Resensi

Semangat dan Etos Kerja Tionghoa

(Malang Post, 14 Agustus 2016)

resensi yu hua-malang post

Daratan Tiongkok pernah mengalami masa suram penuh penderitaan. Kemiskinan, kelaparan, dan kematian menjadi hal biasa bagi orang Tionghoa pada Revolusi Kebudayaan (1966-1969). Di bawah arahan Mao Tse Tung melawan Presiden Liu Shaoqi yang dicap beraliran kanan, mendukung intelektualisme dan kapitalisme. Revolusi Kebudayaan ini dimaksudkan untuk mengembalikan Tiongkok pada paham Mao yang lama ditinggalkan. Di zaman itu, orang juga rela menukar nyawanya hanya demi mendapatkan semangkuk nasi. (halaman 131)

Namun sosok lelaki miskin tua, Fugui menjadi antitesis atas kondisi Tiongkok di titik nadir tersebut. Fugui dikisahkan berasal dari keluarga Xu yang tuan tanah. Namun berbalik 180 derajat karena ludes di meja judi. Keluarga Fugui pindah ke gubuk reot di pinggiran dusun, menjadi petani yang hanya punya tanah lima mu (1 mu= 0,0667 hektar).

Perubahan drastis membuat keluarga Fugui mengalami hentakan luar biasa. Ayahnya meninggal karena kesedihan yang memaha, ibunya wafat karena sakit yang tidak lekas diobati dan lara menunggu. Anak perempuannya Fengxia bisu karena demam tinggi dan mati saat melahirkan cucu pertamanya. Youqing, anak lelakinya wafat karena mala praktik di rumah sakit. Menantunya, Erxi meninggal tertimpa karung semen. Istrinya meninggal karena sakit menahun dan ketuaan. Cucu lelakinya, Kugen, meninggal karena kelelahan memanen kapas.

Kematian demi kematian yang dihadapi Fugui membuatnya kebal dan mengambil kesimpulan bahwa semangat bekerja hanya bisa dihentikan oleh maut. Fugui ingin mengatakan boleh jatuh berkali-kali, asalkan kembali bangkit berdiri. Orang hidup itu yang penting senang, jadi miskin pun tak ada yang perlu ditakuti (halaman 39).

Fugui tua menemukan cara membuat hidupnya bahagia. Fugui (arti dari namanya beruntung dan berharga) mencoba tidak meratapi kenestapaan. Fugui bisa menemukan humor sederhana ala orang miskin. Sapi tuanya, yang juga diberi nama Fugui, selalu ogah-ogahan membajak sawah. Fugui punya cara agar si sapi tua Fugui kembali bersemangat membajak. Dia menyeru banyak nama sapi agar Fugui merasa tidak sendirian bekerja. Kalau dia percaya ada sapi-sapi lain juga sedang bekerja dia tidak akan sedih, malah bakal lebih semangat lagi dia membajak sawah. (halaman 10).

Kesusahan perlu dihadapi dengan tetap semangat dan sedikit rasa humor. Rasa humor juga tampak dari bagaimana tokoh Fugui bertutur menggunakan sudut pandang orang pertama ‘aku’. Pilihan bahasa yang terkesan lugas, tanpa basa-basi dan banyak metafora. Bahasa seperti ini menunjukkan psikologi tokoh yang memang orang desa, miskin, dan sedang dalam nestapa.

Dalam To Live, sangat terasa aroma semangat dan etos kerja orang Tionghoa yang ulet, tekun, dan pantang menyerah. Ini juga diakui oleh penerjemah, Agustinus Wibowo yang dengan jernih menerjemahkan novel ini. Dalam catatan penutupnya Agustinus Wibowo menyampaikan bahwa kisah Fugui adalah refleksi psikologi kaum minoritas Tionghoa di seluruh penjuru dunia.

Setidaknya ada dua pisau tajam yang dipergunakan Yu Hua dalam menulis novel To Live ini. Pisau pertama dipergunakan Yu Hua mengkritisi kebijakan revolusi kebudayaan Tiongkok yang menjerat leher rakyat miskin pada masa itu. Rakyat terutama dari kelas bawah menderita, kelaparan, dan dihadapkan kematian setiap hari. Topik kebijakan revolusi kebudayaan masih menjadi isu sensitif hingga saat ini. Maka sangat dimaklumi bila To Live ini sempat dilarang beredar di Tiongkok. Namun akhir-akhir ini menjadi laris manis dan diakui sebagai salah satu karya sastra modern yang berpengaruh di Bumi Tirai Bambu.

Pisau pertama ini mendedah dengan jujur, polos, apa adanya tanpa metafora. Benar-benar realis sosialis. Berbeda dengan pilihan gaya Mo Yan (peraih nobel sastra berkewarganegaraan Tiongkok) yang memilih jalan realisme magis. To Live mengantarkan Yu Hua beroleh penghargaan Grinzane Cavour Prize (1998) dan James Joyce Award (2002).

Pisau kedua yang tidak kalah tajam adalah membedah etos kerja orang Tiongkok. Yu Hua ingin mewartakan bahwa orang Tionghoa adalah pekerja keras dan ulet. Keuletan dan kerja keras agar  seekor ayam besar jadi angsa, angsanya besar jadi kambing, kambing dipelhara terus sampai besar jadi sapi. (halaman 35)

Dan terbukti. Negeri dengan penduduk 1,5 milyar, yang 50 tahun lalu menderita kelaparan, kemiskinan dan kesengsaraan, kini beralih wujud menjadi negeri yang besar, raksasa Asia yang berani melawan hegemoni Amerika. Bahkan dengan pongah menyelenggarakan olimpiade. Etos kerja keras kini berbuah manis.

Bila direfleksikan ke kondisi Indonesia, sudah seberapa jauh negeri ini bangkit dari keterpurukan atas beragam konflik yang mendera bangsa kita? Apakah kesengsaraan membuat kita bangkit lebih tegak atau terpuruk semakin dalam?(*)

IDENTITAS BUKU: 
Judul: To Live Penulis : Yu Hua | Alih Bahasa: Agustinus Wibowo |
Penerbit :  Gramedia Pustaka Utama | Terbit : Pertama, Februari 2015 |
Tebal:
224 halaman | ISBN: 9786020313825

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s