Resensi

Botchan dan Pola Mendidik Siswa

(Harian Nasional, 24-25 September 2016)

botchan-identitas

Mantra ajaib “Kamu pasti bisa!” yang didapatkan Botchan dari Kiyo, wanita tua yang sudah bertahun-tahun menjadi pembantu di rumahnya secara jelas telah mengubah sejarah hidup Botchan. Mantra itu bukan hanya menumbuhkan optimisme dalam impitan keluarga yang menganggap Botchan sebagai anak bandel, jahil, dan tidak ada masa depan. Tetapi pendidikan tak langsung dari Kiyo telah menjadikan Botchan pribadi yang kuat dan berintegritas.

Botchan kecil ialah anak yang selalu diliputi kemalangan akibat rasa ingin tahu sekaligus kecerobohan. Botchan kecil pernah melompat dari jendela sekolah lantau dua karena dikatai temannya sebagai penakut, pernah pula mengiris kelingking untuk membuktikan seberapa tajam pisau, atau bahkan pernah mematahkan tulang rusuknya beberapa hari sebelum ibunya meninggal.

Kejailan Botchan inilah yang membuat keluarganya menjuluki anak itu begitu kasar dan berandalan, entah akan jadi apa dia nantinya. (hal.14) Botchan memiliki hubungan keluarga yang cukup baik. Ibu, bapak, dan kakaknya dingin terhadapnya. Bahkan sampai kedua orangtuanya meninggal, Botchan tak memiliki hubungan harmonis dengan si kakak. Alhasil, dua saudara kandung itu berpisah dengan membawa bagian beberapa ratus yen hasil penjualan rumah dan barang warisan. Kiyo adalah wanita yang terus membuatnya hidup dan telah memaksa Botchan kecil mengambil sekolah jurusan ilmu alam dan menjadi guru.

Kisah kelam masa kecil telah mengubah Botchan menjadi pribadi tangguh dan tak mudah percaya. Ngeyel yang kelak membuat Botchan sebagai pendobrak sistim pendidikan. Botchan merasa hidupnya begitu ajaib, karena dia yang tak pernah memerhatikan sensei ketika sekolah mendadak dipanggil sensei di depan murid-muridnya. Rasanya seperti ada sensasi menggelitik menuruni tulang rusuk (hal.43),aku Botchan di hari pertama mengajar.

Jiwa polos Botchan ternyata dipermainkan oleh siswa-siswa dan jajaran dewan guru. Di hari pertama mengajar, Botchan telah ditertawakan oleh murid-murid karena mengaku tidak bisa menjawab soal yang memang sulit. Ejekan itu jelas membuat Botchan marah. Sedangkan dalam keyakinannya, mengaku tidak bisa jauh lebih mulia daripada pura-pura bisa. Di mana salahnya mengaku bila aku memang tidak mampu? Kalau memang sejago itu dalam matematika, aku tidak akan datang ke sini, ke tempat terpencil ini, demi 40 yen sebulan. (hal.45)

Kejahilan dari siswa-siswanya tak berhenti sampai di sini. Suatu kali Botchan mengunjungi kedai mi soba dengan tambahan ekstra tempura dan di lain waktu memesan semangkok kue dango tambahan. Kejadian yang memang kebiasaan Botchan sejak lama itu, justru menjadi olok-olok siswa di kelas. Daerah terpencil memang membuat semua menjadi mudah tersebar. Ejekan guru tempura, guru soba, ataudango yang ditulis di papan tulis jelas membuat Botchan berang.

Aku menyadari menjadi guru tidaklah semudah kelihatannya, Botchan mengakuinya.

Puncak konflik dengan siswa-siswa ialah ketika Botchan mendapatkan tugas sebagai guru piket asrama dan memaksanya harus menginap di sekolah. Malam itu, futon atau kasur tradisional Jepang yang akan dipergunakannya untuk tidur dimasuki belalang. Botchan marah besar. Dia mencengkeram muris-muridnya sambil terus meminta mereka mengaku, belalang tidak akan masuk sendiri ke dalam futon. (hal.66)

Di titik inilah Botchan merasa ada yang salah dengan pendidikan di daerah terpencil. Bukan soal nilai yang diresahkan Botchan, melainkan bagaimana pendidikan mental dan penanaman budi pekerti. Murid-murid menjadi sedemikian liar, tentu tidak terkait dengan nilai matematika atau ilmu alam.

Kasihan orang-orang yang belajar di sekolah menengah tapi tidak mampu membedakan mana yang patut dan yang tidak. (hal.67)

Maka Botchan beralih bagaimana perilaku guru-guru mereka. Tak jauh berbeda, ternyata guru-guru mereka juga tak mencerminkan seorang guru dengan pribadi hebat. Kepala sekolah yang tidak memiliki kemampuan memimpin juga seorang guru penjilat dan licik seperti Kemeja Merah.

Kemeja Merah adalah guru yang gemar sekali bergunjing dan mengumbar keburukan orang di belakang. Botchan pernah sekali terjebak dalam situasi demikian saat diajak memancing Kemeja Merah.

Sedangkan kepala sekolah orang yang mudah sekali mengambil kesimpulan tanpa ada pembuktian dan klarifikasi. Bahkan saat terjadi kejadian belalang futon itu kepala sekolah tak sekali pun menghukum para siswa yang jelas mengakui dan justru menegur Botchan. Menganggapnya belum mampu beradaptasi dengan budaya mereka.

Kejengkelan menjadi semakin besar saat Botchan menyaksikan sendiri Kemeja Merah sedemikian licik. Pertama Kemeja Merah menghasut pemilik kamar sewa dimana Botchan tinggal untuk mengusir Botchan dengan berbagai alasan. Tapi hasil pengusiran itu justru membuat Kemeja Merah menempati kamar bekas Botchan. Belum selesai Kemeja Merah juga diam-diam ingin menelikung Madona, gadis manis di daerah itu dengan pura-pura menjelek-jelekkannya sebagai geisha. Botchan membenci sikap culas Kemeja Merah saat diketahui sebagai dalan atas transfer Koga-sensei hanya demi kenaikan gaji beberapa yen. Ini yang membuat Botchan naik pitam dan menghajar Kemeja Merah.

Seolah dunia hanya dipenuhi penipu, semua orang menunggu kesempatan untuk mengambil keuntungan dari orang lain.  (hal.119)

Botchanditulis Soseki pada tahun 1906 dan telah menjadi karya klasik yang tak pernah bosan dibaca lintas generasi hingga sekarang. Bukan soal keindahan cerita dan bahasa semata. Jelas sekali makna tersurat yang hendak disampaikan melalui kisah Botchan. Pendidikan telah menjadi pilar utama kemajuan Jepang sekarang. Hingga Jepang menjadi negara di jajaran terdepan dalam bidang pendidikan bersama Finlandia, Korea Selatan, China, dan Singapura.

Guru menjadi garda depan dalam sistim pendidikan. Botchan mencerminkan sikap seorang guru yang berdedikasi pada pendidikan. Bagaimana tanggung jawab, menghormati gutu, kejujuran, dan tangguh dalam membela kebenaran. Bukankah memang demikian tugas guru. Guru tak hanya bertanggung jawab pada numerik hasil pendidikan, tetapi juga menjadikan anak didik berbudi baik.[]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s