Resensi

Catatan Inspiratif Desi Anwar

(Harian Nasional, 17-18 September 2016)

Ibnu Khaldun, salah seorang penjelajah sekaligus ahli geografi pernah berujar bahwa perjalanan akan membuatmu semakin pandai, bukan hanya soal siapa dan apa yang akan ditemui di tempat tujuan tetapi dalam perjalanan sendiri ialah pengajaran. Bertebaranlah di muka bumi, karena di setiap inci akan ada hal baru yang bisa diilmui, demikian bijak bestari menasihati.

Dalam buku ini, Desi Anwar yang dikenal publik sebagai jurnalis kenamaan merangkum pertemuan-pertemuannya baik dengan tokoh maupun tempat yang menyentuh hatinya. Profesinya telah membuat Desi Anwar memiliki kesempatan bersua dengan beragam tokoh dari berbagai profesi dan dari berbagai belahan bumi, tak melulu dari dalam negeri.

Mulai dari tokoh politik, seperti Presiden Ramos. Tokoh kemanusiaan Nelson Mandela, pebisnis Bill Gates, pimpinan agama Dalai Lama, bahkan seorang aktor Christine Hakim. Mereka adalah sebagian kecil yang ditulis Desi Anwar dalam buku ini.

Setiap perjumpaan pasti membekas dan menimbulkan kesan. Ada yang begitu megah ada yang begitu sederhana. Hal-hal kecil yang ditangkap Desi Anwar di setiap perjumpaannya itulah yang kemudian diimbuhi sudut pandangnya sebagai jurnalis membuat setiap kisah semakin manis.

Tahun baru 2010, Desi Anwar berkesempatan bersua dengan pimpinan spiritual Tibet Dalai Lama ke-14. Di kediaman Dalai Lama, McLeod Ganj, pemukiman kecil di atas bukit di dataran tinggi Dharamsala, Provinsi Himachal, dekat Pegunungan Himalaya, Desi Anwar menyebut bahwa pertemuan itu sebagai sebuah kehormatan dan berkah (hal.17).

Sebagaimana publik ketahui, Dalai Lama bukan hanya pemimpin agama, tetapi juga tokoh yang menyerukan perdamaian sekaligus penulis buku. Sosok terkenal yang memiliki jutaan pengikut. Tetapi kesan jumawa tidak sekalipun ditampilkan oleh Dalai Lama. Saya bisa menyaksikan secara langsung betapa besar rasa hormat dan sanjungan dari para pengikutnya, anak-anak Tibet, serta tamu-tamu Barat yang duduk di tanah, menikmati kehadirannya dan menunggunya bicara(hal.18), demikian pengakuan Desi Anwar.

Desi Anwar menjadi magnit bagi publik dunia juga ditopang karena keperpihakan Dalai Lama pada nilai-nilai kemanusiaan. Dalai Lama menulis banyak buku bertemakan pencarian kedamaian, menumbuhkan sifat welas asih, dan membuka sifat kemanusiaan secara universal.

Kekaguman Desi Anwar semakin menjadi saat memiliki kesempatan bercakap-cakap lebih intens. Ketika saya bicara dengannya, dia menatap saya dengan mata berbincar dan menjawab pertanyan-pertanyaan saya secara panjang lebar sambil menyebutkan referensi sejarah seperti guru yang sabar. (hal.19)

Kesan hampir serupa juga tampak saat Desi Anwar berkesempatan Dada J.P Vaswani pemimpin spiritual dan kepala Misi Sadhu Vaswani. Dada Vaswani dikenal sebagai ahli spiritual yang dikagumi publik India yang juga menulis buku berjudul “Formula for Prosperity”. Inilah orang yang mengabdikan diri untuk melayani orang lain lewat kata-kata dan kisah inspiratif (hal.58).

Hal menarik saat pertemuan dengan Dada Vaswani ialah bagaimana formula kebahagiaan yang diajarkan kepada Desi Anwar. “Tuhan membantu mereka yang membantu dirinya sendiri.” Jangan harap Tuhan melakukan apa yang menjadi  pekerjaan Anda, karena Tuhan akan membantu mereka yang membantu dirinya sendiri. (hal.60) Maka doa yang menderet permintaan saja tidak cukup, butuh telinga dan tenaga dalam menangkap solusi dan petunjuk yang Tuhan berikan.

Bill Gates adalah orang terkaya di dunia. Pada 2015 Bill Gates memiliki harta fantastis, 79,2 miliar dolar AS. Pernah ada yang menghitung bahwa Bill Gates mendapatkan seribu dolar AS setiap kali dia bernapas selama empat detik dan bila kekayaannya diubah dalam uang kertas, maka Bill Gates akan mencapai bulan dengan karpet dari uangnya sendiri. Tetapi pertemuan Desi Anwar dengan Bill Gates jelas menawarkan kesan kesederhanaan. Yang muncul malah sifat malu-malu dan menjaga jarak yang cocok dengan gaya nerd-nya. (hal.120)

Satu hal yang sering kali Desi Anwar tuliskan saat berjumpa dengan tokoh ialah perihal kebahagiaan. Bagaimana kebahagiaan hakiki yang terus dicari seluruh penghuni bumi. Kebahagiaan tidak melulu soal kita, harta, dan ruhani semata. Kita bisa mendapatkan arti lain saat membaca kisah perjumpaan Desi Anwar dan Vandana Shiva.

Vandana Shiva dikenal sebagai aktivis lingkungan yang berdomisili di Bali. Vandana Shiva mengatakan “Kita tidak bisa mematenkan kehidupan. Kita tidak bisa mengotak-atik alam lalu berkata kitalah yang menciptakannya.” (hal.318) Kebahagian bisa diperoleh saat manusia hidup harmonis dengan alam. Kehidupan seimbang, makmur, beraeka, dan etis keadaan yang masih perlu diusahakan untuk Ibu Pertiwi. Globalisasi telah mengubah ritme alam masa kini.

Vandana Shiva miris globalisasi justru muncul di Pulau Dewata yang masih saja menjalankan Tri Hita Karana. Manusia dan alam harus hidup seimbang. Manusia bukan pencipta alam dan diperbolehkan mempergunakan seperlunya. Karena alam telah memberikan semuanya, manusia bertugas menjaga dan jangan merusaknya.

Di setiap perjumpaan dengan banyak tokoh, politikus, artis, pebisnis, tokoh agama, pelukis, dan 35 tokoh penting lainnya telah menambah khasanah jiwa bagi Desi Anwar yang kemudian ditularkan kepada pembaca. Pun demikian dengan tempat, mulai dari kota-kota besar di penjuru dunia, hingga kota-kota di Indonesia. 35 tokoh dan 50 tempat yang dicatat dalam buku ini memberi pelajaran penting bagi pembaca. Di setiap perjalanan akan didapat pelajaran, di setiap perjumpaan akan ada hal baru yang mengayakan jiwa kita.[]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s