Resensi

Baiat Setia 47 Ronin

(Malang Post, 4 September 2016)

WhatsApp Image 2016-09-05 at 10.04.05 AM

Ketika Kekaisaran Edo dipimpin Lord Tsunayoshi diberlakukan Hukum Pelestarian Makhluk Hidup yang mewajibkan hewan harus dilepas, tak boleh dipelihara, dilarang dipekerjakan, dan tak boleh dibunuh. Akibatnya komoditi pertanian rusak oleh hama. Rakyat menderita kelaparan, mengemis, bahkan beberapa petani harus menjual anak gadis ke rumah hiburan malam sebagai geisha.

Satu-satunya komoditas yang sepertinya tersedia dengan harga murah adalah gadis mudah yang bisa ditiduri karena meningkatnya jumlah anak-anak perempuan yang dijual ke rumah-rumah bordil. (hal.21)

Satu lagi budaya mengerikan yang menggerogori kewibawaan Tsunayoshi adalah sikap korup orang-orang kepercayaannya. Tsunayoshi hanya menerapkan ajaran-ajaran Buddhisme yang sesuai dengan kepentingan-kepentingannya pribadinya, dan karena itu, kebijakan-kebijakannya patut dipertanyakan oleh siapa pun yang cukup berani melakukannya (hal.65).

Lord Asano, salah satu tuan tanah merasa sangat keberatan dengan kondisi sosial yang bertentangan dengan nilai-nilai Buddhisme. Puncak kekesalan Lord Asano terjadi saat diselenggarakan pesta di Kerajaan dan terjadi perang mulut antara Lord Asano dan Lord Kira. Dengan gegabah Lord Asano menyerang Lord Kira. Atas tindakan itu Lord Asano diadili dengan seppuku –bunuh diri dengan menusuk perut, keluarganya diasingkan, dan semua aset Lord Asano disita dewan shogun.

Para samurai di lingkungan Lord Asano, ingin membalas. Oishi menwawarkan dua alternatif yang sama-sama tak enak. Pertama, menyerang dengan kemungkinan kalah jumlah. Kedua, adalah menyerahkan semua aset sebagaimana putusan dewan shogun, kemudian menyingkir sebagai ronin –samurai tanpa tuan dan menyusun strategi pembalasan.

Akhirnya semua memilih yang kedua, dengan konsekuensi untuk bersiap membalas dendam kematian tuannya. Kesetiaan yang paling tinggi di antara kewajiban-kewajiban moral lainnya. (hal.78)

Kisah kemudian pembalasan dendam oleh 47 Ronin di bawah kepemimpinan Oishi menuai banyak kontroversi. Tak ada sumber pasti yang mencatat apa yang sebenarnya terjadi di istana Edo saat Lord Kira dan Lord Asano bertikai.

47 Ronin itu membalas dendam atas kematian tuan tanah, bukan kerabat. Membalas kematian majikan dianggap melanggar hukum. Maka saat Oishi berhasil memenggal kepala Lord Kira dan mempersembahkannya di pusara Lord Asano, ke-47 ronin diadili karena melakukan balas dendam melawan ajaran Buddhisme. Satu demi satu mereka melakukan seppuku.

Kisah 47 Ronin menjadi fragmen penting dalam sejarah samurai Jepang. Selain mencontohkan bagaimana sikap samurai kepada tuannya, mati menyandang samurai yang setia, harkat martabat harus dijunjung tinggi. Kisah ini semakin melegenda setelah dialihwujudkan menjadi drama Kanadehon Chushingura (Gudang Harta Para Pelayan Setia) pada tahun 1748. Meski dalam pementasan mengalami beberapa distorsi sejarah, terjadi peruabahan nama-nama, tanggal, serta lokasi, drama tersebut tetap pelantang sekaligus pengekal tragedi berdarah dalam sejarah samurai Jepang.

Lepas dari kontroversi yang mengiringi, sikap 47 Ronin patut dijadikan sebuah cermin dalam memandang hidup. Budaya samurai memang terkesan feodal dan kejam, tapi setidaknya kepemimpinan Oishi, kesetiaan para samurai, dan Lord Asano yang rela mati demi nilai kejujuran patut dijadikan renungan. Beberapa orang menghabiskan seumur hidup tanpa tahu jalan mana yang benar. Mereka terombang-ambing ke sana kemari tanpa tahu arah mana yang mereka tuju. Bagi kita yang terlahir sebagai samurai, kehidupan sangatlah berbeda. Kita tahu jalan kewajiban dan mengikutinya tanpa ragu.(hal.247) Hidup adalah pengorbanan. Begitu pula saat tahu hal-hal yang kita inginkan, kita harus siap mengorbankan apa pun untuk meraihnya. Tiada kebahagiaan tanpa kesungguhan dan pengorbanan tersakit.[]

47 RONIN | John Allyn | Gramedia Pustaka Utama, 2015 | 279 halaman | 9786020321622

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s