Resensi

Bagi-bagi Kue di Lokasi Proyek

(Lampung Post, 12 Agustus 2016)

Korupsi terus menjadi budaya laten yang merongrong kemakmuran negara. Beberapa fakta sejarah mengatakan korupsi sudah membudaya ketika budaya kolonialisme masuk Indonesia. Ada dua kubu, yakni golongan ningrat dan golongan jelata. Keningrat menimbulkan efek memeras dan memanfaatkan kekuasaan untuk urusan perut sendiri.

Semakin masifnya korupsi, hingga untuk mengurainya butuh tenaga dan tangan tambahan. Mulai dari pucuk pimpinan hingga bawahan bahkan masyarakat kecil, terjangkit penyakit korupsi. Setidaknya dari novel Orang-orang Proyek, karangan Ahmad Tohari, fenomena tersebut disindir halus dengan bahasa sastrawi.

Kabul, insinyur sekaligus mantan aktivis mahasiswa, salah seorang kepala proyek pembangunan jembatan di Sungai Cibawor. Bagi Kabul kejujuran adalah sandangan pasti insinyur lulusan universitas. Terlebih pembangunan di masyarakat desa, perlu diprioritaskan demi kemajuan dan kesejahteraan masyarakat.

Jembatan Sungai Cibawor menjadi penting karena menghubungkan beberapa desa terpencil. Menurut sejarah jembatan tersebut diruntuhkan untuk menghalau tentara Belanda masuk ke perkampungan. Namun kemenangan masa penjajahan itu menyisakan persoalan bahwa banyak daerah terlambat maju karena akses menuju ke sana sulit. Kabul menyadari hal itu dan merasa pembangunan jembatan harus dimaksimalkan.

Namun fakta lapangan menampar Kabul sekaigus menguji prinsipnya sebagai insinyur. Proyek jembatan Sungai Cibawor itu nyatanya menjadi bancakan berbagai pihak. Uang yang seharusnya dipergunakan untuk optimalisasi pembangunan harus rela dikemplang orang-orang yang terlibat dalam pembangunan tersebut.

Banyak orang merasa punya hak untuk menagih keuntungan dari proyek tersebut. Menurut penemuan Kabul, tingkah culas dan korupsi sudah dimulai sejak dari hulu atau bahkan sebelum proyek ini disetujui.

Mulai dari proses lelang tender, sudah banyak tangan bermain untuk proyek ini. Pengembang harus memberikan upeti kepada anggota dewan agar proyek ini menjadi miliknya. Usai disetujui, dalam hal pencairan dana masih saja ada pejabat yang meminta komisi agar dana yang turun bertahap itu lancar. Sampai di tangan pengembang, uag tersebut masih harus masuk beberapa persen di kantong mandor, kepala proyek, atau orang penting di proyek. Akibatnya dana untuk belanja bahan harus dinego atau bahkan dikurangi.

Ternyata perilaku korupsi bukan hanya berhenti di situ. Menurut Kabul, banyak warga sekitar Sungai Cibawor yang diam-diam menyogok pekerja hingga mandor lapangan untuk mencuri semen, pasir, kapur, atau besi-besi proyek.

Bila orang-orang kampung hanya minta ikut memakai kayu-kayu bekas atau meminjam generator untuk keperluan perhelatan, masih wajar. Selain menyuap kuli untuk mendapatkan semen, paku, atau kawat rancang, mereka juga sering minta besi-besi potongan untuk membuat linggis. (hal.30)

Kondisi demikian semakin di perparah bahwa pembangunan jembatan itu dipergunakan oleh Golongan Lestari Menang (GLM) partai penguasa untuk kampanye politik menjelang pemilu 1992. Karena GLM dibayang-bayangi tentara, maka orang-orang proyek seperti Kabul tidak bisa berkutik.

Banyak perwira yang ora merwirani lagi. Yang saya maksud perwira adalah parawira. Yaitu orang yang tidak merasa rendah ketika meninggikan harkat dan martabat orang lain. Mereka adalah orang yang malu ketika merasa dirinya lebih penting dari orang lain. (hal.155)

Kejujuran Kabul antitesis di tengah suasana dimana kecurangan sudah menjadi barang biasa. Kabul hanya berkeyakinan jujur memiliki pengaruh besar terhadap kelancaran pembangunan. Sosok ini diperalat oleh penulis untuk mengkritik bobroknya sistem Orde Baru, zaman di mana novel ini pertama kali ditulis. Saat semua orang berperilaku korup, maka sosok-sosok terdidik seperti Kabul adalah cercah harapan akan perubahan.

Tak mungkin sebatang lidi mampu menyapu kotoran sehalaman. Kabul sendirian, meski ada Pak Tarya dan Lurah Bakar, tetap tak berkutik mengubah budaya buruk tersebut.  Puncaknya adalah ketika besi pancang cor diganti dengan besi bekas Kabul menolak keras dan mundur dari proyek.

Memang novel ini pertama memiliki seting waktu awal 90-an. Namun masih tetap relevan dengan kondisi sosial sekarang. Mengingat masifnya korupsi di berbagai lini pembangunan. Seyogianya, pembangunan dan politik adalah dua kutub berbeda. Pembangunan harus murni untuk kepentingan rakyat, bebas dari korupsi. Peyorasi kata proyek yang hanya orientasi uang dan asal berdiri, harusnya dipulihkan menjadi benar-benar pembangunan dengan tujuan kesejahteraan. (*)

resensi orang-orang proyek lampung post 12 agustus 2016

Advertisements

4 thoughts on “Bagi-bagi Kue di Lokasi Proyek

    1. Heeheee, ayoo Baguer dibaca. APalagi kalau anak sipil, yang kelak akan berhubungan langsung dengan proyek-proyek pembangunan di lapangan. Memang tidak akan langsung memperkaya, tapi setidaknya akan memperhalus rasa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s