Cerpen

Noktah Perkawinan

(Tabloid Nova, 29 Agustus-4 September 2016)

“Kalau memang begitu, mengapa tak kamu jatuhkan saja talak, Mas.”

Kalimatnya datar, enteng, tanpa sulut emosi seperti kebanyakan kalimat-kalimat di tengah pertikaian. Mungkin disebabkan Maharani yang selalu diajar bagaimana muslimah bersikap; halus dan meneduhkan. Namun kehalusan itu membuatku risau. Sesuatu memang telah terjadi di rumah ini. Andai dinding, lantai, dan atap diberi mukjizat untuk bersaksi, pasti terungkap sekam antara aku dan Maharani yang selama ini kami simpan rapi-rapi.

Udara mendadak pengap. Maharani ke dapur. Entah untuk merapikan meja makan atau sekadar ingin menghindar dariku dan membasuh semua kesedihan dengan air mata. Aku tahu kebiasaan Maharani, semua tampak manis di depan, padahal hatinya teriris.

Kalau sedang dicumbu emosi, bijak kalau kita berpindah posisi. Aku berdiri dari kursi. Dari balik gorden warna cokelat tua, kusaksikan santri-santri sedang bergerombol di serambi masjid. Beberapa saling berusaha konsentrasi membaca kitab di pojokan, di antara riuh santri yang ingin menghabiskan malam dengan guyonan. Aku pun pernah menjadi mereka.

Aku membuka pintu. Kaki melangkah tanpa kejelasan tujuan. Mendadak aku sudah di depan tenda dan dampar gerobak angkringan Kang Sapuan di depan pondok pesantren. Beberapa ustad dan santri lelaki sedang bercengkerama berteman segelas kopi dan gorengan dua ribu tiga, seketika memberikanku tempat duduk. Tepat di depan gorengan hangat dan sorot kuning lampu 5 watt.

Gus[i] Ismail mau kopi atau jahe?” Kang Sapuan menanyaiku.

“Biasa Kang. Jahenya dibakar dulu, ya!” jawabku. Mungkin segelas jahe bisa menghangatkan dadaku yang dingin.

Kang Sapuan mulai mengolah pesananku. Karena aku datang di tengah mereka, santri-santri yang tadi bergerombol minum kopi menyingkir. Mereka merasa tidak pantas duduk bersama untuk minum kopi. Hanya ada Ustad Budiman, guru fiqih sekaligus TIK -Teknologi Informasi dan Komputer- di madrasah aliyah yang masih berusaha menghabiskan kopi hitam.

“Gus Ismail, tumben ikut ke angkringan?” tanya Ustad Budiman.

“Pengen menghirup udara luar. Sudah lama tidak gojegan sama Kang Sapuan,” aku melihat Kang Sapuan yang sudah menjadi bagian dari keluarga pesantren dan kenangan para santri sejak dulu.

Kang Sapuan bahkan mengetahui kejahilan-kejahilanku semasa nyantri. Aku sering memesan ke Kang Sapuan untuk di belikan Komik Ko Ping Ho di pasar loak dekat alun-alun. Sekaligus tempat menyimpan tumpukan komik, yakni di dalam gerobak angkringan agar tidak diketahui jasus[ii] saat masa razia. Kang Sapuan juga tahu bagaimana kisah asmara para santri di pesantren. Karena lewat tangannya, semua surat bisa berpindah dari asrama putra ke asrama putri.

Aku sendiri masih ingat, ketika diam-diam ada seorang santriwati yang begitu sering mengirimiku surat cinta. Kang Sapuan tidak pernah memberi tahu siapa santriwati dibalik nama samaran Kidung Asmara itu. Kang Sapuan hanya memberi tahu bahwa santriwati itu sudah lama menaruh suka denganku, yang kala itu sudah mulai mengajar di kelas 1 aliyah. Dan baru kuketahui, Maharani putri Kiai Shalahuddin yang begitu rajin mengirimiku surat cinta saban minggu.

“Ustazah sedang sakit, Gus?” tanya Ustad Budiman.

“Masuk angin!” kujawab serampangan. Jujur aku ingin lebih diam dan menikmati segelas jahe hangat dan udara malam, agar badai di dalam pikiran surut.

Kang Sapuan dan Ustad Budiman saling lempar kelakar. Sesekali anggukan dan dehaman untuk menanggapi mereka. Aku terpaku dan terseret dengan segala persimpangan dalam hidupku kini.

Perceraian memang halal, tapi Allah tak suka. Kalau Allah saja tak menyukai, apalagi Kiai Shahuddin mertuaku, yang juga pimpinan pesantren dan tokoh agama terpandang di kota ini. Aku tak ingin mengecewakan kepercayaan besar dari Kiai Shalahudin. Siapalah Ismail kalau tanpa diberi kepercayaan dari Kiai Shalahuddin. Hanya santri biasa yang sesekali mencuri-curi untuk merokok di kebun rambutan belakang asrama putra dan membaca komik dalam lipatan kitab kuning.

Tetapi karena Kiai Shalahuddin-lah, Ismail kini dipanggil Gus padahal tak ada setetes darah kiai dalam tubuhku. Ya, karena aku dinikahkan dengan Ning Maharani, putri keempat Kiai Shalahuddin.

Dinikahkan. Memang benar. Maharani yang kala itu baru tamat aliyah, dihadapkan kepadaku. Kiai Shalahuddin sendiri yang menanyakannya.

“Nak Ismail, kamu sudah kuanggap sebagai putraku sendiri. Hanya kamu yang kuamanahi kepercayaan besar ini,” Kiai Shalahuddin berbicara dengan getar penuh wibawa.

Aku sejak menjadi santri, kemudian menjadi sejenis asisten, lantas diangkat sebagai guru dan orang paling dipercayainya, tak sekalipun berani menatap langsung ke bola mata al-mukarom[iii]. Aku menunduk sambil melihat posisi taplak meja bermotif sulaman kristik asimetris. Mencermati sesekali meresapi apa yang dituturkan Kiai Shalahuddin.

“Semoga kamu tidak keberatan menikah dengan anakku, Maharani.”

Aku mendongak. Itu sebuah kejutan paling besar. Seperti ledakan petasan di halaman pesantren, tiap hendak masuk ramadhan.

“Maharani sudah lama menyukaimu. Aku tidak ada alasan menolak yang dicintai Maharani. Apalagi aku sudah kenal betul kamu. Dan kulihat-lihat, kamu sendiri belum ada calon, kan?” susul Kiai Shalahuddin.

Aku mengangguk. Masih begitu bingung. Aku tak berani menolak. Siapa yang tidak ingin dipinang sebagai menantu kiai. Tapi aku juga belum bisa menelusuri kelogisan bagaimana Maharani menyukaiku.

Tak perlu menunggu lama, aku menikah dengan Maharani. Aku yang semula hanya dipanggil ustad oleh santri, mendadak ketambahan gelar Gus, karena aku telah menikahi Ning dan menjadi putra menantu kiai.

Tak ada perahu yang melaju tanpa hantaman ombak. Tak ada rumah tangga yang tenang mengarungi pernikahan. Di lima tahun pernikahan ini, guncangan terberat muncul. Semua ini bermula dari pertemuanku tanpa sengaja dengan Intan, santriwati senangkatanku dulu.

Dari sikap kaku dan kaget karena dipertemukan tanpa sengaja, sekaligus ada rembah-rembah kisah yang dulu diam-diam kami rajut semasa di pesantren. Dulu satu-satunya santriwati yang sering kutitipi surat lewat Kang Sapuan adalah Intan. Tetapi, entah mengapa kala itu aku tak berani melamar usai tamat pesantren. Dan kenangan itu semakin menggelora setelah tahu bahwa Intan telah menjadi janda beranak satu, karena kanker prostat memutus hidup suaminya. Duka yang kusampaikan tanpa bisa kubendung disisipi sebentuk harapan kecil. Harapan bahwa aku bisa kembali merajut benang indah seperti semasa nyantri dulu.

Maharani?

Sebenarnya aku memiliki alasan sahih untuk meminta izin poligami. Sepanjang lima tahun, puluhan kali Maharani telat datang bulan. Tapi tak satu pun yang cukup lama bertahan. Poligami memang kebiasaan sah kiai, tapi alasanku cukup masuk akal.

Tetapi, saat kuutarakan maksud kepada Maharani petang tadi, pitamnya naik tajam. Ya, wanita mana yang cukup kuat bila harus berbagi suami? Dan Maharani justru minta dijatuhkan talak. Lebih baik sendiri bila harus melihat suami tidur dengan madu, kata Maharani. Dan bila talak itu kujatuhkan, bukan hanya akan menjadi noktah di perkawinan, tapi juga noktah dan kotoran yang akan kulemparkan di wajah Kiai Shalahuddin.

Aku dirubung galau. Hingga malam disusul fajar, pikiranku masih buntuk belum beroleh jalan keluar. Antara dua pilihan yang sama-sama menyesakkan.

***

Usai subuh, aku belum mau kembali ke rumah. Aku duduk di pojokan saf paling depan, menuntaskan bacaan alquran dan menyesap vibrasi pagi di sela-sela ventilasi dan lubang angin.

“Gus Ismail, dipanggil!” seorang santri menyapaku begitu sopan.

“Siapa?”

“Ustazah Maharani.”

Aku gegas ke rumah. Mungkin saja, Maharani sudah melaporkan semuanya kepada abahnya[iv]. Aku sendiri sudah siap dengan aneka keputusan. Apakah talak itu harus kujatuhkan dengan konsekuensi harus mengangkut semua barangku dari rumah. Atau justru akan ada keputusan lain dari Kiai Shalahuddin perihal rumah tangga kami.

Di rumah, Maharani sudah duduk di ruang tengah. Gorden kami terbuka sebagian. Sepetak taman menyembulkan pemandangan hijau. Kali ini, aku lebih lunglai.

“Aku sudah siap, bila kamu tidak mau lagi bersamaku, Dik,” kataku. “Aku memang salah. Sudah punya istri sesalihah kamu, tapi masih saja diam-diam menyukai wanita lain. Aku memang salah dan siap menerima segalanya.”

“Mas, minum dulu. Aku sudah membuatkan teh,” Maharani menyorongkan gelas lebih dekat denganku.

Kuseruput. Teh wasgitel[v] dengan takaran pas. Leherku menghangat. Andai Allah menitipkan janin di rahim Maharani, tentu aku semakin sayang dengannya. Tapi, ya, kata tapi selalu menumbuhkan alasan baru lagi.

“Mas, alasan Mas untuk minta izin poligami sudah benar. Aku saja yang terlampau cemburu,” wajah Maharani tampil cerah. Semakin indah karena lolosan cahaya pagi yang menimpa.

“Jadi, kamu ikhlas kalau aku poligami?”

Maharani mengangguk. Ingin kupeluk, tapi Maharani menolak.

“Tapi tunggu dulu,” Maharani menampik. Ada yang mendadak runtuh di dadaku.

Test Pack pagi ini positif, Mas,” Maharani menyorongkan sebuah alat tes kehamilan yang bersetrip dua. Maharani tersenyum penuh kemenangan.

Campuran bungah dan kecewa. Aku harus menunggu lagi. Dan selama itu, sangat mungkin Intan sudah menjadi istri orang. Bukan lagi janda beranak satu yang manis dan cantiknya tetap sama, yang halal kujadikan istri kedua. []

[i] Gus: panggilan untuk anak lelaki Kiai
[ii] Jasus: mata-mata pesantren sekaligus penindak kedisiplinan
[iii] Al-mukarom: yang terhormat
[iv] Abah: bapak, biasanya dipergunakan oleh anak para kiai.
[v] Wasgitel: wangi, sepet, legi (manis), kenthel (kental).

14639682_10209490567252901_8932573865545918137_n

Cerpen yang sama juga dimuat di Tabloid Nova, edisi 31 Oktober-6 November 2016. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s