan dan keyakinan penduduk Lereng Sindoro pada kesuburan dan kegemah-ripahan Eyang Sumbing dan Eyang Sindoro.

Sundari Mardjuki, sebagaimana pengakuan dalam pengantar, begitu teliti dalam merangkum aneka tradisi disekitar Lereng Sindoro. Tidak melulu soal bagaimana tabit petani tembakau, tetapi juga budaya-tradisi menarik yang menjadikan novel ini kaya akan lokalitas. Upacara Among Tegal, ritual sebelum masa tanam bibit tembakau. Aneka makanan tradisional, jenis-jenis perkakas khas, bahkan penyebutan nama-nama yang sangat ndeso dan mewakili kebudayaan rural di Lereng Sindoro tahun 1970-an.

Misalnya bagaimana disebutkan  hampir semuanya anak di kelasku mempunyai nama dengan awalan huruf S dan hampir semuanya satu suku kata. (hal.35). Hal demikian memang lazim ditemukan di pedesaan terlebih tahun 70-an.

Novel ini memang kental akan budaya pedesaan. Tapi ini jelas tak mengurangi keintiman sekaligus kedalaman makna yang diramu dalam narasi manis. Kisah Genduk dan Yung jelas menggambarkan untuk tetap optimis dalam menghadapi masa depan. Kegigihan, kerja keras, dan harmonisasi antara kehidupan manusia dan alam sekitar akan membawa dampak luar biasa. Sumbing dan Sindoro adalah alam yang akan membalas perlakuan manusia. Bila baik, maka manusia akan mendapatkan lipatan kebaikannya. Karena berjuang tidak mengenal senja kala. (hal.175)

Saat membicarakan novel dengan latar kehidupan pedesaan, pembaca Indonesia sudah lekat akan narasi indah milik Ahmad Tohari. Lewat Ronggeng Dukuh Paruk Tohari membawa lanskap pedesaan menjadi tontonan nasional sekaligus tersaji apik di meja internasional. Tohari nyatanya tidak melulu mendiskripsikan keelokan alam Banyumas lengkap dengan tradisi dan kearifan lokal. Hal lain yang disorot Tohari ialah soal pelik kemanusiaan, keluarga, hingga dunia politik tahun 65 lewat dunia mikro dusun kecil.

Lepas dari Ronggeng Dukuh Paruk, kita sekarang disuguhi oleh novel Sundari Mardjuki bertajuk Genduk yang diam-diam mencoba meramu rumus Tohari dalam menghadirkan kehidupan desa. Novel yang terbit di tahun 2016 ini, secara langsung memaksa pembaca untuk merujuk kepada naskah Tohari. Sah bila disebut Genduk Sundari ini memiliki rasa Srintil Tohari.

Mungkin Sundari hanya meniru cara Tohari merangkai narasi di Ronggeng Dukuh Paruk. Kehidupan desa bersahaja, konflik 65, dan srintil adalah tiga hal yang menjadi irisan antara Genduk milik Sundari Mardjuki dan Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Namun Sundari masih perlu mendaki jalan terjal, karena tiga hal tersebut sudah paripurna diramu Tohari. []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s