Resensi

Beribadah Bersama Joko Pinurbo

(Harian Nasional, 13-14 Agustus 2016)

resesni jokpin harnas - Copy

Bila membicarakan puisi, maka publik tak boleh melewatkan Joko Pinurbo atau yang lebih akrab disapa Jokpin. Jokpin termasuk penyair dengan gaya yang khas dan sudah dikenal publik dengan puisi nakal atau puisi mbeling. Istilah puisi mbeling pertama kali disampaikan ke publik oleh Remy Silado untuk puisi-puisi yang seperti keluar dari pakem keseriusan, berlagak jenaka, namun sesekali menyisipi dengan satiris halus khas penyair.

Jokpin bisa dikatakan sebagai penyair yang sedikit terlambat. Bila kebanyakan penyair memulai karir kepenyairan semenjak muda belasan atau awal dua puluhan, tapi Jokpin sedikit terlambat. Buku puisi pertama kali Jokpin yang berjudul Celana terbit pada tahun 1999, saat Jokpin sudah berusia 37 tahun. Usia yang sudah tidak bisa dibilang muda, tapi di usia kematangan ini Jokpin menorehkan warna baru dalam perpuisian Indonesia.

Semenjak Celana di tahun 1999, Jokpin lebih dikenal sebagai penyair yang gemar mengangkat hal-hal sepele yang tak diperhatikan penulis puisi lain. Saat puisi sering dibanjiri dengan romantisme tempat-tempat dunia, keindahan panorama, atau gagasan-gagasan soal cinta. Jokpin justru mengobrak-abrik perihal celana, kamar mandi, sarung, tahi lalat, burung, dsb.

Buku ini adalah kumpulan puisi dari puisi-puisi pilihan dari Jokpin dari tahun 1989 hingga 2001. Terdiri dari 121 puisi terbaik Jokpin dengan tetap mengedepankan jenaka, satir, dan hal-hal sepele.

Dalam puisi Celana 1, Jokpin menuliskan romantisme seorang anak terhadap ibu. Celana memang dapat diartikan secara harfiah sekadar bentuk pakaian penutup bagian bawah tubuh manusia. Namun di tangan Jokpin, celana justru membawa ingatan kita bahwa kasih sayang seorang ibu takkan pernah lekang meski celana sudah sering lusuh dan berganti saban waktu.

Ia ingin membeli celana baru/buat pergi ke pesta/ supaya tampak tampan dan meyakinkan. Dan diakhiri dengan sebuah adegan satir yang menegaskan takkan bisa terganti kasih sayang seorang ibu. Lalu ia ngacir tanpa celana dan berkelana mencari kubur ibunya hanya untuk menanyakan, “Ibu, kausimpan di mana celana lucu yang kupakai waktu bayi dulu?” (hal.15)

Jokpin sesekali seolah berpuisi dengan bahasa-bahasa sedikit vulgar. Tapi justru di sanalah titik keindahan sekaligus satiris yang ia tulis. Di puisi Celana, 2 Jokpin jelas mengatakan bahwa tabu soal pendidikan seks semenjak kecil justru menumbuhkan bayangan-bayangan liar. Sesuatu yang ada di dalam celana selalu ditutupi celana dan rasa tak boleh untuk bertanya perihal tersebut. Hingga anak-anak kecil suka usil dan sembunyi-sembunyi membuat gambar porno di tembok kamar mandi sehingga kami pun terbiasa menjadi orang-orang yang suka cabul terhadap diri sendiri. (hal.16)

Saat membaca puisi Celana,2 ini mau-tidak mau memori kita terbawa pada bagaimana komisi penyiaran di negara kita serampangan melakukan sensor terhadap tubuh manusia. Bahkan kasus paling baru, tubuh sebuah arca yang diblur bagian dada hanya. Apakah dengan memblur demikian, pikiran kita benar-benar bersih? Ini koreksi besar untuk para pejabat berjas-berdasi untuk kembali mengoreksi.

Puisi Jokpin memang memiliki rasa jenaka memikat. Tapi bukan sekadar umbaran gojegan tanpa pemaknaan. Jokpin sesekali menghadirkan sebuah renungan dalam puisinya.

Kita tengok dalam puisi Baju Bulan. Jokpin sedang menyindir bagaimana ibadah puasa ramadan dan berujung lebaran hanya dirayakan secara materialistik. Hanya perihal baju baru dan atribut kebendaan. Hingga seseorang meminta baju kepada bulan. Bolehkah, bulan, kupinjam bajumu barang semalam? Bulan mencopot bajunya yang keperakan, mengenakannya pada gadis kecil yang sering menangis di persimpangan jalan. (hal.114)

Ibadah sering hanya dimaknai sekadar perayaan dan pesta ruhani. Momen suci itu tak lagi menghadirkan perenungan dan abai pada mereka-mereka yang membutuhkan di sekitar. Gadis dalam puisi tersebut mungkin saja tetangga terdekat kita yang hanya bisa menelan rasa iri terpahit saat menyaksikan kita bergonta-ganti atribut di hari raya.

Di puisi Celana Ibu, Jokpin juga menghadirkan pemaknaan baru perihal paskah dan keimanan kristiani. Jokpin menuliskan Maria yang bersedih menyaksikan Yesus menderita di tiang salib. Mati di kayu salib tanpa celana dan hanya berbalutkan sobekan jubah yang berlumuran darah. Kemudian saat Yesus bangkit dan Maria hadir membawakan celana baru untuk Yesus. Maria bertanya “Paskah?”, Yesus menjawab “Pas.” Kemudian Yesus naik ke surga. (hal.123)

 Jokpin seolah mendeskriditkan kesucian paskah. Di puisi inilah, Jokpin berani mengkritik soal iman dan keberagaman kita. Jangan sampai iman dan agama hanya sekadar atribut fisik. Tuhan yang merdu, terimalah kicau burung dalam kepalaku. (hal.188) Nasihat Jokpin untuk kita, yang tak peduli lagi pada kekhusyuan doa kepada Tuhan.

Puisi Jokpin memang memotret hal-hal sepele, disesaki banyak rasa jenaka, guyonan, bahkan sesekali diksi-diksi porno yang tak mungkin dipergunakan oleh penyair lain. Namun meminjam tajuk buku ini, Selamat Menunaikan Ibadah Puisi, bahwa di puisi ada nilai ibadah. Di tengah humor dan canda, ada nilai kemanusiaan terselip di tiap baris dan katanya. Jangan terlampau terpaku pada bentuk, mari menengok lebih dalam ke kejernihan puisi. Mari beribadah puisi bersama Jokpin!(*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s