Resensi

Menjalankan Bisnis Basis Sosial

(Lampung Post, 22 Juli 2016)

resensi buku lampung post

Saat sedang mengambil cuti di tahun 2006, Blake Mycoskie, founder dan CEO dari TOMS mengadakan perjalanan ke Argentina. Di sanalah, Blake menemukan sebuah fenomena yang menggerus nurani. Banyak anak-anak dari daerah kantung kemiskinan Argentina berjalan-jalan tanpa alas kaki. Terluka hati Blake sebagaimana kaki-kaki kanak-kanak Argentina itu diparut kerikil serta bara jalanan.

Kala itu, telah banyak lembaga sosial bekerja untuk mengumpulkan bantuan sepatu kepada anak-anak Argentina. Namun keberadaan sepatu donasi itu belum membantu mereka yang harus menahan sakit kaki lecet, luka, melepuh tanpa sepatu. Banyak sepatu donasi terbengkalai karena tak memiliki kesesuaian ukuran dengan sepatu anak-anak Argentina.

Di sisi lain, Blake yang memulai bisnis EZ Laundry ketika SMA, menemukan peluang bahwa orang-orang Argentina memakai sepatu tradisional alpargata. Sepatu tersebut berbahan kanvas lembut yang selalu dipakai mulai dari petani, pemain polo, penari tango, sampai pelajar dan pedagang dalam keseharian. Local wisdom yang secara khusus hanya dimiliki oleh Argentina. Dari sinilah ide brilian untuk melakukan donasi sepatu yang sesuai ukuran anak-anak melalui usaha sepatu dengan membawa alpargata sebagai contoh.

Blake kemudian memodifikasi alpargata yang terkesan zadul kuno hingga terkesan modern dan diminati oleh publik Amerika. Blake memiliki gagasan “shoes for better tomorrow” yang kemudian menjadi “Tomorrow’s Shoes” dan lantas diringkas menjadi TOMS. Ide bisnis ini bertujuan selain menjual sepatu juga mendermakannya. Di setiap pasang sepatu buatan Blake yang terjual, dia akan memberikan sepasang juga untuk anak-anak Argentina.

Terbukti akhir musim panas pertama semenjak diluncurkan, 10.000 pasang sepatu TOMS terjual. Jumlah yang sama untuk sepatu yang didonasikan Blake.

Blake melakukan inovasi alpargata Argentina. Blake menambah model dan motif dari kain kanvas sehingga lebih modis. Menguatkan sol sepatu dan menambah sol dalam agar lebih kuat dan nyaman. Namun lebih dari itu kisah di balik penemuan ide “Tomorrow’s Shoes” tentang anak-anak Argentina tanpa alas kaki terus diproduksi media massa hingga menjadi viral. Kekuatan kisah dan semangat filantropi dari Blake ini membuat permintaan sepatu terus melonjak.

Dari sisi bisnis, Blake menjabarkan enam prinsip kesuksesannya dalam membangun TOMS. Yakni ketakutan bisa jadi kekuatan, tidak penting modal kapital melimpah, kesederhanaan tujuan utama, kepercayaan modal penting, dan memberi adalah kunci sukses bisnis (hal.20). Keenamnya menjadikan TOMS yang semula adalah draf dalam jurnal Blake, perusahan dengan lima orang di apartemen Blake, mendadak menjadi perusahan sepatu papan atas.

Sebagai anak muda, Blake memberi sentuhan-sentuhan kreativitas pada sistem bisnis TOMS. Blake memperlakukan karyawan tidak sebagai bawahan dengan disparitas posisi. Blake juga memberikan aktivitas-aktivitas seru bagi karyawan. Misalnya setiap Jumat jam 2 siang, kegiatan bekerja berhenti. Digantikan dengan turnamen bocce ball dengan hadiah $150. Atas kerja keras di TOMS, Blake memberikan hadian bermain ski di Gunung Mamoth setiap tahunnya (hal.97).

 Kisah Blake bisa dijadikan teladan bahwa anak muda tidak melulu harus berpikir profit saat memulai usaha. Blake membuktikan bahwa ide sosial, berbagi sepatu kepada anak-anak, yang semula hanya untuk menopang kebutuhan alas kaki bocah-bocah miskin Argentina, justru menjadi hidup Blake dan aspek terbaik dari empat bisnis sebelumnya. (hal.15)

Blake juga mengajarkan untuk tidak bosan memberi. Semakin banyak memberi semakin hidup. Dengan memasukkan memberi ke dalam bisnis dan hidup, Anda akan melihat balasan dan hadiah yang lebih besar daripada yang Anda bayangkan (hal. 165). Model berbisnis Blake diam-diam mengubah paradigma pebisnis di Amerika yang selama ini berpedoman bahwa tugas utama bisnis adalah meraup keuntungan sebanyak mungkin.

Blake telah menawarkan konsep bisnis baru. Socialprenuer yakni konsep bisnis mengejar laba tinggi sekaligus berbagi. Bisnis sepatu TOMS memang tak semata-mata mengejar keuntungan profit, di setiap sepatu yang terjual Blake sekaligus mendermakan sepasang sepatu untuk anak-anak di kantong kemiskinan dan konflik perang. Konsep ini kemudian ditiru banyak pengusaha muda. Menjadi filantropis sekaligus sukses menjalankan bisnis.

Hingga kini sudah tak terhitung berapa pasang sepatu yang didonasikan Blake ke Argentina, Afrika, dan kantung-kantung kemiskinan dunia. Menurut Blake, kebahagiaan adalah saat melihat sepatu buatannya terasa hangat dan nyaman di kaki anak-anak. Blake ingin berkontribusi pada dunia, membangun perubahan positif bermula dari alas kaki buatannya. (*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s