Resensi

Saat Orang Barat Mengkritisi Islam

(Harian Bhirawa, 22 Juli 2016)

bhirawa 22 juli 2016

Muhammad dan Islam adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan. Membicarakan sejarah Islam harus juga mendedah bagaimana Muhammad memimpin sebuah ajaran monoteisme yang semula bersumber di daerah Arab itu. Menurut Karen Amstrong Tuhan monoteisme adalah bentuk keyakinan paling pertama dalam sejarah teologi manusia. Manusia meyakini bahwa sesuatu ‘Yang Mahakuasa’ mengatur segala kehidupan. Kemudian keyakinan monoteisme ini diejawantahkan ke dalam bentuk politeisme sebagai usaha manusia untuk mendekatkan diri kepada ‘Yang Mahakuasa’.

Daratan Arab bertahun-tahun menganut agama pagan, meski agama yang diwariskan Ibrahim yakni Yahudi dan Nasrani terus menjaga kemurnian monoteisme. Lantas Islam datang lewat sosok Muhammad, putra Abdullah, yang kembali menawarkan monoteisme.

Islam sebagai agama samawi meyakini hanya ada satu Tuhan. Juga termasuk agama yang memilik jumah pengiman terbanyak di dunia. Menurut Fred M Donner, dalam buku Muhammad dan Umat Beriman, Islam hadir di tengah dua agama yang sudah bercokol lama di dunia, yakni yahudi dan nasrani. Donner menegaskan bahwa ketiganya, islam, yahudi, dan nasrani memiliki garis pangkal yang sama, yakni monoteisme yang diajarkan Ibrahim.

 Donner menawarkan sebuah gagasan yang cukup kontroversial, bahwa Islam bermula hadir sebagai sekumpulan Umat Beriman, sejenis gerakan ekumenis yang berusaha menjaga nilai keyakinan Abrahamik atau warisan Ibrahim, tanpa berusaha memisahan diri dari dua sadara lawasnya, yahudi dan nasrani. Muhammad, sebagai pemimpin politik sekaligus pemimpin spiritual kala itu, tidak secara jelas mendeklarasikan bahwa ajarannya sebagai agama baru.

Yahudi dan nasrani tetap dirangkul sebagai Umat beriman, karena masih sama menganut monoteisme yang diajarkan Ibrahim, percaya pada Hari Akhir, dan menekankan pada perbuatan amal salih. Berbeda dengan kaum pagan yang kebanyakan politeisme.

Kemudian ada pergeseran makna dari ‘mukmin’ ke ‘muslim’. Bahwa yang semula istilah ‘mukmin’ orang-orang beriman lebih terkesan universal dan tidak mengacu pada satu agama tertentu. Lantas berganti menjadi ‘muslim’, orang-orang islam, yang sangat memihak pada satu agama. Dan pergeseran ini bukan atas inisiasi Muhammad. Melainkan muncul satu abad pasca kematiannya. Dengan kata lain, pengkhususan muslim dan melepaskan diri dari ‘Umat Beriman’penjaga ajaran Ibrahim dimulai oleh pengikut Muhammad. Pergeseran ini, menurut Donner dimulaii semenjak Bani Umayah (660-750) atau enam abad pasca Muhammad wafat.

Keutuhan Umat Beriman, yang terdiri dari Yahudi, Nasrani, dan ajaran Muhammad didasari atas kaidah keberagamaan. Yakni, terpusat pada ide monoteisme, persiapan pada hari akhir, menjalankan tingkah laku benar/takwa, termasuk salat/doa, menghindari dosa, menjalankan puasa secara periodik, dan laku asih sesama manusia .(hal.77)

Sebagai sebuah entitas kelompok Umat Beriman, Muhammad berusaha membentuk kekuatan politik untuk meneguhkan eksistensi. Hingga kekuasaan Islam mencakup daratan yang lebih luas dari semula.  Donner menegaskan ini berkaitan denga Umat Beriman berorientasi dengan gerakan militan, yang diistilahkan dalam Al Quran sebagai jihad. (hal.93)

Pasca Muhammad wafat, Donner mencatat ada pergeseran penting dalam tubuh gerakan Umat Beriman ini. Operasi militer terus dilakukan untuk memperluas dan menjaga wilayah Islam. Namun, Donner mencatat perbedaan penting operasi militer di zaman Muhammad dan pasca wafat. Operasi di masa Muhammad dilakukan terbatas dan dilakukan dengan tujuan penangkapan sekelompok suku atau pengurangan pemukiman tertentu. (hal.117) Namun di zaman Abu Bakar, bahkan operasi ridda dilakukan untuk menekan sesama Umat Beriman yang tidak mmebayar zakat dan mendengungkan nabi palsu.

Keretakan keharmonisan pun tampak pasca kematian Muhammad. Selain operasi ridda, gesekan politik antara Utsman dan Ali menjadi ujung runcing bergesernya nilai Muhammad yang mulai disusupi kekuasaan, daerah politik, dan harta sebagai khalifah.

Sejarah Islam memang terus menjadi misterius. Donner mengatakan masih banyak sisi dari sejarah Islam terdahulu yang belum digali para sejarawan. Dan sebagian orang beragama Islam hanya sebatas keturunan, maka perlu adanya sejarah Islam agar keberagamaan dan keimanan Islam semakin kokoh tertanam.

Menengok sejarah islam di awal kemunculan yang selalu berdampingan dengan agama-agama lain, maka kita sudah sewajarnya mengedepankan humanisme. Baik sesama umat islam atau pun antar umat beragama. Karena islam agama langit, maka sudah pasti harus menjaga norma-norma langit, salah satunya memanusiakan manusia.

Kelebihan yang sangat menonjol dari buku ini adalah Donner menegaskan betapa susahnya mengkaji sejarah Islam di awal kemunculannya. Riwayat Muhammad ditulis bertahun-tahun pasca wafat, dan kemungkinan ditulis bukan berdasarkan apa-yang-terjadi melainkan apa-yang-seharusnya-terjadi. Sehingga dengan membaca buku ini, umat Islam akan tersadar bahwa merasa paling benar dan paling sesuai ajaran Muhammad adalah kesalahan besar. Karena selain tidak benar merasa paling benar, juga susah mencari dalih sahih dan primer dari sejarah Islam.(*)

Advertisements

3 thoughts on “Saat Orang Barat Mengkritisi Islam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s