Cerpen

Buku Tulis dari Presiden

(Kedaulatan Rakyat, 31 Juli 2016)

ilustrasi KR Joko Santoso

Isha membangunkanku jauh lebih awal dari waktu biasa aku memaksanya bangun dan gegas mandi sebelum Mang Tokir, sopir jemputan sekolah memencet-mencet klakson. Isha menguyel-uyel wajahku dengan pipinya yang sudah wangi sabun mandi. Isha memaksaku untuk gegas bangun dengan merengek, katanya hari ini hari spesial bagi Isha.

Dengan setengah terpejam, mata masih dilem oleh kotoran mata dan kantuk, aku berdiri di leher dipan dan memberinya senyuman. Isha mencoba menarikku untuk cepat-cepat ke kamar mandi dan mengusir sisa-sisa kantuk. Tapi jelas tubuhku tetap lebih jumbo dari tubuh Isha, yang meski makan lima kali dan camilan berkali-kali, tak cukup menjadikannya besar dan kuat. Usia memang masih menjebaknya untuk tetap berenak-enak dengan tubuh kecil, beban kecil, dan imajinasi yang besar.

“Isha, papa masih ngantuk. Masih jam segini juga,” kataku. Jujur ingin membentak Isha, tapi hati anak itu rapuh yang tersentil sedikit saja bisa gugur berjatuhan.

“Papa, pasti lupa! Hari ini papa janji sesuatu sama Isha.”

Aku menggaruk kepala, mencoba mencari-cari ingatan yang terjebak dalam rutinitas. Apa aku janji membelikannya mainan, makanan kesukaan, atau boneka Barbie merah jambu kegemarannya? Tidak. Aku tidak pernah lupa soal janji membelikannya sesuatu, meski beban pekerjaan merajalela dan menguasai hampir semua waktuku.

Setelah tak menemukan lipatan ingatan itu, aku tersenyum lebih lebar dari yang pertama. Kemudian mengusel-usel tubuhnya yang masih dibebat handuk hingga menutupi dada.

“Papa benar-benar lupa,” kukecup pipi meronanya. “Papa janji apa memang ke Isha?”

“Papa janji, hari ini Isha boleh memakai buku tulis dari yang kemarin Papa simpan.”

“Buku tulis?”

Seingatku di hari pertama masuk sekolah, Isha sudah kubekali buku tulis Kiky dengan gambar yang lagi-lagi Barbie. Isha memilih sendiri di toko alat tulis, sekaligus membawa ke kasir sampul plastik, label nama, pensil dan bolpoin, buku gambar, dan sepaket pensil warna. Aku benar-benar masih ingat hal itu. Karena kala itu ada kejadian konyol, yang ternyata ATMku tertinggal di tas dan di mobil, hingga aku buru-buru ke parkiran dan meninggalkan Isha semacam jaminan ke petugas kasir.

Bahkan sesuai instruksi menteri pendidikan, aku rela mengambil tambahan cuti meski sebenarnya sudah tandas dipakai saat idul fitri ke rumah nenek Isha di Blora sana. Cuti itu untuk mengantarkan Isha dan menemaninya ke sekolah. Menjaga dan mengawasi Isha di hari pertama dia mengenal bangku, guru, buku tulis, pena, papan tulis, hingga kemudian PR, tugas, ulangan, dan ujian. Melepas Isha untuk belajar di medan perjuangannya.

“Isha kan sudah punya buku tulis baru?”

“Bukan, Pa! Itu buku yang kemarin Pak Presiden bagi di sekolah?”

“Ooooo,” sebenarnya aku juga belum paham. Jawaban itu hanya mencoba membuat kegelisahan-kegelisahan Isha terjawab sementara.

“Kemarin kan Papa mengatakan kalau hari Isha boleh membuka bungkusan itu.”

“Iya, tapi Isha ganti baju dulu. Dan papa ke kamar mandi.”

Isha menurut dan kemudian menghambur ke arah ibunya yang sedang menggoreng telur. Sedangkan aku ke kamar mandi untuk membasuh muka dan mengguyur semua sisa-sisa bantal. Sembari memikirkan apa sebenarnya yang Isha pinta kepadaku.

***

Mungkin aku sudah tua, uban saja sudah mulai mewarnai rembang hitam di kepalaku. Belum lagi beban pekerjaan yang seolah tak habis bagai bah samudera. Terus ini-itu dari banyak hal tiap hari yang terus mengotori ingatan. Maka wajar bila hal-hal sepele, soal buku tulis Isha aku sedikit terlupa.

Menggosok gigi sambil mencari ingatan soal buku tulis dari presiden. Dan Isha yang begitu bergairah untuk memakai buku tulis dari presiden. Di kumur-kumur terakhir, ingatan itu menyembul seperti kerak yang disapu banjir dan kemudian mengapung di labirin ingatan.

Sepulang kerja kemarin, Isha membawa tiga buah buku tulis yang dibungkus plastik kado, dan mengatakan kalau Isha mendapatkannnya langsung dari presiden.  Presiden katanya mengunjungi sekolah Isha bersama jajaran menteri. Isha sangat kagum, sebagaimana anak-anak lainnya saat berjumpa langsung dengan presiden.

Isha mengantre salaman, mencium tangan presiden, dan kemudian dipeluk sebentar. Aku mengingat Isha bercerita berapi-api tanpa peduli malam dan penat telah hampir saja membuatku terlelap di kursi depan televisi semalam tadi.

Isha bercerita kalau presiden banyak bicara. Dia ingin agar anak-anak, siswa baru teman sekelas Isha untuk giat belajar dan semangat mengejar cita-cita. Karena, ini katanya presiden, Isha dan teman-temannya adalah wajah negara di masa depan. Aku yang mendengarnya hanya menelan ludah dan tumbuh kebimbangan masa depan juga butuh aturan dan sokongan agar dipermudah.

Dan di akhir kunjungan itulah, presiden membagikan buku tulis masing-masing tiga buah. Buku tulis standar, Sinar Dunia, yang begitu istimewa bagi Isha dan kawan-kawannya. Di akhir cerita panjang Isha itulah, janjiku meluncur membasuh keademan di hati Isha. Aku bilang besok saja dibuka, dipakai belajar, siapa tahu bisa jadi presiden.

Dan sekarang, Isha menungguku untuk membukanya.

“Papa, Isha sudah berpakaian. Sudah sarapan dan sekarang mana buku tulis dari presiden itu?” Isha masih saja bersemangat.

Aku meraih buntalan plastik yang semalam aku letakkan di atas tumpukan buku. Aku membenarkan posisi kacamata. Melepas benang warna emas yang mengikat ujung buntalan buku tulis. Entah mengapa dada ini berdebar sedikit lebih kencang. Berpacu seperti kuda yang dihentak dari landasan.

Setelah sempurna kubuka. Kuserahkan kepada Isha.

“Pa, apa kalau Isha memakai buku ini bisa jadi presiden?” tanyanya begitu polos.

Aku mengangguk. Kemudian dia menghambur keluar menunggu jemputan Mang Tokir.

Tapi, dadaku masih saja dirambati sesal. Iya, benar. Aku sama sekali tak mengingat wajah presidenku sekarang. Kucari dan selalu nihil. Mungkin seseorang telah mencurinya di mimpiku semalam. Semakin lama kucari, yang muncul justru wajah badut, topeng monyet pinggir jalan yang hanya mau menari kalau sudah diiminig-imingi roti si pawang. Dan aku tak ingin Isha menjadi seperti demikian.(*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s