Resensi

Dongeng Satir Eka Kurniawan

(Harian Singgalang, 23 Juli 2016)

Eka Kurniawan adalah nama yang sedang bersinar dalam dunia susastra Indonesia. Prosa Eka Kurniawan begitu menjanjikan dan menawarkan kebaruan. Tak hanya dalam lingkup nasional, karya-karya Eka Kurniawan mulai diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dunia dan dibahas oleh publik internasional. Bahkan telah menorehkan berbagai prestasi internasional. Tahun 2016 ini, Eka Kurniawan menghidangkan karya baru, novel berjudul O, yang telah menjadi buah bibir semenjak Eka Kurniawan memosting sampul calon buku terbarunya itu akhir 2015 lalu.

Masih dengan gaya realisme-sosialis, seperti karya-karya Eka sebelumnya, novel ini menyuguhkan kisah dengan nada sindiran cukup nyaring. Potret sebuah kehidupan pinggiran di tengah derasnya laju kehidupan urban yang tak terperikan. Eka meminjam tokoh monyet betina bernama O yang jatuh cinta dengan Entang Kosasih, seorang Kaisar Dangdut yang semula adalah monyet. Mereka yang tinggal di pinggiran kota, terperangkap antara rural dan urban. Sebagaimana O yang berwadag monyet namun berperilaku seperti manusia.

Eka membekali pembaca dengan sebuah dongeng bahwa di Rawa Kalong seekor monyet bisa saja berubah menjadi manusia. Sebagaimana dulu ikan dapat berubah menjadi monyet, maka monyet pun bisa alih wujud menjadi manusia. Armo Gundul adalah seekor monyet yang diyakini berhasil keluar dari Rawa Kalong dan melangkah ke dunia manusia dengan tindak tanduk manusia. Keyakinan ini membuat Entang Kosasih meniru tindakan manusia. Mulai dari membunuh Joni Simbolon dengan revolver, berempati layaknya manusia kepada bocah yang hendak dilahap sanca, dan yang paling menegangkan Entang Kosasih mampu berpikir secerdas manusia. Padahal manusia lebih menakutkan daripada hantu. (hal.37)

O dan Entang Kosasih akan menikah namun batal karena Entang Kosasih menjadi manusia. O meyakini Entang Kosasih telah menjadi Kaisar Dangdut yang dilihatnya di salah satu poster. O ingin menjadi manusia dengan ikut Betalumur sebagai topeng monyet. Hanya melalui topeng, si monyet bisa meninggalkan dirinya, meletakkan diri-monyetnya di belakang dan menjadi manusia yang bisa dipahami manusia. (hal.48)

Namun usaha O menyaru manusia dengan menjadi topeng monyet bukanlah mudah. Menyeberang dari dunia monyet ke dunia manusia merupakan sesuatu yang besar. (hal.101) Belum lagi rintangan O saat bertemu dengan aneka makhluk dan manusia dengan persoalan masing-masing dalam perjalana. Ada rimbunan masalah di setiap hidup.

Manusia dan monyet dalam novel ini berdiri dalam posisi yang sepadan. Monyet dan aneka makluk lain, ular, anjing, kakatua, bahkan revolver dan kaleng sarden bertindak dan berkata seperti manusia. Sedangkan manusia dalam novel ini tampil tak ubahnya hewan, saling makan, hidup dengan kelindan persoalan. Di sisi ini, novel ini seperti fabel, ketika mempersonifikasikan hewan.

Kondisi ini mengingatkan kita pada teori filsuf Belanda, Baruch Spinoza (1632-1677) bahwa sejatinya manusia adalah binatang sosial, berkelompok dan saling membutuhkan. Pada tahap tertentu manusia akan menampakkan sisi kebinatangannya. Dalam novel O, Eka membuat perenungan bahwa manusia bisa sangat mengerikan. Manusia yang dikepung aneka persoalan hingga gelap mata. Membenarkan apa yang pernah disampaikan Thomas Hobbes (1588-1679) bahwa Homo Homini Lupus, manusia merupakan serigala bagi manusia lain.

Hingga ketika usai membaca O, ada sebuah pertanyaan yang bercokol di kepala, apakah manusia benar-benar tranformasi hewan? Karena sering kita lihat tingkah-polah manusia kadang tidak masuk akal –mudah sekali membunuh, cabul, gemar mencuri, tak punya etika- yang sepadan dengan perangai binatang.

Namun, di sini lain, Eka juga sedang menyuguhkan sebuah kritik tajam terhadap pola interaksi manusia modern sekarang. Seperti cara George Orwell mengkritik sistim sosialis dalam Animal Farm, Eka juga mengkritik banyak pihak. Bahwa dalam takaran tertentu manusia tidak ubahnya binatang. Kehidupan telah menggelapkan mata manusia. Monyet ingin menjadi manusia, sedangkan manusia berbadan manusia namun berpikiran seperti monyet. Batas antara manusia dan binatang setipis tirai, apa saja bisa melompat dari zona manusia ke binatang atau sebaliknya. Maka di bagian akhir, Eka justru menyuguhkan sebuah ledakan mengerikan. Bahwa monyet O yang telah menjadi wanita cantik dinikahi oleh Betalumur, tuannya dulu di topeng monyet.

Hal lain yang begitu kentara dari novel terbaru Eka ini adalah jutaan sudut pandang tokoh. Banyak tokoh dalam novel, memiliki suara dan sudut pandang sendiri. Hal ini hampir senada dengan gaya bercerita Eka dalam novel sebelumnya, Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas. Dalam salah satu wawancara, perubahan signifikan ini ditengarai karena beberapa tahun terakhir Eka disibukkan dengan pembuatan skenario film. Maka ritme menulis skenario ini secara langsung memengaruhi gaya bercerita Eka.

Meski berbentuk seperti fabel, sejatinya kisah dalam O ini adalah cerminan kisruhnya kehidupan manusia. Novel ini kompisisi yang komplet. Humor satir, keriuhan tokoh, kritikan, dan banyaknya momen-momen perenungan. Juga ide segar dan kritik tajam. Hingga novel ini sangat layak diapresiasi tinggi. Apalagi gaya penulisan Eka yang mengingatkan kita pada gaya penulis novel Amerika Latin. Setidaknya ini membuktikan Eka Kurniawan lepas landas dan sudah layak mengorbit di lintasan sastra dunia.(*)

resensi o di harian singgalang

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s